Dari pemakaman kakeknya, Zion bersama Bu Mira ke rumah sakit tempat jenazah Farah berada. Sampai saat ini ia tidak bisa menghubungi orang tua Farah, jadi Zion memutuskan untuk mengantarkan jenazah Farah ke kota tempat tinggal orang tua Farah.
"Saya ingin mengurus kepulangan jenazah Farah Fionita," ucap Zion pada pihak rumah sakit.
"Jenazah atas nama Farah? Meninggal karena apa, hari apa dan pukul berapa?" tanya sang petugas medis rumah sakit.
"Hari Sabtu pukul.. sekitar pukul 10 sampai 11 malam, saya tidak ingat pasti karena panik. Penyebab meninggalnya adalah keguguran," sahut Zion.
Petugas medis nampak mencari data tentang Farah. Agak lama petugas medis itu mencari dengan kening yang berkerut.
"Maaf, apa mungkin Anda salah menyebutkan nama pasien dan penyebab meninggalnya?" tanya sang petugas medis.
"Tidak," sahut Zion yakin.
"Tapi dalam data kami tidak ada pasien yang bernama Farah Fionita yang meninggal hari Sabtu karena keguguran dan di jam yang Anda sebutkan," jelas sang petugas medis.
Bu Mira mengernyitkan keningnya mendengar pembicaraan Zion dan petugas medis, "Apa Tuan muda nggak salah rumah sakit?" celetuk Mira.
"Aku masih ingat dengan jelas kalau aku ke rumah sakit ini, Bu. Aku tidak pikun," sahut Zion yakin.
"Tapi benar-benar tidak ada jenazah dengan nama yang Anda sebutkan, Tuan," sahut sang petugas medis.
Karena tidak percaya, akhirnya Zion meminta izin untuk memeriksa ke kamar jenazah, namun Zion benar-benar tidak menemukan keberadaan jenazah Farah. Bahkan Zion mencari di kamar mayat, namun tetap tidak menemukan Farah.
"Apa yang terjadi? Jelas-jelas semalam aku membawa Farah ke rumah sakit ini, tapi mengapa tidak ada jenazah Farah di sini?" gumam Zion menjambak rambutnya sendiri terlihat frustrasi.
"Tuan muda, sebaiknya kita pulang dulu. Tuan muda bisa menjernihkan pikiran dulu, nanti baru cari lagi," Mira mencoba membujuk Zion pulang. Ia merasa prihatin melihat Zion yang kacau.
Karena sudah lelah mencari, akhirnya Zion mengikuti saran Bu Mira untuk pulang dan memilih menyuruh orang untuk menyelidiki tentang hilangnya jenazah Farah.
"Bu Mira, aku tak ingin lagi tinggal di rumah itu," ucap Zion yang sedang mengemudikan mobilnya menuju rumah tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan.
Bu Mira menatap Zion dengan kening yang berkerut, "Lalu.. Tuan muda ingin tinggal dimana?" tanyanya.
"Aku akan tinggal di apartemen," sahut Zion menghela napas yang terasa berat.
Ia tidak mau lagi tinggal di rumah itu karena tidak ingin lagi bertemu Elin. Zion merasa hidupnya jadi kacau balau dan penuh kesialan setelah bertemu dengan Elin. Dari ia dijodohkan dan dipaksa menikah dengan Elin, meninggalnya Farah, meninggalnya kakeknya, bahkan sekarang jenazah Farah pun tak tahu dimana rimbanya. Zion merasa semua kekacauan ini berawal dari masuknya Elin ke rumahnya.
"A.. apakah ibu boleh ikut Tuan muda?" tanya Bu Mira ragu, tapi penuh harap. Ia sudah menganggap Zion seperti anak kandungnya sendiri. Ia tak ingin berpisah dari Zion, karena ia sudah tidak memiliki keluarga lagi.
"Jika ibu mau, aku nggak keberatan," sahut Zion tersenyum tipis. Ia juga sudah menganggap Bu Mira seperti ibunya sendiri.
Senyum Bu Mira pun mengembang mendengar Zion tak keberatan tinggal bersamanya, "Ibu ingin ikut Tuan muda kemanapun Tuan muda pergi."
*
Sesampainya di rumah, Zion dan Bu Mira melihat Pak Hadi yang sedang memantau pekerjaan para teknisi yang memperbaiki cctv di rumah.
Beberapa saat Bu Mira mengatur napas sebelum menghampiri tangan kanan Kakek Zhafran tersebut, "Pak Hadi, saya ingin ikut Tuan muda," pamit Bu Mira dengan wajah tertunduk tanpa berani menatap Pak Hadi.
"Ikut ke mana?" tanya Pak Hadi memicingkan sebelah matanya menatap Bu Mira.
"Sa..saya ingin tinggal di apartemen Tuan muda," jawab Bu Mira tergagap. Suara bariton Pak Hadi yang terdengar berat dan datar selalu sukses membuatnya merasa gugup.
