17. Dianggap Drama

Zion yang baru saja selesai chatting dengan bawahannya terkesiap, hingga ia mengangkat wajahnya menatap Elin yang tiba-tiba memeluk lengannya. Ia tertegun menatap wanita cantik bermata bulat, berhidung mancung dengan surai tergerai indah sepinggang yang berada di sisinya..

"Sayang, kenapa kamu sibuk sekali dengan ponselmu? Kamu bahkan tidak sadar kalau aku ada di sebelahmu. Apa kamu sedang chatting dengan selingkuhanmu? Kamu sudah lama di luar negeri dan tak punya waktu mengunjungi aku, apa sudah ada wanita lain di hatimu?" tanya Elin mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya dengan wajah sendu, "Kak Zion tidak akan mendorong aku menjauh darinya dan mempermalukan aku, 'kan?" batin Elin was-was mengingat betapa bencinya Zion pada dirinya. Tapi ia tidak tahu harus mencari perlindungan dari siapa selain dari suaminya. Para pria yang ada di sekitarnya benar-benar agresif mendekatinya.

"Siapa wanita ini? Kenapa tiba-tiba dia memeluk lenganku?" batin Zion lalu menatap ke arah sekitarnya, "apa dia ingin menghindari para pria ini dengan mengaku sebagai kekasih ku?" batin Zion setelah menyadari banyak pria yang berada di sekitar mereka dan tatapan mata mereka tertuju pada Elin.

"Kamu kenal sama Lia, Zi?" tanya Nico menatap Elin dan Zion bergantian. Sedangkan para pria yang masih mengerumuni Elin berhenti mendekat saat melihat Elin memeluk lengan Zion.

"Kak Nico kenal dengan, Kak Zi?" tanya Elin yang dengan cepat menguasai situasi, tidak ingin Zion menjawab bahwa Zion tidak kenal dengan dirinya.

"Aku sahabat Zion," sahut Nico kemudian menatap Zion, "kamu diam-diam menyembunyikan wanita cantik?" tanya Nico memicingkan sebelah matanya.

"Ada apa ini? Kenapa semua berkerumun di sini?" Suara Nyonya Shiva terdengar sebelum Zion menjawab pertanyaan Nico.

Para pria yang mengerumuni Elin sedikit menepi memberi jalan pada Nyonya Shiva yang sedang menggandeng seorang pemuda tampan. Wanita paruh baya itu memicingkan sebelah matanya menatap Elin yang memeluk lengan Zion.

"Nak Lia kenal dengan Zion?" tanya Nyonya Shiva yang merasa kedekatan Elin dan Zion tidak biasa karena melihat Elin yang menempel memeluk lengan Zion.

"Ah, ini suami saya," ucap Elin dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas membentuk senyuman. Ia mengaku sudah menikah pada Nyonya Shiva. Jadi, mau tak mau ia mengakui Zion sebagai suaminya di depan Nyonya Shiva, sekaligus di depan semua pria yang ingin mendekatinya.

Nico dan nyonya Shiva membulatkan mata mereka mendengar pengakuan Elin.

"What the hell? Kapan aku nikah sama dia?" batin Zion berusaha bersikap setenang mungkin meskipun berkali-kali dibuat terkejut oleh Elin.

"Nona Lia bercanda? Setahu saya, Tuan Zion belum menikah," sahut pria yang menatap Elin dengan tatapan mesum tadi membuat Elin mengeratkan pelukannya di lengan Zion.

"Kami menikah diam-diam," sahut Elin memaksakan diri untuk tersenyum karena merasa tidak suka pada pria itu.

"Beneran, bro, dia bini elo? Kok, elo nggak pakai cincin kawin?" tanya Nico memicingkan sebelah matanya menatap Zion tidak percaya.

"Tuh, 'kan, Sayang? Mereka nggak percaya kalau kita sudah menikah. Kamu, sih! Cincin kawin pakai dilepas segala. Pengen dianggap lajang agar bisa cari yang lain, ya?" tuduh Elin seraya melepaskan kalung yang dikenakannya, lalu mengambil cincin kawin milik Zion yang dulu pernah dilempar Zion padanya, "pakai cincinnya!" ucap Elin dengan suara lembut seraya meraih jemari tangan suaminya. Ia menyematkan cincin kawin di jari manis suaminya dengan perlahan, mengingat lima tahun yang lalu saat ia menyematkan cincin kawin itu dijari manis yang sama.

