"Kita harus menunggu berapa lama di sini? Apa masih lama?" tanya seseorang berjaket biru sembari menatap gerbang sebuh rumah berwarna putih. Sesekali sosok itu juga mengedarkan pandangannya ke sekitarnya untuk memantau keadaan.
"Sepertinya begitu," jawab rekannya yang mengenakan jaket hitam setelah dirinya menatap layar ponsel dan sekarang ponsel tersebut dia masukan ke dalam salah satu saku di jaketnya. "Paling males aku kalau diberi tugas kayak gini. Waktunya selalu nggak pasti. Bikin bingung harus ngapain," sosok berjaket hitam pun mengeluh.
Sosok berjaket Biru malah tersenyum masam. "Ya sama. Apa lagi ini komplek perumahan orang kaya. Takutnya ada yang curiga kalau kita di sini kelamaan."
"Itu dia yang aku khawatirkan," sahut sosok berjaket hitam sembari turun dari motornya. "Bukankah jika kita mengawasi target kita dari sini, malah mencurigakan?"
Sosok berjaket Biru pun mengagguk, setuju dengan pendapat rekannya. "Terus sekarang, kita harus bagaimana? Apa kita bergerak masuk saja?"
"Jangan!" tolak sosok berjaket hitam. "Yang ada kita akan dibikin babak belur oleh target kita. Apa lagi kamu tadi lihat sendiri kan, dua orang yang keluar dari rumah ini? Sepertinya di dalam sana sedang terjadi sesuatu."
Sosok berjaket biru kembali mengangguk. "Lalu kita harus ngapain sekarang?" tanyanya sembari bangkit dari duduknya di atas aspal bersandar pada sebuah tembok.
"Mending kita keluar sebentar dari komplek ini. Paling nggak agar petugas keamaan sini nggak curiga. Takutnya saat ini, kita sedang dipantau melalui kamera pengawas. Kita keluar sambil nyari ide."
"Nah, setuju. Ya udah yuk, kita keluar."
Dua sosok itupun bergegas menaiki motor. Tidak butuh lama, motor tersebut langsung melaju tanpa ada berbincangan sama sekali.
Sementara itu, sosok yang sedang diincar oleh dua orang tadi, saat ini sedang terjebak dalam situasi yang membingungkan. Sosok bernama Bayu itu benar-benar kaget dengan permintaan dari wanita berbusana tidur yang saat ini masih terisak.
"Apa tubuh Nona ada yang terluka?" tanya Bayu guna mencari cara agar bisa menolak permintaan wanita itu. Bukannya Bayu tidak kuat mengangkat tubuh wanita yang terlihat seksi tersebut. Tapi Bayu takut gugup dan resah.
"Pinggangku sangat sakit dan kakiku sepertinya terkilir," rintih si wanita.
Bayu terdiam sembari berpikir. Jika diingat-ingat, memang tadi wanita itu mendapat dorongan yang cukup keras sampai menabrak meja. Bayu juga menyaksikan bagaimana wanita itu tersungkur. Bayu menyimpulkan, bisa saja sebelum dia datang, wanita itu sudah mengalami kekerasan.
"Baiklah, akan aku coba," akhirnya Bayu mengalah setelah hati dan pikirannya bertarung dengan cepat. Pemuda itu membungkuk dan menekuk salah satu kakinya. Sementara kedua tangannya mulai meraih bagian ketiak milik si wanita.
Jangan ditanya, bagaimana detak jantung Bayu saat ini. Sudah pasti detaknya berpacu lebih cepat dari biasanya. Jantung Bayu semakin tak karuan, kala tubuh wanita itu sudah berhasil dia angkat dan tangan wanita itu melingkar pada leher Bayu.
Karena posisi tubuh yang terangkat dengan lutut menekuk. Secara otomatis, pakaian tidur yang panjangnya seatas lutut, tersingkap hingga ke perut. Bayu pun semakin tak fokus tiap matanya secara spontan menatap ke arah dua bagian tubuh yang begitu mulus.
"Apa dia tidak mengenakan baju lagi di dalamnya?" tanya Bayu dalam benaknya. Wajar jika dalam benak Bayu tumbuh pertanyaan semacam itu. Sebab dari tadi tangan kiri wanita itu, sesekali memegang kain baju yang terletak dia antara dua pahanya. Sudah pasti tingkah wanita itu mengundang banyak tanya dalam benak Bayu.
"Taruh saya di sana aja, Mas," titah sang wanita begitu Bayu masuk ke dalam rumah dan wanita itu menunjuk arah sofa yang menghadap layar televisi. Bayu langsung mengiyakan dan mengarahkan kakinya menuju tempat tersebut.
