Farah tiba-tiba merasakan sakit perutnya tidak tertahan. Ia reflek memegang perutnya dan tanpa sengaja menyenggol piringnya hingga jatuh dan pecah.
"Apa yang terjadi?" tanya Zion tiba-tiba jantungnya berdetak kencang saat melihat wajah Farah yang menegang.
"Non Farah kenapa?" tanya Mira menatap Farah penuh kekhawatiran.
Kakek Zhafran hanya mengernyitkan keningnya menatap Farah. Elin spontan berhenti makan dan menatap ke arah Farah. Juni tersenyum sinis. Sedangkan Pak Hadi tersenyum samar.
"Zi..perutku sakit sekali.. anak kita..." ucap Farah dengan wajah penuh peluh dan pucat. Satu tangannya memegang perutnya dan satu tangan lagi memegang erat tangan Zion.
"Kita ke rumah sakit sekarang," Zion langsung menggendong Farah, "Pak Juli! Cepat antar kami ke rumah sakit!" teriak Zion seraya menggendong Farah keluar dari rumah.
"Iya, Tuan," sahut suara seorang pria yang tidak lain adalah Juli.
Dengan jantung berdegup kencang, Zion membawa Farah ke rumah sakit terdekat. Ia memangku Farah dan Pak Juli langsung melajukan mobil.
"Zi.. aku tidak mau kehilangan anak kita.." Farah mulai menangis. Jika ia keguguran, maka kemungkinan besar kakeknya Zion tidak jadi menikahkan mereka. Memikirkan hal itu semakin membuat wajah Farah pucat.
"Tenang lah! Kita akan segera sampai di rumah sakit. Lebih cepat lagi, Pak!" titah Zion pada sang supir dengan tangan gemetar karena melihat darah di dress berwarna peach yang dikenakan Farah. Sedangkan Farah nampak semakin pucat dengan tangan mencengkram erat lengan Zion.
"Ckiit.."
"Akkh.." pekik Farah karena tiba-tiba sang supir mengerem mendadak, membuat Farah semakin kesakitan.
"Apa yang bapak lakukan? Kenapa mengerem mendadak?" sergah Zion dengan intonasi suara meninggi karena Farah hampir saja jatuh dari pangkuannya. Celana jeans yang dikenakannya terasa basah oleh darah Farah.
"Ada yang menyebrang tiba-tiba, Tuan," sahut Juli.
"Shiitt..!" umpatnya, "cepat jalan lagi!" titah Zion tak sabar.
Mobil yang ditumpangi Zion dan Farah kembali melaju dengan kencang mendahului beberapa kendaraan di depannya. Namun beberapa menit kemudian mobil itu melambat.
"Kenapa melambat, Pak?" tanya Zion yang terlihat panik dan tidak sabar.
"Sepertinya ban mobil kita kempis, Tuan," sahut Juli.
"Shiitt! Terus jalan!" titah Zion.
"Tidak bisa Tuan, jika dipaksakan akan membahayakan kita sendiri dan juga orang lain," tolak Juli yang memang benar adanya.
"Zi..sakit sekali.." gumam Farah dengan suara yang terdengar lemah.
"Sabar, Far.." Zion berusaha menenangkan Farah meskipun ia sendiri panik.
Pada akhirnya Zion mencari taksi online dan supirnya mencoba mencari taksi kosong yang lewat. Beberapa menit kemudian Zion menaiki taksi online.
Pak Juli, sang supir pribadi nampak tersenyum samar menatap mobil yang ditumpangi Zion dan Farah melaju meninggalkannya.
"Juni, dia akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak yang sangat diharapkannya. Seperti kita yang kehilangan anak kita karena dia," gumam Juli dengan bibir menyunggingkan senyuman, tapi matanya berkaca-kaca.
Tangan kirinya terkepal erat, sedangkan tangan kanannya memegang pisau kecil dan runcing. Pisau yang dipakainya untuk menusuk ban mobil agar dalam perjalanan kempis. Memperlambat Farah tiba di rumah sakit agar bayinya tidak tertolong, itulah tujuan Juli.
Apa alasan Juli melakukan hal ini? Pertama kali Farah datang ke rumah Zion, ia mendorong Juni, istri Juli karena Juni tidak sengaja menumpahkan kopi di dress Farah. Juni jatuh dan keguguran karena insiden tersebut, sebab kandungan Juni memang lemah. Sejak saat itu Juli dan Juni membenci Farah dan merasa senang saat mengetahui Kekek Zhafran tidak merestui hubungan Zion dan Farah.
Namun mereka kecewa saat mengetahui Zion akan menikahi Farah karena Farah sedang mengandung anak Zion. Karena itu Juli dan Juni ingin Farah kehilangan bayinya, sekaligus agar tidak bisa menikah dengan Zion. Mereka tidak ingin memiliki nyonya yang sombong seperti Farah.
*
Di sisi lain, Zion membawa Farah menuju rumah sakit terdekat, karena jarak rumah sakit besar masih jauh dan Farah sudah mengeluarkan banyak darah. Tubuh Farah lemas dan wajahnya pucat pasi. Bahkan saat tiba di rumah sakit, Farah sudah pingsan.
Zion menunggu Farah dengan wajah yang terlihat tegang seraya mondar mandir di depan UGD. Menempelkan ponselnya di telinganya berusaha menghubungi kedua orang tua Farah yang berada di kota lain. Namun sayangnya ponsel orang tua Farah tidak aktif.
