2. Tidak Setuju

Hari sudah pagi, Elin di bimbing seorang pelayan menuju ruangan makan. Jantung Elin berdebar kencang saat ia memasuki ruangan makan yang megah. Meja makan yang terbuat dari kayu jati tua dengan ukiran rumit, dikelilingi oleh kursi-kursi berlapis beludru, membuatnya merasa seperti seorang tamu tak diundang di istana.

Elin dipersilahkan duduk di salah satu kursi meja makan yang di sana sudah ada Kakek Zhafran dan Pak Hadi, orang kepercayaan Kakek Zhafran yang selalu ada di samping Kakek Zhafran.

Di atas meja sudah terhidang nasi putih, berbagai macam lauk pauk dan juga buah-buahan. Peralatan makan pun terlihat lengkap, dari sendok, garpu, pisau, serbet, mangkuk-mangkuk kecil berisi sambal, acar, atau lalapan dan gelas yang diletakkan di samping piring makan masing-masing orang, serta masih banyak peralatan makan yang lain yang bahkan tidak pernah Elin lihat sebelumnya.

Apa yang ada di hadapannya saat ini benar-benar jauh berbeda dengan apa yang ada di kontrakannya, karena ia biasa makan di lantai beralaskan tikar. Jangankan makan dengan banyak lauk seperti ini, bisa makan dengan nasi putih dan kerupuk pun sudah bersyukur.

Makan menggunakan pisau untuk mengiris daging? Bahkan makan menggunakan garpu saja Elin tidak pernah. Karena makanan yang dimakan hanya sebatas kerupuk dan sambal. Tahu dan tempe pun sudah merupakan makanan mewah baginya dan adiknya. Prinsipnya adalah lebih baik ditabung daripada menghabiskan uang untuk membeli lauk yang mahal. Karena itu tubuhnya kurus kurang gizi.

Namun meskipun hidup dalam keterbatasan, Elin bertekad untuk menjadikan adiknya sebagai dokter sesuai cita-cita adiknya. Adiknya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki, satu-satunya orang yang menyayangi dirinya dengan tulus dan satu-satunya orang yang membuat Elin bersemangat untuk menjalani hidup.

Tak lama kemudian seorang pemuda tampan bertubuh atletis memasuki ruangan makan tersebut. Elin diam terpaku karena terpesona melihat sang pemuda yang begitu rupawan.

"Elin, perkenalkan, ini cucu kakek, namanya Zion. Dan Zion, ini adalah Elin," ucap Kakek Zhafran memperkenalkan keduanya.

Elin yang duduk berhadapan dengan Zion tersenyum tipis dan mengangguk kecil pada Zion. Ia merasa minder berada di depan pemuda yang begitu sempurna menurut dirinya. Sedangkan Zion hanya menatap sepintas pada Elin. Mereka makan malam dengan tenang tanpa obrolan.

"Ambil saja makanan yang kamu suka, Elin," ucap Kakek Zhafran yang melihat Elin nampak canggung.

"Iya, Kek," sahut Elin tersenyum tipis. Sedangkan Zion nampak acuh dan tetap makan dengan tenang.

"Zi, Elin ini pintar membuat kue tradisional, loh! Dia bisa membuat kue coklat lapis," ucap Kakek Zhafran setelah mereka selesai sarapan.

Kakek Zhafran tahu Elin bisa membuat kue tradisional saat ia berbincang dengan Elin di rumah sakit kemarin.

"Benarkah?" tanya Zion yang tadi terlihat acuh jadi antusias. Kebetulan Zion menyukai kue tradisional.

Kakek Zhafran mengusulkan sebuah ide yang tak terduga, "Bagaimana kalau kita belajar membuat kue bersama? Elin, kamu, 'kan, jago bikin kue. Ajarin Zion, ya?" pinta kakek Zhafran.

Elin terkejut. Ia tidak menyangka Kakek Zhafran akan mengajaknya melakukan hal seperti itu. Namun, ia mengangguk antusias. "Tentu saja, Kek. Dengan senang hati," jawabnya tersenyum tipis.

Mereka bertiga berkumpul di dapur yang luas dan modern. Peralatan masak yang lengkap dan bahan-bahan berkualitas tertata rapi di atas meja marmer. Bahan-bahan yang dibutuhkan Elin semuanya ada di meja marmer tersebut.

Elin mengenakan celemek, siap menunjukkan keahliannya. Ia menjelaskan setiap langkah dengan sabar, mulai dari mengayak tepung hingga mengocok telur. Elin yang awalnya merasa canggung di rumah mewah bersama dua orang pria asing beda usia yang baru dikenalnya ini lama-kelamaan merasa tidak terlalu canggung lagi.

