Elang kembali menyerang kelima orang. Dia yakin kini ia akan dengan mudah mengalahkan kelima orang itu. Keadaan sudah berubah dan Elang yang lebih kuat tentu saja akan mengalahkan kelima orang itu.
Waktu berjalan begitu cepat saat itu jam sudah menunjukkan pukul dua sore. Elang tentu tidak akan menyia-nyiakan waktu. Dia berpikir jika di jalan begini malam hari, itu akan sangat menyusahkan.
"Saaa!"
Teriakan Elang dibarengi dengan tebasan pedang. Kelima orang itu pun maju, menangkis serangan Elang. Beberapa kali pedang beradu. Kekuatan Elang yang besar membuat kelima orang berulang kali mundur.
Dengan tanpa aba-aba akhirnya mereka pun mengurung Elang. Kelima orang langsung menebaskan pedang secara bersama. Elang sadar bahwa dia agak lengah dan dengan cepat memutar tubuhnya untuk menangkis serangan pedang.
Berar saja, kelima orang kembali menahan sakit karena pedang kembali beradu dengan kekuatan Elang yang besar. Namun kelima orang tidak peduli lagi dengan rasa sakit dan kembali menyerang.
"Trang! Trang!"
Berkali-kali Elang kembali menangkis serangan pedang lawan. Kali ini Elang punya kesempatan menyerang.
"Jleb!"
Pedang Elang menancap di leher musuh. Ketika pedang ditarik, darah menyembuh ke arah Elang dan orang itu langsung mati.
Melihat ini, keempat orang lainnya menjadi ciut nyali. Ini adalah pemandangan yang mengerikan di depan mata. Kekuatan mereka benar-benar kalah dengan seorang pemuda dua puluhan tahun.
"Serang!"
Sisa-sisa keberanian masih ada dan keempat orang langsung menyerang lagi dengan sekuat tenaga. Elang kembali membuat gerakan menangkis. Namun, ada satu pedang yang tidak sempat ia tangkis dan mengenai bagian punggungnya. Akubatnya punggung Elang robek dan darah mulai mengucur dari luka sayatan pedang.
Hal itu membuat keempat orang lawan menjadi makin berani. Mereka seperti memiliki kekuatan baru dan kembali menebaskan pedang secara bersama ke arah Elang.
Elang benar-benar tidak punya cara selain menangkis serangan pedang lawan dengan pedangnya. Dia melipat gandakan kekuatannya. Dan akhirnya, keempat orang berkali-kali harus mundur. Walau tubuh keempat orang penuh dengan luka, namun mereka pantang menyerah.
Kembali Elang mendapat serangan-serangan yang mematikan. Tubuhnya mulai lemas karena darah yang yang terlalu banyak terbuang. "Jika seperti ini terus, maka aku tidak akan bisa bertahan." Gumamnya.
Elang ingat gurunya pernah bicara padanya bahwa, tingkat kultivasinya akan naik setahap demi setahap di setiap pertempuran.
"Gunakan buku ini untuk mempelajari tingkat kultivasi ke ranah selanjutnya." Ucap gurunya saat itu.
Elang mengingatnya. "Ah, kenapa tidak terpikir olehku?"
Elang memusatkan kekuatan pada pedangnya. Seluruh kekuatan diberikan ke dalam pedang di tangan kanan. Detik berikutnya, pedang Elang bergetar dan semakin kuat. Pedang itu sampai mengeluarkan cahaya putih hampir kasat mata.
Ketika musuh kembali menyerang, pedang seperti memiliki roh dan menuntun Elang melakukan gerakan yang sangat cepat sehingga seperti bayangan puluhan pedang.
Musuh menjadi terkejut dan baru menyadari bahwa pedang mereka semuanya patah. Barulah pada saat yang sama, pedang kembali menyerang musuh dan..
"Craaas! Craaas!"
"Aaaaah"
Tubuh musuh robek besar di bagian dada dan teriakan kematian menyayat hati. Keempatnya mati dengan mata terbuka seperti tidak percaya apa yang terjadi.
Elang yang sudah mengeluarkan banyak darah kemudian berjalan tertatih-tatih ke arah empat orang pengawal yang berdiri tegang.
"Buang semua mayat ke jurang dan juga mobil-mobil mereka!" Perintah Elang. Kini, oara pengawal menyadari bahwa, level Elang tidak sama dengan mereka. Keempatnya langsung meminta bantuan orang-orang yang menonton untuk membuang mayat-mayat itu ke jurang. Tak hanya itu, mobil-mobil yang jumlahnya puluhan juga didorong ke jurang agar lalu lintas kembali normal.
