16. Nekat

Zion nampak mengepak barang-barangnya dibantu Bu Mira. Pemuda yang selama lima tahun berada di luar negeri itu akhirnya akan pulang karena permintaan Pak Hadi.

"Tuan muda, apa kita akan kembali menetap di negeri kita?" tanya Bu Mira tanpa menghentikan aktivitasnya.

"Aku belum bisa memutuskannya, Bu. Pak Hadi meminta aku pulang, karena ada masalah yang tidak bisa diselesaikan Pak Hadi tanpa aku," sahut Zion memasukkan pakaiannya ke dalam koper.

"Kita akan tinggal di apartemen atau.. di rumah?" tanya Bu Mira ragu.

"Di apartemen, Bu," sahut Zion cepat.

"Tuan muda... maaf kalau ibu lancang. Sudah lima tahun kita tinggal di sini. Sudah lima tahun pula Tuan muda meninggalkan.. istri Tuan muda. Berdosa jika mengabaikan istri Tuan muda sendiri," ucap Bu Mira hati-hati.

Zion menghela napas kasar," Bu, aku menikahi dia karena terpaksa. Aku tidak pernah mencintai dia. Apalagi dia adalah tersangka utama meninggalnya Farah dan anakku."

"Tuan muda... mendiang Tuan besar bukanlah orang yang bertindak tanpa berpikir panjang. Beliau sangat menyayangi Tuan muda. Tuan besar tidak mungkin menikahkan Tuan muda dengan gadis itu, jika gadis itu tidak baik untuk Tuan muda. Tuan besar sangat mempercayai gadis itu, saya yakin gadis itu bukanlah orang yang menyebabkan Non Farah keguguran dan meninggal. Tuan muda juga tidak bisa menceraikan gadis itu, kenapa tidak mencoba menerimanya dengan lapang dada dan memulai hubungan kalian dari awal?" Bu Mira nampak berhati-hati dalam berbicara, tidak ingin Zion tersinggung, apalagi marah.

"Aku nggak bisa, Bu. Aku membencinya. Hidupku jadi kacau balau sejak ia masuk dalam kehidupanku," sahut Zion membuang napas kasar.

"Maaf, ibu hanya ingin melihat Tuan muda bahagia, memiliki keluarga dan keturunan. Ibu ingin sekali menggendong anak Tuan muda," ucap Bu Mira pelan dengan wajah sendu.

"Sudahlah, Bu. Aku nggak ingin membahas masalah ini lagi," ujar Zion mengakhiri pembicaraan, kemudian masuk ke kamar mandi.

"Aku hanya ingin melihatmu bahagia... anakku," gumam Bu Mira menatap Zion yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan wajah sendunya.

*

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Zion dan Bu Mira tiba di tanah kelahiran mereka. Bu Mira menatap mentari senja di bandara, ia terlihat senang bisa kembali pulang. Seenak-enaknya di negeri orang, pasti lebih enak di negeri sendiri, bukan? Itulah yang dirasakan oleh Bu Mira.

Setengah jam kemudian, Zion dan Bu Mira sudah tiba di apartemen Zion. Pemuda itu mengambil ponselnya dari saku celananya saat benda pipih itu berdering menandakan ada panggilan masuk.

"Halo, Nic?" sapa Zion setelah melihat siapa yang sedang menghubungi dirinya dan menerima panggilan itu.

"Elo kagak lupa, 'kan, kalau malam ini adalah resepsi pernikahan gue?" tanya Nico dari sambungan telepon.

Zion nampak terkesiap, ia benar-benar lupa kalau Nico, sahabatnya telah mengirim undangan pernikahan dan malam ini adalah resepsi pernikahannya.

"Tentu saja kagak. Gue baru saja tiba di tanah air, ntar malam pasti datang," sahut Zion pura-pura tidak lupa.

"Syukurlah kalau kagak lupa. Gue tunggu ntar malam, ya! Siapa tahu elo bisa dapat jodoh di pesta pernikahan gue. Gue kasihan sama elo, tidur sendirian kagak ada yang dikelonin," ejek Nico.

"Ya, udah, gue istirahat dulu, gue capai banget, nih!" sahut Zion, kemudian mengakhiri panggilan secara sepihak.

