Kesepakatan

"Pura-pura jadi pacar, Mbak? Maksudnya gimana?" Bayu agak tercengang mendengar penawaran yang memurutnya sangat aneh.

Wanita yang sedang dipijat pinggangnya sontak bangkit dari berbaringnya lalu duduk di sisi Bayu dengan jarak yang begitu dekat. "Ya pura-pura jadi pacar aku. Masa gitu aja, kamu nggak maksud?" balas si wanita sembari menatap Bayu diiringi senyum tipis membuat Bayu menjadi salah tingkah.

"Beneran, Mbak, aku nggak tahu, maksudnya apaan," jawab Bayu agak gugup.

Si wanita kembali tersenyum sedikit lebih lebar. "Jadi, gini, kamu kan tadi lihat sendiri, kalau aku sama kamu dituduh memiliki hubungan. Kita pura-pura aja mengakuinya. Agar Bagas percaya. Lagian, selain udah ketahuan istrinya, aku juga jadi punya alasan lain agar lepas dari laki-laki itu."

Bayu terdiam dengan kening berkerut. Otaknya mencerna alasan yang diutarakan wanita berbaju tidur tersebut. "Kenapa harus aku, Mbak?"

Si wanita menghela nafasnya dalam-dalam. "Ya kan kebetulan tadi dituduhnya sama kamu. Atau kamu takut, pacar kamu marah?"

Bayu sontak terkesiap. "Pacar siapa? Aku nggak punya pacar," bantahnya cepat.

Bibir wanita itu sontak mencebik. "cowok seganteng kamu tidak punya pacar? Mana mungkin?" ucapnya nampak tak percaya. "Tapi kalau benar, ya kebetulan banget, kan? Jadi nggak ada yang marah sama aku. Gimana? Cuma sebentar kok. Lagian kan, kita hanya mengaku pacaran kalau di depan Bagas doang. Selebihnya ya nggak bakalan."

Bayu pun kembali berpikir. Disaat berasamaan wanita itu terus membujuknya dengan badan yang semakin maju dan menempel. Bayu pun kembali dibuat sesak nafas oleh wanita tersebut. Sebeb yang menempel pada lengannya adalah salah satu sisi benda kembar nan kenyal yang nampak begtu bulat dan lumayan besar, meski tertutup baju tidur.

"Baik, Mbak, baik, saya mau," Bayu tak kuasa menolak karena merasa tertekan dengan tatapan mata dan gerakan tubuh wanita tersebut.

"Wah! Baguslah," wanita itu sontak begitu senang. "Oke, buat jaga-jaga, aku minta nomer kamu boleh? Eh, nama kamu siapa sih?"

"Bayu," ucap Bayu nampak tersenyum tpis, ikut terbawa susana senang dari wanita di sebelahnya.

"Oke, Bayu, aku Selin. Ingat, namaku Selin," terang wanita itu menegaskan. Obrolan pun berlanjut ke hal lain sampai mereka bertukar nomer ponsel.

Setelah membuat kesepakatan, Selin membiarkan Bayu untuk mengakhiri tugasnya. Awalnya Bayu menolak karena dia sama sekali belum bekerja. Namun Selin memaksanya dengan segala asalan. Mau tidak mau Bayu pun setuju. Bayu sebenarnya cukup senang karena dia tidak perlu bekerja tapi tetap dihitung sebagai jam kerja. Namun dia juga merasa tak enak hati, takut rekan kerja yang lain ada yang tahu akan hal tersebut.

"Bayu. Sepertinya, aku memilih pria yang tepat," gumam Selin begitu Bayu meninggalkan rumah tersebut.

Bayu melajukan kendaraannya dengan pikiran yang cukup berkecamuk. Saat melihat jam di ponselnya, waktu baru mau menunjukan pukul sebelas siang. Bayu pun jadi bingung, apa yang akan dia lakukan sekarang. Untuk hari ini, Bayu memang tidak ada jadwal lain. Karena kata sang bos, tugas di rumah Selin itu biasanya memakan waktu sampai jam dua atau jam tiga sore.