Setelah satu jam, lalu lintas sudah normal. Elang masuk ke mobil dan meminta Pangeran untuk menyetir.
"Pangeran, aku akan merepotkanmu. Bawalah kami ke kota dan ke rumah sakit. Aku akan operasi mengeluarkan proyektil peluru." Ucap Elang dengan kondisi yang mulai lemah.
"Ba-baik!" Sahut Pangeran Lintang.
"Ayah!" Panggil Intan.
"Ayah tidak apa-apa, sayang. Duduklah di sana dan kita akan ke kota untuk makan malam." Ucap Elang.
Dua gadis di belakang terlihat cemas. Pengorbanan Elang benar-benar besar untuk mereka dan mereka sama sekali tidak bisa membantu.
Elang menatap Pangeran di sampingnya. Walau agak ragu, namun ia bertekad untuk memberitahunya untuk membuatnya semangat.
"Pangeran, kalian semua telah dikhianati oleh Pamanmu. Ayah dan Ibumu sekarang berada di penjara bawah tanah. Aku diperintah oleh orang kepercayaan ayahmu untuk membawa kalian bertiga ke Provinsi Utara. Tujuannya adalah Gunung Seloka. Walau sebenarnya tujuanku menjadi pengawal bukan untuk ini, tapi aku sudah terlibat dan akan melindungi kalian semua dengan nyawaku."
Dua gadis di belakang mulai menangis. Mereka tidak terima dengan perlakuan pamannya pada ayah dan ibu mereka. Intan jelas kebingungan melihat dua orang di sisi kiri dan kanannya menangis.
"Bibi jangan menangis, nanti ayahku akan memukul mereka." Lalu, tangan kecil Intan menepuk-nepuk punggung kedua gadis canti itu. Dia bertindak seolah sedang menenangkan dua anak gadisnya. Karena kepolosan dan tindakan Intan yang lucu, kedua gadis itu lalu memeluk Intan dan terus menangis.
Intan menjadi sangat bingung dan dia tidak tahu lagi cara menenangkan mereka. Dia ingat, setiap kali dia menangis, ayah akan memeluknya dan menenangkannya.
"Ayah, peluklah mereka dan tenangkan mereka agar tidak menangis lagi!" Pinta Intan.
Walau hanya anak kecil yang bicara, Elang juga menjadi terbatuk-batuk. Tidak menyangka Intan akan mengucapkan itu.
"Jangan pedulikan gadis itu. Dia bicara sembarangan!" Ucap Elang dengan gugup.
"Adik, kenapa? Kamu terlihat gugup." Kata Pangeran. Kali ini dia memanggilnya adik. Elang tidak melihat ke arahnya dan memandang keluat jendela.
"Tidak masuk akal!" Gumam Elang.
"Ayah, biasanya kalau aku nangis, ayah akan memelukku, lalu aku akan diam. Cepatlah, Ayah. Lihat Bibi masih menangis!" Ucap Intan.
"Hoaaa." Elang menguap dan pura-pura mengantuk.
"Ayah benar-benar tidak masuk akal! Huh!" Ucap Intan setengah berteriak dan itu menghentikan tangis dua putri yang bersamanya.
Pangeran Lintang melirik ke arah Elang yang memejamkan mata. Pemuda di sampingnya ini jelas bukan orang sembarangan. Dia mulai percaya padanya. Dan dia tidak keberatan jika salah satu adiknya akan menjadi istrinya.
"Adik..."
"Eh, Pangeran, aku mau tidur dulu, aku lelah." Ucap Elang memotong ucapan Lintang.
Lintang tidak marah dan hanya bisa diam. Dia akan bicara nanti jika suasana hati Elang lebih baik. Dia mungkin bisa berdiskusi bagaimana caranya agar bisa menyelamatkan ayahnya.
"Aku yakin dia akan selalu bersama kami." Ucap Lintang dalam hati. Kemudian dia melihat ketiga gadis di belakang melalui kaca spion.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Albertus Sinaga
kasihan putra pangeran dan putri orang tuanya dipenjarakan pamannya demi kekuasaan
2024-12-21
0
Okto Mulya D.
Elang, sejatinya siapa dirimu?! jangan² sebenarnya kamu anak raja..
2025-01-07
0
Ita Xiaomi
Intan mengingatkan ku pd Sarah di novel Pangeran Terkuat Menjadi Koki.
2024-09-29
1