Zion terlihat sedang melamun di balkon kamarnya, memikirkan masa depannya. Tatapan matanya menerawang jauh.
"Aku tidak pernah menginginkan ini. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama Farah. Tapi, bagaimana bisa aku bahagia jika hatiku terbagi dua?" gumam Zion terlihat galau.
Di sisi lain, Elin berjalan menaiki anak tangga dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Semakin naik ke atas jantungnya semakin berdetak kencang tidak menentu. Kakinya terasa digantungi batu besar saat meniti satu demi satu anak tangga menuju kamar Zion.
Hingga akhirnya ia tiba di depan pintu kamar Zion. Perlahan ia mengangkat tangannya yang tremor untuk mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya Zion dari dalam kamar.
"A..aku.." ucap Elin tergagap.
"Ceklek"
Elin terkesiap saat pintu kamar itu tiba-tiba terbuka di ikuti Zion yang muncul dari balik pintu.
"Mau apa kamu?" tanya Zion menatap Elin dengan tatapan dingin dan tajam, membuat Elin langsung menunduk.
"A.. aku.. ka.. kakek menyuruh aku menyusul kakak," ucap Elin masih dengan wajah tertunduk seraya memilin jemari tangannya yang tremor dan berkeringat dingin.
"Masuk!" titah Zion dengan suara dinginnya
Elin masuk ke dalam kamar Zion dengan dada yang terasa sesak, seakan diremas oleh tangan tak kasat mata. Setiap detak jantungnya seperti pukulan palu yang bergema di telinganya.
Zion langsung menutup pintu. Elin berdiri diam tanpa tahu harus apa dan bagaimana. Ia merasa seperti seekor rusa yang tertangkap dalam sorotan lampu. Setiap inci tubuhnya menegang, jantungnya berdebar kencang, dan napasnya terasa sesak.
Kamar Zion adalah cerminan jiwanya yang gelap. Dinding berwarna biru seolah menyerap segala cahaya, sementara perabotan kayu gelap menambah kesan suram. Saat malam, cahaya remang-remang dari lampu dinding hanya cukup untuk menerangi kegelapan yang menyelimuti ruangan itu.
Dengan gugup Elin bertanya, "Kak... Kak Zion, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Apa?" sahut Zion dengan suara dingin.
"Apakah.. apakah Kak Zion akan belajar menerima aku?"
Zion tersenyum dingin, "Belajar menerima kamu?" tanya Zion dengan suara dan senyuman penuh ejekan.
"I..iya.." jawab Elin yang kali ini memberanikan diri menatap Zion.
"Entah apa yang telah kamu lakukan hingga kakek memaksa aku untuk menikahi kamu. Tapi.. satu hal yang harus kamu ingat, selamanya aku tidak akan pernah menganggap kamu sebagai istriku. Ingat itu baik-baik! Jangan sentuh barang-barangku, jangan tidur di atas ranjangku dan jangan banyak tingkah, atau saat kakek meninggal nanti aku akan membuat hidupmu bagai di neraka!" ancam Zion dengan suara dingin mengintimidasi, lalu melepaskan cincin kawinnya bersama Elin yang baru saja dipakai beberapa menit yang lalu.
Kata-kata Zion menusuk hatinya lebih dalam dari belati. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun ia tahan. Rasa sakit ini akan ia terima demi adiknya.
"Tak"
"Ting.."
"Ting.."
"Ting.."
Zion melempar cincin kawinnya dengan sekuat tenaga, hingga terdengar bunyi dentuman keras saat cincin itu menghantam dinding kaca.
"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini!" teriak Zion, suaranya bergema di ruangan itu, "pergi! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" usirnya.
"Brakk"
Zion menutup pintu kamar mandi dengan kasar membuat kedua pundak Elin terangkat ke atas karena terkejut. Tanpa terasa ia menitikkan air mata.
Elin mengusap air matanya dan perlahan berjalan menuju nakas. Dengan mata berkaca-kaca, ia meraih cincin kawin yang jatuh di bawah nakas. cincin yang baru beberapa menit yang lalu dipakaikan olehnya di jari manis Zion.
Sungguh ia tidak pernah menyangka akan menikah dengan orang yang tidak dikenalnya dan.. membencinya. Selama ini Elin hanya berpikir mencari uang untuk biayai sekolah adiknya yang masih kelas dua belas.
Tidak terbersit sekalipun di benaknya untuk menikah. Ia sadar dengan kondisi ekonominya yang berada di garis kemiskinan dan juga kondisi fisiknya yang jauh dari kata idaman para pria.
Elin dekil dan kumal karena mencari barang bekas untuk dijual pada pengepul. Kurus dan kurang gizi karena keseringan makan cuma sehari sekali dan kurang istirahat karena terlalu banyak bekerja agar bisa menabung untuk biaya sekolah adiknya lebih banyak. .
"Tidak, aku tidak boleh takut seperti ini. Semuanya sudah terjadi, dan tidak mungkin bisa mundur lagi. Aku harus menghadapinya bagaimana pun terjal dan sulitnya jalan yang akan aku lalui," batin Elin, kemudian menyimpan cincin kawin milik Zion.
