13. Metamorfosis

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Elin tiba di kontrakan sederhananya bersama Ello.

Saat Elin baru saja masuk, "Kak, aku mendapatkan tawaran beasiswa," ucap Ello dengan mata yang berbinar-binar.

"Benarkah? Bagus sekali. Kamu akan menjadi dokter seperti impian kamu," ucap Elin tersenyum lebar. Sebenarnya Elin sudah tahu lebih dulu tentang hal ini dari Pak Hadi. Tapi ia pura-pura baru tahu dari Ello.

Namun tiba-tiba binar di mata Ello meredup, ia tertunduk menghela napas berat dengan wajah sendu.

"Kenapa kamu kelihatan sedih gitu? Bukankah ini adalah jalan untuk mewujudkan mimpimu menjadi dokter?" tanya Elin dengan dahi yang berkerut.

Ello mengangkat wajahnya menatap Elin lekat, "Tapi, Kak.. jika aku menerima beasiswa ini, kakak akan tinggal di sini sendirian," Ello tak tega meninggalkan kakaknya sendiri, apalagi ke luar negeri selama bertahun-tahun.

Elin menghela napas panjang, lalu memegang kedua pundak Ello dan menatapnya lekat, "Kamu harus berangkat! Raih lah cita-cita mu! Jangan khawatirkan kakak. Jangan biarkan perjuangan kakak sia-sia," ucap Elin dengan suara lembut, tapi tegas.

Lagi-lagi Elin mengucapkan kalimat yang membuat Ello tak bisa menolak. Karena semenjak mereka menjadi yatim piatu, kakaknya telah banyak berkorban untuk dirinya.

"Kakak yakin tidak apa-apa tanpa aku di sini?" tanya Ello masih tak yakin meninggalkan kakaknya sendirian.

"Kakak bisa menjaga diri kakak sendiri. Kamu tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini begitu saja hanya karena mengkhawatirkan kakak. Apa kamu tidak ingin hidup kita berubah menjadi lebih baik? Apa kamu ingin berakhir menjadi pemulung seperti kakak? Pikirkan masa depanmu!" tegas Elin berusaha memotivasi adiknya agar melanjutkan kuliah, hingga bisa menggapai cita-citanya.

"Baiklah, aku akan pergi. Aku akan membuat kakak bangga dan membuat kita keluar dari kemiskinan. Tapi kakak harus janji padaku, kakak harus baik-baik menjaga diri. Tunggu aku kembali! Aku sayang kakak," ucap Ello memeluk Elin hangat.

"Kakak juga menyayangimu," Elin membalas pelukan Ello. Tanpa terasa kakak dan adik itu menitikkan air mata. Dari kecil mereka selalu tinggal bersama dan berjuang bersama serta saling menguatkan, tapi sebentar lagi mereka akan berpisah.

"Berjuanglah demi cita-citamu Ello! Kakak yakin kamu pasti bisa," ucap Elin memberi semangat.

"Aku janji akan berusaha dengan keras, Kak," sahut Ello bertekad.

*

Akhirnya hari keberangkatan Ello kuliah keluar negeri pun tiba. Elin mengantar Ello ke bandara.

"Jaga dirimu baik-baik!" ucap Elin mengecup kening adiknya penuh kasih sayang.

"Kakak juga," ucap Ello, kemudian memeluk Elin.

Suara Boarding announcement atau pengumuman kepada para penumpang penerbangan tertentu untuk melakukan boarding terdengar.

Boarding adalah waktu di mana penumpang naik ke dalam pesawat.

"Ello, itu pesawat yang akan kamu naiki," ucap Elin melerai pelukannya dan adiknya.

"Aku pasti pulang dengan gelar dokter," ucap Ello mengecup pipi kiri dan kanan Elin penuh kasih sayang.

"Kakak akan setia menunggumu," ucap Elin dengan senyuman hangat.

Dengan berat hati Ello melangkah meninggalkan Elin. Sebelum melakukan boarding, Ello melambaikan tangannya pada Elin dan Elin pun membalasnya seraya tersenyum.