Tak butuh waktu lama, kini tubuh wanita itu sudah terbaring di atas sofa, sedangkan Bayu masih berdiri karena bingung.
"Mas, bisa minta tolong ambilkan kotak obat nggak, Mas? Tuh, disana," ucap si wanita sambil menujuk sebuah tembok yang terletak di dekat meja makan. Lagi-lagi Bayu hanya bisa mengiyakan dan segera melaksanakan permintaan tersebut.
"Maaf ya, Mas, jadi ngrepotin," ucap wanita itu begitu Bayu kembali menghampirinya sembari menenteng kotak obat yang dia minta.
"Tidak apa-apa, Bu," balas Bayu yang belum duduk sama sekali.
"Jangan panggil aku Ibu. Apa aku sudah kelihatan seperti Ibu-ibu," protes wanita itu sembari melempar senyum. Wanita itu memang sudah nampak lebih tenang sejak tubuhnuya diangkat. "Kamu duduk dulu, Mas."
Bayu pun membalasnya dengan senyuman lalu dia mendaratkan pantatnya di salah satu sisi sofa yang ada di sana.
"Maaf ya, Mas, atas kejadian tadi," ucap wanita itu sembari memijat pergelangan kaki kanannya yang telah diolesi balsem. "Aku jadi malu dan nggak enak sendiri. Sebagai tamu kamu malah menyaksikan hal yang menjijikkan."
Seketika kening Bayu berkerut. "Hal yang menjijikan? Maksud ibu, eh, Mbak?" tanyanya.
Wanita itu sontak melempar senyum. "Ya itu, soal yang tadi. Yang istri orang marah-marah. Kamu pasti dapat menyimpulkan, aku itu siapa, iya kan?"
Kerutan di kening Bayu semakin jelas terlihat. Namun, setelah menemukan jawabannya, anak muda itu pun tersenyum. "Oh itu. Ya itu urusan mbaknya. Saya kan di sini hanya sebagai tukang yang memenuhi panggilan klien. Jadi tugas saya hanya sebatas kerja tanpa ikut campur masalah yang terjadi pada si pemilik rumah."
Wanita itu melempar senyum kembali, lalu tatapannya dia alihkan ke arah pergelangan kaki yang sedang dia pijat. "Sebenarnya, aku juga ditipu oleh laki-laki itu. Aku tidak tahu kalau dia sudah memiliki istri," tanpa diminta, wanita itu mulai berkisah.
"Hubungan kami baru berjalan satu bulan. Awalnya dia ngaku masih single, jadi ya, aku mau aja jalan sama dia. Tapi semalam, entah dapat dari mana alamat rumah ini, istrinya Bagas datang dengan penuh amarah. Awalnya aku tidak percaya. Namun, setelah dia menunjukan banyak bukti akupun syok. Wanita itu juga menunjukan bukti-bukti kalau suaminya memiliki hubungan denganku sampai aku terdiam tak mampu membela diri. Tadi pagi Bagas kesini dan aku memintanya putus. Selanjutnya, kamu tahu sendiri, apa yang terjadi."
Bayu yang sedari tadi diam, menyimak curahan hati wanita itu sontak mengangguk. "Apa Mbak tidak cerita? Kalau istrinya sudah tahu tentang hubungan kalian?"
"Aku cerita, tapi dia tidak percaya. Terus tadi dia langsung pergi aja sambil marah-marah. Mungkin tadi kalian bertemu waktu dia keluar."
Bayu pun mengangguk. "Iya, tadi kita ketemu di pintu gerbang."
Si wanita mengangguk samar. "Mungkin dia kembali lagi dan curiga sama kamu. Sedari awal aku minta putus, dia menuduh aku memiliki laki-laki lain."
Senyum Bayu sedikit terkembang kala memahami sesuatu saat tadi wanita itu tiba-tiba memeluknya. Wanita itu pun ikut tersenyum dan keduanya saling tatap.
"Mas, apa aku boleh minta tolong lagi?"
"Bisa, Mbak. Minta tolong apa?" balas Bayu antusias.
"Tolong pijatkan pinggangku, bisa?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞𝐀⃝🥀иσνιєℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥࿐
Hahahaha duh duh mbaknya ngelunjak nih kalau minta tolong ya sekali saja atuh, masa iya minta tolong berkali2 dalam waktu yang bersamaan namanya memanfaatkan kesempatan.
2024-09-04
0
Yuliana Purnomo
hadeeehhh,,modus apa beneran sakit pinggang niih orng
2024-09-03
1
Apriyanti
oowalah godaan nya berat bgt Bayu,,aplgi cewe² nya sexsi² bakalan gak bisa tahan ni🤣🤣,, lanjut
2024-09-02
1