Zion baru saja tiba di apartemennya. Ia berdiri di depan cermin besar seraya melepaskan jasnya, lalu dasinya. Namun Zion menghentikan aktivitasnya melepaskan dasi saat melihat cincin di jari manisnya dari pantulan cermin di depannya. Ia menatapnya dan teringat saat Elin menyematkan cincin itu dijari manisnya.
"Aku lupa mengembalikan cincin ini padanya. Mengapa hatiku bergetar saat ia menyematkan cincin ini di jari manisku? Kenapa dia mengecup lembut telapak tanganku seraya menatapku dengan tatapan penuh kasih dan kerinduan dimatanya? Wajah sendunya saat menatapku dengan mata yang berkabut, lalu menempelkan telapak tanganku di pipinya membuat hatiku terasa berdesir dan teriris. Mengapa aku bisa merasakan perasaan seperti itu?" gumam Zion mengingat kembali kejadian tadi.
Zion menghela napas kasar. Ia benar-benar sulit melupakan kejadian tadi. Ekspresi wajah dan tatapan mata Elin benar-benar mengusik hatinya.
"Shiitt! Aku baru pertama kali bertemu dengan dia, kenapa dia bisa membuat hatiku kacau seperti ini?" umpat Zion mengacak-acak rambutnya sendiri.
Zion kembali menatap cincin di jari manisnya, "Ini seperti cincin kawin. Dia menjadikan cincin kawin ini sebagai bandul kalungnya. Dia juga tidak ingin didekati pria. Apa kekasihnya sudah meninggal dan ia belum bisa move on?" gumam Zion menerka-nerka.
Zion menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, ia melipat kedua lengannya dan menjadikannya sebagai bantal. Netranya menatap ke arah langit-langit kamarnya.
"Dia wanita yang cantik, anggun, dengan lekuk tubuh yang sangat sempurna. Sangat memesona. Wajar saja, jika banyak pria yang tertarik padanya," gumam Zion yang tidak bisa melupakan semua yang ada pada diri Elin. Bayangan wajah Elin terus menari-nari di benaknya.
*
Keesokan harinya, Zion pergi ke kantor. Semua karyawan pun terkejut melihat Zion yang sudah lima tahun tak menginjakkan kakinya di kantor itu.
"Selamat datang kembali, Tuan muda!" sapa Pak Hadi yang menyambut Zion di pintu masuk.
"Pagi," sahut Zion tanpa menghentikan langkah kakinya. Pak Hadi pun mengikuti Zion menuju ruangannya.
Tak lama kemudian, Zion dan Pak Hadi pun tiba di ruangan Zion. Pemuda itu duduk di kursi kerjanya.
"Bapak lebih pintar dan lebih berpengalaman dari aku. Urusan apa yang tidak bisa bapak tangani? Ini bukan trik bapak untuk memaksa aku pulang, 'kan?" tanya Zion menatap Pak Hadi memicingkan sebelah matanya.
"Anggap saja begitu. Anda adalah pemilik semua aset ini, saya hanya bertugas untuk mendampingi dan membantu Tuan muda. Kalau Tuan muda tak mau lagi mengurusnya, berikan saja semuanya pada Nyonya muda," jawab Pak Hadi enteng dengan wajah datarnya.
"Jadi bapak benar-benar hanya ingin aku pulang dan mengurus perusahaan di sini?" Zion membuang napas kasar, merasa di tipu.
"Sudah lima tahun Tuan muda pergi dan tidak pernah mengunjungi nyonya muda, bahkan menghubunginya saja tidak mau. Apa Tuan muda tidak merasa berdosa karena telah mengabaikan nyonya?" tanya Pak Hadi seraya mengangkat kedua alisnya menatap Zion.
"Aku tidak pernah ingin menikahinya. Aku tidak mencintai dia. Jadi, jangan bujuk aku untuk menemui dia," ketus Zion.
"Nyonya sekarang bukan yang dulu. Sekarang nyonya sudah bisa hidup mandiri, dan memiliki usaha sendiri. Banyak pria yang menginginkan nyonya.Tuan muda akan menyesal jika nyonya berpaling pada pria lain," ujar Pak Hadi.
"Menyesal? Bapak bercanda?" tanya Zion tersenyum sinis, "aku menunggu saat-saat dia menggugat cerai dariku," ucap Zion dengan suara datar.
"Anda yakin? Mungkin Anda akan gila jika nyonya meminta cerai dari Anda," sahut Pak Hadi penuh ejekan.
"Itu tidak akan pernah terjadi," ucap Zion penuh keyakinan.
"Kita lihat saja nanti," sahut Pak Hadi tersenyum samar.
*
Sepulang bekerja, Zion melajukan mobilnya seraya melihat google map. Setengah jam kemudian, ia tiba di depan sebuah toko kue. Entah mengapa ia pergi ke tempat ini, ia sendiri juga tidak mengerti. Namun sejak pertemuannya dengan Elin semalam, ia benar-benar tidak bisa melupakan Elin. Wajah dan cara Elin menatapnya, entah mengapa Zion melihat ada kesepian, rasa kasih dan juga kerinduan yang mendalam dalam tatapan mata wanita yang dikenalnya dengan panggilan "Lia" tersebut.