Apalagi saat Zion yang awalnya hanya menonton, mulai penasaran dan ingin membantu.

"Boleh aku coba mengocok telur?" tanya Zion sambil menunjuk mixer.

Elin mengangguk, lalu menunjukkan cara menggunakannya. Zion mencoba mengocok telur dengan semangat, namun Zion tak sengaja mengangkat mixzer, hingga adonannya muncrat ke mana-mana membuat Elin, Zion dan Kakek Zhafran tertawa bersama.

"Kakak tidak boleh mengangkat mixzer keluar dari adonan dalam keadaan mesin masih menyala," ujar Elin lembut.

"Maaf, aku tidak tahu," sahut Zion tersenyum bodoh.

"Tidak apa-apa, Kak. Memasak itu menyenangkan, kok, meskipun kadang berantakan," kata Elin tersenyum tipis sambil membersihkan meja.

Elin teringat pada masa kecilnya ketika ia dan ibunya sering membuat kue sederhana di dapur rumah kontrakan mereka. Ia merasa sedih mengingat kenangan lalu itu karena ibunya telah tiada.

Elin dan Zion berdiri berdampingan di dapur, tangan mereka berlumuran tepung. Zion, dengan serius mencoba mengikuti instruksi Elin, sesekali spatula yang dipegangnya mengenai mangkuk kaca hingga adonan sedikit berceceran. Elin terkekeh, lalu dengan lembut membantunya membersihkan kekacauan kecil itu.

Setelah adonan jadi, dengan sabar Elin menunjukkan cara membuat lapisan demi lapisan kue. Zion merasa kagum dengan kesabaran dan keuletan Elin dalam membuat kue. Ia pun ikut mencoba melapis kue.

"Ternyata bikin kue itu ribet banget, ya?" gumam Zion yang merasa kepanasan saat melapis kue, karena terkena uap air dari dalam kukusan.

"Membuat kue itu butuh kesabaran, Kak. Setiap langkahnya penting," jawab Elin sambil tersenyum, "tapi, hasilnya akan sepadan, kok," lanjutnya.

Kakek Zhafran yang sedari tadi memerhatikan keduanya pun tersenyum melihat interaksi mereka, "Kalian berdua cocok sekali," ucap Kakek Zhafran tersenyum tipis.

Menurut prognosis dokter, mungkin hidupnya tidak akan sampai satu bulan lagi, bahkan mungkin bisa lebih cepat dari satu bulan. Hali ini karena Kakek Zhafran tidak mau lagi di rawat di rumah sakit.

Setelah setengah jam di kukus, kue cokelat lapis pun matang. Mereka menyantap kue yang dibuat Elin dan Zion sambil berbincang-bincang santai.

"Enak sekali, Lin. Aku nggak nyangka kamu bisa membuat kue seenak ini," puji Zion sambil menikmati kue yang dibuatnya bersama Elin.

"Aku hanya bisa sedikit, Kak," sahut Elin tersipu malu. Elin tadinya takut pada Zion karena terlihat acuh, tapi ternyata Zion adalah pemuda yang hanya terlihat acuh dan dingin di luar, tapi peduli dan hangat di dalam.

"Kamu mengingatkan aku pada nenekku Nenekku juga suka sekali membuat kue tradisional. Sulit menemukan kue tradisional seenak buatan nenek. Tapi, kue buatan kamu rasanya sama seperti kue buatan nenek," ucap Zion dengan wajah sendu mengenang mendiang neneknya.

"Kamu bisa sering makan kue buatan Elin, karena Elin akan tinggal bersama kita," ucap Kakek Zhafran.

"Benarkah?" tanya Zion terlihat senang.

"Iya, kamu bisa makan berbagai macam kue tradisional yang dulu suka dibuat mendiang nenekmu. Elin bisa membuat semuanya," ucap Kakek Zhafran tersenyum tipis dengan wajahnya yang pucat.

*

Hari sudah malam. Kali ini Elin tidak terlalu canggung lagi berada di meja makan bersama Kakek Zhafran, Zion dan Pak Hadi. Meskipun Elin merasa malu karena terlihat kaku saat menggunakan peralatan makan.

Usai makan malam bersama, Kakek Zhafran mengajak Zion, Elin dan Pak Hadi ke ruangan kerjanya. Zion bertanya-tanya dalam hati kenapa kakeknya mengajaknya ke ruangan kerja bersama gadis yang baru saja dikenalnya.

