19. Gegana

Zion baru saja tiba di apartemennya. Ia berdiri di depan cermin besar seraya melepaskan jasnya, lalu dasinya. Namun Zion menghentikan aktivitasnya melepaskan dasi saat melihat cincin di jari manisnya dari pantulan cermin di depannya. Ia menatapnya dan teringat saat Elin menyematkan cincin itu dijari manisnya.

"Aku lupa mengembalikan cincin ini padanya. Mengapa hatiku bergetar saat ia menyematkan cincin ini di jari manisku? Kenapa dia mengecup lembut telapak tanganku seraya menatapku dengan tatapan penuh kasih dan kerinduan dimatanya? Wajah sendunya saat menatapku dengan mata yang berkabut, lalu menempelkan telapak tanganku di pipinya membuat hatiku terasa berdesir dan teriris. Mengapa aku bisa merasakan perasaan seperti itu?" gumam Zion mengingat kembali kejadian tadi.

Zion menghela napas kasar. Ia benar-benar sulit melupakan kejadian tadi. Ekspresi wajah dan tatapan mata Elin benar-benar mengusik hatinya.

"Shiitt! Aku baru pertama kali bertemu dengan dia, kenapa dia bisa membuat hatiku kacau seperti ini?" umpat Zion mengacak-acak rambutnya sendiri.

Zion kembali menatap cincin di jari manisnya, "Ini seperti cincin kawin. Dia menjadikan cincin kawin ini sebagai bandul kalungnya. Dia juga tidak ingin didekati pria. Apa kekasihnya sudah meninggal dan ia belum bisa move on?" gumam Zion menerka-nerka.

Zion menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, ia melipat kedua lengannya dan menjadikannya sebagai bantal. Netranya menatap ke arah langit-langit kamarnya.

"Dia wanita yang cantik, anggun, dengan lekuk tubuh yang sangat sempurna. Sangat memesona. Wajar saja, jika banyak pria yang tertarik padanya," gumam Zion yang tidak bisa melupakan semua yang ada pada diri Elin. Bayangan wajah Elin terus menari-nari di benaknya.

*

Keesokan harinya, Zion pergi ke kantor. Semua karyawan pun terkejut melihat Zion yang sudah lima tahun tak menginjakkan kakinya di kantor itu.

"Selamat datang kembali, Tuan muda!" sapa Pak Hadi yang menyambut Zion di pintu masuk.

"Pagi," sahut Zion tanpa menghentikan langkah kakinya. Pak Hadi pun mengikuti Zion menuju ruangannya.

Tak lama kemudian, Zion dan Pak Hadi pun tiba di ruangan Zion. Pemuda itu duduk di kursi kerjanya.

"Bapak lebih pintar dan lebih berpengalaman dari aku. Urusan apa yang tidak bisa bapak tangani? Ini bukan trik bapak untuk memaksa aku pulang, 'kan?" tanya Zion menatap Pak Hadi memicingkan sebelah matanya.

"Anggap saja begitu. Anda adalah pemilik semua aset ini, saya hanya bertugas untuk mendampingi dan membantu Tuan muda. Kalau Tuan muda tak mau lagi mengurusnya, berikan saja semuanya pada Nyonya muda," jawab Pak Hadi enteng dengan wajah datarnya.

"Jadi bapak benar-benar hanya ingin aku pulang dan mengurus perusahaan di sini?" Zion membuang napas kasar, merasa di tipu.

"Sudah lima tahun Tuan muda pergi dan tidak pernah mengunjungi nyonya muda, bahkan menghubunginya saja tidak mau. Apa Tuan muda tidak merasa berdosa karena telah mengabaikan nyonya?" tanya Pak Hadi seraya mengangkat kedua alisnya menatap Zion.

"Aku tidak pernah ingin menikahinya. Aku tidak mencintai dia. Jadi, jangan bujuk aku untuk menemui dia," ketus Zion.

"Nyonya sekarang bukan yang dulu. Sekarang nyonya sudah bisa hidup mandiri, dan memiliki usaha sendiri. Banyak pria yang menginginkan nyonya.Tuan muda akan menyesal jika nyonya berpaling pada pria lain," ujar Pak Hadi.

"Menyesal? Bapak bercanda?" tanya Zion tersenyum sinis, "aku menunggu saat-saat dia menggugat cerai dariku," ucap Zion dengan suara datar.

