Zion nampak mengepak barang-barangnya dibantu Bu Mira. Pemuda yang selama lima tahun berada di luar negeri itu akhirnya akan pulang karena permintaan Pak Hadi.
"Tuan muda, apa kita akan kembali menetap di negeri kita?" tanya Bu Mira tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Aku belum bisa memutuskannya, Bu. Pak Hadi meminta aku pulang, karena ada masalah yang tidak bisa diselesaikan Pak Hadi tanpa aku," sahut Zion memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Kita akan tinggal di apartemen atau.. di rumah?" tanya Bu Mira ragu.
"Di apartemen, Bu," sahut Zion cepat.
"Tuan muda... maaf kalau ibu lancang. Sudah lima tahun kita tinggal di sini. Sudah lima tahun pula Tuan muda meninggalkan.. istri Tuan muda. Berdosa jika mengabaikan istri Tuan muda sendiri," ucap Bu Mira hati-hati.
Zion menghela napas kasar," Bu, aku menikahi dia karena terpaksa. Aku tidak pernah mencintai dia. Apalagi dia adalah tersangka utama meninggalnya Farah dan anakku."
"Tuan muda... mendiang Tuan besar bukanlah orang yang bertindak tanpa berpikir panjang. Beliau sangat menyayangi Tuan muda. Tuan besar tidak mungkin menikahkan Tuan muda dengan gadis itu, jika gadis itu tidak baik untuk Tuan muda. Tuan besar sangat mempercayai gadis itu, saya yakin gadis itu bukanlah orang yang menyebabkan Non Farah keguguran dan meninggal. Tuan muda juga tidak bisa menceraikan gadis itu, kenapa tidak mencoba menerimanya dengan lapang dada dan memulai hubungan kalian dari awal?" Bu Mira nampak berhati-hati dalam berbicara, tidak ingin Zion tersinggung, apalagi marah.
"Aku nggak bisa, Bu. Aku membencinya. Hidupku jadi kacau balau sejak ia masuk dalam kehidupanku," sahut Zion membuang napas kasar.
"Maaf, ibu hanya ingin melihat Tuan muda bahagia, memiliki keluarga dan keturunan. Ibu ingin sekali menggendong anak Tuan muda," ucap Bu Mira pelan dengan wajah sendu.
"Sudahlah, Bu. Aku nggak ingin membahas masalah ini lagi," ujar Zion mengakhiri pembicaraan, kemudian masuk ke kamar mandi.
"Aku hanya ingin melihatmu bahagia... anakku," gumam Bu Mira menatap Zion yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan wajah sendunya.
*
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Zion dan Bu Mira tiba di tanah kelahiran mereka. Bu Mira menatap mentari senja di bandara, ia terlihat senang bisa kembali pulang. Seenak-enaknya di negeri orang, pasti lebih enak di negeri sendiri, bukan? Itulah yang dirasakan oleh Bu Mira.
Setengah jam kemudian, Zion dan Bu Mira sudah tiba di apartemen Zion. Pemuda itu mengambil ponselnya dari saku celananya saat benda pipih itu berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Halo, Nic?" sapa Zion setelah melihat siapa yang sedang menghubungi dirinya dan menerima panggilan itu.
"Elo kagak lupa, 'kan, kalau malam ini adalah resepsi pernikahan gue?" tanya Nico dari sambungan telepon.
Zion nampak terkesiap, ia benar-benar lupa kalau Nico, sahabatnya telah mengirim undangan pernikahan dan malam ini adalah resepsi pernikahannya.
"Tentu saja kagak. Gue baru saja tiba di tanah air, ntar malam pasti datang," sahut Zion pura-pura tidak lupa.
"Syukurlah kalau kagak lupa. Gue tunggu ntar malam, ya! Siapa tahu elo bisa dapat jodoh di pesta pernikahan gue. Gue kasihan sama elo, tidur sendirian kagak ada yang dikelonin," ejek Nico.
"Ya, udah, gue istirahat dulu, gue capai banget, nih!" sahut Zion, kemudian mengakhiri panggilan secara sepihak.
Zion membuang napas kasar. Ia tak ingin membicarakan soal pasangan, karena ia sudah menikah dengan Elin yang tak dicintainya, bahkan dibencinya. Jika ia ingin menikah dengan wanita lain, maka ia harus meminta izin pada Elin selaku istri pertamanya yang sah di mata hukum dan agama.
Selain itu, sudah jelas dalam surat wasiat kakeknya, kalau hanya anaknya bersama Elin yang akan mewarisi semua harta kakeknya.
Dan alasan lainnya kenapa sampai sekarang ia tak dekat dengan wanita manapun adalah, karena sampai saat ini belum ada wanita yang mampu menarik perhatiannya, apalagi mencuri hatinya.
*
Malam telah tiba dan Zion pun bersiap pergi ke pesta pernikahan Nico. Bentuk tubuhnya yang proporsional dibalut jas berwarna dark brown dengan kemeja berwarna biru sebagai inner jasnya. Ia memakai dasi berwarna coklat dan menyelipkan sapu tangan di saku jasnya. Jam tangan berkelas melingkar di pergelangan tangannya, dan rambut hitamnya di sisir rapi. Penampilan yang terlihat maskulin. Benar-benar definisi penampilan yang... SEMPURNA.
