Beberapa jam yang lalu...
"Farah, sebelum kita ke rumahku, ada yang perlu aku sampaikan sama kamu," ucap Zion pelan, kemudian menghela napas panjang.
"Katakanlah!" pinta Farah kembali merasakan firasat akan mendapatkan berita buruk.
"Kakek telah menulis surat wasiat, bahwa pewaris semua harta kakek adalah anakku bersama gadis itu, bukan anakku denganmu," ucap Zion dengan ekspresi wajah tidak berdaya.
"What?" Farah membulatkan matanya dengan kedua tangan yang terkepal erat menahan emosi.
"Far.. ini bukan kehendak aku," Zion menghela napas panjang yang terasa sesak.
Farah memejamkan matanya mencoba mengontrol emosi, "Aku mencintaimu. Asalkan bisa bersama denganmu dan kamu tetap mencintai aku, aku bisa menoleransi semuanya," sahut Farah memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kamu yakin?" tanya Zion menatap wajah Farah lekat.
"Iya," sahut Farah masih memaksakan diri untuk tersenyum.
"Terima kasih. Aku mencintaimu," ucap Zion mengenggam jemari tangan Farah lembut.
"Tunggu si kakek tua itu mati, maka akan aku singkirkan istri pertama sialan kamu itu," batin Farah yang menyimpan belati di balik senyumannya.
*
Mengingat pembicaraannya di dalam mobil dengan Farah beberapa jam tadi, Zion jadi merasa bersalah pada Farah. Zion memutuskan pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Ia masih berusaha menghubungi orang tua Farah, tapi tidak ada hasilnya.
Saat tiba di rumahnya, Zion pergi ke ruang makan untuk minum sebelum pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Zion membuang napas kasar saat melihat Elin berada di ruang makan. Sungguh, ia tidak ingin melihat Elin..
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Zion dengan suara baritonnya.
Elin yang berdiri menunduk seraya memegang bungkus obat nampak tersentak dengan kedua pundak yang terangkat ke atas saat mendengar suara Zion.Ia langsung menyembunyikan bungkus obat yang dipegangnya. Hal itu membuat Zion merasa curiga.
"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Zion mendekati Elin dengan tatapan penuh selidik.
"Ti.. tidak ada," jawab Elin cepat, wajahnya pias membuat Zion semakin curiga.
"Berikan padaku!" pinta Zion dengan suara berat penuh penekanan menadahkan tangannya pada Elin.
"Bu..bukan apa-apa. Ha..hanya sampah," Elin beringsut menjauh dari Zion.
"Berikan padaku?" pinta Zion yang kali ini dengan suara berat dan tatapan penuh intimidasi.
Elin bergegas pergi dan tidak mau menyerahkan bungkus obat yang dipegangnya, Zion pun mengejarnya dan mengambilnya secara paksa dari Elin.
"I..itu bukan punyaku. A..aku tidak sengaja menemukannya," ucap Elin merasa susah menelan salivanya yang terasa bagai bongkahan batu. Tubuhnya tiba-tiba saja berkeringat dingin.
Zion melihat bungkus obat itu dan membaca nama obatnya. Namun sebagian tulisan di bungkus obat itu terpotong, hingga Zion kesulitan mengecek obat itu di internet.
Zion jadi teringat kata dokter kalau Farah keguguran karena obat penggugur kandungan.
"Kamu yang mencampur makanan Farah dengan obat ini?" tanya Zion menatap tajam pada Elin seolah ingin mengoyak tubuh Elin.
"Tidak. Aku tidak melakukan apa-apa. Bukan aku pemilik bungkus obat itu," sanggah Elin dengan suara yang bergetar.
"Aku akan mengeceknya. Jika bungkus obat ini benar-benar bungkus obat yang menyebabkan Farah meninggal, aku akan menjebloskan kamu ke penjara," ancam Zion tidak main-main.
Mata Elin membulat seolah hendak keluar dari kelopak matanya, "Me.. meninggal?" tanya Elin dengan tubuh gemetar, tubuhnya seakan tak bertulang, hingga ia berpegangan di meja dan kursi makan agar tubuh tidak ambruk.
"Kamu senang bukan, karena kamu tidak jadi ku madu?" cibir Zion menatap Elin bagai tombak api yang ingin membakar Elin.
"A... aku berani bersumpah demi adikku, itu bukan bungkus obat milikku," ucap Elin tergagap.
Dada Zion naik turun menahan emosi, "Kamu adalah pembunuh! Aku akan membuktikannya," Tanpa menghiraukan perkataan Elin, Zion meninggalkan Elin.
"Tidak! Ini salah paham!" Elin mengekor di belakang Zion dan terus mengatakan bahwa bungkus obat itu bukan miliknya.
Setelah membersihkan diri, Zion pergi tak menghiraukan Elin yang terus mengatakan kalau bungkus obat itu bukan miliknya.
