11. Hilang

Dari pemakaman kakeknya, Zion bersama Bu Mira ke rumah sakit tempat jenazah Farah berada. Sampai saat ini ia tidak bisa menghubungi orang tua Farah, jadi Zion memutuskan untuk mengantarkan jenazah Farah ke kota tempat tinggal orang tua Farah.

"Saya ingin mengurus kepulangan jenazah Farah Fionita," ucap Zion pada pihak rumah sakit.

"Jenazah atas nama Farah? Meninggal karena apa, hari apa dan pukul berapa?" tanya sang petugas medis rumah sakit.

"Hari Sabtu pukul.. sekitar pukul 10 sampai 11 malam, saya tidak ingat pasti karena panik. Penyebab meninggalnya adalah keguguran," sahut Zion.

Petugas medis nampak mencari data tentang Farah. Agak lama petugas medis itu mencari dengan kening yang berkerut.

"Maaf, apa mungkin Anda salah menyebutkan nama pasien dan penyebab meninggalnya?" tanya sang petugas medis.

"Tidak," sahut Zion yakin.

"Tapi dalam data kami tidak ada pasien yang bernama Farah Fionita yang meninggal hari Sabtu karena keguguran dan di jam yang Anda sebutkan," jelas sang petugas medis.

Bu Mira mengernyitkan keningnya mendengar pembicaraan Zion dan petugas medis, "Apa Tuan muda nggak salah rumah sakit?" celetuk Mira.

"Aku masih ingat dengan jelas kalau aku ke rumah sakit ini, Bu. Aku tidak pikun," sahut Zion yakin.

"Tapi benar-benar tidak ada jenazah dengan nama yang Anda sebutkan, Tuan," sahut sang petugas medis.

Karena tidak percaya, akhirnya Zion meminta izin untuk memeriksa ke kamar jenazah, namun Zion benar-benar tidak menemukan keberadaan jenazah Farah. Bahkan Zion mencari di kamar mayat, namun tetap tidak menemukan Farah.

"Apa yang terjadi? Jelas-jelas semalam aku membawa Farah ke rumah sakit ini, tapi mengapa tidak ada jenazah Farah di sini?" gumam Zion menjambak rambutnya sendiri terlihat frustrasi.

"Tuan muda, sebaiknya kita pulang dulu. Tuan muda bisa menjernihkan pikiran dulu, nanti baru cari lagi," Mira mencoba membujuk Zion pulang. Ia merasa prihatin melihat Zion yang kacau.

Karena sudah lelah mencari, akhirnya Zion mengikuti saran Bu Mira untuk pulang dan memilih menyuruh orang untuk menyelidiki tentang hilangnya jenazah Farah.

"Bu Mira, aku tak ingin lagi tinggal di rumah itu," ucap Zion yang sedang mengemudikan mobilnya menuju rumah tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan.

Bu Mira menatap Zion dengan kening yang berkerut, "Lalu.. Tuan muda ingin tinggal dimana?" tanyanya.

"Aku akan tinggal di apartemen," sahut Zion menghela napas yang terasa berat.

Ia tidak mau lagi tinggal di rumah itu karena tidak ingin lagi bertemu Elin. Zion merasa hidupnya jadi kacau balau dan penuh kesialan setelah bertemu dengan Elin. Dari ia dijodohkan dan dipaksa menikah dengan Elin, meninggalnya Farah, meninggalnya kakeknya, bahkan sekarang jenazah Farah pun tak tahu dimana rimbanya. Zion merasa semua kekacauan ini berawal dari masuknya Elin ke rumahnya.

"A.. apakah ibu boleh ikut Tuan muda?" tanya Bu Mira ragu, tapi penuh harap. Ia sudah menganggap Zion seperti anak kandungnya sendiri. Ia tak ingin berpisah dari Zion, karena ia sudah tidak memiliki keluarga lagi.

"Jika ibu mau, aku nggak keberatan," sahut Zion tersenyum tipis. Ia juga sudah menganggap Bu Mira seperti ibunya sendiri.

Senyum Bu Mira pun mengembang mendengar Zion tak keberatan tinggal bersamanya, "Ibu ingin ikut Tuan muda kemanapun Tuan muda pergi."