Setengah jam kemudian Zion masuk ke dalam ballroom dan langsung menjadi pusat perhatian para wanita. Dengan penuh percaya diri ia menghampiri sepasang pengantin.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Zion menjabat tangan istri Nico, lalu berpelukan dengan Nico sebentar.
"Akhirnya elo datang juga, bro! Sayangnya cuma sendiri. Truk aja gandengan, kok, elo malah sendirian?" ledek Nico.
"Sebentar.." ucap Zion merasakan ponselnya bergetar. Ia me-reject panggilan masuk di ponselnya, lalu mengetik pesan.
Nico menghela napas panjang melihat Zion yang sedang berbalas pesan. Namun perhatian Nico teralihkan saat mendengar kasak kusuk para tamu undangan yang menatap ke arah pintu masuk ballroom.
"Siapa wanita itu? Kenapa mama menghampirinya? Kamu kenal, sama wanita itu, Sayang?" tanya Nico pada istrinya.
"Enggak," sahut istrinya ikut menatap wanita bergaun biru yang menjadi pusat perhatian.
Wanita yang baru masuk yang tidak lain adalah Elin. Dengan anggun ia melangkah menuju sepasang pengantin. Para pria semakin merapat kearahnya.
"Deg"
Tiba-tiba saja Elin merasa jantungnya seperti berhenti berdetak dan langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Netranya menangkap bayangan wajah seorang pria yang berdiri menyamping di sebelah mempelai pria. Wajah yang sudah lima tahun ini tidak dilihatnya.
Namun Elin yang sudah dilatih Bu Heni dapat segera mengelola ekspresi wajahnya yang sempat terkejut. Ia kembali melanjutkan langkah kakinya dengan anggun, meskipun detak jantungnya bertalu-talu saat melihat dan semakin dekat dengan sosok pria yang telah menjadi suaminya.
"Nak Lia, akhirnya datang juga. Ayo, Tante kenalkan dengan putra-putra Tante," ucap Nyonya Shiva dengan senyuman ramahnya.
"Aku merasa sangat terhormat mendapatkan sambutan langsung dari Tante," sahut Elin tersenyum tipis memancarkan aura kecantikannya.
"Oh, namanya Lia?"
"Nona, maukah nanti berdansa denganku?"
"Nona, denganku saja,"
Para pria mengikuti Elin seperti semut yang mengerubuti gula. Sedangkan Zion masih sibuk membalas pesan, tidak menyadari kehadiran Elin.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Elin tersenyum manis pada Nico dan istrinya seraya menyalami keduanya bergantian.
"Terima kasih," ucap Nico dan istrinya bersamaan. Namun istri Nico tiba-tiba memeluk lengan Nico erat, tatapan matanya tertuju padaa Elin.
Sedangkan detak jantung Elin benar-benar tidak aman, karena saat ini Zion begitu dekat dengannya. Elin melirik sekilas pada Zion yang masih fokus pada ponselnya. Ia menyembunyikan perasaan gugupnya di balik senyuman manisnya.
"Apa Kak Zion mengenali aku?" batin Elin.
"Ini Aprilia, pemilik toko kue tempat mama memesan kue," ucap Nyonya Shiva memperkenalkan Elin.
"Oh, ternyata kenalan mama," sahut Nico tersenyum tipis seraya mengelus punggung tangan istrinya, seolah mengatakan bahwa ia tidak akan tergoda dengan wanita lain. Sedangkan Elin hanya tersenyum tipis.
"Sebentar, ya, Nak Lia? Tante perkenalkan sama anak bungsu Tante dulu," ucap Nyonya Shiva kemudian mencari keberadaan putra bungsunya.
"Nona Lia, bisa kita berkenalan?" tanya seorang pria dengan senyuman manis yang menghias bibirnya. Namun Elin bisa melihat tatapan mesum pria itu pada dirinya dan ia merasa ditelanjangi oleh pria itu.
"Nona Lia, saya dari perusahaan properti, bisa kita berbincang?"
"Nona Lia cantik sekali, bisa saya mengenal nona lebih jauh?"
Beberapa orang pria terus berusaha mendekati Elin dengan agresif, membuat Elin merasa tidak nyaman.
Sedangkan Nico menghela napas panjang melihat para tamu undangan pria yang terang-terangan berebut mendekati Elin di depannya, hingga menganggu para tamu undangan lain yang ingin mengucapkan selamat padanya dan istrinya. Ia melirik Zion yang fokus chatting tanpa menghiraukan sekitarnya.
"Nona Lia.." panggil pria yang menatap Elin dengan tatapan mesum tadi tersenyum seraya mengulurkan tangannya berusaha menyentuh Elin.
Elin menghindar, tak ingin disentuh pria itu. Merasa terjebak di antara para pria yang semakin banyak mengerumuninya, Elin nekat memeluk lengan Zion.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
gak enak banget dikerubutin gitu ya, elin. rasa pengen kabur aja
2024-09-26
2
Sugiharti Rusli
pasti Zion ga mengenali si Elin
2024-09-05
2
Yuliarti
mulai seru ceritanya......👍🏻
2024-09-05
3