"Aku sudah gila. Kenapa aku kemari?" batin Zion membuang napas kasar.
Zion kembali melajukan mobilnya, akhirnya ia pulang ke apartemennya. Namun bayangan wajah Elin terus saja terbayang di matanya.
Zion menghempaskan bokonggnya di sofa, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa seraya memijit pelipisnya sendiri.
"Tuan muda sudah pulang?" tanya Bu Mira dengan senyuman hangat yang merekah di bibirnya.
"Iya, Bu," sahut Zion lesu.
"Tuan muda kenapa? Apa masalah di kantor sangat serius?" tanya Bu Mira menatap wajah Zion yang terlihat risau. Ekspresi khawatir terlihat jelas di wajah wanita paruh baya itu.
"Nggak apa-apa, Bu," sahut Zion seraya beranjak dari duduknya.
"Ingin ibu buatkan sesuatu atau ingin ibu pijat?" tawar Bu Mira mengkhawatirkan Zion.
"Nggak usah, Bu. Aku ingin mandi aja," sahut Zion, lalu berjalan menuju kamarnya.
"Ada apa dengan dia? Aku memang bukan wanita yang mengandung dan melahirkannya, tapi aku adalah wanita yang menyusui, merawat dan membesarkan ia dengan penuh kasih sayang dan segenap hatiku. Aku tahu ada yang membuatnya merasa risau," gumam Bu Mira menghela napas panjang yang terasa sesak.
*
Usai membersihkan diri, Zion memilih keluar dari apartemennya. Ia mengendarai mobilnya tak tentu arah, hingga akhirnya ia berhenti saat melihat sesosok wanita berdiri di trotoar jalan.
"Dia? Ini hanya halusinasiku atau memang benar itu dia?" gumam Zion yang akhirnya menepikan mobilnya untuk memastikan bahwa yang ia lihat bukanlah halusinasi.
Pemuda itu turun dari mobilnya dan perlahan menghampiri sesosok wanita yang berdiri di dekat lampu jalan.
"Plak"
Zion menepuk pundak wanita itu, namun..
"Srakk"
"Brakk"
"Awhh!" pekik Zion saat tiba-tiba tangannya yang menepuk pundak sang wanita ditarik dan tiba-tiba ia dibanting dengan sekali gerakan.
"Astaga.. Kak Zion?"ucap wanita yang tidak lain adalah Elin. Ia membulatkan matanya menatap Zion yang baru saja dibantingnya seraya menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Ia reflek membanting Zion karena ia menyadari Zion berjalan perlahan mendekati dirinya dan tiba-tiba menepuk pundaknya.
Ya, Elin juga menguasai ilmu beladiri untuk melindungi dirinya. Bu Heni benar-benar membekali Elin dengan berbagai kemampuan agar bisa hidup mandiri dan melindungi dirinya sendiri.
"Kamu atlit beladiri?" tanya Zion meringis menahan sakit di punggungnya, berusaha bangkit. Elin pun bergegas membantu Zion berdiri.
"Maaf, aku reflek. Aku sendirian di sini, jadi aku waspada dan sensitif. Tadi kakak mendekati aku dengan perlahan, jadi aku mengira kakak bermaksud tidak baik sama aku," jelas Elin jujur. Ia merasa senang bisa bertemu lagi dengan suaminya.
"Nggak apa-apa," sahut Zion tersenyum tipis. Ia semakin kagum pada sosok wanita yang dikenalnya sebagai Lia ini, "sedang apa kamu di sini?" tanya Zion.
"Mobilku bannya kempis. Aku masih menunggu mobil derek," sahut Elin seraya menunjuk ke arah mobilnya, "Kakak sendiri mau kemana?" tanyanya.
"Aku lagi bete aja. Jadi muter-muter nggak tentu arah," sahut Zion jujur, "Mau aku antar pulang?" tawarnya menggunakan kesempatan ini untuk bersama wanita yang telah membuat ia gegana sejak kemarin malam.
"Eh, apa nggak menganggu waktu kakak?" tanya Elin. Sebenarnya ia sangat senang karena Zion menawarkan diri untuk mengantarkan dirinya pulang.
"Nggak, kok. Daripada aku muter-muter nggak jelas, bukankah lebih baik mengantar gadis cantik? Kasian kalau ada yang gangguin di jalan," sahut Zion tersenyum tipis..
"Ah, kakak bisa saja," sahut Elin tersipu malu, "apa Kak Zion biasa merayu wanita?" batinnya dengan kedua tangan yang terkepal.
"Memang beneran cantik, kok!" puji Zion.
"Jangan-jangan kakak seorang Casanova, ya?" tanya Elin terkekeh kecil.
"Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Zion tersenyum masam.
Elin mengedikkan kedua bahunya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Fadillah Ahmad
Kayak Zayn ya,si Elin,bisa ilmu beladiri.
2024-10-01
2
Fadillah Ahmad
Nah kan benar kata pak hadi,bahwa kamu itu sudah tergila-gila pada istrimu sendiri Zion,sialan.
2024-10-01
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
lia memang gadis cantik. masih gadis karena suaminya pergi.
2024-09-26
3