*

Sesampainya di rumah, Zion dan Bu Mira melihat Pak Hadi yang sedang memantau pekerjaan para teknisi yang memperbaiki cctv di rumah.

Beberapa saat Bu Mira mengatur napas sebelum menghampiri tangan kanan Kakek Zhafran tersebut, "Pak Hadi, saya ingin ikut Tuan muda," pamit Bu Mira dengan wajah tertunduk tanpa berani menatap Pak Hadi.

"Ikut ke mana?" tanya Pak Hadi memicingkan sebelah matanya menatap Bu Mira.

"Sa..saya ingin tinggal di apartemen Tuan muda," jawab Bu Mira tergagap. Suara bariton Pak Hadi yang terdengar berat dan datar selalu sukses membuatnya merasa gugup.

Pak Hadi tersenyum samar, "Silahkan! Mungkin akan lebih baik kalau Nyonya Elin dan Tuan muda berpisah untuk sementara waktu, agar pikiran Tuan muda bisa sedikit jernih dan Nyonya Elin bisa melupakan traumanya karena hampir dilenyapkan Tuan muda," sahut Pak Hadi dengan salah satu sudut bibir yang tertarik ke atas.

"Sa..saya permisi," ucap Bu Mira bergegas meninggalkan Pak Hadi untuk mengemasi barang-barangnya.

Sungguh, sejak dulu Bu Mira tidak pernah bisa menebak apa isi hati Pak Hadi. Pria yang menjadi orang kepercayaan Kakek Zhafran itu penuh misteri dan tidak banyak bicara kalau tidak penting. Ekspresi wajahnya dan tatapan matanya selalu mampu membuat orang yang ia lihat merasa dikuliti. Pria paruh baya itu seolah tahu apa yang dipikirkan oleh lawan bicaranya. Karena itu semua orang tidak ada yang berani banyak bicara dengan Pak Hadi. Bahkan enggan menatap mata tajam Pak Hadi.

Sedangkan Zion langsung naik ke lantai dua tempat kamarnya berada untuk mengemasi barang-barangnya. Ia hanya ingin mengemasi barang-barang yang penting-penting saja. Ia akan menyuruh orang untuk mengambil sisa barang-barangnya dari kamarnya.

"Baguslah kalau dia tidak ada. Aku malas bertemu dengan dia." Zion merasa lega, karena saat memasuki kamarnya, ia tidak menemukan Elin di sana.

Setelah selesai berkemas, Zion menatap seluruh ruangan kamar yang sudah menjadi tempat tidurnya selama bertahun-tahun, ia menghela napas kasar, lalu keluar dari kamarnya.

"Tuan muda.."

Suara Pak Hadi membuat langkah Zion terhenti. Ia menolehkan kepalanya menatap Pak Hadi.

"Apa Anda tidak ingin tahu apa alasan kakek Anda menikahkan Anda dengan Nyonya Elin?" tanya Pak Hadi seraya mengangkat kedua alisnya menatap Zion.

"Apapun alasan mendiang kakek, sudah tidak penting lagi bagiku. Bagiku, gadis itu hanya pembawa sial," tukas Zion, lalu keluar dari rumah itu diikuti oleh Bu Mira yang sudah siap dengan barang-barang miliknya. Zion membantu Bu Mira membawa tas besar milik Bu Mira.

"Anda juga tidak ingin tahu tentang apa saja yang saya ketahui?" tanya Pak Hadi dengan salah satu sudut bibir yang tertarik ke atas.

"Aku tidak ingin tahu," sahut Zion tanpa menghentikan langkah kakinya.

"Penyesalan datangnya selalu di akhir, bukan?" Suara Pak Hadi kembali terdengar, tapi tak dihiraukan oleh Zion. Pemuda itu terus melangkah keluar dari rumah yang sudah puluhan tahun ditinggalinya.

Pak Hadi tersenyum samar menatap Zion yang terus berjalan ke luar rumah. Bu Mira yang sempat menoleh pada Pak Hadi pun langsung kembali menatap ke arah depan. Senyuman samar Pak Hadi selalu saja membuat ia bergidik.

"Juni.." panggil Pak Hadi.