"Anda yakin? Mungkin Anda akan gila jika nyonya meminta cerai dari Anda," sahut Pak Hadi penuh ejekan.

"Itu tidak akan pernah terjadi," ucap Zion penuh keyakinan.

"Kita lihat saja nanti," sahut Pak Hadi tersenyum samar.

*

Sepulang bekerja, Zion melajukan mobilnya seraya melihat google map. Setengah jam kemudian, ia tiba di depan sebuah toko kue. Entah mengapa ia pergi ke tempat ini, ia sendiri juga tidak mengerti. Namun sejak pertemuannya dengan Elin semalam, ia benar-benar tidak bisa melupakan Elin. Wajah dan cara Elin menatapnya, entah mengapa Zion melihat ada kesepian, rasa kasih dan juga kerinduan yang mendalam dalam tatapan mata wanita yang dikenalnya dengan panggilan "Lia" tersebut.

"Aku sudah gila. Kenapa aku kemari?" batin Zion membuang napas kasar.

Zion kembali melajukan mobilnya, akhirnya ia pulang ke apartemennya. Namun bayangan wajah Elin terus saja terbayang di matanya.

Zion menghempaskan bokonggnya di sofa, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa seraya memijit pelipisnya sendiri.

"Tuan muda sudah pulang?" tanya Bu Mira dengan senyuman hangat yang merekah di bibirnya.

"Iya, Bu," sahut Zion lesu.

"Tuan muda kenapa? Apa masalah di kantor sangat serius?" tanya Bu Mira menatap wajah Zion yang terlihat risau. Ekspresi khawatir terlihat jelas di wajah wanita paruh baya itu.

"Nggak apa-apa, Bu," sahut Zion seraya beranjak dari duduknya.

"Ingin ibu buatkan sesuatu atau ingin ibu pijat?" tawar Bu Mira mengkhawatirkan Zion.

"Nggak usah, Bu. Aku ingin mandi aja," sahut Zion, lalu berjalan menuju kamarnya.

"Ada apa dengan dia? Aku memang bukan wanita yang mengandung dan melahirkannya, tapi aku adalah wanita yang menyusui, merawat dan membesarkan ia dengan penuh kasih sayang dan segenap hatiku. Aku tahu ada yang membuatnya merasa risau," gumam Bu Mira menghela napas panjang yang terasa sesak.

*

Usai membersihkan diri, Zion memilih keluar dari apartemennya. Ia mengendarai mobilnya tak tentu arah, hingga akhirnya ia berhenti saat melihat sesosok wanita berdiri di trotoar jalan.

"Dia? Ini hanya halusinasiku atau memang benar itu dia?" gumam Zion yang akhirnya menepikan mobilnya untuk memastikan bahwa yang ia lihat bukanlah halusinasi.

Pemuda itu turun dari mobilnya dan perlahan menghampiri sesosok wanita yang berdiri di dekat lampu jalan.

"Plak"

Zion menepuk pundak wanita itu, namun..

"Srakk"

"Brakk"

"Awhh!" pekik Zion saat tiba-tiba tangannya yang menepuk pundak sang wanita ditarik dan tiba-tiba ia dibanting dengan sekali gerakan.

"Astaga.. Kak Zion?"ucap wanita yang tidak lain adalah Elin. Ia membulatkan matanya menatap Zion yang baru saja dibantingnya seraya menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Ia reflek membanting Zion karena ia menyadari Zion berjalan perlahan mendekati dirinya dan tiba-tiba menepuk pundaknya.

Ya, Elin juga menguasai ilmu beladiri untuk melindungi dirinya. Bu Heni benar-benar membekali Elin dengan berbagai kemampuan agar bisa hidup mandiri dan melindungi dirinya sendiri.

"Kamu atlit beladiri?" tanya Zion meringis menahan sakit di punggungnya, berusaha bangkit. Elin pun bergegas membantu Zion berdiri.

"Maaf, aku reflek. Aku sendirian di sini, jadi aku waspada dan sensitif. Tadi kakak mendekati aku dengan perlahan, jadi aku mengira kakak bermaksud tidak baik sama aku," jelas Elin jujur. Ia merasa senang bisa bertemu lagi dengan suaminya.

