Bab #16 Aksi Intan

Ucapan Intan membuat Pangeran Lintang, Vanessa dan Angel serta Johan terkejut. Gadis kecil ini memang sangat berani dan selalu mendominasi. Namun, jika dia bertindak seperti orang dewasa, tentu saja itu di luar nalar.

Namun Vanessa ingat ketika berada di restoran hotel Kota Panjang, ketika itu Intan mengepalkan tinjunya ke arah Tiger dan membuat pria besar itu ketakutan dan berkeringat. Apa benar Intan sebenarnya memiliki kekuatan? Tapi, dia masih terlalu kecil dan umurnya baru tiga setengah tahun.

Vanessa menatap Intan yang duduk di antara Angel dan Elang. Pandangannya menyelidik. Anak ini sangat imut dan mengemaskan. Dia sedang menikmati makanan yang belum habis. Vanessa bahkan ingin menciumnya saat ini. Pipinya yang gemuk terlihat bergerak-gerak ketika dia mengunyah makanan.

Rambutnya ikal dan mengembang. Lucu sekali. Tapi tunggu! Bukankah rambutnya tidak mirip dengan Elang? Ya, benar. Lalu Vanessa melihat rambut Angel, ikal, benar-benar ikal. Tapi, mata dan hidung Intan mirip sekali dengan Elang. Vanessa sampai menutup mulutnya karena dia hampir berteriak.

Gerakan refleks Vanessa membuat Angel, Galang, Pangeran Lintang dan Johan langsung menatap ke arahnya.

"Eh, aku bermaksud memanggil pelayan. Siapa tahu Intan masih membutuhkan makanan lagi." Ucap Vanessa untuk menutupi rasa malunya.

"Siapa yang berani mencelakai cucuku?" Terdengar suara dari Jamal.

"Dia, Kakek! Dialah yang mematahkan tanganku!" Ucap Faris sambil menunjuk dengan tangan kiri.

"Aku!" Ucap Elang. Lalu dia berdiri dan memutar badan.

Terlihat seorang pemuda tampan, di punggungnya terikat sebuah pedang. Pemuda ini menatap tajam ke arah Jamal Permadi.

"Lama tidak bertemu, Orang Tua! Kamu semakin tidak punya aturan!" Lanjut Elang.

"Bruk!"

Orang tua itu jatuh berlutut yang membuat semua orang terkejut. Pria tua yang tadi garang kini berlutut dan menundukkan kepala.

Pria di sampingnya yang adalah putranya pun sangat terkejut. Namanya Ardan, pria itu penasaran kenapa ayahnya berlutut.

"Ayah! Kenapa kamu berlutut?" Tanya Ardan.

"Diam!" Bentak Jamal. "Kalian semua ingin membunuhku?!"

"Ayah sungguh tidak masuk akal! Bagaimana Ayah bisa berlutut pada orang yang menganiaya cucumu?" Ucap Ardan.

Dia sangat kesal karena ayahnya menjadi lemah menghadapi seorang pemuda ingusan.

"Aku akan menghajarnya!" Ujar Ardan dengan geram. Ardan maju dan siap menyerang Elang yang berdiri dengan tangan dilipat di dada.

"Hentikan!" Teriak Jamal.

"Heh! Sudah! Kalian ayah dan anak kenapa sampai berdebat?"

"Jamal! Aku sudah baik padamu, membantumu menjadi seperti sekarang ini. Bagaimana kamu bisa melakukan tindakan yang tidak pantas? Aku bisa mengambil semuanya darimu jika memang diperlukan! Apakah itu yang kamu inginkan?" Ucap Elang.

"Aku.... Tuan, bagaimana caraku menjelaskan pada Anda?" Jamal terlihat gugup.

"Ayah, Aku ingat, dia pernah ke rumah kita, bukan?" Intan telah berdiri di samping Elang.

Ardan melihat kedua ayah dan anak yang berdiri di hadapannya. Dia pun langsung berlutut. Tidak tahu bagaimana, Ardan mungkin saja mengingat sesuatu.

"Ya, kamu tentu masih ingat, Sayang." Jawab Elang.

Intan berjalan ke arah Jamal. "Eh, sudahlah, aku mengingatmu. Kamu juga pernah berlutut di rumahku. Sudah jangan berlutut lagi!" Ucapnya.

"Terimakasih, Nona Kecil!" Jawab Jamal. Intan tentu tak tega melihat seorang tua berlutut. Tangannya memegang tangan Jamal, lalu menuntunnya untuk duduk. Jamal ragu-ragu dan menoleh ke arah Elang. Elang mengangguk dan itu membuat Jamal sangat senang.