"Zion, ada hal penting yang ingin kakek sampaikan sama kamu," ucap Kakek Zhafran dengan suara yang terdengar agak pelan dan wajah pucatnya karena sakit kanker stadium lanjut yang dideritanya. Menurut prognosis dokter, umurnya sudah tidak lama lagi.

Prognosis? Prognosis adalah perkiraan atau kemungkinan akhir dari suatu penyakit seperti kemungkinan kesembuhan, harapan hidup, kemungkinan terjadi kecacatan, dan sebagainya berdasarkan dari kondisi penyakit pasien serta statistik berdasarkan penelitian.

"Aku juga ada hal penting yang ingin aku sampaikan sama kakek. Ini privasi," ucap Zion melirik Elin sekilas.

Sedangkan Elin merasa tidak enak hati dan hanya bisa menunduk mendengar perkataan Zion, karena merasa dirinya adalah orang luar.

"Mulai sekarang Elin bukanlah orang luar," ucap Kakek Zhafran yang mengerti maksud perkataan Zion, "baiklah, kakek dulu yang bicara. Kamu tahu sendiri kalau umur kakek sudah tidak panjang lagi. Karena itu, kakek ingin kamu segera menikah," ucap kakek Zhafran to the point.

Sedangkan Elin nampak terkejut mendengar orang yang telah menolong adiknya ternyata umurnya sudah tidak panjang lagi. Meskipun dari awal bertemu Kakek Zhafran, Elin memang curiga kalau Kakek Zhafran sedang sakit. Ia bisa melihat hal itu dari wajah Kakek Zhafran yang pucat.

"Aku memang ingin bicara soal pernikahan sama kakek. Aku ingin menikah dengan Farah," ucap Zion tegas.

"Kakek tidak setuju. Kamu harus menikah dengan Elin," tegas Kakek Zhafran yang tiba-tiba terlihat emosi.

Kakek Zhafran mengepalkan kedua tangannya, mengingat hutang budi dan dosanya sepuluh tahun yang lalu pada keluarga Elin.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Yuli a

Yuli a

Dosa apa kakek...

2024-10-12

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

kakek & keluarga elin ada sesuatu?

2024-09-24

2

Uthie

Uthie

Sepertinya Kakek Zafran lahh yg telah menabrak ibunda Elin saat berjualan keliling dehhh...
kali yaa 😁✌️

2024-09-12

3

lihat semua
Episodes
1 1. Persyaratan
2 2. Tidak Setuju
3 3. Cinta Dan Kewajiban
4 4. Cincin Kebesaran
5 5. Dingin
6 6. Minder
7 7. Syok Hemoragik
8 8. Jatuh
9 9. Tuduhan
10 10. Di Bawah Kamboja
11 11. Hilang
12 12. Menutupi
13 13. Metamorfosis
14 14. Merasa Bersalah
15 15. Bersuami, Tapi Perawan
16 16. Nekat
17 17. Dianggap Drama
18 18. Lupa
19 19. Gegana
20 20. Begitu Benci kah?
21 21. Berlawanan
22 22. Apa Keberatan?
23 23. Mengingatkan
24 24. Kasmaran
25 25. Pasang Surut
26 26. Ada Yang Kurang
27 27. Penasaran
28 28. Suram
29 29. Lalat Sampah
30 30. Meminta Pulang
31 31. Alasan Bertahan
32 32. Resah
33 33. Digulung Ombak
34 34. Janji
35 35. Susah Dinasehati
36 36. Risau
37 37. Tahu Semuanya
38 38. Poster
39 39. Terpaksa
40 40. Bimbang
41 41. Ingin Menceraikan
42 42. Benar-benar Melupakan
43 43. Pelarian Farah
44 44. Curiga
45 45. Manipulatif
46 46. Nekat
47 47. Tanpa Kabar
48 48. Merasa Lega
49 49. Keputusan
50 50. Menghampiri
51 51. Ke Luar Kota
52 52. Ada yang Janggal
53 53. Setengah Berbohong
54 54. Bertemu Lagi
55 55. Mengizinkan
56 56. Pertemuan Tak Terduga
57 57. Interaksi Adik-kakak
58 58. Untungnya
59 59. Benar-benar Berusaha
60 60. Yang kedua
61 61. Adik Manis Salah Masuk
62 62. Diawasi
63 63. Kekanak-kanakan
64 63. Bukan Sister Complex
65 65. Hampa
66 66. Memotivasi
67 67. Lupa Janji
68 68. Mengurus Perceraian
69 69. Di Ambang Kebenaran
70 70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71 71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72 72. Dilema Hati
73 73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74 74. Pelajaran Hidup
75 75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76 76. Ikatan Keluarga
77 77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78 78. Kebenaran yang Diungkapkan
79 79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80 80. Cintamu Ugal-ugalan
81 81. Konfrontasi Zion dan Franky
82 82. Perpisahan di Bandara
83 83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84 84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85 85. Dokumen Penting
86 86. Pertanyaan yang Menganggu
87 87. Ditampar Kenyataan
88 88. Kebenaran yang Menyakitkan
89 89. Jujur atau Tetap Diam?
90 90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91 91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92 92. Pengakuan Dosa
93 93. Kabar Keberadaan
94 94. Sebuah Amplop
95 95. Tidak Tahu Apa-apa
96 96. Kesuksesan yang Hampa
97 97. Penyanderaan
98 98. Sesuatu yang Familiar
99 99. Lebih dari Rekan Bisnis
100 100. Penyelidikan
101 101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102 102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103 103. Runtuh dan Hancur
104 104. Perasaan Lega
105 105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106 106. Momen yang Terulang
107 107. Jodoh Pilihan Bocil
Episodes

