Elin mengendarai mobilnya keluar dari rumah megah nan mewah milik suaminya. Ia melajukan mobilnya menuju toko kue miliknya. Toko yang diberi nama "Toko Kue Aprilia". Nama toko kue ini diambil dari nama belakang Elin yang memiliki nama lengkap Elina Aprilia. Hingga sekarang Elin lebih dikenal dengan nama Aprilia.
Nama Elin seolah tenggelam, bahkan para karyawannya pun tak tahu nama panjang Elin. Belum lagi sejak Elin terjun di dunia bisnis, Pak Hadi memanggil Elin dengan nama Aprilia. Bu Heni juga memperkenalkan Elin pada teman-teman sosialitanya dengan nama Aprilia.
Elin memarkirkan mobilnya di garasi toko kuenya. Ia langsung masuk ke toko kuenya dan memeriksa kue-kue yang sudah diletakkan di etalase.
"Kak Lia," panggil Dona, salah satu karyawan kepercayaan Elin.
Elin menoleh ke samping dan melihat Dona menghampirinya," Ada apa, Don?" tanyanya.
"Kak Febri menelpon, katanya ia akan datang bersama seorang wanita yang ingin bertemu dengan kakak. Katanya wanita itu ingin mencari kue untuk acara pernikahan putranya," sahut Dona dengan senyuman di bibirnya dan mata yang terlihat berbinar-binar.
Jika ada pesanan besar, maka para karyawan akan mendapatkan bonus yang besar pula dari Elin, karena itulah Dona terlihat sangat senang.
"Okey, siapkan semua contoh kue yang kita jual," sahut Elin seraya berjalan menuju ruangannya.
"Siap, Kak!" sahut Dona penuh semangat.
*
Di sebuah mobil yang sedang melaju, seorang wanita bernama Febri yang merupakan pemilik WO (wedding organizer) terkenal sedang bersama seorang wanita paruh baya yang merupakan kliennya.
"Beneran, kue di toko kenalan kamu itu enak? Soalnya saya merasa toko kue langganan saya adalah toko kue yang paling enak," tanya sang wanita paruh baya.
"Nyonya bisa mencicipi sendiri kue yang ingin nyonya gunakan untuk resepsi nanti. Toko kue ini sudah menjadi langganan saya semenjak buka empat tahun yang lalu. Dijamin higienis, menggugah selera dan menggoyang lidah. Toko kue ini sudah memiliki empat cabang di kota lain, nyonya. Tapi kalau nyonya tidak cocok dengan cita rasa dan tampilannya, nyonya bisa memilih toko kue langganan nyonya," sahut Febri.
"Jadi penasaran," sahut sang wanita paruh baya.
Tak lama kemudian mereka tiba di toko kue milik Elin. Seorang pelayan yang sudah mengenal Febri langsung mengarahkan Febri dan sang wanita paruh baya ke ruangan Elin.
"Hai, Lia!" sapa Febri dengan senyuman ramah saat memasuki ruangan Elin. Ia dan Elin sudah akrab karena Febri selalu memesan kue dari toko Elin saat ada yang memakai jasa WO-nya.
"Hai, Kak! Mari duduk! Silahkan duduk, nyonya!" sambut Elin tersenyum ramah.
"Kenalkan, ini Nyonya Shiva. Beliau ingin mencoba kue di toko kamu. Siapa tahu cocok," ucap Febri memperkenalkan kliennya pada Elin.
"Shiva," ucap nyonya Shiva mengulurkan tangannya dengan senyuman ramah.
"Saya Aprilia, pemilik toko kue ini," Elin menjabat tangan Nyonya Shiva dengan seulas senyum, "saya akan menunjukkan berbagai macam kue yang kami jual di toko kami. Kami menyediakan kue tradisional, kue kekinian, dan juga kue low sugar," ujar Elin mempromosikan kue di tokonya dengan lancar.
Mereka bertiga akhirnya duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Mereka berbincang sambil menunggu kue tester yang akan dicicipi Nyonya Shiva.
Tak lama kemudian berbagai macam kue tester sudah datang. Nyonya Shiva mencicipi satu persatu kue di hadapannya dan mengecap setiap rasanya.
Elin menunjukkan katalog untuk memberitahu Nyonya Shiva, kue mana yang sedang ia cicip untuk melihat bagaimana penampilan kue yang dicicipi Nyonya Shiva.
Dona nampak melayani Nyonya Shiva. Menyingkirkan kue yang sudah dicicipi Nyonya Shiva. Sedangkan Elin menunjukkan katalog seraya mencatat kue yang ingin dipesan Nyonya Shiva.
"Ternyata kue di toko Nak Lia memang enak," puji Nyonya Shiva.
"Semua kue ini adalah resep Lia sendiri, loh, Nyonya," sahut Febri.
"Benarkah? Wah.. kamu hebat, ya? Masih muda sudah sangat berbakat dan memiliki usaha sendiri," puji Nyonya Shiva menatap Elin dengan tatapan kagum.
"Ah, Nyonya terlalu memuji," sahut Elin tersenyum tipis.
"Mulai sekarang panggil saja Tante, biar lebih akrab. Tante suka dengan anak muda seperti kalian. By the way, Nak Lia sudah punya pacar belum? Tante masih punya anak bujang satu lagi yang sedang nyari jodoh. Siapa tahu cocok dengan Nak Lia," tanya Nyonya Shiva yang langsung suka pada Elin.
