Begitu selesai bicara dengan kakeknya, Zion keluar dari rumah mengendarai mobilnya menuju apartemen Farah. Pikirannya terasa kacau balau. Permintaan kakeknya untuk menikahi Elin begitu mendadak, hingga membuat ia syok. Semua tidak akan rumit seandainya Farah tidak sedang mengandung darah dagingnya.
"Mana mungkin aku tidak menikahi Farah yang sedang mengandung anakku? Tapi, apa Farah akan setuju menjadi istri keduaku?" gumam Zion merasa bingung harus bagaimana jika Farah tidak mau menjadi istri keduanya.
Tak berapa lama kemudian Zion sudah sampai di apartemen Farah. Farah nampak terkejut saat Zion datang ke apartemennya larut malam dengan wajah yang terlihat kusut. Pria itu duduk di sofa menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Tumben kamu datang malam-malam gini, Zi? Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat kusut gitu?" tanya Farah yang perlahan duduk di samping Zion.
"Kakek setuju kita menikah," sahut Zion pelan seraya memijit pelipisnya sendiri.
"Bagus, dong! Lalu kenapa wajah kamu malah kusut gitu?" tanya Farah merasa senang, tapi dari raut wajah Zion ia bisa memprediksi ada yang tidak beres.
Zion mengatakan kalau kakeknya setuju mereka menikah, tapi ekspresi Zion nampak tertekan dan wajahnya nampak kusut. Sangat jauh dari kata bahagia.
"Farah, aku... aku benar-benar minta maaf. Kakek memaksaku untuk menikah dengan gadis pilihannya. Aku tahu ini terdengar egois, tapi aku tidak bisa melawannya. Aku tidak ingin mengecewakan kakek." ujar Zion memegang kedua tangan Farah dengan ekspresi wajah tak berdaya dan penuh harap Farah dapat mengerti keadaannya.
Sebenarnya ia tak enak hati menyampaikan kabar ini pada Farah, apalagi Farah sedang mengandung darah dagingnya. Ia yakin Farah tidak akan merasa bahagia mendengar kabar ini dan hal itu bisa berpengaruh buruk terhadap janin yang sedang dikandung Farah.
"What? Kamu nggak sedang bercanda, 'kan?" tanya Farah dengan mata membulat sempurna.
"Far, aku harap kamu bisa mengerti. Kakek merawat dan membesarkan aku dengan penuh kasih sayang. Beliau orang yang paling berjasa padaku. Aku tidak akan menjadi seperti sekarang tanpa bimbingan dari kakek. Selama ini kakek tidak pernah meminta apapun dariku. Dan sekarang di sisa hidupnya ia hanya meminta satu hal padaku. Bagaimana aku bisa menolaknya?" ujar Zion berharap Farah mengerti perasaannya.
"Tapi, Zi...bagaimana mungkin aku yang sudah mengandung anak kamu malah kamu jadikan istri kedua? Atau kamu juga menghamili perempuan itu?" tuduh Farah terlihat emosi menatap Zion penuh selidik.
"Aku sudah bilang, dia itu gadis pilihan kakekku. Aku bahkan baru mengenal gadis itu tadi pagi. Lagipula, aku bukan playboy, buaya darat, Casanova atau apalah itu namanya yang suka mempermainkan wanita dan suka celap-celup sembarangan. Aku hanya melakukannya sama kamu dan itupun karena ada orang yang berniat jahat memberikan obat sialan itu sama aku. Kalau tidak, aku tidak akan melakukannya sebelum aku menikah," sanggah Zion mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar.
Farah memejamkan mata sejenak, berusaha mengendalikan amarahnya yang meluap. "Zion, aku tidak mengerti. Aku yang mengandung anakmu, tapi kamu malah akan menikah dengan wanita lain? Kenapa harus seperti ini? Tidak bisakah kamu membujuk kakekmu?" pinta Farah berusaha bersabar.
"Tidak bisa, Far. Bahkan tadi aku sudah menandatangani berkas pernikahanku dengan gadis itu," sahut Zion membuang napas kasar.
"What?" lagi-lagi Farah dibuat terkejut oleh perkataan Zion.
Zion menghela napas kasar lalu menceritakan apa yang terjadi di ruangan kerja kakeknya tadi. Jika Zion tidak setuju menikah dengan gadis pilihan kakeknya, maka malam ini juga kakeknya akan mengalihkan semua hartanya pada gadis pilihan kakeknya. Jadi, Zion terpaksa setuju menikah dengan gadis pilihan kakeknya.
Zion menatap keluar jendela, "Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini, Far. Dulu, aku bebas melakukan apa saja yang aku mau. Sekarang, aku terikat oleh janji dan tanggung jawab."
"Kau pikir aku senang? Aku juga tidak pernah membayangkan akan menjadi istri kedua. Tapi, demi masa depan kita, kita harus bertahan." sinis Farah, "lalu.. kapan kita akan menikah?" tanya Farah dengan kedua tangan di atas paha yang terkepal erat.
Bagaimana pun Farah harus menikah dengan Zion. Jika ia bisa menikah dengan Zion, maka ia bisa hidup mewah tanpa kekurangan apapun dan bisa aman dari mantan pacarnya.