Updated 107 Episodes

1
1. Persyaratan
2
2. Tidak Setuju
3
3. Cinta Dan Kewajiban
4
4. Cincin Kebesaran
5
5. Dingin
6
6. Minder
7
7. Syok Hemoragik
8
8. Jatuh
9
9. Tuduhan
10
10. Di Bawah Kamboja
11
11. Hilang
12
12. Menutupi
13
13. Metamorfosis
14
14. Merasa Bersalah
15
15. Bersuami, Tapi Perawan
16
16. Nekat
17
17. Dianggap Drama
18
18. Lupa
19
19. Gegana
20
20. Begitu Benci kah?
21
21. Berlawanan
22
22. Apa Keberatan?
23
23. Mengingatkan
24
24. Kasmaran
25
25. Pasang Surut
26
26. Ada Yang Kurang
27
27. Penasaran
28
28. Suram
29
29. Lalat Sampah
30
30. Meminta Pulang
31
31. Alasan Bertahan
32
32. Resah
33
33. Digulung Ombak
34
34. Janji
35
35. Susah Dinasehati
36
36. Risau
37
37. Tahu Semuanya
38
38. Poster
39
39. Terpaksa
40
40. Bimbang
41
41. Ingin Menceraikan
42
42. Benar-benar Melupakan
43
43. Pelarian Farah
44
44. Curiga
45
45. Manipulatif
46
46. Nekat
47
47. Tanpa Kabar
48
48. Merasa Lega
49
49. Keputusan
50
50. Menghampiri
51
51. Ke Luar Kota
52
52. Ada yang Janggal
53
53. Setengah Berbohong
54
54. Bertemu Lagi
55
55. Mengizinkan
56
56. Pertemuan Tak Terduga
57
57. Interaksi Adik-kakak
58
58. Untungnya
59
59. Benar-benar Berusaha
60
60. Yang kedua
61
61. Adik Manis Salah Masuk
62
62. Diawasi
63
63. Kekanak-kanakan
64
63. Bukan Sister Complex
65
65. Hampa
66
66. Memotivasi
67
67. Lupa Janji
68
68. Mengurus Perceraian
69
69. Di Ambang Kebenaran
70
70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71
71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72
72. Dilema Hati
73
73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74
74. Pelajaran Hidup
75
75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76
76. Ikatan Keluarga
77
77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78
78. Kebenaran yang Diungkapkan
79
79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80
80. Cintamu Ugal-ugalan
81
81. Konfrontasi Zion dan Franky
82
82. Perpisahan di Bandara
83
83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84
84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85
85. Dokumen Penting
86
86. Pertanyaan yang Menganggu
87
87. Ditampar Kenyataan
88
88. Kebenaran yang Menyakitkan
89
89. Jujur atau Tetap Diam?
90
90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91
91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92
92. Pengakuan Dosa
93
93. Kabar Keberadaan
94
94. Sebuah Amplop
95
95. Tidak Tahu Apa-apa
96
96. Kesuksesan yang Hampa
97
97. Penyanderaan
98
98. Sesuatu yang Familiar
99
99. Lebih dari Rekan Bisnis
100
100. Penyelidikan
101
101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102
102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103
103. Runtuh dan Hancur
104
104. Perasaan Lega
105
105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106
106. Momen yang Terulang
107
107. Jodoh Pilihan Bocil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!