Zion terperangah mendengar perkataan kakeknya. Ia tidak mengerti kenapa kakeknya ingin ia menikahi gadis yang baru dikenalnya dan terlihat.. benar-benar jauh dari kata serasi dengan dirinya. Apa keistimewaan gadis ini hingga kakeknya meminta ia menikahi gadis ini? Itulah pertanyaan yang ada di dalam benak Zion.
Sedangkan Elin.. seketika ia tertegun. Elin merasakan jantungnya berdebar kencang hingga terasa sesak di dadanya. Ia tidak menyangka akan mendengar semua ini.
Dari pertama kali bertemu Zion, Elin bisa melihat betapa rupawan dan sempurnanya pria itu. Aura kemewahan terpancar jelas dari setiap inci tubuhnya.
Mata Elin tidak berani bertemu dengan tatapan tajam Zion. Ia merasa seperti serangga di bawah mikroskop, kecil dan tidak berarti. Ketampanan Zion bagaikan sinar matahari yang menyilaukan, membuatnya merasa semakin kecil dan tidak layak.
Elin menunduk, jari-jarinya meremas ujung rok,"Aku ini siapa?" gumamnya dalam hati. Gadis desa yang bahkan belum pernah merasakan cinta
Bagaimana bisa seorang gadis sederhana seperti dirinya dijodohkan dengan pemuda sesempurna Zion? Meskipun dari pertama kali bertemu Zion, ia langsung terpesona pada pandangan pertama dan timbul rasa kagum saat membuat kue bersama, tapi ia sadar siapa dirinya. Ia merasa tidak pantas. Sangat tidak layak bersanding dengan Zion.
Mata Zion menyapu tubuh Elin dari atas hingga bawah, tatapannya penuh penilaian. Senyum tipis tersungging di bibirnya, lebih mirip cemoohan daripada senyuman ramah
"Kakek serius, ingin menikahkan aku dengan dia? Dia? Dengan semua kekurangannya?" tanya Zion dengan suara yang terdengar meremehkan dan penuh ejekan, seolah Elin adalah sebuah lelucon.
Awalnya Zion suka pada Elin karena ketrampilan, kesabaran dan keuletannya dalam membuat kue, tapi Zion jadi tidak suka setelah tahu maksud kakeknya membawa alin tinggal bersama mereka adalah karena ingin dinikahkan dengan dirinya.
"Jika kamu tidak mau menikah dengan Elin, kakek akan memberikan semua harta kakek pada Elin," tegas kakek Zhafran.
Lagi-lagi Elin terkejut mendengar perkataan Kakek Zhafran, "Ada apa ini? Apa aku nggak salah dengar? Apa alasan kakek melakukan semua ini?" batin Elin menatap Kakek Zhafran dengan tatapan tak percaya dan penuh tanda tanya.
Sedangkan Zion tertawa tanpa suara mendengar perkataan kakeknya, "Aku tidak percaya kakek akan melakukan itu," ucap Zion menampilkan senyuman yang menyempurnakan rasa tidak percayanya akan ancaman kakeknya.
"Kakek tidak bercanda. Kakek sudah menyiapkan semua surat-suratnya. Jika kamu tidak setuju menikah dengan Elin besok, maka malam ini juga kakek akan mengalihkan semua harta kakek pada Elin," ucap kakek Zhafran terlihat serius, "selama ini kakek tidak pernah meminta apapun darimu. Apa satu permintaan sebelumnya kakekmu ini meninggal pun tidak bisa kamu lakukan?" tanya Kakek Zhafran menatap Zion lekat.
"Deg"
Jantung Zion terasa seperti di pukul dengan batu besar saat mendengar dua kalimat terakhir dari kakeknya. Selama ini kakeknya memang tidak pernah meminta apapun pada dirinya, bahkan selalu menuruti apapun yang ia inginkan.
Zion menghela napas panjang, lalu menatap kakeknya dengan tatapan lembut, "Kek, aku tidak bisa menikah dengan gadis pilihan kakek, karena... Farah sedang mengandung anakku," ucap Zion dengan ekspresi tak berdaya.
Zion tertunduk dengan kedua tangan yang terkepal erat Sebenarnya ia merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi satu permintaan dari kakeknya yang hidupnya sudah tak lama lagi. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Farah yang sedang mengandung darah dagingnya.
Seandainya saja Farah tidak sedang mengandung anaknya, ia pasti akan memenuhi keinginan kakeknya dan berusaha menerima gadis yang dijodohkan kakeknya dengannya.
"Apa? Anak brengseek! Kau.." Kakek Zhafran nampak sangat emosi saat mengetahui cucunya telah menghamili seorang gadis. Hingga dadanya terasa sakit dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Kakek.." panggil Elin terlihat khawatir.
"Tuan, sabar," ucap Hadi mengenggam jemari tangan Kakek Zhafran.
Untuk beberapa saat Kakek Zhafran berusaha menenangkan diri dan mengontrol emosinya. Hingga akhirnya ia terlihat lebih tenang.
"Kamu boleh menikahi perempuan itu, tapi... hanya sebatas istri kedua dan tidak berhak apapun atas harta yang kakek miliki," ucap Kakek Zhafran datar.
"Apa maksud kakek?" tanya Zion tak percaya mendengar perkataan kakeknya.
"Istri pertama kamu adalah Elin dan pewaris semua harta kakek adalah anakmu bersama Elin, bukan anakmu dengan perempuan itu, atau perempuan lain," ucap Kakek Zhafran tegas meskipun suaranya terdengar lemah.
"Kek.."
"Keputusan kakek tidak akan berubah. Kamu tanda tangani berkas-berkas pernikahan kamu dengan Elin atau kakek akan menandatangani surat pengalihan harta kakek kepada Elin," ucap Kakek Zhafran memotong kata-kata Zion.