Tak lama kemudian Zion sudah keluar dari kamar mandi dengan stelan jas rapi. Namun wajahnya terlihat begitu dingin. Zion akan pergi ke kantor karena ia ada meeting dengan klien.
"Kenapa kamu masih di sini? Pergi!" usir Zion.
Elin menatap dalam ke mata Zion, "Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan membiarkan Kakak memperlakukan aku seperti ini."
Zion mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?" suaranya terdengar dingin, seolah menantang Elin untuk menjelaskan lebih lanjut.
"Aku tahu Kakak kesal padaku, tapi aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya ingin adikku sembuh," jawab Elin lembut tapi tegas.
"Cih! Kamu pikir aku percaya padamu?" sinis Zion melangkah menuju pintu.
"Kak Zion.." panggil Elin dengan suara lembut saat Zion hampir melewatinya.
Zion menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan menatap Elin dengan tatapan dinginnya.
"Aku tidak pernah mau menikah dengan Kakak. Aku menolak permintaan Kakek, tapi.."
"Bull shitt!" umpat Zion memotong kata-kata Elin yang mencoba menjernihkan kesalahpahaman Zion terhadap dirinya.
"Mana mungkin kamu menolak menikah dengan aku? Kamu pasti kesenangan, 'kan,. karena bisa menikah dengan aku? Munafik!" sinis Zion, lalu berlalu pergi meninggalkan Elin.
Elin membalikkan tubuhnya menatap Zion yang keluar dari kamar.
"Senang?" Elin tersenyum masam, "aku tidak akan terjebak dalam pernikahan ini, jika bukan karena kakek membantu aku membayar biaya operasi adikku. Aku lebih senang tinggal di luar sana hidup sederhana dari pada tinggal di rumah mewah bak istana, tapi terasa seperti di neraka," gumam dengan kedua tangan yang terkepal erat.
*
Elin pamit pada Kakek Zhafran untuk menjenguk adiknya di rumah sakit. Ia ingin melihat keadaan adiknya, orang yang membuat Elin menyetujui permintaan kakek Zhafran untuk menikah dengan Zion.
Seorang supir ditugaskan Kakek Zhafran untuk mengantar Elin ke mana pun Elin pergi.
Sampai detik ini Elin masih bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud kakek Zhafran meminta dirinya menikah dengan Zion. Dan apakah Kakek Zhafran serius akan memberikan hartanya pada dirinya, jika Zion benar-benar menolak menikah dengan dirinya?
Elin rasanya tidak percaya, kalau orang yang baru dikenalnya akan memberikan hartanya pada dirinya. Tapi melihat ekspresi Kakek Zhafran memang menyakinkan dan reaksi Zion yang sepertinya juga takut pada ancaman kakek Zhafran membuat Elin bingung memikirkan segalanya.
Elin membuka pintu ruang rawat adiknya.
"Ka..kak.." panggil Ello saat Elin masuk ke ruangan rawatnya.
"Ello, kamu sudah sadar?" Elin bergegas menghampiri adiknya. Ia meraih tangan adiknya dan menciumnya penuh rasa syukur. Tanpa terasa ia menitikkan air mata karena sangking bahagianya melihat adiknya masih bernapas dan memanggil dirinya.
"Kakak.. dengan apa kita akan membayar biaya rumah sakit?" tanya Ello.
"Ada orang baik yang membantu membiayai kamu berobat. Kamu jangan memikirkan apapun, kamu hanya perlu cepat sembuh," ucap Elin lembut.
Setelah menjenguk adiknya, Elin pun berniat kembali ke rumah Kakek Zhafran. Ia berjalan menelusuri lorong rumah sakit, lalu keluar dari gedung tersebut.
"Nyonya Elin.." sapa seorang wanita paruh baya tersenyum cerah menghampiri Elin yang baru saja keluar dari rumah sakit hendak menghampiri supir yang mengantar dirinya tadi.
"I..iya. Nyonya siapa, ya?" tanya Elin yang merasa tidak mengenal wanita paruh baya yang menyapanya, apalagi memanggil dirinya dengan sebutan 'Nyonya'.
"Nyonya, saya Heni, istri Pak Hadi. Nanti kita akan bikin kamu jadi cantik kayak bidadari," Heni tersenyum ramah.
Elin terkekeh kecil. "Bidadari? Saya mah cuma tukang rongsok, Bu."
Heni menepuk bahu Elin, "Semua orang bisa berubah, Nyonya. Yang penting mau berusaha."
Elin mengangguk ragu. Di dalam hatinya, ia merasa seperti sedang bermain peran. Peran yang sangat jauh dari dirinya yang sebenarnya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Zudiyah Zudiyah
nurut aja Ellin biar kamu jd camtik pintar elegan seperti kata kakek Zafran, bikin klepek" tu suami kamu
2024-10-09
2
Fadillah Ahmad
Pakai dialog "aku" "Kamu" emang begitu ya kak dialognya kak?
2024-10-01
2
Fadillah Ahmad
Dialognya nggk pakai kata "Kau" ya kak Nana? misalnya "kenapa kau masih disini?" atau "Mau apa kau hah?" seperti itu kak,emang begitu ya kak dialognya?
2024-10-01
2