Selama ini Farah memang tinggal sendirian di kota ini, sedangkan orang tua Farah tinggal di kota lain. Farah bekerja sebagai manajer di sebuah hotel dan tinggal di apartemen yang disewakan oleh Zion.
"Mereka benar-benar tidak bisa dihubungi. Bagaimana aku memberitahu mereka tentang keadaan Farah?" gumam Zion mengusap wajahnya kasar.
Seorang perawat keluar dari ruangan dengan buru-buru, tak lama kemudian kembali dengan seorang perawat lagi. Hingga setelah lama menunggu, dokter pun keluar dari ruangan tempat Farah ditangani.
"Bagaimana keadaan Farah dan bayinya, Dok?" tanya Zion diliput rasa khawatir.
"Apa Anda suaminya?" tanya sang dokter.
"Iya.." dusta Zion.
"Anda terlambat membawa istri Anda kemari, hingga istri Anda mengalami syok hemoragik," ucap sang dokter lambat-lambat.
"Syok hemoragik?" tanya Zion tak mengerti.
"Iya. Syok hemoragik adalah kehilangan darah dalam jumlah besar, dalam hal ini karena keguguran. Dalam situasi ini, terjadi perdarahan yang signifikan akibat keluarnya jaringan atau darah dari rahim, yang dapat mengakibatkan penurunan volume darah dan berpotensi menyebabkan syok.
"Jika keguguran menyebabkan kehilangan darah yang cukup besar sehingga mengancam stabilitas hemodinamik (tekanan darah dan aliran darah ke organ vital), pasien bisa mengalami gejala syok, seperti tekanan darah rendah, denyut nadi cepat, dan kelemahan. Dalam kasus ini, penanganan medis yang cepat sangat penting untuk menghentikan perdarahan dan mengembalikan volume darah yang hilang, serta memantau kesehatan ibu.," jelas sang dokter.
"Lalu.. bagaimana keadaan Farah?" tanya Zion dengan wajah pias dan keringat dingin di wajahnya yang tegang.
"Dengan sangat menyesal saya sampaikan, bahwa anak dan istri Anda tidak bisa kami selamatkan. Istri Anda kehilangan darah terlalu banyak saat tiba di sini," sahut sang dokter lambat-lambat dengan ekspresi wajah tak berdaya.
"Tidak.. tidak mungkin. Beberapa jam yang lalu Farah baik-baik saja, Dok. Apa yang menyebabkan dia tiba-tiba sakit perut dan kehilangan banyak darah, Dok?" tanya Zion seraya memegang kedua pundak dokter tersebut dan mengguncang tubuh sang dokter.
Zion tidak tahu bagaimana ia akan menjelaskan pada orang tua Farah atas meninggalnya Farah.
"Sabar, Tuan! Kami menemukan jejak obat penggugur kandungan di tubuh istri Anda," ucap sang dokter membuat mata Zion terbelalak.
Zion tidak percaya kalau Farah minum obat penggugur kandungan, karena Farah nampak senang saat memberitahu dirinya bahwa ia sedang mengandung. Tapi kenyataannya dokter menemukan jejak obat penggugur kandungan di tubuh Farah.
Dengan kaki yang terasa berat, Zion melangkah masuk ke ruangan dimana Farah berada. Perawat nampak mundur memberi ruang pada Zion untuk melihat Farah.
Tangan Zion nampak tremor saat membuka kain putih yang menutupi seluruh tubuh Farah. Zion menatap wajah Farah yang pucat tanpa napas. Ia tidak menyangka kalau Farah akan meninggal dengan cara seperti ini. Masih banyak tanda tanya dalam hatinya kenapa Farah mengkonsumsi obat penggugur kandungan.
"Maaf.. aku terlambat membawamu ke rumah sakit. Ini semua salahku. Maaf.." gumam Zion menitikkan air mata menggenggam jemari tangan Farah. Tubuh Zion terasa lemas hingga terduduk di samping tempat Farah terbaring.
Zion mengenang hari-hari yang telah ia lewati bersama Farah. Sudah satu tahun Zion menjalin hubungan dengan Farah, tapi tidak direstui oleh kakeknya dengan alasan kalau Farah adalah perempuan matre yang hanya menginginkan hartanya karena saat diawal-awal hubungannya dengan Farah, Zion memang menuruti apapun yang diinginkan Farah.
Sejak saat itu Kakek Zhafran membatasi pengeluaran Zion dan menyatakan dengan tegas tidak akan pernah merestui hubungannya dengan Farah. Namun Zion malah back street dengan Farah, alias merahasiakan hubungannya dengan Farah dan mengaku pada kakeknya sudah putus dengan Farah. Hingga kemarin ia mengatakan pada kakeknya bahwa Farah sedang mengandung.
Zion beranjak berdiri dan kembali menatap wajah Farah, "Apa karena aku mengatakan bahwa anak kami tidak akan mendapatkan warisan apapun dari kakek?" gumam Zion yang teringat pembicaraannya dengan Farah saat mobil Zion sudah berada di depan rumahnya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Fadillah Ahmad
B8sa tolong di revisi nggk kak? kata "Sang pribadi" itu kurang enak di baca kak,bisa minta tolong di revisi kak Nana? mohon di pertimbangkan ya kak. Terimakasih.
2024-10-01
2
Fadillah Ahmad
Klw bisa kata "Sang pribadi" itu di hapus saja kak,jadi narasi nya kayak gini "Pak juli tersenyum samar" kayak gitu saja kak.
2024-10-01
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
dendam memang sadis. seperti Pak juni & Juli.
2024-09-25
2