Zion membuang napas kasar. Ia tak ingin membicarakan soal pasangan, karena ia sudah menikah dengan Elin yang tak dicintainya, bahkan dibencinya. Jika ia ingin menikah dengan wanita lain, maka ia harus meminta izin pada Elin selaku istri pertamanya yang sah di mata hukum dan agama.

Selain itu, sudah jelas dalam surat wasiat kakeknya, kalau hanya anaknya bersama Elin yang akan mewarisi semua harta kakeknya.

Dan alasan lainnya kenapa sampai sekarang ia tak dekat dengan wanita manapun adalah, karena sampai saat ini belum ada wanita yang mampu menarik perhatiannya, apalagi mencuri hatinya.

*

Malam telah tiba dan Zion pun bersiap pergi ke pesta pernikahan Nico. Bentuk tubuhnya yang proporsional dibalut jas berwarna dark brown dengan kemeja berwarna biru sebagai inner jasnya. Ia memakai dasi berwarna coklat dan menyelipkan sapu tangan di saku jasnya. Jam tangan berkelas melingkar di pergelangan tangannya, dan rambut hitamnya di sisir rapi. Penampilan yang terlihat maskulin. Benar-benar definisi penampilan yang... SEMPURNA.

Setengah jam kemudian Zion masuk ke dalam ballroom dan langsung menjadi pusat perhatian para wanita. Dengan penuh percaya diri ia menghampiri sepasang pengantin.

"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Zion menjabat tangan istri Nico, lalu berpelukan dengan Nico sebentar.

"Akhirnya elo datang juga, bro! Sayangnya cuma sendiri. Truk aja gandengan, kok, elo malah sendirian?" ledek Nico.

"Sebentar.." ucap Zion merasakan ponselnya bergetar. Ia me-reject panggilan masuk di ponselnya, lalu mengetik pesan.

Nico menghela napas panjang melihat Zion yang sedang berbalas pesan. Namun perhatian Nico teralihkan saat mendengar kasak kusuk para tamu undangan yang menatap ke arah pintu masuk ballroom.

"Siapa wanita itu? Kenapa mama menghampirinya? Kamu kenal, sama wanita itu, Sayang?" tanya Nico pada istrinya.

"Enggak," sahut istrinya ikut menatap wanita bergaun biru yang menjadi pusat perhatian.

Wanita yang baru masuk yang tidak lain adalah Elin. Dengan anggun ia melangkah menuju sepasang pengantin. Para pria semakin merapat kearahnya.

"Deg"

Tiba-tiba saja Elin merasa jantungnya seperti berhenti berdetak dan langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Netranya menangkap bayangan wajah seorang pria yang berdiri menyamping di sebelah mempelai pria. Wajah yang sudah lima tahun ini tidak dilihatnya.

Namun Elin yang sudah dilatih Bu Heni dapat segera mengelola ekspresi wajahnya yang sempat terkejut. Ia kembali melanjutkan langkah kakinya dengan anggun, meskipun detak jantungnya bertalu-talu saat melihat dan semakin dekat dengan sosok pria yang telah menjadi suaminya.

"Nak Lia, akhirnya datang juga. Ayo, Tante kenalkan dengan putra-putra Tante," ucap Nyonya Shiva dengan senyuman ramahnya.

"Aku merasa sangat terhormat mendapatkan sambutan langsung dari Tante," sahut Elin tersenyum tipis memancarkan aura kecantikannya.

"Oh, namanya Lia?"

"Nona, maukah nanti berdansa denganku?"

"Nona, denganku saja,"

Para pria mengikuti Elin seperti semut yang mengerubuti gula. Sedangkan Zion masih sibuk membalas pesan, tidak menyadari kehadiran Elin.

"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Elin tersenyum manis pada Nico dan istrinya seraya menyalami keduanya bergantian.

"Terima kasih," ucap Nico dan istrinya bersamaan. Namun istri Nico tiba-tiba memeluk lengan Nico erat, tatapan matanya tertuju padaa Elin.

Sedangkan detak jantung Elin benar-benar tidak aman, karena saat ini Zion begitu dekat dengannya. Elin melirik sekilas pada Zion yang masih fokus pada ponselnya. Ia menyembunyikan perasaan gugupnya di balik senyuman manisnya.

"Apa Kak Zion mengenali aku?" batin Elin.

"Ini Aprilia, pemilik toko kue tempat mama memesan kue," ucap Nyonya Shiva memperkenalkan Elin.

