Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Elin tiba di kontrakan sederhananya bersama Ello.
Saat Elin baru saja masuk, "Kak, aku mendapatkan tawaran beasiswa," ucap Ello dengan mata yang berbinar-binar.
"Benarkah? Bagus sekali. Kamu akan menjadi dokter seperti impian kamu," ucap Elin tersenyum lebar. Sebenarnya Elin sudah tahu lebih dulu tentang hal ini dari Pak Hadi. Tapi ia pura-pura baru tahu dari Ello.
Namun tiba-tiba binar di mata Ello meredup, ia tertunduk menghela napas berat dengan wajah sendu.
"Kenapa kamu kelihatan sedih gitu? Bukankah ini adalah jalan untuk mewujudkan mimpimu menjadi dokter?" tanya Elin dengan dahi yang berkerut.
Ello mengangkat wajahnya menatap Elin lekat, "Tapi, Kak.. jika aku menerima beasiswa ini, kakak akan tinggal di sini sendirian," Ello tak tega meninggalkan kakaknya sendiri, apalagi ke luar negeri selama bertahun-tahun.
Elin menghela napas panjang, lalu memegang kedua pundak Ello dan menatapnya lekat, "Kamu harus berangkat! Raih lah cita-cita mu! Jangan khawatirkan kakak. Jangan biarkan perjuangan kakak sia-sia," ucap Elin dengan suara lembut, tapi tegas.
Lagi-lagi Elin mengucapkan kalimat yang membuat Ello tak bisa menolak. Karena semenjak mereka menjadi yatim piatu, kakaknya telah banyak berkorban untuk dirinya.
"Kakak yakin tidak apa-apa tanpa aku di sini?" tanya Ello masih tak yakin meninggalkan kakaknya sendirian.
"Kakak bisa menjaga diri kakak sendiri. Kamu tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini begitu saja hanya karena mengkhawatirkan kakak. Apa kamu tidak ingin hidup kita berubah menjadi lebih baik? Apa kamu ingin berakhir menjadi pemulung seperti kakak? Pikirkan masa depanmu!" tegas Elin berusaha memotivasi adiknya agar melanjutkan kuliah, hingga bisa menggapai cita-citanya.
"Baiklah, aku akan pergi. Aku akan membuat kakak bangga dan membuat kita keluar dari kemiskinan. Tapi kakak harus janji padaku, kakak harus baik-baik menjaga diri. Tunggu aku kembali! Aku sayang kakak," ucap Ello memeluk Elin hangat.
"Kakak juga menyayangimu," Elin membalas pelukan Ello. Tanpa terasa kakak dan adik itu menitikkan air mata. Dari kecil mereka selalu tinggal bersama dan berjuang bersama serta saling menguatkan, tapi sebentar lagi mereka akan berpisah.
"Berjuanglah demi cita-citamu Ello! Kakak yakin kamu pasti bisa," ucap Elin memberi semangat.
"Aku janji akan berusaha dengan keras, Kak," sahut Ello bertekad.
*
Akhirnya hari keberangkatan Ello kuliah keluar negeri pun tiba. Elin mengantar Ello ke bandara.
"Jaga dirimu baik-baik!" ucap Elin mengecup kening adiknya penuh kasih sayang.
"Kakak juga," ucap Ello, kemudian memeluk Elin.
Suara Boarding announcement atau pengumuman kepada para penumpang penerbangan tertentu untuk melakukan boarding terdengar.
Boarding adalah waktu di mana penumpang naik ke dalam pesawat.
"Ello, itu pesawat yang akan kamu naiki," ucap Elin melerai pelukannya dan adiknya.
"Aku pasti pulang dengan gelar dokter," ucap Ello mengecup pipi kiri dan kanan Elin penuh kasih sayang.
"Kakak akan setia menunggumu," ucap Elin dengan senyuman hangat.
Dengan berat hati Ello melangkah meninggalkan Elin. Sebelum melakukan boarding, Ello melambaikan tangannya pada Elin dan Elin pun membalasnya seraya tersenyum.
"Aku tak tahu apa yang dirahasiakan kakak padaku. Sejak aku sadarkan diri di rumah sakit, aku merasa kakak sudah berubah. Ia memakai pakaian yang bagus. Tubuhnya pun terlihat lebih bersih dan terurus. Dan ruangan tempatku dirawat, aku yakin itu adalah ruangan VIP yang tidak mungkin biayanya dicover oleh pemerintah. Aku harap kakak tidak berjalan di jalan yang salah demi aku. Aku harus menjadi dokter, agar pengorbanan kakak tidak sia-sia dan tidak berkorban lebih banyak lagi untukku," batin Ello mengepalkan kedua tangannya seraya melangkah ke dalam pesawat.
Setelah mengantar Ello ke bandara, Elin kembali ke rumah Kakek Zhafran. Ia melihat Pak Hadi sudah ada di rumah Kakek Zhafran.
"Nyonya, tadi Tuan muda menemui saya di kantor. Tuan muda memutuskan menetap di luar negeri untuk mengurus perusahaan cabang milik Tuan besar," lapor Hadi membuat Elin terkesiap.
Ya, pada akhirnya Zion memutuskan pergi jauh dari Elin. Ia ingin suasana baru dan melupakan peristiwa pahit yang dialaminya semenjak Elin masuk ke dalam rumahnya. Ia mempercayakan perusahaan induk yang ada di negeri ini pada Pak Hadi.