Entah mengapa hati Zion terasa bergetar saat Elin menyematkan cincin yang pas di jari manisnya.

Tidak mendapatkan penolakan dari Zion, Elin memberanikan diri mengangkat tangan Zion, kemudian mengecup lembut telapak tangan Zion seraya menatap Zion dengan tatapan penuh kasih dan kerinduan dimatanya. Entah bagaimana sikap Zion nanti, tapi Elin merasa bersyukur bisa melihat Zion baik-baik saja setelah lima tahun mereka berpisah. Tepatnya meninggalkan dirinya.

"Drama apa yang sedang dimainkan wanita ini? Tatapan macam apa yang ia tunjukkan padaku? Kenapa hatiku terasa bergetar dan degup jantungku berdegup kencang melihat tatapan matanya?" batin Zion menatap lekat manik mata Elin.

Semua orang melihat apa yang dilakukan Elin, mereka merasakan ada chemistry di antara Zion dan Elin.

Elin menempelkan telapak tangan Zion di pipinya yang putih mulus, "Apa tidak sedikitpun kakak memikirkan aku setelah sekian lama berpisah denganku?" tanya Elin dengan bibir yang bergetar, wajah sendu menatap Zion dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh, pertanyaan ini benar-benar dari dalam lubuk hati Elin.

"Greb"

Entah mengapa Zion tidak tega melihat tatapan mata dan ekspresi wajah Elin yang seperti itu, hatinya terasa teriris dan nyeri, hingga Zion reflek memeluk Elin.

Elin terkesiap, membulatkan matanya saat mendapatkan pelukan mendadak dari Zion. Namun sesaat kemudian ia membalas pelukan Zion dengan erat.

Dalam dekapan suaminya, bibirnya melengkungkan senyuman, namun air matanya mengalir. Setelah lima tahun menikah, baru hari ini mereka bersentuhan, bahkan berpelukan.

"Seperti inikah rasanya dipeluk seorang suami? Hangat.. nyaman .." batin Elin yang untuk pertama kalinya dipeluk Zion. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.

Apakah Elin mencintai Zion? Entahlah. Namun yang pasti, selama lima tahun ini, hanya adiknya dan Zion yang selalu diingat dan dipikirkan olehnya.

"Astaga..apa yang sedang terjadi?" gumam Nico yang setahunya Zion tidak pernah dekat, dengan seorang wanita, tidak memiliki kekasih, apalagi istri. Karena selama ini Nico juga tinggal di luar negeri dan sering bertemu Zion. Baru satu bulan ia pulang dari luar negeri karena ingin menikah.

"Jadi.. Nak Lia benar-benar sudah menikah?" gumam Nyonya Shiva nampak kecewa.

"Mama ingin mengenalkan aku dengan siapa?" tanya adik Nico yang masih digandeng Nyonya Shiva.

"Nggak jadi. Ternyata dia benar-benar sudah menikah," gumam Nyonya Shiva menghela napas kasar.

Sedangkan para pria yang tadi mengerumuni Elin, perlahan mulai mundur dan menjauh. Kekecewaan terlihat jelas di wajah mereka.

"Ehem.. lepas kangennya ntar aja, bro! Kalau begini caranya, pernikahan gue jadi acara pertemuan Romeo dan Juliet," cetus Nico membuat Zion terhenyak dari perasaan yang tak dimengerti olehnya sendiri. Ia melerai pelukannya dengan Elin.

"Sorry.." ucap Zion tersenyum canggung, sedangkan Elin menghapus air matanya.

"Gue nggak nyangka, ternyata diam-diam elo udah nikah. Pantesan, selama diluar negeri kagak tertarik sama sekali sama cewek. Ternyata sudah punya tambatan hati. Dan gue baru nyadar kalau baju elo berdua couple-an," ujar Nico menghela napas panjang melihat kemeja yang dipakai Zion berwarna biru, sama seperti gaun Elin.

"Sayang, acara dansa sudah mau dimulai," ucap istri Nico.

"Ah, iya. Ayo kita berdansa!" sahut Nico, lalu menatap Zion, "kalian kagak mau berdansa?" tanya Nico.

