"Pangeran, aku hanya menjalankan perintah. Anda tidak bisa menekanku dengan banyak diskusi yang aku tidak bisa menjelaskannya jika Anda bertanya banyak hal. Setelah sampai di Provinsi Utara, maka aku akan memikirkan bagaimana merencanakan penyelamatan Raja Awan." Sahut Elang dengan bijaksana.
"Hmmm, aku yakin kamu akan menyelamatkan kami. Dan kamu sudah menyelamatkan kami beberapa kali. Aku sangat berterimakasih. Pengorbananmu tidak ternilai dan tidak bisa dinilai dengan uang."
"Anda sangat bijaksana, dan Anda layak menjadi Raja menggantikan Raja Awan. Tetapi seharusnya Anda bisa lebih kuat dari yang sekarang. Paman Anda memiliki banyak pembunuh kelas dunia. Bahkan pembunuh peringkat ketiga ada di belakang paman kalian. Pelarian selanjutnya akan lebih berat." Sahut Elang.
"Kenapa Paman bisa sampai setega itu?" Tanya Angel mulai menitikkan air mata.
"Mungkin itu karena ketidakadilan, atau karena iri, atau bisa juga karena serakah. Menjadi berkuasa itu mungkin menurut sebagian orang adalah hal yang membanggakan karena bisa mendapatkan kehormatan penuh, disegani dan ditakuti, memiliki banyak bawahan yang tunduk dan patuh padanya."
"Tapi, aku sendiri tidak akan seperti itu. Menjadi orang biasa jauh lebih menyenangkan. Bisa bebas dengan apa yang dilakukan asalkan tidak melanggar hukum." Ucap Elang dengan bahasa yang diplomatis.
Angel dan Pangeran Lintang saling pandang. Dia hanya seorang pengawal, tapi Elang sangat bijaksana.
"Aku sangat iri padamu. Kamu melindungi kami sekaligus melindungi putrimu. Aku merasa malu. Jika kelak kami bisa merebut kembali istana dari Paman, maka kamu akan menjadi orang penting dalam Istana Awan." Ujar Pangeran Lintang dengan mimik serius.
"Aku sama sekali tidak tertarik dengan itu, Pangeran. Bahkan jika Anda memintaku menjadi raja sekalipun, aku sama sekali tidak tertarik dan aku pasti menolaknya."
Ucapan Elang ini benar-benar membuat Lintang dan Angel tertegun. Di dunia ini jarang terjadi hal seperti ini. Seseorang akan dengan senang hati bila diberi jabatan tertinggi. Namun, Elang sangat berbeda dan itu sungguh mengagumkan.
"Elang,sebenarnya siapa kamu?" Tanya Pangeran Lintang.
Elang menarik nafas, menatap ke arah Pangeran, lalu ke Putri Angel. "Aku adalah seoeang pengawal."
"Aku ingin, empat pengawal istana dibebaskan agar aku lebih bisa fokus dan hanya satu mobil. Cukup pilih satu orang untuk menjadi sopir."
"Tapi?" Pangeran Lintang tidak melanjutkan.
"Pangeran, aku yang bertanggung jawab. Aku akan melindungi kalian semua." Ucap Elang.
"Baiklah, aku akan mengikuti apa yang kamu ucapkan." Ujar Pangeran.
Mereka pun terdiam, Elang juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Saat itu pintu kamar terbuka. Intan keluar dari kamar dan langsung menuju ke ayahnya.
"Ayah, kenapa tidak tidur. Ayo cepat tidur!" Ucap Intan sambil menarik tangan Elang.
"Ayah akan tidur di sini, Sayang." Jawab Elang lembut sambil membelai rambut putrinya.
"Kata Nenek, Bibi Vanessa adalah ibuku. Ayo, ayah harus tidur bersama kami!" Sahut Intan yang membuat Elang garuk-garuk kepala.
"Itu... Ayah tidak.... Eh, ayo tidur bersama ayah di sini!" Ucap Elang gugup.
"Tidak mau! Ayah harus tidur di kamar!" Intan merajuk. Tidak tahu harus berbuat apa, Elang menatap Pangeran dan Angel bergantian. Raut mukanya jelas memohon pertolongan dan dia juga malu.
"Bayi cantik, bagaimana kalau kita sekarang tidur? Ranjang kita tidak akan cukup untuk banyak orang. Aku juga bisa menjadi ibumu." Ucap Angel dengan keberanian yang dibuat-buatnya.