"Aku tak tahu apa yang dirahasiakan kakak padaku. Sejak aku sadarkan diri di rumah sakit, aku merasa kakak sudah berubah. Ia memakai pakaian yang bagus. Tubuhnya pun terlihat lebih bersih dan terurus. Dan ruangan tempatku dirawat, aku yakin itu adalah ruangan VIP yang tidak mungkin biayanya dicover oleh pemerintah. Aku harap kakak tidak berjalan di jalan yang salah demi aku. Aku harus menjadi dokter, agar pengorbanan kakak tidak sia-sia dan tidak berkorban lebih banyak lagi untukku," batin Ello mengepalkan kedua tangannya seraya melangkah ke dalam pesawat.

Setelah mengantar Ello ke bandara, Elin kembali ke rumah Kakek Zhafran. Ia melihat Pak Hadi sudah ada di rumah Kakek Zhafran.

"Nyonya, tadi Tuan muda menemui saya di kantor. Tuan muda memutuskan menetap di luar negeri untuk mengurus perusahaan cabang milik Tuan besar," lapor Hadi membuat Elin terkesiap.

Ya, pada akhirnya Zion memutuskan pergi jauh dari Elin. Ia ingin suasana baru dan melupakan peristiwa pahit yang dialaminya semenjak Elin masuk ke dalam rumahnya. Ia mempercayakan perusahaan induk yang ada di negeri ini pada Pak Hadi.

Mendengar berita kepergian Zion, Elin tersenyum masam, wajahnya tertunduk dengan kedua tangan yang terkepal erat. Ia teringat ucapan Zion di hari pernikahan mereka.

"Entah apa yang telah kamu lakukan hingga kakek memaksa aku untuk menikahi kamu. Tapi.. satu hal yang harus kamu ingat, selamanya aku tidak akan pernah menganggap kamu sebagai istriku. Ingat itu baik-baik!"

Kata demi kata yang terlontar dari mulut Zion itu kembali terngiang di telinga Elin. Zion benar-benar tidak menganggap dirinya sebagai istrinya.

"Nyonya.." panggil Pak Hadi membuyarkan lamunan Elin.

"Ah, iya. Berapa lama Kak Zion akan menetap di luar negeri, Pak?" tanya Elin pelan dengan suara lembutnya.

"Saya tidak tahu, Nyonya," sahut Pak Hadi.

Lagi-lagi Elin hanya bisa tersenyum masam. Gadis bukan, janda juga bukan, tapi tidur sendirian dan masih perawan. Istri yang diabaikan, tak di sentuh dan ditinggalkan. Itulah dirinya.

*

Waktu terus berlalu, Elin terus belajar menjadi wanita cantik, elegan dan mandiri. Otaknya yang cerdas dengan mudah menyerap apa yang diajarkan Pak Hadi dan Bu Heni.

Setelah lima tahun berlalu, Ia bagai ulat yang mengalami metamorfosis sempurna menjadi kupu-kupu yang cantik dan memesona.

Metamorfosis sempurna adalah perubahan bentuk secara bertahap yang dialami hewan hingga menjadi hewan dewasa.

Elin yang dulunya adalah gadis kurus bak triplek, berpakaian lusuh, kulit kecoklatan, kusam, kering, rambut sebahu kusam dan pecah-pecah, kini menjelma menjadi wanita dewasa dengan postur tubuh yang ideal nan menggoda. Ia memiliki lekuk tubuh yang sempurna bak gitar spanyol.

Kulitnya halus dan bercahaya, senada dengan rambutnya yang panjang sepinggang dan berkilau. Wajahnya yang oval dihiasi oleh hidung mancung dan bibir merah merona. Matanya yang bulat besar dan berbinar seolah mampu menghipnotis siapapun yang menatapnya.

Benar-benar definisi metamorfosis sempurna. Siapapun tidak akan menyangka kalau Elin yang sekarang, dulu adalah gadis yang berprofesi sebagai penjual kue keliling dan pemulung yang sama sekali tidak menarik.

Empat tahun lalu ia sudah mulai membuka usaha sesuai hobinya, yaitu toko kue yang menjadi impiannya. Sejak membuka toko kue, Elin hanya pulang seminggu sekali ke rumah mendiang Kakek Zhafran yang tentunya diwariskan pada suaminya.

Elin memilih tinggal di toko kue yang di lantai atasnya merupakan hunian. Ia tinggal di sana agar tidak perlu mondar mandir dari rumah suaminya ke toko kuenya. Toh di rumah suaminya juga tidak ada siapa-siapa selain pelayan yang mengurus rumah.

Setiap pulang ke rumah, Elin selalu pergi ke kamar Kakek Zhafran, bahkan sering tertidur di kamar itu.