"Iya, Pak," sahut Juni bergegas menghampiri Pak Hadi.

Juni berdiri dengan wajah tertunduk hormat, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dan tangannya mulai berkeringat dingin karena di panggil oleh pria paruh baya tersebut.

"Selama Bu Mira pergi, untuk sementara waktu kamu yang jadi kepala pelayan di rumah ini. Ingat! Hanya untuk sementara! Mengerti?" tanya Pak Hadi dengan suara rendah penuh penekanan.

"I..iya, Pak," sahut Juni patuh dengan kedua tangan yang meremas sisi kanan dan kiri celana panjang yang dikenakannya tanpa berani menatap Pak Hadi.

"Kerjakan apa yang aku perintahkan dengan baik. Aku selalu mengawasi semua orang yang ada di rumah ini. Tak satupun bisa luput dari pantauanku," ucap Pak Hadi, lalu mendekati Juni, membuat Juni tegang, hingga tanpa sadar menahan napas. Pria paruh baya itu kemudian berbisik, " Termasuk dosamu dan suamimu."

"Deg"

Seketika Juni yang masih menunduk itu membulatkan matanya karena mendengar perkataan Pak Hadi. Ia merasa jantungnya bagai di hantam batu besar, tiba-tiba saja tangannya gemetaran. Sedangkan Pak Hadi berlalu begitu saja dengan senyuman samar di wajah datarnya.

...🌸❤️🌸...

To be continued

Terpopuler

Comments

༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉

༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉

apa bedanya kamar mayat sama kamar jenazah??

2024-10-30

1

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

pak hadi tau semuanya. hebat!

2024-09-25

2

hatiAti

hatiAti

pak hadi kek pemeran utamanya....🤭 misterius

2024-09-17

2

lihat semua
Episodes
1 1. Persyaratan
2 2. Tidak Setuju
3 3. Cinta Dan Kewajiban
4 4. Cincin Kebesaran
5 5. Dingin
6 6. Minder
7 7. Syok Hemoragik
8 8. Jatuh
9 9. Tuduhan
10 10. Di Bawah Kamboja
11 11. Hilang
12 12. Menutupi
13 13. Metamorfosis
14 14. Merasa Bersalah
15 15. Bersuami, Tapi Perawan
16 16. Nekat
17 17. Dianggap Drama
18 18. Lupa
19 19. Gegana
20 20. Begitu Benci kah?
21 21. Berlawanan
22 22. Apa Keberatan?
23 23. Mengingatkan
24 24. Kasmaran
25 25. Pasang Surut
26 26. Ada Yang Kurang
27 27. Penasaran
28 28. Suram
29 29. Lalat Sampah
30 30. Meminta Pulang
31 31. Alasan Bertahan
32 32. Resah
33 33. Digulung Ombak
34 34. Janji
35 35. Susah Dinasehati
36 36. Risau
37 37. Tahu Semuanya
38 38. Poster
39 39. Terpaksa
40 40. Bimbang
41 41. Ingin Menceraikan
42 42. Benar-benar Melupakan
43 43. Pelarian Farah
44 44. Curiga
45 45. Manipulatif
46 46. Nekat
47 47. Tanpa Kabar
48 48. Merasa Lega
49 49. Keputusan
50 50. Menghampiri
51 51. Ke Luar Kota
52 52. Ada yang Janggal
53 53. Setengah Berbohong
54 54. Bertemu Lagi
55 55. Mengizinkan
56 56. Pertemuan Tak Terduga
57 57. Interaksi Adik-kakak
58 58. Untungnya
59 59. Benar-benar Berusaha
60 60. Yang kedua
61 61. Adik Manis Salah Masuk
62 62. Diawasi
63 63. Kekanak-kanakan
64 63. Bukan Sister Complex
65 65. Hampa
66 66. Memotivasi
67 67. Lupa Janji
68 68. Mengurus Perceraian
69 69. Di Ambang Kebenaran
70 70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71 71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72 72. Dilema Hati
73 73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74 74. Pelajaran Hidup
75 75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76 76. Ikatan Keluarga
77 77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78 78. Kebenaran yang Diungkapkan
79 79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80 80. Cintamu Ugal-ugalan
81 81. Konfrontasi Zion dan Franky
82 82. Perpisahan di Bandara
83 83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84 84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85 85. Dokumen Penting
86 86. Pertanyaan yang Menganggu
87 87. Ditampar Kenyataan
88 88. Kebenaran yang Menyakitkan
89 89. Jujur atau Tetap Diam?
90 90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91 91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92 92. Pengakuan Dosa
93 93. Kabar Keberadaan
94 94. Sebuah Amplop
95 95. Tidak Tahu Apa-apa
96 96. Kesuksesan yang Hampa
97 97. Penyanderaan
98 98. Sesuatu yang Familiar
99 99. Lebih dari Rekan Bisnis
100 100. Penyelidikan
101 101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102 102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103 103. Runtuh dan Hancur
104 104. Perasaan Lega
105 105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106 106. Momen yang Terulang
107 107. Jodoh Pilihan Bocil
Episodes

