Jam sembilan malam, akhirnya Elang dan lainnya tiba di Kota Timur bagian wilayah Ibukota. Terletak di pesisir timur dan memliki pelabuhan yang biasa disinggahi banyak kapal, baik kapal domestik maupun kapal asing. Kota Timur sangat terkenal dengan makanan lautnya yang lezat.
Kebetulan Intan saat itu sudah bangun. Dua gadis yang mengawasinya langsung menawarkan minum. Melihat itu, Intan merasa diperhatikan. Mereka berdua mungkin saja mirip Niken. Penuh perhatian dan menyayanginya.
Selama perjalanan tadi, Intan bangun dan makan, setelah itu dia tidur lagi dan baru bangun sekarang.
"Kita akan berhenti di Hotel Asa. Aku harap tidak ada yang mengganggu kita saat kita berada di sana!" Ucap Elang dengan pandangan mata yang selalu mengawasi.
"Mengapa kita tidak menginap di losmen atau hotel biasa agar lebih aman?" Tanya Pangeran Lintang.
"Kita lebih aman jika di hotel berbintang, Pangeran. Keamanan lebih terjamin. Setidaknya kita tidak akan khawatir untuk beberapa lama karena sistem keamanan yang canggih." Jawab Elang.
Pangeran Lintang baru menyadari pemikirannya salah. Elang sudah memperhitungkan itu semua. Namun, bagaimana Elang bisa membiayai semua perjalanannya? Uang dari mana?
"Johan, di lampu merah berikutnya, belok kanan. Tak jauh dari situ adalah Hotel Asa!" Perintah Elang pada sopir. Sopir yang Johan mengangguk dan terus fokus menyetir.
"Ehem!" Terdengar suara Intan mencari perhatian.
"Bayi Ayah sudah bangun?" Tanya Elang sambil menoleh ke belakang.
Intan segera minta pindah duduk di depan. Elang mengambilnya dan segera mendudukkan Intan di pangkuannya.
"Putri Ayah ingin makan lagi, kah?" Tanya Elang.
"Ya, aku ingin makan ikan besar!" Jawab Intan dengan ringan.
"Baik! Ikan besar untuk Putri Ayah yang cantik! Sebentar lagi kita akan ke restoran!" Sahut Elang.
"Ayah, kenapa kita tidak pulang?" Tanya Intan tiba-tiba. "Aku ingin bersama Niken dan Nenek." Lanjutnya.
"Setelah kita mengantar Pangeran dan Putri, kita akan ke ruman nenek. Bukankah kita adalah pengawal? Raja menugaskan kita untuk mengantar mereka. Jadi kita tidak boleh mengeluh. Kamu masih ingat kan apa yang dikatakan Paman Arya?"
"Ya! Aku ingat! Aku akan bertarung bersama ayah kalau ada orang jahat!" Intan bersemangat.
"Eh, tidak perlu, kamu hanya ditugaskan melindungi Pangeran dan Putri. Kalau kamu ikut bertarung, siapa yang akan melindungi mereka?" Ucap Elang seperti bersungguh-sungguh.
"Emmm, benar juga. Kenapa kita tidak minta Tiger membantu kita?" Tanya Intan dengan memberi ide.
"Ya, benar juga! Tapi Tiger kan sudah ayah tugaskan untuk mengantar Nenek dan Niken." Jawab Elang dengan asal.
"Ya, aku lupa. Baiklah, aku tidak akan menangis lagi!" Ucap Intan tiba-tiba.
"Bayi pintar!" Puji Elang kemudian mencium pipi Intan yang montok.
Mereka yang mendengar percakapan ayah dan anak tersenyum sekaligus terharu. Anak sekecil ini harus selalu berada dalam situasi berbahaya.
Lalu sampailah mereka di hotel. Elang meminta tempat parkir khusus agar mobil tersembunyi. Lalu, Elang meminta Johan untuk memesan kamar seperti sebelumnya di Hotel di Kota Panjang.
Elang dan lainnya langsung menuju restoran karena mereka sudah sangat kelaparan. Walaupun ada jatah makan di dalam kamar, Elang tidak ingin layanan itu karena takut jika layanan kamar disusupi pihak pembunuh.
Suasana restoran sangat ramai. Walaupun begitu, masih banyak tersisa meja kosong.
Elang mengajak mereka duduk dan seorang pelayan mendatangi mereka. Intan yang memilih makanan dan pelayan langsung mencatat semua pesanan. Jarak antar meja cukup jauh dan sebenarnya ini adalah restoran biasa dan terletak di lantai bawah. Hanya saja, pengunjung mungkin lebih senang di sini karena tidak perlu naik lift untuk ke restoran di lantai berikutnya.