"Bagaimana ini? Bungkus obat itu kalau tidak salah ingat sama seperti yang digunakan tetangga kontrakanku yang menggugurkan kandungan waktu itu. Bagaimana jika kekasih Kak Zion tadi keguguran dan meninggal karena obat itu? Bagaimana jika Kak Zion mengira aku yang mencoba mencelakai kekasihnya?" gumam Elin dengan tangan gemetaran.
Elin tidak sengaja menemukan bungkus obat itu tercecer di lantai, lalu memungutnya. Elin merasa pernah melihat bungkus obat itu dan mencoba mengingat bungkus obat apa itu. Saat Elin mulai teringat bungkus obat apa itu, tiba-tiba Elin mendengar suara bariton Zion, hingga ia terkejut dan spontan menyembunyikannya.
*
Zion pergi ke apotek terdekat untuk menanyakan tentang bungkus obat tersebut. Namun karena sebagian tulisannya sudah terpotong, apoteker pun kesulitan mengenali obat itu, apalagi obat itu adalah obat herbal.
Namun apoteker tersebut menduga kalau bungkus obat itu adalah bungkus obat penggugur kandungan. Untuk memastikan dugaannya, apoteker tersebut menyarankan Zion untuk memeriksanya di laboratorium.
"Jika benar gadis itu yang mencampur obat ini ke dalam makanan Farah, aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja," gumam Zion seraya mengendarai mobilnya menuju laboratorium.
Zion menunggu hasil laboratorium dengan tidak sabar. Hingga akhirnya hasilnya pun keluar. Zion memegang kertas hasil penelitian tersebut dengan erat. Sebelah tangannya terkepal erat dan giginya gemeretak. Hasil lab membuktikan bahwa bungkus obat yang didalamnya masih ada sisa sedikit itu adalah bungkus obat penggugur kandungan.
"Dasar gadis sialan! Aku pasti menjebloskan dia ke penjara," geram Zion melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Beberapa menit kemudian Zion sudah tiba di rumah. Menahan amarahnya, Zion berjalan cepat masuk ke dalam rumah yang sudah sepi dan hanya diterangi lampu dinding yang cahayanya temaram karena waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Ia berlari kecil menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat kamarnya berada.
"Ceklek"
Suara pintu yang dibuka dari luar membuat Elin yang tidak bisa tidur langsung menatap ke arah pintu. Ia melihat Zion masuk dan tatapan tajam Zion langsung tertuju pada Elin yang duduk di sofa. dengan penuh amarah Zion menghampiri Elin. Elin yang melihat kemarahan di wajah Zion pun gemetaran.
"Kau.. pembunuh!" ucap Zion seraya mencekik leher Elin.
"Le.. lepaskan aku!" ucap Elin berusaha melepaskan cekikikan Zion.
Zion seperti orang kesetanan, dengan tatapan mata tajam dan gigi serta mulut yang mengatup erat, ia semakin mencekik Elin dengan kuat. Elin semakin kesulitan bernapas.
Tidak tahu harus berbuat apa untuk melepaskan cekikikan Zion, akhirnya Elin yang sudah hampir kehabisan napas pun mencakar wajah Zion.
"Akkhh..! Gadis sialan!" umpat Zion merasakan perih di wajahnya.
"Brak"
Zion membanting Elin hingga Elin jatuh terbentur sudut meja sofa.
"Uhuk..uhuk..uhuk.."
Elin terbatuk-batuk dan berusaha menghirup udara seraya berusaha keluar dari kamar tersebut. Elin benar-benar takut pada Zion yang hampir saja mencekiknya sampai mati.
"Aku harus pergi dari kamar ini. Aku tidak ingin mati. Bagaimana hidup Ello nanti kalau aku mati," batin Elin.
"Mau kemana kamu!" sergah Zion berusaha mengejar Elin. Matanya merah bak orang kesurupan, emosinya tak terkontrol mengingat bagaimana Farah kesakitan di atas pangkuan dan dalam pelukannya, hingga akhirnya tidak selamat.
"Tolong.. uhuk..uhuk... tolong.." teriak Elin berharap ada penghuni rumah yang bangun dan mau menolongnya.
"Akkhh..." Elin tergelincir dari tangga dan jatuh berguling-guling di tangga.
Zion yaang berada di ujung bagian atas tangga membulatkan matanya melihat Elin yang jatuh tergelincir dari tangga.
"Tak"
Tiba-tiba lampu utama menyala, hingga membuat Zion terkesiap. Netranya berpendar mencari orang yang menyalakan lampu dengan detak jantung bak genderang perang.
"Akkhh..!"
Suara teriakan itu menggema di dalam rumah utama, membuat detak jantung Zion seakan berhenti saat itu juga.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Zion salah paham. elin dalam bahaya
2024-09-25
2
KOHAPU
menunggu momen beberapa tahun kemudian
2024-09-07
3
Sugiharti Rusli
ternyata si Zion uda salah paham dan menuduh Elin secara membabi buta
2024-09-05
3