Elin menatap wajahnya di cermin besar yang ada di kamar Kakek Zhafran. Ia meraba pipinya sendiri.

"Tanpa kakek, aku tidak akan menjadi seperti sekarang, dan adikku tidak mungkin bisa kuliah di luar negeri. Seandainya kakek masih hidup, aku pasti merawatnya dengan sepenuh hati," gumam Elin menghela napas panjang dengan wajah sendu.

Elin keluar dari kamar Kakek Zhafran menuju kamarnya bersama Zion. Ia menghela napas panjang yang terasa menyesakkan dada setiap kali masuk ke dalam kamar ini. Ia duduk di tepi ranjang, lalu meraih foto Zion di atas nakas.

"Sampai kapan Kakak akan tinggal di luar negeri? Apa selamanya kita hanya akan menjadi dua orang asing yang menjalani pernikahan sebatas di atas kertas? Aku sudah berusaha berubah agar layak bersanding dengan kakak," gumam Elin seraya mengelus foto Zion.

Tatapan Elin beralih pada sofa yang ada di kamar itu. Ia teringat bagaimana Zion marah dan hampir mencekiknya sampai mati.

"Apakah benar, kita tak mungkin menjadi pasangan suami-isteri yang sesungguhnya?" gumam Elin karena hingga kini masih belum bisa membersihkan namanya sebagai tersangka utama meninggalnya Farah.

"Tok! Tok! Tok!"

Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Elin.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Zudiyah Zudiyah

Zudiyah Zudiyah

sudah 5 th berlalu rahasia & kebenaran serta misteri hilangnya mayat Farah masih tersimpan rapi belum terbongkar. Kapankah smua masalah itu terungkap & terselesaikn? 🤔🤔🤔

2024-10-09

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

kakek pergi dengan membawa rahasia kesalahannya pada elin. tapi menjadikan elin wanita berkelas.

2024-09-25

2

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

kalo kuliah di luar negeri akan berapa lama yah bisa jadi dokter, pasti lebih dari 5 tahun

2024-09-05

3

lihat semua
Episodes
1 1. Persyaratan
2 2. Tidak Setuju
3 3. Cinta Dan Kewajiban
4 4. Cincin Kebesaran
5 5. Dingin
6 6. Minder
7 7. Syok Hemoragik
8 8. Jatuh
9 9. Tuduhan
10 10. Di Bawah Kamboja
11 11. Hilang
12 12. Menutupi
13 13. Metamorfosis
14 14. Merasa Bersalah
15 15. Bersuami, Tapi Perawan
16 16. Nekat
17 17. Dianggap Drama
18 18. Lupa
19 19. Gegana
20 20. Begitu Benci kah?
21 21. Berlawanan
22 22. Apa Keberatan?
23 23. Mengingatkan
24 24. Kasmaran
25 25. Pasang Surut
26 26. Ada Yang Kurang
27 27. Penasaran
28 28. Suram
29 29. Lalat Sampah
30 30. Meminta Pulang
31 31. Alasan Bertahan
32 32. Resah
33 33. Digulung Ombak
34 34. Janji
35 35. Susah Dinasehati
36 36. Risau
37 37. Tahu Semuanya
38 38. Poster
39 39. Terpaksa
40 40. Bimbang
41 41. Ingin Menceraikan
42 42. Benar-benar Melupakan
43 43. Pelarian Farah
44 44. Curiga
45 45. Manipulatif
46 46. Nekat
47 47. Tanpa Kabar
48 48. Merasa Lega
49 49. Keputusan
50 50. Menghampiri
51 51. Ke Luar Kota
52 52. Ada yang Janggal
53 53. Setengah Berbohong
54 54. Bertemu Lagi
55 55. Mengizinkan
56 56. Pertemuan Tak Terduga
57 57. Interaksi Adik-kakak
58 58. Untungnya
59 59. Benar-benar Berusaha
60 60. Yang kedua
61 61. Adik Manis Salah Masuk
62 62. Diawasi
63 63. Kekanak-kanakan
64 63. Bukan Sister Complex
65 65. Hampa
66 66. Memotivasi
67 67. Lupa Janji
68 68. Mengurus Perceraian
69 69. Di Ambang Kebenaran
70 70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71 71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72 72. Dilema Hati
73 73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74 74. Pelajaran Hidup
75 75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76 76. Ikatan Keluarga
77 77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78 78. Kebenaran yang Diungkapkan
79 79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80 80. Cintamu Ugal-ugalan
81 81. Konfrontasi Zion dan Franky
82 82. Perpisahan di Bandara
83 83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84 84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85 85. Dokumen Penting
86 86. Pertanyaan yang Menganggu
87 87. Ditampar Kenyataan
88 88. Kebenaran yang Menyakitkan
89 89. Jujur atau Tetap Diam?
90 90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91 91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92 92. Pengakuan Dosa
93 93. Kabar Keberadaan
94 94. Sebuah Amplop
95 95. Tidak Tahu Apa-apa
96 96. Kesuksesan yang Hampa
97 97. Penyanderaan
98 98. Sesuatu yang Familiar
99 99. Lebih dari Rekan Bisnis
100 100. Penyelidikan
101 101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102 102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103 103. Runtuh dan Hancur
104 104. Perasaan Lega
105 105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106 106. Momen yang Terulang
107 107. Jodoh Pilihan Bocil
Episodes