Semua orang kini melihat ke arah Mereka. Mereka mungkin saja baru melihat kelompok kecil ini berada di Kota Timur. Walau terlihat lusuh pakaian mereka, namun karena mereka adalah orang-orang tampan dan cantik tentu saja mengundang orang untuk melihatnya.
Beberapa pemuda bahkan terlihat melihat dengan tatapan yang bernafsu terhadap Angel dan Vanessa. Hal itu karena kecantikan keduanya.
Beberapa saat kemudian pesanan telah datang. Ada banyak makanan di meja dan itu membuat Intan sangat senang. Tanpa peduli dengan sekitarnya, mereka akhirnya langsung melahap makanan sampai habis karena sudah kelaparan. Memang tak biasa. Hanya Intan yang makan dengan pelan dan sesekali Elang menyuapinya.
Johan yang juga sudah bergabung selalu mengawasi semua orang dengan pandangan menyelidik. Walau tidak sehebat Elang, sebagai pengawal tentu saja dia juga punya kewajiban melindungi. Kini dia ditugaskan Elang sebagai sopir dan Elang hanya sesekali menggantikannya.
"Ayah, makanan ini enak sekali, aku ingin makan seperti ini setiap hari." Ucap Intan setelah menelan makanannya.
"Iya, besok pagi Ayah akan memesankanmu untuk di perjalanan." Jawab Elang.
"Iya, yang banyak!" Sahut Intan bersemangat.
"Pangeran, Putri, aku beberapa kali pernah kemari. Jadi aku paham kota ini. Kalau tidak dalam suasana seperti ini, aku bisa mengajak kalian pergi ke Pantai Valentina tak jauh dari sini. Tapi sayang kondisi sekarang tidak memungkinkan." Ucap Elang seperti menyesal.
"Tidak apa-apa. Kita akan fokus pada perjalanan kita." Jawab Pangeran Lintang.
"Aku pernah kesana!" Ucap Angel tiba-tiba.
"Tapi aku lupa, mungkin ketika kesana bersama teman-temanku." Lanjutnya.
"Aku tahu!" Sahut Intan. Dia memang pernah kesana bersama Elang beberapa bulan yang lalu sebelum ke Provinsi Selatan. Nama Pantai Valentina mungkin tidak asing baginya.
"Iya, waktu itu bersama Ayah, Nenek dan Niken!" Lanjut intan mengenang masa itu.
Saat mereka melihat ke arah Intan yang sedang bersemangat bercerita, tiba-tiba sebuah botol diletakkan dengan keran ke meja. Mereka semua terkejut dan langsung menoleh ke arah orang yang meletakkan botol.
Ada empat orang pemuda berusia dua puluh lima tahunan berdiri sambil melihat ke arah Angel dan Vanessa.
"Hai, Gadis Cantik! Boleh kita kenalan?" Tanya seorang pemuda. Wajahnya cukup tampan dan sepertinya bukan dari keluarga biasa saja.
Angel dan Vanessa melihat ke arah Elang. Keduanya sama sekali tidak menggubris mereka.
"Lihatlah betapa sombongnya kedua gadis ini! Mereka berdua berani meremehkan Tuan Muda Faris!" Ucap salah seorang.
"Mereka belum tahu kalau Tuan Muda Faris adalah putra orang terkaya di Kota Timur. Jadi mereka berdua menyepelekannya." Sahut pemuda lainnya yang membuat pemuda bernama Faris menjadi semakin sombong.
"Betul, kalau dia tahu Tuan Muda Faris adalah putra orang terkaya, maka mereka bahkan akan rela tidur dengan Tuan Muda! Hahahaha!" Ucap pemuda lainnya.
"Menjijikkan!" Ucap Vanessa dengan muka seperti geli.
Saat mendengar ucapan Vanessa, Faris menjadi sedikit emosi. Namun karena gadis ini sangat cantik, dia menahannya dan berusaha mendapatkannya. Vanessa benar-benar dibuat tidak nyaman sekarang.
Elang melirik ke keempat pemuda tadi. Dia mungkin punya pekerjaan lain malam ini. Intan pasti akan memerintahkan dia nanti kalau dia benar-benar susah kehilangan kesabaran.
"Sebaiknya kalian berempat sopan pada wanita, jangan sampai mulut kotor kalian akan menghancurkan kalian." Ucap Elang menegur.
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Okto Mulya D.
Wallah...pengganggu akan selalu ada di setiap perjalanan. Pemuda anak orang kaya selalu menggunakan modal kekayaan orang tuanya.. untuk mendapatkan apa yang dia mau, hukum alam kah??
2025-01-08
0
Albertus Sinaga
pereman kampung
2024-12-22
0