Mendengar berita kepergian Zion, Elin tersenyum masam, wajahnya tertunduk dengan kedua tangan yang terkepal erat. Ia teringat ucapan Zion di hari pernikahan mereka.
"Entah apa yang telah kamu lakukan hingga kakek memaksa aku untuk menikahi kamu. Tapi.. satu hal yang harus kamu ingat, selamanya aku tidak akan pernah menganggap kamu sebagai istriku. Ingat itu baik-baik!"
Kata demi kata yang terlontar dari mulut Zion itu kembali terngiang di telinga Elin. Zion benar-benar tidak menganggap dirinya sebagai istrinya.
"Nyonya.." panggil Pak Hadi membuyarkan lamunan Elin.
"Ah, iya. Berapa lama Kak Zion akan menetap di luar negeri, Pak?" tanya Elin pelan dengan suara lembutnya.
"Saya tidak tahu, Nyonya," sahut Pak Hadi.
Lagi-lagi Elin hanya bisa tersenyum masam. Gadis bukan, janda juga bukan, tapi tidur sendirian dan masih perawan. Istri yang diabaikan, tak di sentuh dan ditinggalkan. Itulah dirinya.
*
Waktu terus berlalu, Elin terus belajar menjadi wanita cantik, elegan dan mandiri. Otaknya yang cerdas dengan mudah menyerap apa yang diajarkan Pak Hadi dan Bu Heni.
Setelah lima tahun berlalu, Ia bagai ulat yang mengalami metamorfosis sempurna menjadi kupu-kupu yang cantik dan memesona.
Metamorfosis sempurna adalah perubahan bentuk secara bertahap yang dialami hewan hingga menjadi hewan dewasa.
Elin yang dulunya adalah gadis kurus bak triplek, berpakaian lusuh, kulit kecoklatan, kusam, kering, rambut sebahu kusam dan pecah-pecah, kini menjelma menjadi wanita dewasa dengan postur tubuh yang ideal nan menggoda. Ia memiliki lekuk tubuh yang sempurna bak gitar spanyol.
Kulitnya halus dan bercahaya, senada dengan rambutnya yang panjang sepinggang dan berkilau. Wajahnya yang oval dihiasi oleh hidung mancung dan bibir merah merona. Matanya yang bulat besar dan berbinar seolah mampu menghipnotis siapapun yang menatapnya.
Benar-benar definisi metamorfosis sempurna. Siapapun tidak akan menyangka kalau Elin yang sekarang, dulu adalah gadis yang berprofesi sebagai penjual kue keliling dan pemulung yang sama sekali tidak menarik.
Empat tahun lalu ia sudah mulai membuka usaha sesuai hobinya, yaitu toko kue yang menjadi impiannya. Sejak membuka toko kue, Elin hanya pulang seminggu sekali ke rumah mendiang Kakek Zhafran yang tentunya diwariskan pada suaminya.
Elin memilih tinggal di toko kue yang di lantai atasnya merupakan hunian. Ia tinggal di sana agar tidak perlu mondar mandir dari rumah suaminya ke toko kuenya. Toh di rumah suaminya juga tidak ada siapa-siapa selain pelayan yang mengurus rumah.
Setiap pulang ke rumah, Elin selalu pergi ke kamar Kakek Zhafran, bahkan sering tertidur di kamar itu.
Elin menatap wajahnya di cermin besar yang ada di kamar Kakek Zhafran. Ia meraba pipinya sendiri.
"Tanpa kakek, aku tidak akan menjadi seperti sekarang, dan adikku tidak mungkin bisa kuliah di luar negeri. Seandainya kakek masih hidup, aku pasti merawatnya dengan sepenuh hati," gumam Elin menghela napas panjang dengan wajah sendu.
Elin keluar dari kamar Kakek Zhafran menuju kamarnya bersama Zion. Ia menghela napas panjang yang terasa menyesakkan dada setiap kali masuk ke dalam kamar ini. Ia duduk di tepi ranjang, lalu meraih foto Zion di atas nakas.
"Sampai kapan Kakak akan tinggal di luar negeri? Apa selamanya kita hanya akan menjadi dua orang asing yang menjalani pernikahan sebatas di atas kertas? Aku sudah berusaha berubah agar layak bersanding dengan kakak," gumam Elin seraya mengelus foto Zion.
Tatapan Elin beralih pada sofa yang ada di kamar itu. Ia teringat bagaimana Zion marah dan hampir mencekiknya sampai mati.
"Apakah benar, kita tak mungkin menjadi pasangan suami-isteri yang sesungguhnya?" gumam Elin karena hingga kini masih belum bisa membersihkan namanya sebagai tersangka utama meninggalnya Farah.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Elin.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Zudiyah Zudiyah
sudah 5 th berlalu rahasia & kebenaran serta misteri hilangnya mayat Farah masih tersimpan rapi belum terbongkar. Kapankah smua masalah itu terungkap & terselesaikn? 🤔🤔🤔
2024-10-09
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
kakek pergi dengan membawa rahasia kesalahannya pada elin. tapi menjadikan elin wanita berkelas.
2024-09-25
2
Sugiharti Rusli
kalo kuliah di luar negeri akan berapa lama yah bisa jadi dokter, pasti lebih dari 5 tahun
2024-09-05
3