Hari sudah pagi, Elin di bimbing seorang pelayan menuju ruangan makan. Jantung Elin berdebar kencang saat ia memasuki ruangan makan yang megah. Meja makan yang terbuat dari kayu jati tua dengan ukiran rumit, dikelilingi oleh kursi-kursi berlapis beludru, membuatnya merasa seperti seorang tamu tak diundang di istana.
Elin dipersilahkan duduk di salah satu kursi meja makan yang di sana sudah ada Kakek Zhafran dan Pak Hadi, orang kepercayaan Kakek Zhafran yang selalu ada di samping Kakek Zhafran.
Di atas meja sudah terhidang nasi putih, berbagai macam lauk pauk dan juga buah-buahan. Peralatan makan pun terlihat lengkap, dari sendok, garpu, pisau, serbet, mangkuk-mangkuk kecil berisi sambal, acar, atau lalapan dan gelas yang diletakkan di samping piring makan masing-masing orang, serta masih banyak peralatan makan yang lain yang bahkan tidak pernah Elin lihat sebelumnya.
Apa yang ada di hadapannya saat ini benar-benar jauh berbeda dengan apa yang ada di kontrakannya, karena ia biasa makan di lantai beralaskan tikar. Jangankan makan dengan banyak lauk seperti ini, bisa makan dengan nasi putih dan kerupuk pun sudah bersyukur.
Makan menggunakan pisau untuk mengiris daging? Bahkan makan menggunakan garpu saja Elin tidak pernah. Karena makanan yang dimakan hanya sebatas kerupuk dan sambal. Tahu dan tempe pun sudah merupakan makanan mewah baginya dan adiknya. Prinsipnya adalah lebih baik ditabung daripada menghabiskan uang untuk membeli lauk yang mahal. Karena itu tubuhnya kurus kurang gizi.
Namun meskipun hidup dalam keterbatasan, Elin bertekad untuk menjadikan adiknya sebagai dokter sesuai cita-cita adiknya. Adiknya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki, satu-satunya orang yang menyayangi dirinya dengan tulus dan satu-satunya orang yang membuat Elin bersemangat untuk menjalani hidup.
Tak lama kemudian seorang pemuda tampan bertubuh atletis memasuki ruangan makan tersebut. Elin diam terpaku karena terpesona melihat sang pemuda yang begitu rupawan.
"Elin, perkenalkan, ini cucu kakek, namanya Zion. Dan Zion, ini adalah Elin," ucap Kakek Zhafran memperkenalkan keduanya.
Elin yang duduk berhadapan dengan Zion tersenyum tipis dan mengangguk kecil pada Zion. Ia merasa minder berada di depan pemuda yang begitu sempurna menurut dirinya. Sedangkan Zion hanya menatap sepintas pada Elin. Mereka makan malam dengan tenang tanpa obrolan.
"Ambil saja makanan yang kamu suka, Elin," ucap Kakek Zhafran yang melihat Elin nampak canggung.
"Iya, Kek," sahut Elin tersenyum tipis. Sedangkan Zion nampak acuh dan tetap makan dengan tenang.
"Zi, Elin ini pintar membuat kue tradisional, loh! Dia bisa membuat kue coklat lapis," ucap Kakek Zhafran setelah mereka selesai sarapan.
Kakek Zhafran tahu Elin bisa membuat kue tradisional saat ia berbincang dengan Elin di rumah sakit kemarin.
"Benarkah?" tanya Zion yang tadi terlihat acuh jadi antusias. Kebetulan Zion menyukai kue tradisional.
Kakek Zhafran mengusulkan sebuah ide yang tak terduga, "Bagaimana kalau kita belajar membuat kue bersama? Elin, kamu, 'kan, jago bikin kue. Ajarin Zion, ya?" pinta kakek Zhafran.
Elin terkejut. Ia tidak menyangka Kakek Zhafran akan mengajaknya melakukan hal seperti itu. Namun, ia mengangguk antusias. "Tentu saja, Kek. Dengan senang hati," jawabnya tersenyum tipis.
Mereka bertiga berkumpul di dapur yang luas dan modern. Peralatan masak yang lengkap dan bahan-bahan berkualitas tertata rapi di atas meja marmer. Bahan-bahan yang dibutuhkan Elin semuanya ada di meja marmer tersebut.
Elin mengenakan celemek, siap menunjukkan keahliannya. Ia menjelaskan setiap langkah dengan sabar, mulai dari mengayak tepung hingga mengocok telur. Elin yang awalnya merasa canggung di rumah mewah bersama dua orang pria asing beda usia yang baru dikenalnya ini lama-kelamaan merasa tidak terlalu canggung lagi.
Apalagi saat Zion yang awalnya hanya menonton, mulai penasaran dan ingin membantu.
"Boleh aku coba mengocok telur?" tanya Zion sambil menunjuk mixer.
Elin mengangguk, lalu menunjukkan cara menggunakannya. Zion mencoba mengocok telur dengan semangat, namun Zion tak sengaja mengangkat mixzer, hingga adonannya muncrat ke mana-mana membuat Elin, Zion dan Kakek Zhafran tertawa bersama.
"Kakak tidak boleh mengangkat mixzer keluar dari adonan dalam keadaan mesin masih menyala," ujar Elin lembut.
"Maaf, aku tidak tahu," sahut Zion tersenyum bodoh.
"Tidak apa-apa, Kak. Memasak itu menyenangkan, kok, meskipun kadang berantakan," kata Elin tersenyum tipis sambil membersihkan meja.
Elin teringat pada masa kecilnya ketika ia dan ibunya sering membuat kue sederhana di dapur rumah kontrakan mereka. Ia merasa sedih mengingat kenangan lalu itu karena ibunya telah tiada.