"Besok aku jemput kamu agar bisa bertemu dengan kakek untuk membicarakan hal ini. Sekarang aku pulang dulu," ucap Zion, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Farah meremas dress yang dikenakannya menatap Zion pergi meninggalkan apartemennya. Sesaat kemudian ia memegang perutnya yang masih terlihat datar.
"Sialan! Kakek tua itu mau masuk tanah pun masih mau menghalangi hubunganku dengan Zion. Dulu Zion sangat memanjakan aku dan menuruti semua keinginanku. Tapi sejak kakek bau tanah itu tahu hubungan kami dan tidak merestui hubungan kami, Zion jadi pelit sama aku. Saat ada anak ini di dalam rahimku, dan kesempatan untuk menikahi dengan Zion terbuka lebar, kakek bau tanah itu malah mau menikahkan Zion dengan perempuan lain. Seperti apa, sih, perempuan yang akan dinikahkan dengan Zion? Kenapa kakek tua itu nggak cepat mati juga, sih?" gumam Farah merasa kesal.
*
Hari telah berganti pagi dan Elin sudah siap dengan gaun pengantin berwarna putih yang kontras dengan kulitnya yang berwarna coklat karena terbakar matahari.
Di sisi lain Zion memakai tuksedo berwarna senada dengan Elin. Namun tentu saja dengan penampilan yang sempurna tanpa cela.
Melihat Zion yang begitu sempurna, Elin benar-benar minder bersanding dengan pemuda itu. Ingin rasanya ia lari dari pernikahan ini, tapi ia sudah terikat janji dengan Kakek Zhafran.
Jantungnya Elin berdegup kencang saat ia mengikat janji suci di hadapan Tuhan bersama Zion.
"Mulai hari ini, aku sudah tidak sendiri lagi. Tapi.. pernikahan macam apa yang akan aku jalani?" batin Elin tak bisa memprediksi nanti, esok hari, apalagi masa depan.
Sedangkan Zion juga merasakan jantungnya berdegup kencang saat mengikrarkan janji suci, "Kenapa aku merasa seperti ini? Apa karena ini pertama kalinya aku mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan?" batin Zion.
Pernikahan sederhana itu hanya disaksikan beberapa orang terdekatnya dan seluruh penghuni rumahnya. Karena acara pernikahan dilakukan di rumah.
Usai mengikat janji suci, Zion memakaikan cincin kawin di jari manis Elin yang kurus dengan cepat, seolah tak ingin bersentuhan dengan Elin lebih lama. Kebetulan cincin kawin Elin kebesaran, hingga sangat mudah memakaikannya.
Setelah itu gantian Elin yang memakaikan cincin di jari manis Zion. Karena tangannya tremor, Elin jadi kesulitan memakaikan cincin di jari manis Zion. Zion yang tidak sabar, pun langsung memakai cincin itu sendiri.
Sedikit pun Zion tidak mau menatap Elin. Setelah acara selesai, Zion bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Elin bingung harus bagaimana, hingga akhirnya haya terdiam di tempatnya.
"Elin, sekarang kamar Zion adalah kamarmu juga. Susul lah Zion dan layani dia layaknya seorang istri," ucap kakek Zhafran dengan wajah yang terlihat semakin pucat.
"I..iya, Kek," sahut Elin patuh.
Dengan ragu gadis bertubuh kurus itu berjalan menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar Zion berada. Tidak ada pancaran kebahagiaan sama sekali di wajah Elin. Pernikahan mendadak yang tak pernah dibayangkannya dan sikap Zion yang sangat dingin lah penyebabnya.
"Aku harus bagaimana saat bersama Kak Zion nanti?" batin Elin seraya terus berjalan.
Kakek Zhafran terlihat menghela napas panjang menatap Elin yang melangkah menuju kamar cucunya.
"Hadi.." panggil kakek Zhafran dengan suara pelan dan lemah.
"Iya, Tuan besar," sahut Hadi sedikit menunduk.
"Aku serahkan Elin padamu. Ajari dan jadikan dia wanita cantik yang elegan. Dia adalah batu berlian, diasah sedikit saja pasti akan berkilau. Ajari dia berbisnis, lindungi dia dan adiknya dari siapapun yang berniat jahat pada mereka," titah Kakek Zhafran.
"Baik, Tuan besar," sahut Hadi patuh.
Dengan suara lemah Kakek Zhafran berkata, "Hadi, aku telah melakukan kesalahan besar. Aku telah menyakiti banyak orang karena kecerobohanku."
"Tuan, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Masa lalu tidak bisa diubah. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita memperbaiki semuanya," sahut Hadi dengan suara tenang.
...🌸❤️🌸...
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Zudiyah Zudiyah
kakek Zafran melakukan kesalhan pd ayah Elin kah
2024-10-09
2
Fadillah Ahmad
Sebebarnya apasih yang terjadi sama kakek Zafran? Kenapa dia merasa bersalah ya sama Ellin? Apa rahasia yang di simpan oleh kakek Zafran ya kak Nana? aku bingung dengan teka teki ini sebenarnya?
2024-09-30
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
sepertinya farah bukan hamil anak ayok ya?
2024-09-24
2