"Nggak apa-apa," sahut Zion tersenyum tipis. Ia semakin kagum pada sosok wanita yang dikenalnya sebagai Lia ini, "sedang apa kamu di sini?" tanya Zion.

"Mobilku bannya kempis. Aku masih menunggu mobil derek," sahut Elin seraya menunjuk ke arah mobilnya, "Kakak sendiri mau kemana?" tanyanya.

"Aku lagi bete aja. Jadi muter-muter nggak tentu arah," sahut Zion jujur, "Mau aku antar pulang?" tawarnya menggunakan kesempatan ini untuk bersama wanita yang telah membuat ia gegana sejak kemarin malam.

"Eh, apa nggak menganggu waktu kakak?" tanya Elin. Sebenarnya ia sangat senang karena Zion menawarkan diri untuk mengantarkan dirinya pulang.

"Nggak, kok. Daripada aku muter-muter nggak jelas, bukankah lebih baik mengantar gadis cantik? Kasian kalau ada yang gangguin di jalan," sahut Zion tersenyum tipis..

"Ah, kakak bisa saja," sahut Elin tersipu malu, "apa Kak Zion biasa merayu wanita?" batinnya dengan kedua tangan yang terkepal.

"Memang beneran cantik, kok!" puji Zion.

"Jangan-jangan kakak seorang Casanova, ya?" tanya Elin terkekeh kecil.

"Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Zion tersenyum masam.

Elin mengedikkan kedua bahunya.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Fadillah Ahmad

Fadillah Ahmad

Kayak Zayn ya,si Elin,bisa ilmu beladiri.

2024-10-01

2

Fadillah Ahmad

Fadillah Ahmad

Nah kan benar kata pak hadi,bahwa kamu itu sudah tergila-gila pada istrimu sendiri Zion,sialan.

2024-10-01

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

lia memang gadis cantik. masih gadis karena suaminya pergi.

2024-09-26

3

lihat semua
Episodes
1 1. Persyaratan
2 2. Tidak Setuju
3 3. Cinta Dan Kewajiban
4 4. Cincin Kebesaran
5 5. Dingin
6 6. Minder
7 7. Syok Hemoragik
8 8. Jatuh
9 9. Tuduhan
10 10. Di Bawah Kamboja
11 11. Hilang
12 12. Menutupi
13 13. Metamorfosis
14 14. Merasa Bersalah
15 15. Bersuami, Tapi Perawan
16 16. Nekat
17 17. Dianggap Drama
18 18. Lupa
19 19. Gegana
20 20. Begitu Benci kah?
21 21. Berlawanan
22 22. Apa Keberatan?
23 23. Mengingatkan
24 24. Kasmaran
25 25. Pasang Surut
26 26. Ada Yang Kurang
27 27. Penasaran
28 28. Suram
29 29. Lalat Sampah
30 30. Meminta Pulang
31 31. Alasan Bertahan
32 32. Resah
33 33. Digulung Ombak
34 34. Janji
35 35. Susah Dinasehati
36 36. Risau
37 37. Tahu Semuanya
38 38. Poster
39 39. Terpaksa
40 40. Bimbang
41 41. Ingin Menceraikan
42 42. Benar-benar Melupakan
43 43. Pelarian Farah
44 44. Curiga
45 45. Manipulatif
46 46. Nekat
47 47. Tanpa Kabar
48 48. Merasa Lega
49 49. Keputusan
50 50. Menghampiri
51 51. Ke Luar Kota
52 52. Ada yang Janggal
53 53. Setengah Berbohong
54 54. Bertemu Lagi
55 55. Mengizinkan
56 56. Pertemuan Tak Terduga
57 57. Interaksi Adik-kakak
58 58. Untungnya
59 59. Benar-benar Berusaha
60 60. Yang kedua
61 61. Adik Manis Salah Masuk
62 62. Diawasi
63 63. Kekanak-kanakan
64 63. Bukan Sister Complex
65 65. Hampa
66 66. Memotivasi
67 67. Lupa Janji
68 68. Mengurus Perceraian
69 69. Di Ambang Kebenaran
70 70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71 71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72 72. Dilema Hati
73 73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74 74. Pelajaran Hidup
75 75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76 76. Ikatan Keluarga
77 77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78 78. Kebenaran yang Diungkapkan
79 79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80 80. Cintamu Ugal-ugalan
81 81. Konfrontasi Zion dan Franky
82 82. Perpisahan di Bandara
83 83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84 84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85 85. Dokumen Penting
86 86. Pertanyaan yang Menganggu
87 87. Ditampar Kenyataan
88 88. Kebenaran yang Menyakitkan
89 89. Jujur atau Tetap Diam?
90 90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91 91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92 92. Pengakuan Dosa
93 93. Kabar Keberadaan
94 94. Sebuah Amplop
95 95. Tidak Tahu Apa-apa
96 96. Kesuksesan yang Hampa
97 97. Penyanderaan
98 98. Sesuatu yang Familiar
99 99. Lebih dari Rekan Bisnis
100 100. Penyelidikan
101 101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102 102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103 103. Runtuh dan Hancur
104 104. Perasaan Lega
105 105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106 106. Momen yang Terulang
107 107. Jodoh Pilihan Bocil
Episodes