Elin dan Zion berdiri berdampingan di dapur, tangan mereka berlumuran tepung. Zion, dengan serius mencoba mengikuti instruksi Elin, sesekali spatula yang dipegangnya mengenai mangkuk kaca hingga adonan sedikit berceceran. Elin terkekeh, lalu dengan lembut membantunya membersihkan kekacauan kecil itu.
Setelah adonan jadi, dengan sabar Elin menunjukkan cara membuat lapisan demi lapisan kue. Zion merasa kagum dengan kesabaran dan keuletan Elin dalam membuat kue. Ia pun ikut mencoba melapis kue.
"Ternyata bikin kue itu ribet banget, ya?" gumam Zion yang merasa kepanasan saat melapis kue, karena terkena uap air dari dalam kukusan.
"Membuat kue itu butuh kesabaran, Kak. Setiap langkahnya penting," jawab Elin sambil tersenyum, "tapi, hasilnya akan sepadan, kok," lanjutnya.
Kakek Zhafran yang sedari tadi memerhatikan keduanya pun tersenyum melihat interaksi mereka, "Kalian berdua cocok sekali," ucap Kakek Zhafran tersenyum tipis.
Menurut prognosis dokter, mungkin hidupnya tidak akan sampai satu bulan lagi, bahkan mungkin bisa lebih cepat dari satu bulan. Hali ini karena Kakek Zhafran tidak mau lagi di rawat di rumah sakit.
Setelah setengah jam di kukus, kue cokelat lapis pun matang. Mereka menyantap kue yang dibuat Elin dan Zion sambil berbincang-bincang santai.
"Enak sekali, Lin. Aku nggak nyangka kamu bisa membuat kue seenak ini," puji Zion sambil menikmati kue yang dibuatnya bersama Elin.
"Aku hanya bisa sedikit, Kak," sahut Elin tersipu malu. Elin tadinya takut pada Zion karena terlihat acuh, tapi ternyata Zion adalah pemuda yang hanya terlihat acuh dan dingin di luar, tapi peduli dan hangat di dalam.
"Kamu mengingatkan aku pada nenekku Nenekku juga suka sekali membuat kue tradisional. Sulit menemukan kue tradisional seenak buatan nenek. Tapi, kue buatan kamu rasanya sama seperti kue buatan nenek," ucap Zion dengan wajah sendu mengenang mendiang neneknya.
"Kamu bisa sering makan kue buatan Elin, karena Elin akan tinggal bersama kita," ucap Kakek Zhafran.
"Benarkah?" tanya Zion terlihat senang.
"Iya, kamu bisa makan berbagai macam kue tradisional yang dulu suka dibuat mendiang nenekmu. Elin bisa membuat semuanya," ucap Kakek Zhafran tersenyum tipis dengan wajahnya yang pucat.
*
Hari sudah malam. Kali ini Elin tidak terlalu canggung lagi berada di meja makan bersama Kakek Zhafran, Zion dan Pak Hadi. Meskipun Elin merasa malu karena terlihat kaku saat menggunakan peralatan makan.
Usai makan malam bersama, Kakek Zhafran mengajak Zion, Elin dan Pak Hadi ke ruangan kerjanya. Zion bertanya-tanya dalam hati kenapa kakeknya mengajaknya ke ruangan kerja bersama gadis yang baru saja dikenalnya.
"Zion, ada hal penting yang ingin kakek sampaikan sama kamu," ucap Kakek Zhafran dengan suara yang terdengar agak pelan dan wajah pucatnya karena sakit kanker stadium lanjut yang dideritanya. Menurut prognosis dokter, umurnya sudah tidak lama lagi.
Prognosis? Prognosis adalah perkiraan atau kemungkinan akhir dari suatu penyakit seperti kemungkinan kesembuhan, harapan hidup, kemungkinan terjadi kecacatan, dan sebagainya berdasarkan dari kondisi penyakit pasien serta statistik berdasarkan penelitian.
"Aku juga ada hal penting yang ingin aku sampaikan sama kakek. Ini privasi," ucap Zion melirik Elin sekilas.
Sedangkan Elin merasa tidak enak hati dan hanya bisa menunduk mendengar perkataan Zion, karena merasa dirinya adalah orang luar.
"Mulai sekarang Elin bukanlah orang luar," ucap Kakek Zhafran yang mengerti maksud perkataan Zion, "baiklah, kakek dulu yang bicara. Kamu tahu sendiri kalau umur kakek sudah tidak panjang lagi. Karena itu, kakek ingin kamu segera menikah," ucap kakek Zhafran to the point.
Sedangkan Elin nampak terkejut mendengar orang yang telah menolong adiknya ternyata umurnya sudah tidak panjang lagi. Meskipun dari awal bertemu Kakek Zhafran, Elin memang curiga kalau Kakek Zhafran sedang sakit. Ia bisa melihat hal itu dari wajah Kakek Zhafran yang pucat.
"Aku memang ingin bicara soal pernikahan sama kakek. Aku ingin menikah dengan Farah," ucap Zion tegas.
"Kakek tidak setuju. Kamu harus menikah dengan Elin," tegas Kakek Zhafran yang tiba-tiba terlihat emosi.
Kakek Zhafran mengepalkan kedua tangannya, mengingat hutang budi dan dosanya sepuluh tahun yang lalu pada keluarga Elin.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Yuli a
Dosa apa kakek...
2024-10-12
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
kakek & keluarga elin ada sesuatu?
2024-09-24
2
Uthie
Sepertinya Kakek Zafran lahh yg telah menabrak ibunda Elin saat berjualan keliling dehhh...
kali yaa 😁✌️
2024-09-12
3