Kakek Zhafran memberi isyarat pada Pak Hadi dan Pak Hadi langsung menunjukkan pada Zion berkas-berkas pernikahan dan juga surat pengalihan harta Kakek Zhafran pada Elin yang semuanya sudah siap untuk ditandatangani. Pria paruh baya itu mengamati ekspresi wajah Zion dan Elin bergantian dengan wajah datarnya.
Zion tidak bisa lagi membantah ucapan kakeknya, karena kakeknya begitu keras kepala. Dengan terpaksa ia menuruti keinginan kakeknya menandatangani berkas-berkas pernikahan dengan Elin saat itu juga.
Zion menghela napas panjang. Ia menyesali keputusannya untuk berhubungan dengan Farah. Sebab sejak awal kakeknya sudah melarangnya. Alasan kakeknya tidak menyukai Farah adalah karena Farah perempuan matre.
Ya, Zion sadar akan hal itu, namun, ia tidak bisa membohongi perasaannya. Farah telah memberikannya kebahagiaan yang selama ini ia cari.
Sekarang ia merasa terjebak antara kewajiban dan cinta. Kewajiban memenuhi permintaan kakeknya dan cintanya pada Farah yang terpaksa harus menjadi istri keduanya.
"Ingat, sedikit saja kamu menyakiti Elin, maka kakek akan melakukan hal yang sama pada kekasihmu itu. Hadi yang akan memastikan segalanya. Selain itu, Elin akan tidur di kamarmu, bukan perempuan itu ataupun perempuan lain," ucap Kakek Zhafran penuh ancaman.
Sedangkan Elin benar-benar tidak mengerti, kenapa Kakek Zhafran yang baru dikenalnya mau menikahkan dirinya yang serba kekurangan dari segi apapun dengan cucu kakek Zhafran yang sangat rupawan dan begitu sempurna. Padahal baru kemarin ia bertemu dengan kakek Zhafran.
Zion keluar dari ruangan kerja kakeknya dengan perasaan kesal. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa kakeknya memaksanya menikah dengan gadis yang bahkan lebih cantik dan lebih bersih dari cleaning service di kantornya.
Di ruangan kerja Kakek Zhafran.
"Maaf, Kek. Kakek yakin ingin menikahkan aku dengan cucu Kakek? Aku.. aku tidak pantas menikah dengan cucu Kakek. Aku hanya gadis miskin berpendidikan rendah," ucap Elin dengan wajah tertunduk. Ia belum menandatangani berkas-berkas pernikahan.
Melihat sikap Zion, jujur Elin merasa takut kalau dirinya menikah dengan Zion nanti dirinya akan diperlakukan sesuka hati oleh Zion. Elin bisa membayangkan dirinya diperlakukan seperti pembantu dan dihina serta di cerca setiap hari. Meskipun Kakek Zhafran sudah mengancam Zion agar tidak menyakiti dirinya, tapi bagaimana jika Kakek Zhafran sudah meninggal nanti?
"Kakek yakin kamu adalah wanita yang paling cocok mendampingi Zion. Percayalah, jika Zion sudah mengenal kamu, maka perlahan dia akan mencintaimu. Dan sesuai perjanjian kita, kamu akan menuruti semua persyaratan dari kakek, bukan? Kamu baca dulu, setelah itu kamu tandatangani surat perjanjian ini," ucap Kakek Zhafran memberikan isyarat pada Pak Hadi untuk memberikan map yang dipegang oleh Pak Hadi.
Dalam perjanjian itu tertulis kalau Elin berjanji akan menikah dengan Zion, namun tidak berhak meminta cerai dari Zion. Jika melanggar perjanjian, maka Elin harus mengembalikan semua uang yang diterimanya dari Kakek Zhafran dan harus membayar denda seratus miliar.
Perjanjian yang pastinya tidak akan bisa dilanggar oleh Elin yang tidak punya apa-apa. Benar-benar perjanjian yang menjerat leher Elin.
"Setelah menandatangani surat perjanjian ini kamu akan menjadi istri Zion selamanya," ucap Kakek Zhafran serius.
"Aku mengerti," sahut Elin menatap surat perjanjian itu dengan mata berkaca-kaca. Tangannya gemetar saat pena menyentuh kertas.
Bukan hanya karena ia harus menyerahkan masa depannya, tapi juga karena ia merasa dikhianati oleh nasib. Ia telah berjuang keras untuk membiayai sekolah adiknya, namun kini semua harapannya sirna. Apakah setelah ini ia bisa mewujudkan impiannya dan impian adiknya menjadi dokter?
Selain ingin adiknya menjadi dokter. Di masa depan ia ingin memiliki toko kue untuk menyalurkan hobi dan bakatnya membuat kue. Namun sekarang kehidupan yang ia impikan terasa begitu jauh.
Elin sama sekali tidak berani menolak keinginan Kakek Zhafran ini, karena ia sudah berjanji akan menerima syarat apapun dari Kakek Zhafran yang telah membiayai operasi adiknya. Apalagi ia bukan tipe orang yang suka ingkar janji. Baginya janji adalah hutang.
"Besok kamu akan menikah dengan Zion," ucap Kakek Zhafran.
"Iya," sahut Elin patuh.
Sedangkan Pak Hadi nampak tersenyum samar melihat berkas-berkas yang telah ditandatangani Zion dan Elin.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
yuli
siapakah elin?!! lanjuttt ka nana
2024-12-23
1
🌈Rainbow🪂
Ada apa kakek
2024-10-10
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pasti ada sesuatu dibalik semua keputusan kakek. semangat elin. pasti cita2mu akan terwujud
2024-09-24
2