"Mau berdansa?" tanya Zion pada Elin dengan senyuman hangat. Senyuman hangat yang membuat hati Elin yang sudah lima tahun ini dingin jadi menghangat.

Elin mengangguk kecil dengan seutas senyuman di bibirnya, menandakan ia bersedia berdansa dengan Zion. Melihat Elin mengangguk, Zion pun mengandeng Elin ke tempat dansa.

"Apa Kak Zion tidak mengenali aku? Atau.. dia sudah tahu, tapi berpura-pura bersikap baik padaku karena kami berada di tempat umum?" batin Elin yang belum tahu, sebenarnya Zion sudah tahu atau belum kalau ini adalah dirinya.

Kedua mempelai menuju ke tempat dansa, beberapa pasangan pun mengikuti dan mengambil tempat untuk berdansa, termasuk Elin dan Zion.

Elin merasa gugup, namun berusaha menyembunyikannya, "Semoga aku bisa berdansa dengan baik agar nggak bikin malu Kak Zion dan juga diriku sendiri," batinnya.

"Para pasangan yang berada ditempat dansa mohon bersiap, kali ini lagu pengiring dansa adalah lagu yang berjudul "From this moment on" yang dilantunkan oleh Shania Twain."

Suara pembawa acara terdengar memberitahu pada para pasangan yang ikut berdansa supaya mereka bisa mengatur posisi mereka masing-masing agar bisa berdansa dengan baik sesuai lagu pengiring dansa.

Setelah mendengar pemberitahuan dari pembawa acara, Elin yang berdiri berhadapan dengan Zion perlahan melangkah mundur.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Ratna_1729

Ratna_1729

kenyataan emang beneran udah nikah kok. Zion aja yang gk ngenalin Elin

2025-02-07

0

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

deg3an banget, sekaligus nyesek. bertahan ya elin.

2024-09-26

2

Heri Wibowo

Heri Wibowo

lanjut thor.

2024-09-06

2

lihat semua
Episodes
1 1. Persyaratan
2 2. Tidak Setuju
3 3. Cinta Dan Kewajiban
4 4. Cincin Kebesaran
5 5. Dingin
6 6. Minder
7 7. Syok Hemoragik
8 8. Jatuh
9 9. Tuduhan
10 10. Di Bawah Kamboja
11 11. Hilang
12 12. Menutupi
13 13. Metamorfosis
14 14. Merasa Bersalah
15 15. Bersuami, Tapi Perawan
16 16. Nekat
17 17. Dianggap Drama
18 18. Lupa
19 19. Gegana
20 20. Begitu Benci kah?
21 21. Berlawanan
22 22. Apa Keberatan?
23 23. Mengingatkan
24 24. Kasmaran
25 25. Pasang Surut
26 26. Ada Yang Kurang
27 27. Penasaran
28 28. Suram
29 29. Lalat Sampah
30 30. Meminta Pulang
31 31. Alasan Bertahan
32 32. Resah
33 33. Digulung Ombak
34 34. Janji
35 35. Susah Dinasehati
36 36. Risau
37 37. Tahu Semuanya
38 38. Poster
39 39. Terpaksa
40 40. Bimbang
41 41. Ingin Menceraikan
42 42. Benar-benar Melupakan
43 43. Pelarian Farah
44 44. Curiga
45 45. Manipulatif
46 46. Nekat
47 47. Tanpa Kabar
48 48. Merasa Lega
49 49. Keputusan
50 50. Menghampiri
51 51. Ke Luar Kota
52 52. Ada yang Janggal
53 53. Setengah Berbohong
54 54. Bertemu Lagi
55 55. Mengizinkan
56 56. Pertemuan Tak Terduga
57 57. Interaksi Adik-kakak
58 58. Untungnya
59 59. Benar-benar Berusaha
60 60. Yang kedua
61 61. Adik Manis Salah Masuk
62 62. Diawasi
63 63. Kekanak-kanakan
64 63. Bukan Sister Complex
65 65. Hampa
66 66. Memotivasi
67 67. Lupa Janji
68 68. Mengurus Perceraian
69 69. Di Ambang Kebenaran
70 70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71 71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72 72. Dilema Hati
73 73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74 74. Pelajaran Hidup
75 75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76 76. Ikatan Keluarga
77 77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78 78. Kebenaran yang Diungkapkan
79 79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80 80. Cintamu Ugal-ugalan
81 81. Konfrontasi Zion dan Franky
82 82. Perpisahan di Bandara
83 83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84 84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85 85. Dokumen Penting
86 86. Pertanyaan yang Menganggu
87 87. Ditampar Kenyataan
88 88. Kebenaran yang Menyakitkan
89 89. Jujur atau Tetap Diam?
90 90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91 91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92 92. Pengakuan Dosa
93 93. Kabar Keberadaan
94 94. Sebuah Amplop
95 95. Tidak Tahu Apa-apa
96 96. Kesuksesan yang Hampa
97 97. Penyanderaan
98 98. Sesuatu yang Familiar
99 99. Lebih dari Rekan Bisnis
100 100. Penyelidikan
101 101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102 102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103 103. Runtuh dan Hancur
104 104. Perasaan Lega
105 105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106 106. Momen yang Terulang
107 107. Jodoh Pilihan Bocil
Episodes