Updated 107 Episodes

1
1. Persyaratan
2
2. Tidak Setuju
3
3. Cinta Dan Kewajiban
4
4. Cincin Kebesaran
5
5. Dingin
6
6. Minder
7
7. Syok Hemoragik
8
8. Jatuh
9
9. Tuduhan
10
10. Di Bawah Kamboja
11
11. Hilang
12
12. Menutupi
13
13. Metamorfosis
14
14. Merasa Bersalah
15
15. Bersuami, Tapi Perawan
16
16. Nekat
17
17. Dianggap Drama
18
18. Lupa
19
19. Gegana
20
20. Begitu Benci kah?
21
21. Berlawanan
22
22. Apa Keberatan?
23
23. Mengingatkan
24
24. Kasmaran
25
25. Pasang Surut
26
26. Ada Yang Kurang
27
27. Penasaran
28
28. Suram
29
29. Lalat Sampah
30
30. Meminta Pulang
31
31. Alasan Bertahan
32
32. Resah
33
33. Digulung Ombak
34
34. Janji
35
35. Susah Dinasehati
36
36. Risau
37
37. Tahu Semuanya
38
38. Poster
39
39. Terpaksa
40
40. Bimbang
41
41. Ingin Menceraikan
42
42. Benar-benar Melupakan
43
43. Pelarian Farah
44
44. Curiga
45
45. Manipulatif
46
46. Nekat
47
47. Tanpa Kabar
48
48. Merasa Lega
49
49. Keputusan
50
50. Menghampiri
51
51. Ke Luar Kota
52
52. Ada yang Janggal
53
53. Setengah Berbohong
54
54. Bertemu Lagi
55
55. Mengizinkan
56
56. Pertemuan Tak Terduga
57
57. Interaksi Adik-kakak
58
58. Untungnya
59
59. Benar-benar Berusaha
60
60. Yang kedua
61
61. Adik Manis Salah Masuk
62
62. Diawasi
63
63. Kekanak-kanakan
64
63. Bukan Sister Complex
65
65. Hampa
66
66. Memotivasi
67
67. Lupa Janji
68
68. Mengurus Perceraian
69
69. Di Ambang Kebenaran
70
70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71
71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72
72. Dilema Hati
73
73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74
74. Pelajaran Hidup
75
75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76
76. Ikatan Keluarga
77
77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78
78. Kebenaran yang Diungkapkan
79
79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80
80. Cintamu Ugal-ugalan
81
81. Konfrontasi Zion dan Franky
82
82. Perpisahan di Bandara
83
83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84
84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85
85. Dokumen Penting
86
86. Pertanyaan yang Menganggu
87
87. Ditampar Kenyataan
88
88. Kebenaran yang Menyakitkan
89
89. Jujur atau Tetap Diam?
90
90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91
91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92
92. Pengakuan Dosa
93
93. Kabar Keberadaan
94
94. Sebuah Amplop
95
95. Tidak Tahu Apa-apa
96
96. Kesuksesan yang Hampa
97
97. Penyanderaan
98
98. Sesuatu yang Familiar
99
99. Lebih dari Rekan Bisnis
100
100. Penyelidikan
101
101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102
102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103
103. Runtuh dan Hancur
104
104. Perasaan Lega
105
105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106
106. Momen yang Terulang
107
107. Jodoh Pilihan Bocil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!