"Namamu Jamal? Apakah kamu ingin makan?" Tanya Intan.

"Iya, Nona! Aku sudah makan. Nona Kecil, apakah Anda tidak akan menghukumku?" Jamal balik bertanya.

"Menghukum? Aku tidak akan menghukummu. Ayahku sudah menghukum orang itu!" Intan menunjuk ke arah Faris yang masih meringis kesakitan. "Dia jahat sekali! Kalian orang-orang besar seharusnya tidak jahat. Mereka berdua adalah ibuku, tapi dia mengganggunya. Kalau aku yang memukulnya, dia mungkin tidak akan bisa berjalan lagi." Lanjutnya.

Saat mengatakan bahwa Angel dan Vanessa adalah ibunya, wajah Jamal berubah ketakutan. Sementara Elang hanya mengikuti saja apa yang dilakukan Intan. Dia bergaya seperti orang dewasa, mendominasi dan seolah dia adalah orang yang dibutuhkan untuk menasihati orang dewasa.

Semua orang memperhatikan Intan dengan gemas. Gerakan-gerakannya sangat lucu. Yang membuat heran orang seperti Jamal Permadi sangat patuh dan takut pada anak kecil ini. Tak seperti prediksi mereka, ternyata justru Jamal sangat ketakutan.

Sementara Ardan dan Faris, mereka kebingungan. Melihat orang tua itu sangat ketakutan, tentu saja mereka baru menyadari cerita dari orang tuanya berkali-kali pada mereka.

"Ayah! Duduklah! Kenapa berdiri saja?" Ucap Intan memerintah. Elang pun menurut saja.

"Jamal, apakah kamu tidak mengajari anak dan cucumu dengan baik? Cucumu sangat kurang ajar sekali. Hari ini aku masih mengampuninya. Jika aku melihatnya lagi menindas dan kurang ajar, maka dia akan tamat. Tidak peduli siapapun di belakang kalian. Terlebih lagi jika kalian menghianatiku, maka kalian semua akan hilang!" Ucap Elang setelah duduk agak lama.

Jamal hanya menunduk, dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali. Intan mungkin saja adalah penyelamat Jamal. Dia bertindak dengan cepat untuk menghentikan Elang. Padahal awalnya Intan yang ingin menghajar Jamal dan anaknya. Mungkin saja karena dilihat oleh Intan Jamal sudah tua.

"Baiklah! Jamal akan bertobat! Jangan diungkit lagi!" Sahut Intan sambil melirik ayahnya. "Jamal, kamu sebaiknya pergi! Ingat apa yang dikatakan ayahku!" Lanjut Intan.

"Oh, benarkah, Nona? Aku akan selalu mengingat dan ini akan menjadi pelajaran buat kami." Jamal terlihat sangat senang. Namun ucapannya juga tidak terlalu keras. Dia sama sekali tidak berani memandang ayah dan anak.

"Ya! Aku mau tidur!" Jawab Intan.

"Ya, Tuhan! Gadis kecil ini pasti akan aku cium nanti!" Gumam Vanessa sangat gemas pada Intan.

"Pergilah!" Ucap Elang kemudian. Elang segera membayar tagihan makan mereka dan kemudian berjalan ke arah lobi untuk masuk ke kamar.

Jamal dan lainnya juga akan segera pergi setelah menyelesaikan pembayaran pesanan Faris. Faris digendong oleh seorang pengawal.

Namun, saat mereka sedang berjalan, tiba-tiba ada empat bayangan bergerak cepat dan langsung menghadang Elang.

Elang sangat waspada karena dia merasakan bahwa empat orang yang baru saja tiba tidak seperti sebelumnya. Mereka lebih kuat puluhan kali lipat.

"Kekutanku belum pulih, tapi aku mendapat musuh yang sangat kuat." Gumam Elang.

"Ayah! Apakah aku yang akan menghajar mereka?" Tanya Intan. Elang melirik ke arahnya. Jika orang tahu kekuatan Intan, maka dia tentu saja dalam bahaya. Kekuatannya saja masih belum pulih, bagaimana bisa nanti dia melindungi putrinya?

Elang mendekati Intan, lalu berbisik, "Jangan pamerkan kekuatanmu! Nanti Ayah, Pangeran dan Putri akan dalam bahaya!"

"Oh! Baiklah! Kalau butuh bantuan, hubungi saja aku!" Jawab Intan juga berbisik.