Updated 107 Episodes

1
1. Persyaratan
2
2. Tidak Setuju
3
3. Cinta Dan Kewajiban
4
4. Cincin Kebesaran
5
5. Dingin
6
6. Minder
7
7. Syok Hemoragik
8
8. Jatuh
9
9. Tuduhan
10
10. Di Bawah Kamboja
11
11. Hilang
12
12. Menutupi
13
13. Metamorfosis
14
14. Merasa Bersalah
15
15. Bersuami, Tapi Perawan
16
16. Nekat
17
17. Dianggap Drama
18
18. Lupa
19
19. Gegana
20
20. Begitu Benci kah?
21
21. Berlawanan
22
22. Apa Keberatan?
23
23. Mengingatkan
24
24. Kasmaran
25
25. Pasang Surut
26
26. Ada Yang Kurang
27
27. Penasaran
28
28. Suram
29
29. Lalat Sampah
30
30. Meminta Pulang
31
31. Alasan Bertahan
32
32. Resah
33
33. Digulung Ombak
34
34. Janji
35
35. Susah Dinasehati
36
36. Risau
37
37. Tahu Semuanya
38
38. Poster
39
39. Terpaksa
40
40. Bimbang
41
41. Ingin Menceraikan
42
42. Benar-benar Melupakan
43
43. Pelarian Farah
44
44. Curiga
45
45. Manipulatif
46
46. Nekat
47
47. Tanpa Kabar
48
48. Merasa Lega
49
49. Keputusan
50
50. Menghampiri
51
51. Ke Luar Kota
52
52. Ada yang Janggal
53
53. Setengah Berbohong
54
54. Bertemu Lagi
55
55. Mengizinkan
56
56. Pertemuan Tak Terduga
57
57. Interaksi Adik-kakak
58
58. Untungnya
59
59. Benar-benar Berusaha
60
60. Yang kedua
61
61. Adik Manis Salah Masuk
62
62. Diawasi
63
63. Kekanak-kanakan
64
63. Bukan Sister Complex
65
65. Hampa
66
66. Memotivasi
67
67. Lupa Janji
68
68. Mengurus Perceraian
69
69. Di Ambang Kebenaran
70
70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71
71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72
72. Dilema Hati
73
73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74
74. Pelajaran Hidup
75
75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76
76. Ikatan Keluarga
77
77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78
78. Kebenaran yang Diungkapkan
79
79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80
80. Cintamu Ugal-ugalan
81
81. Konfrontasi Zion dan Franky
82
82. Perpisahan di Bandara
83
83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84
84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85
85. Dokumen Penting
86
86. Pertanyaan yang Menganggu
87
87. Ditampar Kenyataan
88
88. Kebenaran yang Menyakitkan
89
89. Jujur atau Tetap Diam?
90
90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91
91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92
92. Pengakuan Dosa
93
93. Kabar Keberadaan
94
94. Sebuah Amplop
95
95. Tidak Tahu Apa-apa
96
96. Kesuksesan yang Hampa
97
97. Penyanderaan
98
98. Sesuatu yang Familiar
99
99. Lebih dari Rekan Bisnis
100
100. Penyelidikan
101
101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102
102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103
103. Runtuh dan Hancur
104
104. Perasaan Lega
105
105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106
106. Momen yang Terulang
107
107. Jodoh Pilihan Bocil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!