Elang dan Pangeran Lintang terkejut. Sementara Intan memandangnya. Gadis kecil itu masih bimbang. Apakah dia akan meninggalkan ayahnya atau pergi bersama bibi cantik ini?
Intan menatap Elang. Ayahnya mengangguk sambil tersenyum. Intan juga menatap Lintang. Pangeran Lintang tersenyum dan mengangguk. Intan pun agak bimbang. Selama ini, dia selalu tidur bersama ayahnya. Bahkan, dia tidak ingin tidur dengan siapapun.
Akhirnya, Angel memeluk gadis kecil yang bimbang. Intan hanya diam saja. Setelang berada dalam gendongan Angel, tangan intan melambai-lambai meminta ayahnya datang. Elang langsung menuju ke arahnya.
Rupanya Intan minta dicium ayahnya. Elang pun mencium gadis itu. "Ayah juga harus menciumnya. Nanti Bibi tidak bisa tidur!"
Elang terbatuk-batuk sambil mundur. Entah apa yang ada di otak putrinya. Dia meminta ayahnya mencium Putri Angel. Ini sangat keterlaluan.
"Aku juga mau dicium!" Suara itu adalah Vanessa yang berjalan ke arah mereka.
"Aaaaah!" Elang berteriak seperti baru saja dipukul. Kemudian tubuhnya ambruk ke sofa. Dia tidak bergerak dan memejamkan mata.
"Ayah!" Teriak Intan cemas.
"Bayi cantik, coba Paman periksa." Ucap Pangeran Lintang. Lalu pura-pura memegang tangan, kemudian menempelkan telinga di dada Elang. Dalam waktu sekitar tiga puluh detik, Pangeran telah selesai memeriksa Elang.
"Ayah sudah tidur. Jadi jangan ganggu, kasihan Ayah terluka di lengan dan punggungnya. Kalau dibawa tidur, maka lukanya akan segera tumbuh. Intan segera turun lalu mencium Elang yang tertidur. Vanessa pun dengan gerakan cepat langsung mencium Elang.
Elang ingin menghindar namun dia akan ketahuan. Sementara Angel sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Ketiganya lalu pergi ke kamar, menutup pintu dan kemudian tidur. Saat itulah Elang bangun.
Pangeran menatap Elang sambil tersenyum. Elang merasa risih dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Pangeran, segeralah tidur!" Akhirnya Elang bicara.
"Aku belum mengantuk." Jawab Pangeran Lintang.
...****************...
"Niken, bukankah ada yang aneh dengan sikap Elang pada gadis itu?" Tanya Marissa pada Niken.
"Ada apa dengan Elang, Ibu?" Niken balik bertanya.
"Kamu perhatikan tidak, gadis itu begitu agresif, tapi Elang seperti malu. Apakah itu tidak aneh?"
"Aku tidak memperhatikan. Mungkin mereka baru saja bertemu, jadi tidak begitu akrab." Jawab Niken.
"Bukan begitu, aku masih berpikir sebenarnya gadis itu bukan ibunya Intan. Mereka mungkin berpura-pura." Sahut Vanessa.
"Aku tidak paham maksud ibu."
"Aku berpikir itu bukan ibunya Intan. Mereka berpura-pura untuk menghindari perjodohan yang ibu rencanakan."
"Ibu, sebaiknya kita tidur. Elang sudah mengatur perjalanan kita. Dia memikirkan kita agar terhindar dari balas dendam Timo." Ucap Niken.
"Anak itu sangat baik. Dia adalah pemuda yang bertanggung jawab. Aku sebenarnya tidak tega menjodohkannya. Dia masih ingin menemukan ibunya Intan. Ah, sudahlah. Besok kita harus kembali ke Ibukota." Ujar Marissa.
"Iya, Ibu!" Jawab Niken. Lalu dia merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.
Sementara Marissa masih duduk. Sepertinya dia memikirkan banyak hal. Dia ingin menanyakan banyak hal pada Elang. Tapi dia masih belum punya kesempatan.
Dia masih ingat saat menemukan Elang. Anak itu sebenarnya mungkin tahu keberadaan ayah dan ibunya, namun sepertinya dia tidak ingin menemui mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Okto Mulya D.
Ohh jadi Elang tahu sebenarnya dia anak siapa?
2025-01-08
0
Albertus Sinaga
ibu intan yg disewa itu nek marissa
2024-12-21
0
Nur_aisyah Rahman
lanjut terus
2024-11-05
0