Tanpa Bayu sadari, tak jauh dari motornya, ada dua sosok yang sedang mengikuti. Mereka adalah orang yang sama, yang tadi pagi mengikuti Bayu berangkat ke lokasi kerja. Ternyata dua orang tersebut memilih menunggu Bayu di seberang jalan depan pintu masuk area perumahan. Karena pakaian kerja Bayu yang begitu mencolok, mereka jadi lebih mudah mengenali target yang ditunggu.

Beberapa menit kemudian, motor yang mengikuti Bayu menambah kecepatannya. Hingga tak butu waktu lama, mereka berhasil menyusul Bayu dan berada persis di sebelah sisi kanan targetnya.

"Mas!" salah satu dari mereka berteriak beberapa memanggil Bayu, membuat pemuda itu terlihat bingung.

"Saya?" Bayu pun membalas dengan suara yang cukup kencang.

Salah satu orang yang berada di posisi belakang rekannya langsung mengangguk. "Bisa menepi sebentar?"

Kening Bayu sontak berkerut. Tentu saja hal ini merasa aneh menurutnya. "Menepi? Untuk apa?" Bayu tidak langsung mengiyakan. Dia tidak mau percaya begitu saja pada dua orang tersebut.

"Sebentar saja, nanti akan saya jelaskan," sosok yang mengenakan jaket biru nampak memaksa.

"Maaf, saya tidak bisa," tolak Bayu.

"Ayolah, Mas, cuma sebentar kok."

Sontak, Bayu semakin bingung. Pemuda itu berusaha keras mencari cara agar bisa menghindar dari dua orang tersebut.

Di saat laju motornya melintasi area sekolah, mata Bayu menangkap dua orang yang sudah dia kenal, sedang berdiri di tepi jalan. Bayu pun mendadak memiliki ide dan dia melajukan motornya ke arah dua orang tersebut.

Begitu sampai, Bayu langsung menghentikan laju motornya persis di depan orang yang dia tuju. Sontak, dua orang beda usia itu nampak kaget dan mereka menatap Bayu dengan tatapan penuh tanya.

Dua orang yang mengikuti Bayu awalnya merasa senang karena Bayu tiba-tiba menghentikan laju motornya. Namun, senyum mereka seketika lenyap, saat salah satu dari orang yang dihampiri Bayu berteriak.

"Loh, si Om!" seru sosok bertubuh kecil yang masih mengenakan seragam sekolah begitu Bayu melepas helmnya.

"Eh, ini Mas yang kemarin kan?" ucap sosok yang lebih dewasa.

"Hallo, Gio," Bayu pun menyapa mereka. "Iya, Bi. Kalian ngapain di sini?"

"Ini, Mas. Lagi nunggu angkot, soalnya Mbak Mira nggak bisa jemput," jawab Bi Wati.

"Om, Om ke sini disuruh jemput Gio oleh Bunda ya?" terka Gio dengan antusias.

"Kok Gio tahu?" balas Bayu dusta demi menghindadi dua orang yang masih berada tak jauh darinya.

"Tahu, dong. Kan Gio pinter," ucap anak itu dengan penuh percaya diri.

"Mas beneran, disuruh Mbak Mira?" tanya Bi Wati memastikan.

Mau tidak mau, Bayu pun mengangguk karena Gio terus menatapnya. "Udah, ayo, Gio, cepat naik!"

Dengan Girang, Gio langsung naik motor di bagian depan. Bi Wati sebenarnya sudah melarang, tapi anak itu malah memaksa minta naik di depan. Bayu pun sontak meyakinkan Bi Wati kalau Gio akan baik-baik saja. Hingga akhirnya Bi Wati pasrah.