"Oh, ternyata kenalan mama," sahut Nico tersenyum tipis seraya mengelus punggung tangan istrinya, seolah mengatakan bahwa ia tidak akan tergoda dengan wanita lain. Sedangkan Elin hanya tersenyum tipis.

"Sebentar, ya, Nak Lia? Tante perkenalkan sama anak bungsu Tante dulu," ucap Nyonya Shiva kemudian mencari keberadaan putra bungsunya.

"Nona Lia, bisa kita berkenalan?" tanya seorang pria dengan senyuman manis yang menghias bibirnya. Namun Elin bisa melihat tatapan mesum pria itu pada dirinya dan ia merasa ditelanjangi oleh pria itu.

"Nona Lia, saya dari perusahaan properti, bisa kita berbincang?"

"Nona Lia cantik sekali, bisa saya mengenal nona lebih jauh?"

Beberapa orang pria terus berusaha mendekati Elin dengan agresif, membuat Elin merasa tidak nyaman.

Sedangkan Nico menghela napas panjang melihat para tamu undangan pria yang terang-terangan berebut mendekati Elin di depannya, hingga menganggu para tamu undangan lain yang ingin mengucapkan selamat padanya dan istrinya. Ia melirik Zion yang fokus chatting tanpa menghiraukan sekitarnya.

"Nona Lia.." panggil pria yang menatap Elin dengan tatapan mesum tadi tersenyum seraya mengulurkan tangannya berusaha menyentuh Elin.

Elin menghindar, tak ingin disentuh pria itu. Merasa terjebak di antara para pria yang semakin banyak mengerumuninya, Elin nekat memeluk lengan Zion.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

gak enak banget dikerubutin gitu ya, elin. rasa pengen kabur aja

2024-09-26

2

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

pasti Zion ga mengenali si Elin

2024-09-05

2

Yuliarti

Yuliarti

mulai seru ceritanya......👍🏻

2024-09-05

3

lihat semua
Episodes
1 1. Persyaratan
2 2. Tidak Setuju
3 3. Cinta Dan Kewajiban
4 4. Cincin Kebesaran
5 5. Dingin
6 6. Minder
7 7. Syok Hemoragik
8 8. Jatuh
9 9. Tuduhan
10 10. Di Bawah Kamboja
11 11. Hilang
12 12. Menutupi
13 13. Metamorfosis
14 14. Merasa Bersalah
15 15. Bersuami, Tapi Perawan
16 16. Nekat
17 17. Dianggap Drama
18 18. Lupa
19 19. Gegana
20 20. Begitu Benci kah?
21 21. Berlawanan
22 22. Apa Keberatan?
23 23. Mengingatkan
24 24. Kasmaran
25 25. Pasang Surut
26 26. Ada Yang Kurang
27 27. Penasaran
28 28. Suram
29 29. Lalat Sampah
30 30. Meminta Pulang
31 31. Alasan Bertahan
32 32. Resah
33 33. Digulung Ombak
34 34. Janji
35 35. Susah Dinasehati
36 36. Risau
37 37. Tahu Semuanya
38 38. Poster
39 39. Terpaksa
40 40. Bimbang
41 41. Ingin Menceraikan
42 42. Benar-benar Melupakan
43 43. Pelarian Farah
44 44. Curiga
45 45. Manipulatif
46 46. Nekat
47 47. Tanpa Kabar
48 48. Merasa Lega
49 49. Keputusan
50 50. Menghampiri
51 51. Ke Luar Kota
52 52. Ada yang Janggal
53 53. Setengah Berbohong
54 54. Bertemu Lagi
55 55. Mengizinkan
56 56. Pertemuan Tak Terduga
57 57. Interaksi Adik-kakak
58 58. Untungnya
59 59. Benar-benar Berusaha
60 60. Yang kedua
61 61. Adik Manis Salah Masuk
62 62. Diawasi
63 63. Kekanak-kanakan
64 63. Bukan Sister Complex
65 65. Hampa
66 66. Memotivasi
67 67. Lupa Janji
68 68. Mengurus Perceraian
69 69. Di Ambang Kebenaran
70 70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71 71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72 72. Dilema Hati
73 73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74 74. Pelajaran Hidup
75 75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76 76. Ikatan Keluarga
77 77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78 78. Kebenaran yang Diungkapkan
79 79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80 80. Cintamu Ugal-ugalan
81 81. Konfrontasi Zion dan Franky
82 82. Perpisahan di Bandara
83 83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84 84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85 85. Dokumen Penting
86 86. Pertanyaan yang Menganggu
87 87. Ditampar Kenyataan
88 88. Kebenaran yang Menyakitkan
89 89. Jujur atau Tetap Diam?
90 90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91 91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92 92. Pengakuan Dosa
93 93. Kabar Keberadaan
94 94. Sebuah Amplop
95 95. Tidak Tahu Apa-apa
96 96. Kesuksesan yang Hampa
97 97. Penyanderaan
98 98. Sesuatu yang Familiar
99 99. Lebih dari Rekan Bisnis
100 100. Penyelidikan
101 101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102 102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103 103. Runtuh dan Hancur
104 104. Perasaan Lega
105 105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106 106. Momen yang Terulang
107 107. Jodoh Pilihan Bocil
Episodes