Pak Hadi tersenyum samar, "Silahkan! Mungkin akan lebih baik kalau Nyonya Elin dan Tuan muda berpisah untuk sementara waktu, agar pikiran Tuan muda bisa sedikit jernih dan Nyonya Elin bisa melupakan traumanya karena hampir dilenyapkan Tuan muda," sahut Pak Hadi dengan salah satu sudut bibir yang tertarik ke atas.
"Sa..saya permisi," ucap Bu Mira bergegas meninggalkan Pak Hadi untuk mengemasi barang-barangnya.
Sungguh, sejak dulu Bu Mira tidak pernah bisa menebak apa isi hati Pak Hadi. Pria yang menjadi orang kepercayaan Kakek Zhafran itu penuh misteri dan tidak banyak bicara kalau tidak penting. Ekspresi wajahnya dan tatapan matanya selalu mampu membuat orang yang ia lihat merasa dikuliti. Pria paruh baya itu seolah tahu apa yang dipikirkan oleh lawan bicaranya. Karena itu semua orang tidak ada yang berani banyak bicara dengan Pak Hadi. Bahkan enggan menatap mata tajam Pak Hadi.
Sedangkan Zion langsung naik ke lantai dua tempat kamarnya berada untuk mengemasi barang-barangnya. Ia hanya ingin mengemasi barang-barang yang penting-penting saja. Ia akan menyuruh orang untuk mengambil sisa barang-barangnya dari kamarnya.
"Baguslah kalau dia tidak ada. Aku malas bertemu dengan dia." Zion merasa lega, karena saat memasuki kamarnya, ia tidak menemukan Elin di sana.
Setelah selesai berkemas, Zion menatap seluruh ruangan kamar yang sudah menjadi tempat tidurnya selama bertahun-tahun, ia menghela napas kasar, lalu keluar dari kamarnya.
"Tuan muda.."
Suara Pak Hadi membuat langkah Zion terhenti. Ia menolehkan kepalanya menatap Pak Hadi.
"Apa Anda tidak ingin tahu apa alasan kakek Anda menikahkan Anda dengan Nyonya Elin?" tanya Pak Hadi seraya mengangkat kedua alisnya menatap Zion.
"Apapun alasan mendiang kakek, sudah tidak penting lagi bagiku. Bagiku, gadis itu hanya pembawa sial," tukas Zion, lalu keluar dari rumah itu diikuti oleh Bu Mira yang sudah siap dengan barang-barang miliknya. Zion membantu Bu Mira membawa tas besar milik Bu Mira.
"Anda juga tidak ingin tahu tentang apa saja yang saya ketahui?" tanya Pak Hadi dengan salah satu sudut bibir yang tertarik ke atas.
"Aku tidak ingin tahu," sahut Zion tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Penyesalan datangnya selalu di akhir, bukan?" Suara Pak Hadi kembali terdengar, tapi tak dihiraukan oleh Zion. Pemuda itu terus melangkah keluar dari rumah yang sudah puluhan tahun ditinggalinya.
Pak Hadi tersenyum samar menatap Zion yang terus berjalan ke luar rumah. Bu Mira yang sempat menoleh pada Pak Hadi pun langsung kembali menatap ke arah depan. Senyuman samar Pak Hadi selalu saja membuat ia bergidik.
"Juni.." panggil Pak Hadi.
"Iya, Pak," sahut Juni bergegas menghampiri Pak Hadi.
Juni berdiri dengan wajah tertunduk hormat, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dan tangannya mulai berkeringat dingin karena di panggil oleh pria paruh baya tersebut.
"Selama Bu Mira pergi, untuk sementara waktu kamu yang jadi kepala pelayan di rumah ini. Ingat! Hanya untuk sementara! Mengerti?" tanya Pak Hadi dengan suara rendah penuh penekanan.
"I..iya, Pak," sahut Juni patuh dengan kedua tangan yang meremas sisi kanan dan kiri celana panjang yang dikenakannya tanpa berani menatap Pak Hadi.
"Kerjakan apa yang aku perintahkan dengan baik. Aku selalu mengawasi semua orang yang ada di rumah ini. Tak satupun bisa luput dari pantauanku," ucap Pak Hadi, lalu mendekati Juni, membuat Juni tegang, hingga tanpa sadar menahan napas. Pria paruh baya itu kemudian berbisik, " Termasuk dosamu dan suamimu."
"Deg"
Seketika Juni yang masih menunduk itu membulatkan matanya karena mendengar perkataan Pak Hadi. Ia merasa jantungnya bagai di hantam batu besar, tiba-tiba saja tangannya gemetaran. Sedangkan Pak Hadi berlalu begitu saja dengan senyuman samar di wajah datarnya.
...🌸❤️🌸...
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
apa bedanya kamar mayat sama kamar jenazah??
2024-10-30
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pak hadi tau semuanya. hebat!
2024-09-25
2
hatiAti
pak hadi kek pemeran utamanya....🤭 misterius
2024-09-17
2