Updated 107 Episodes

1
1. Persyaratan
2
2. Tidak Setuju
3
3. Cinta Dan Kewajiban
4
4. Cincin Kebesaran
5
5. Dingin
6
6. Minder
7
7. Syok Hemoragik
8
8. Jatuh
9
9. Tuduhan
10
10. Di Bawah Kamboja
11
11. Hilang
12
12. Menutupi
13
13. Metamorfosis
14
14. Merasa Bersalah
15
15. Bersuami, Tapi Perawan
16
16. Nekat
17
17. Dianggap Drama
18
18. Lupa
19
19. Gegana
20
20. Begitu Benci kah?
21
21. Berlawanan
22
22. Apa Keberatan?
23
23. Mengingatkan
24
24. Kasmaran
25
25. Pasang Surut
26
26. Ada Yang Kurang
27
27. Penasaran
28
28. Suram
29
29. Lalat Sampah
30
30. Meminta Pulang
31
31. Alasan Bertahan
32
32. Resah
33
33. Digulung Ombak
34
34. Janji
35
35. Susah Dinasehati
36
36. Risau
37
37. Tahu Semuanya
38
38. Poster
39
39. Terpaksa
40
40. Bimbang
41
41. Ingin Menceraikan
42
42. Benar-benar Melupakan
43
43. Pelarian Farah
44
44. Curiga
45
45. Manipulatif
46
46. Nekat
47
47. Tanpa Kabar
48
48. Merasa Lega
49
49. Keputusan
50
50. Menghampiri
51
51. Ke Luar Kota
52
52. Ada yang Janggal
53
53. Setengah Berbohong
54
54. Bertemu Lagi
55
55. Mengizinkan
56
56. Pertemuan Tak Terduga
57
57. Interaksi Adik-kakak
58
58. Untungnya
59
59. Benar-benar Berusaha
60
60. Yang kedua
61
61. Adik Manis Salah Masuk
62
62. Diawasi
63
63. Kekanak-kanakan
64
63. Bukan Sister Complex
65
65. Hampa
66
66. Memotivasi
67
67. Lupa Janji
68
68. Mengurus Perceraian
69
69. Di Ambang Kebenaran
70
70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71
71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72
72. Dilema Hati
73
73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74
74. Pelajaran Hidup
75
75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76
76. Ikatan Keluarga
77
77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78
78. Kebenaran yang Diungkapkan
79
79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80
80. Cintamu Ugal-ugalan
81
81. Konfrontasi Zion dan Franky
82
82. Perpisahan di Bandara
83
83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84
84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85
85. Dokumen Penting
86
86. Pertanyaan yang Menganggu
87
87. Ditampar Kenyataan
88
88. Kebenaran yang Menyakitkan
89
89. Jujur atau Tetap Diam?
90
90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91
91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92
92. Pengakuan Dosa
93
93. Kabar Keberadaan
94
94. Sebuah Amplop
95
95. Tidak Tahu Apa-apa
96
96. Kesuksesan yang Hampa
97
97. Penyanderaan
98
98. Sesuatu yang Familiar
99
99. Lebih dari Rekan Bisnis
100
100. Penyelidikan
101
101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102
102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103
103. Runtuh dan Hancur
104
104. Perasaan Lega
105
105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106
106. Momen yang Terulang
107
107. Jodoh Pilihan Bocil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!