Empat orang yang baru datang adalah para pria dengan penampilan mencolok. Pakaian mereka berwarna merah, sepertinya mereka dari perguruan beladiri.

"Empat Pendekar Tongkat?" Teriak seseorang.

Elang langsung menyipitkan mata. Dia pernah mendengar nama itu. Keempatnya merupakan ahli toya. Dalam beberapa kompetisi, mereka berempat masih menjadi yang terbaik.

"Sayang! Mundurlah!" Ucap Elang.

Terpopuler

Comments

Okto Mulya D.

Okto Mulya D.

musuh lagiii dan sangat kuat tentu saja.. empat pendekar tongkat

2025-01-08

0

Albertus Sinaga

Albertus Sinaga

mampukah elang yg lagi cedera menghalau musuh

2024-12-22

0

Has Suny

Has Suny

seruuuuuu

2024-12-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab #1 Elang Dan Intan
2 Bab #2 Percobaan Pembunuhan
3 Bab #3 Dalam Pengejaran
4 Bab #4 Di Restoran
5 Bab #5 Vanessa, Angel dan Karina
6 Bab #6 Pertarungan Di Bukit
7 Bab #7 Lima Pembunuh Kuat
8 Bab #8 Kota Panjang
9 Bab #9 Tiger Dan Timo Vs Intan
10 Bab #10 Kelaurga Elang
11 Bab #11 Tingkah Konyol Intan
12 Bab #12 Di Perbatasan
13 Bab #13 Sepasang Pembunuh
14 Bab #14 Hotel Asa Kota Timur
15 Bab #15 Keluarga Permadi
16 Bab #16 Aksi Intan
17 Bab #17 Pertolongan
18 Bab #18 Kediaman Keluarga Permadi
19 Bab #19 Kemarahan Lung Awan
20 Bab #20 Terjadi Masalah
21 Bab #21 Polemik Grup Permata Biru
22 Bab #22 Investasi Grup Permata Biru
23 Bab #23 Ke Reuni
24 Bab #24 Reuni Yang Kacau
25 Bab #25 Keributan Di Vila
26 Bab #26 Black Hunter
27 Bab #27 Bertemu Niken
28 Bab #28 Marissa Dan Elang
29 Bab #29 Jamuan Keluarga Permata
30 Bab #30 Permintaan Permata Tua
31 Bab #31 Dominasi Intan
32 Bab #32 Bertamu
33 Bab #33 Ruang Pertemuan Keluarga Wijaya
34 Bab #34 Puncak Kemarahan Elang
35 Bab #35 Perintah Perlindungan
36 bab #36 Membicarakan Fe
37 Bab #37 Bertemu Fe
38 Bab #38 Elang Dan Fe
39 Bab #39 Yang Membayar Ayahku!
40 Bab #40 Serangan Balik
41 Bab #41 Hukuman
42 Bab #42 Menggugat Saham Marissa
43 Bab #43 Merayu Nenek
44 Bab #44 Bertemu Tomy
45 Bab #45 Pangeran Lintang
46 Bab #46 Fe Diculik
47 Bab #47 Fe Dan Viera
48 Bab #48 Elang Vs Viera
49 Bab #49 Dia Akan Selamat!
50 Bab #50 Keluarga Permana Mencari Masalah
51 Bab #51 Masalah Di Restoran
52 Bab #52 Istri Sejak Kecil
53 Bab #53 Tamu Di Vila
54 Bab #54 Dikira Fe
55 Bab #55 Persiapan Ke Provinsi Selatan
56 Bab #56 Menuju Provinsi Selatan
57 Bab #57 Keputusan Elang
58 Bab #58 Intan Yang Bijaksana
59 Bab #59 Angel Dan Tiara
60 Bab #60 Fe Dipermalukan
61 Bab #61 Cerita Fe
62 Bab #62 Elang Vs Farid
63 Bab #63 Ibu Kandung Intan
64 Bab #64 Usaha Permata Tua
65 Bab #65 Kawasan Industri Morong
66 Bab #66 Kami Mengundurkan Diri
67 Bab #67 Minta Bantuan
68 Bab #68 Vila Diserang
69 Bab #69 Token Nina
70 Bab #70 Badai Pasir
71 Bab #71 Pemimpin Sekte
72 Bab #72 Pengorbanan Elang & Niken
73 Bab #73 Elang Dan Niken
74 Bab #74 Istana Ibu Suri