"Ah sial!" Umpat pria berjaket biru. "Tuh, kan! Gagal!.Kita tuh harus pakai kekerasan, bukan cara halus seperti ini," sungutnya begitu kesal.

"Emang kamu mau kita babak belur?" balas pria berjaket hitam. "Kalau menurutku, justru harusnya bos tuh menjebaknya dengan wanita. Pasti, tu anak bakalan nggak nolak. Aku jamin itu."

"Nah, benar itu! Harusnya seperti itu! Kenapa kamu baru ngomong sekarang?" Pria berjaket biru langsung setuju dengan ide rekannya.

"Namanya juga baru kepikiran," balasnya

"Ya udah. Lebih baik, kita segera kasih tahu si Bos, Ayo!"

"Nanti dulu. Kita ikuti anak itu, lalu setelah tahu lokasi anak itu dimana, baru, kita ngasih tahu bos, agar segera ngirim wanita. Gimana?"

"Wah, ide bagus tuh! Ya udah, ayok cepat, nanti kita kehilangan jejak."

Dua pria itu segera melajukan motornya sebelum kehilangan jejak target mereka.

Terpopuler

Comments

Ejan Din

Ejan Din

Bayu seperti pria yg ngak ada pendirian, ngak tegas, nuuuuurut aja apa orang mohon, hanya ikut alur..

2025-03-14

0

◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞𝐀⃝🥀иσνιєℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥࿐

◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞𝐀⃝🥀иσνιєℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥࿐

Waduuhh nanti Mira geer pasti tuh.. Bayu cari alasan yang iya iya sih kan Gio jadi percaya