"Sayang sekali, aku sudah menikah, Tan," ucap Elin tak lagi menggunakan bahasa formal agar lebih akrab, sesuai keinginan Nyonya Shiva. Ia tersenyum tipis seraya menunjukkan cincin kawin di jari manisnya. Cincin yang dulu kebesaran itu sekarang sudah pas di jari Elin.
Ya, Elin tidak pernah melepaskan cincin kawinnya bersama Zion. Bahkan dulu saat cincin itu masih kebesaran, Elin melilitkan benang pada cincin itu agar pas di jarinya.
Lalu.. dimana cincin kawin Zion yang dilemparkan Zion waktu itu? Cincin itu sekarang dijadikan sebagai bandul kalung Elin. Ia masih berharap suatu hari nanti Zion kembali memakai cincin itu.
"Aihh.. sayang sekali," gumam Nyonya Shiva nampak kecewa.
Sedangkan Febri nampak tertawa tanpa suara, "Jangan percaya, Tante! Selama empat tahun aku mengenal Lia, ia mengaku sudah menikah, tapi belum pernah sekalipun aku melihat suaminya. Aku nggak percaya dia sudah menikah." celetuk Febri juga tak lagi memakai bahasa formal.
"Benar Nyonya, saya sudah empat tahun bekerja dengan Kak Lia, tapi saya belum pernah sekalipun melihat suami Kak Lia," imbuh Dona.
Elin hanya tersenyum masam dan menghela napas yang terasa sesak mendengar perkataan tiga orang yang bersamanya di dalam ruangan itu. Dirinya sudah bersuami, tapi belum pernah merasakan menjadi seorang istri, apalagi menjadi istri seutuhnya. Sudah lima tahun menikah, tapi masih perawan. Entah Elin harus menangis' ataukah harus menertawakan dirinya sendiri.
"Nanti datang, ya, ke pesta pernikahan putra Tante. Ntar Tante kenalkan sama anak Tante. Dijamin nggak bakal kecewa, deh! Anak Tante ganteng, pekerja keras, jabatannya adalah wakil CEO, alias Chief Operating Officer (COO). Anaknya pengertian dan sayang sama Tante, jadi sudah pasti kalau punya istri nanti bakal pengertian dan sayang sama istrinya. Dia tipikal cowok setia," ujar Nyonya Shiva mempromosikan putranya dengan lancar di luar kepala. Ia jadi ikut tidak percaya kalau Elin sudah menikah.
"Duh, sayang sekali aku udah nikah, Tan. Kalau enggak, aku pasti mau dijodohin sama putra Tante," canda Febri.
"Setia dalam artian apa, nih, Tan? Setia tidak akan mendua, atau setia dalam artian setiap tikungan ada?" canda Elin terkekeh kecil.
"Setia dalam artian tidak akan pernah mendua, dong!" sahut Nyonya Shiva yakin.
Elin tersenyum tipis menghela napas panjang. Selama ini ia selalu menutup diri dan menjaga jarak dari pria manapun karena statusnya sebagai seorang wanita yang sudah bersuami, meskipun menjadi istri yang tak dianggap.
"Datang, ya! Ini undangan untuk kalian berdua," pinta Nyonya Shiva seraya mengeluarkan undangan dari dalam shoulder bag-nya.
Setelah Febri dan Nyonya Shiva pergi dan Dona sudah keluar dari ruangannya, Elin menatap keluar jendela ruangannya. Kesepian. Itulah yang sering kali dirasakan Elin saat sendiri, apalagi saat malam hari dan semua karyawannya sudah pulang.
"Kakek, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menyusul Kak Zion ke luar negeri? Apakah di sana dia sudah memiliki wanita yang disukainya?"gumam Elin, kemudian memegang dan menatap cincin kawin Zion yang menjadi bandul kalungnya.
*
Hari terus berlalu. Malam ini Elin sudah siap pergi ke pesta pernikahan putra Nyonya Shiva. Ia mengenakan gaun tertutup berwarna biru yang tidak terlalu ketat, namun mampu menonjolkan bentuk tubuhnya yang aduhai. Sapuan make-up tipis di wajahnya membuat kecantikannya terlihat natural.
Empat puluh menit kemudian, wanita yang sudah tidak gadis, sudah bersuami, tapi masih perawan itu masuk ke ballroom hotel dan langsung menjadi pusat perhatian. Namun karena sudah banyak di gembleng oleh Bu Heni, Elin terlihat percaya diri meskipun menjadi pusat perhatian. Ia melangkah dengan gaya yang anggun dan elegan, membuat semua mata terpesona.
Nyonya Shiva yang mengundangnya pun bergegas menghampirinya, karena melihat para pria yang mulai merapat ke arah Elin.
"Deg"
Tiba-tiba saja Elin merasa jantungnya seperti berhenti berdetak dan langkah kakinya tiba-tiba terhenti.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
elin... wanita setia dalam kesepian. 🥺
2024-09-26
3
Sugiharti Rusli
apa ada seseorang yang Elin kenal diantara para undangan, atau bahkan dia lihat sosok suaminya di situ
2024-09-05
2
Dwi Winarni Wina
Elin berharap suatu hari nanti zion akan kembali walaupin dianggap Istri diatas kertas dan istri pajangan aja,,,,
Sayang skl zion menyia2kan batu berlin seperti elin dan memilih batu kali seperti kl..
Kayaknya elin bertemu dgn zion....
2024-09-04
3