75 Bab #75 Bertemu Raja Dan Ratu
76 Bab #76 Serangan Di Restoran
77 Bab #77 Serangan Di Istana
78 Bab #78 Pengunjung Istana
79 Bab #79 Pengumuman Raja
80 Bab #80 Menantu Raja
81 Bab #81 Intan Diculik
82 Bab #82 Goa Kelelawar
83 Bab #83 Manusia Kelelawar
84 Bab #84 Penyerang Bertopeng
85 Bab #85 Terperangkap
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab #1 Elang Dan Intan
2
Bab #2 Percobaan Pembunuhan
3
Bab #3 Dalam Pengejaran
4
Bab #4 Di Restoran
5
Bab #5 Vanessa, Angel dan Karina
6
Bab #6 Pertarungan Di Bukit
7
Bab #7 Lima Pembunuh Kuat
8
Bab #8 Kota Panjang
9
Bab #9 Tiger Dan Timo Vs Intan
10
Bab #10 Kelaurga Elang
11
Bab #11 Tingkah Konyol Intan
12
Bab #12 Di Perbatasan
13
Bab #13 Sepasang Pembunuh
14
Bab #14 Hotel Asa Kota Timur
15
Bab #15 Keluarga Permadi
16
Bab #16 Aksi Intan
17
Bab #17 Pertolongan
18
Bab #18 Kediaman Keluarga Permadi
19
Bab #19 Kemarahan Lung Awan
20
Bab #20 Terjadi Masalah
21
Bab #21 Polemik Grup Permata Biru
22
Bab #22 Investasi Grup Permata Biru
23
Bab #23 Ke Reuni
24
Bab #24 Reuni Yang Kacau
25
Bab #25 Keributan Di Vila
26
Bab #26 Black Hunter
27
Bab #27 Bertemu Niken
28
Bab #28 Marissa Dan Elang
29
Bab #29 Jamuan Keluarga Permata
30
Bab #30 Permintaan Permata Tua
31
Bab #31 Dominasi Intan
32
Bab #32 Bertamu
33
Bab #33 Ruang Pertemuan Keluarga Wijaya
34
Bab #34 Puncak Kemarahan Elang
35
Bab #35 Perintah Perlindungan
36
bab #36 Membicarakan Fe
37
Bab #37 Bertemu Fe
38
Bab #38 Elang Dan Fe
39
Bab #39 Yang Membayar Ayahku!
40
Bab #40 Serangan Balik
41
Bab #41 Hukuman
42
Bab #42 Menggugat Saham Marissa
43
Bab #43 Merayu Nenek
44
Bab #44 Bertemu Tomy
45
Bab #45 Pangeran Lintang
46
Bab #46 Fe Diculik
47
Bab #47 Fe Dan Viera
48
Bab #48 Elang Vs Viera
49
Bab #49 Dia Akan Selamat!
50
Bab #50 Keluarga Permana Mencari Masalah
51
Bab #51 Masalah Di Restoran
52
Bab #52 Istri Sejak Kecil
53
Bab #53 Tamu Di Vila
54
Bab #54 Dikira Fe
55
Bab #55 Persiapan Ke Provinsi Selatan
56
Bab #56 Menuju Provinsi Selatan
57
Bab #57 Keputusan Elang
58
Bab #58 Intan Yang Bijaksana
59
Bab #59 Angel Dan Tiara
60
Bab #60 Fe Dipermalukan
61
Bab #61 Cerita Fe
62
Bab #62 Elang Vs Farid
63
Bab #63 Ibu Kandung Intan
64
Bab #64 Usaha Permata Tua
65
Bab #65 Kawasan Industri Morong
66
Bab #66 Kami Mengundurkan Diri
67
Bab #67 Minta Bantuan
68
Bab #68 Vila Diserang
69
Bab #69 Token Nina
70
Bab #70 Badai Pasir
71
Bab #71 Pemimpin Sekte
72
Bab #72 Pengorbanan Elang & Niken
73
Bab #73 Elang Dan Niken
74
Bab #74 Istana Ibu Suri
75
Bab #75 Bertemu Raja Dan Ratu
76
Bab #76 Serangan Di Restoran
77
Bab #77 Serangan Di Istana
78
Bab #78 Pengunjung Istana
79
Bab #79 Pengumuman Raja
80
Bab #80 Menantu Raja
81
Bab #81 Intan Diculik
82
Bab #82 Goa Kelelawar
83
Bab #83 Manusia Kelelawar
84
Bab #84 Penyerang Bertopeng
85
Bab #85 Terperangkap

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!