Updated 107 Episodes

1
1. Persyaratan
2
2. Tidak Setuju
3
3. Cinta Dan Kewajiban
4
4. Cincin Kebesaran
5
5. Dingin
6
6. Minder
7
7. Syok Hemoragik
8
8. Jatuh
9
9. Tuduhan
10
10. Di Bawah Kamboja
11
11. Hilang
12
12. Menutupi
13
13. Metamorfosis
14
14. Merasa Bersalah
15
15. Bersuami, Tapi Perawan
16
16. Nekat
17
17. Dianggap Drama
18
18. Lupa
19
19. Gegana
20
20. Begitu Benci kah?
21
21. Berlawanan
22
22. Apa Keberatan?
23
23. Mengingatkan
24
24. Kasmaran
25
25. Pasang Surut
26
26. Ada Yang Kurang
27
27. Penasaran
28
28. Suram
29
29. Lalat Sampah
30
30. Meminta Pulang
31
31. Alasan Bertahan
32
32. Resah
33
33. Digulung Ombak
34
34. Janji
35
35. Susah Dinasehati
36
36. Risau
37
37. Tahu Semuanya
38
38. Poster
39
39. Terpaksa
40
40. Bimbang
41
41. Ingin Menceraikan
42
42. Benar-benar Melupakan
43
43. Pelarian Farah
44
44. Curiga
45
45. Manipulatif
46
46. Nekat
47
47. Tanpa Kabar
48
48. Merasa Lega
49
49. Keputusan
50
50. Menghampiri
51
51. Ke Luar Kota
52
52. Ada yang Janggal
53
53. Setengah Berbohong
54
54. Bertemu Lagi
55
55. Mengizinkan
56
56. Pertemuan Tak Terduga
57
57. Interaksi Adik-kakak
58
58. Untungnya
59
59. Benar-benar Berusaha
60
60. Yang kedua
61
61. Adik Manis Salah Masuk
62
62. Diawasi
63
63. Kekanak-kanakan
64
63. Bukan Sister Complex
65
65. Hampa
66
66. Memotivasi
67
67. Lupa Janji
68
68. Mengurus Perceraian
69
69. Di Ambang Kebenaran
70
70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71
71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72
72. Dilema Hati
73
73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74
74. Pelajaran Hidup
75
75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76
76. Ikatan Keluarga
77
77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78
78. Kebenaran yang Diungkapkan
79
79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80
80. Cintamu Ugal-ugalan
81
81. Konfrontasi Zion dan Franky
82
82. Perpisahan di Bandara
83
83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84
84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85
85. Dokumen Penting
86
86. Pertanyaan yang Menganggu
87
87. Ditampar Kenyataan
88
88. Kebenaran yang Menyakitkan
89
89. Jujur atau Tetap Diam?
90
90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91
91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92
92. Pengakuan Dosa
93
93. Kabar Keberadaan
94
94. Sebuah Amplop
95
95. Tidak Tahu Apa-apa
96
96. Kesuksesan yang Hampa
97
97. Penyanderaan
98
98. Sesuatu yang Familiar
99
99. Lebih dari Rekan Bisnis
100
100. Penyelidikan
101
101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102
102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103
103. Runtuh dan Hancur
104
104. Perasaan Lega
105
105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106
106. Momen yang Terulang
107
107. Jodoh Pilihan Bocil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!