Updated 107 Episodes

1
1. Persyaratan
2
2. Tidak Setuju
3
3. Cinta Dan Kewajiban
4
4. Cincin Kebesaran
5
5. Dingin
6
6. Minder
7
7. Syok Hemoragik
8
8. Jatuh
9
9. Tuduhan
10
10. Di Bawah Kamboja
11
11. Hilang
12
12. Menutupi
13
13. Metamorfosis
14
14. Merasa Bersalah
15
15. Bersuami, Tapi Perawan
16
16. Nekat
17
17. Dianggap Drama
18
18. Lupa
19
19. Gegana
20
20. Begitu Benci kah?
21
21. Berlawanan
22
22. Apa Keberatan?
23
23. Mengingatkan
24
24. Kasmaran
25
25. Pasang Surut
26
26. Ada Yang Kurang
27
27. Penasaran
28
28. Suram
29
29. Lalat Sampah
30
30. Meminta Pulang
31
31. Alasan Bertahan
32
32. Resah
33
33. Digulung Ombak
34
34. Janji
35
35. Susah Dinasehati
36
36. Risau
37
37. Tahu Semuanya
38
38. Poster
39
39. Terpaksa
40
40. Bimbang
41
41. Ingin Menceraikan
42
42. Benar-benar Melupakan
43
43. Pelarian Farah
44
44. Curiga
45
45. Manipulatif
46
46. Nekat
47
47. Tanpa Kabar
48
48. Merasa Lega
49
49. Keputusan
50
50. Menghampiri
51
51. Ke Luar Kota
52
52. Ada yang Janggal
53
53. Setengah Berbohong
54
54. Bertemu Lagi
55
55. Mengizinkan
56
56. Pertemuan Tak Terduga
57
57. Interaksi Adik-kakak
58
58. Untungnya
59
59. Benar-benar Berusaha
60
60. Yang kedua
61
61. Adik Manis Salah Masuk
62
62. Diawasi
63
63. Kekanak-kanakan
64
63. Bukan Sister Complex
65
65. Hampa
66
66. Memotivasi
67
67. Lupa Janji
68
68. Mengurus Perceraian
69
69. Di Ambang Kebenaran
70
70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71
71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72
72. Dilema Hati
73
73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74
74. Pelajaran Hidup
75
75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76
76. Ikatan Keluarga
77
77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78
78. Kebenaran yang Diungkapkan
79
79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80
80. Cintamu Ugal-ugalan
81
81. Konfrontasi Zion dan Franky
82
82. Perpisahan di Bandara
83
83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84
84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85
85. Dokumen Penting
86
86. Pertanyaan yang Menganggu
87
87. Ditampar Kenyataan
88
88. Kebenaran yang Menyakitkan
89
89. Jujur atau Tetap Diam?
90
90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91
91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92
92. Pengakuan Dosa
93
93. Kabar Keberadaan
94
94. Sebuah Amplop
95
95. Tidak Tahu Apa-apa
96
96. Kesuksesan yang Hampa
97
97. Penyanderaan
98
98. Sesuatu yang Familiar
99
99. Lebih dari Rekan Bisnis
100
100. Penyelidikan
101
101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102
102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103
103. Runtuh dan Hancur
104
104. Perasaan Lega
105
105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106
106. Momen yang Terulang
107
107. Jodoh Pilihan Bocil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!