2024-09-07

1

Apriyanti

Apriyanti

lanjut thor

2024-09-03

1

lihat semua
Episodes
1 Bayu Anggara
2 Ada Yang Meminta Tolong.
3 Satu Lawan Tiga
4 Setelah Kejadian
5 Melepas Lelah
6 Tugas Berikutnya
7 Aduh, Mbak Mira!
8 Kekhawatiran Bayu
9 Masih Di rumah Mira
10 Banyak Godaan
11 Meresahkan
12 Memeriksakan Kondisi Tubuh
13 Pulang Kerja
14 Menyaksikan Pertengkaran
15 Ada Sebab, Ada Akibat
16 Penuh Godaan
17 Kesepakatan
18 Makan Bakso
19 Mengenal Lebih Jauh
20 Ke Rumah Amanda Lagi
21 Penawaran Mengejutkan
22 Amanda Yang Meresahkan
23 Semakin Meresahkan
24 Menyerah
25 Menyerah Lagi
26 Terperdaya
27 Hampir Saja
28 Setelah Kejadian
29 Saat Bayu Tersadar
30 Cerita Selin
31 Kerja Santai
32 Godaan Terus
33 Merapikan Hutan
34 Bertemu Karina
35 Gio Diculik
36 Menyelamatkan Gio
37 Berhasil
38 Rengekan Gio
39 Tuduhan Aneh
40 Tak Berkutik
41 Kembali Ke Kantor
42 Cerita Airin
43 Kurang Meyakinkan
44 Di Rumah Mira
45 Pasrah
46 Masih Tak Menyangka
47 Melanjutkan Yang Tertunda
48 Bersama Karina
49 Tentang Karina
50 Ayah Karina
51 Mengejutkan
52 Tak Terduga
53 Tak Terima
54 Diantar Pulang
55 Dilema
56 Menikmati Malam
57 Duduk Di Taman
58 Masih Di Taman
59 Memberi pertolongan
60 Sebelum Mandi
61 Kata Hati Wanita
62 Karina Dan Ayahnya
63 Dua Wanita
64 Tawaran Airin
65 Kesepakatan
66 Amanda Dan Suaminya
67 Pengakuan Amanda
68 Kejujuran Hati
69 Kerja Yang Menyenangkan
70 Karina Lagi
71 Keluhan Sang Bos
72 Menagih Jawaban
73 Kekesalan Rahman
74 Jujur
75 Masih Jujur
76 Menikmati Malam Minggu
77 Ke Tempat Lain
78 Keteguhan Hati
79 Mengikuti
80 Liburan
81 Ungkapan Hati
82 Semakin Bimbang
83 Pulang
84 Istirahat
85 Menemani Gio
86 Bermain Di Luar
87 Bujukan Mira
88 Ketahuan
89 Menghadapi Dua Wanita
90 Bayu Kesal
91 Semakin Meresahkan
92 Pertemuan Mendadak
93 Keputusan Bayu
94 Sebungkus Permen
95 Tertangkap
96 Bayu Beraksi
97 Kembali Viral
98 Mengungkap Rasa
99 Akhiri Dengan yang Nikmat
100 Pilihan Hati
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bayu Anggara
2
Ada Yang Meminta Tolong.
3
Satu Lawan Tiga
4
Setelah Kejadian
5
Melepas Lelah
6
Tugas Berikutnya
7
Aduh, Mbak Mira!
8
Kekhawatiran Bayu
9
Masih Di rumah Mira
10
Banyak Godaan
11
Meresahkan
12
Memeriksakan Kondisi Tubuh
13
Pulang Kerja
14
Menyaksikan Pertengkaran
15
Ada Sebab, Ada Akibat
16
Penuh Godaan
17
Kesepakatan
18
Makan Bakso
19
Mengenal Lebih Jauh
20
Ke Rumah Amanda Lagi
21
Penawaran Mengejutkan
22
Amanda Yang Meresahkan
23
Semakin Meresahkan
24
Menyerah
25
Menyerah Lagi
26
Terperdaya
27
Hampir Saja
28
Setelah Kejadian
29
Saat Bayu Tersadar
30
Cerita Selin
31
Kerja Santai
32
Godaan Terus
33
Merapikan Hutan
34
Bertemu Karina
35
Gio Diculik
36
Menyelamatkan Gio
37
Berhasil
38
Rengekan Gio
39
Tuduhan Aneh
40
Tak Berkutik
41
Kembali Ke Kantor
42
Cerita Airin
43
Kurang Meyakinkan
44
Di Rumah Mira
45
Pasrah
46
Masih Tak Menyangka
47
Melanjutkan Yang Tertunda
48
Bersama Karina
49
Tentang Karina
50
Ayah Karina
51
Mengejutkan
52
Tak Terduga
53
Tak Terima
54
Diantar Pulang
55
Dilema
56
Menikmati Malam
57
Duduk Di Taman
58
Masih Di Taman
59
Memberi pertolongan
60
Sebelum Mandi
61
Kata Hati Wanita
62
Karina Dan Ayahnya
63
Dua Wanita
64
Tawaran Airin
65
Kesepakatan
66
Amanda Dan Suaminya
67
Pengakuan Amanda
68
Kejujuran Hati
69
Kerja Yang Menyenangkan
70
Karina Lagi
71
Keluhan Sang Bos
72
Menagih Jawaban
73
Kekesalan Rahman
74
Jujur
75
Masih Jujur
76
Menikmati Malam Minggu
77
Ke Tempat Lain
78
Keteguhan Hati
79
Mengikuti
80
Liburan
81
Ungkapan Hati
82
Semakin Bimbang
83
Pulang
84
Istirahat
85
Menemani Gio
86
Bermain Di Luar
87
Bujukan Mira
88
Ketahuan
89
Menghadapi Dua Wanita
90
Bayu Kesal
91
Semakin Meresahkan
92
Pertemuan Mendadak
93
Keputusan Bayu
94
Sebungkus Permen
95
Tertangkap
96
Bayu Beraksi
97
Kembali Viral
98
Mengungkap Rasa
99
Akhiri Dengan yang Nikmat
100
Pilihan Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!