Melepas Lelah

"Wahhh!" sorak para karyawan begitu mendengar kabar dari bos mereka. "Serius, Bos? Mereka minta Bayu yang turun tangan?" tanya salah satu diantaranya untuk memastikan.

"Nih, buktinya," sang bos kembali menunjukkan layar ponselnya, "tapi yang baru saya masukan hanya beberapa orang saja. Karena dia masih baru, jadi saya ngasih pekerjaan yang mudah dikerjakan, sekalian buat Bayu belajar. Sisanya saya bagi-bagi sama yang lain. Kalau semua pekerjaan diambil alih oleh Bayu, apa kalian mau, bulan ini nggak dapat gaji?"

Hahaha... ya jangan dong, Bos," sahut para karyawan saling bersahutan.

Sang bos hanya membalasnya dengan senyuman, lalu pria itu pamit setelah menyuruh anak buahnya untuk istirahat serta memberi beberapa nasehat.

"Tapi, gaya bertarung kamu memang keren sih, Bay. Aku sangat kagum loh," puji salah satu rekan kerja yang akrab dipanggil Bambang. Bukan hanya pria itu, secara bergantian, rekan kerja Bayu lainnya juga saling menunjukan rasa kagum serta pujian mereka, hingga membuat Bayu semakin tersipu.

"Terus, itu tali yang buat ngiket para penjahat, kamu dapat darimana, Bay?" tanya pria yang akrab dipanggil Awang.

Sebelum menjawab, Bayu terlebih dulu menebarkan senyumnya ke semua orang yang mengelilinginya. "Kebetulan, tali itu ada di kolong ranjang. Mungkin itu tali sisa, yang digunakan untuk mengikat Bu Amanda."

"Jadi beneran? Bu Amanda diikat?" tanya rekan kerja lainnya.

Bayu pun langsung mengangguk beberapa kali. "Kan rencananya, Bu Amanda mau dinodai. Karena Bu Amanda terlalu melawan, akhirnya dia diikat."

"Ya wajar lah kalau dia ngelawan. Namanya juga akan dinodai, siapa yang mau coba, dipaksa berhubungan," celetuk rekan kerja yang akrab dipanggil Agus.

"Hahaha... benar," sahut yang lain. "Tapi, apa betul? Mereka tuh awalnya hanya niat mau merampok?"

"Loh, kan diberita sudah dijelaskan?" protes Bambang.

"Ya, aku tahu. Tapi, apa salahnya sih, aku tanya lagi sama Bayu? Yang memiliki informasi lebih akurat kan dia?" balas rekan kerja yang akrab dipanggil Yuli.

Bambang seketika hanya mencebikan bibirnya, sedangkan yang lain nampak setuju dengan pertanyaan dari pria berbadan kurus tersebut.

"Ya, awalnya mereka memang niat mencuri dengan bantuan orang dalam," terang Bayu. "Tapi mereka nggak nyangka, Bu Amanda yang sebenarnya sudah berangkat kerja, malah kembali lagi karena ada barang yang tertinggal. Awalnya sih mereka panik, tapi karena melihat betapa cantiknya Bu Amanda saat itu, tiba-tiba mendadak ada niat jahat lain pada tiga orang itu."

"Owalah, pantes aja! Saat kita datang, pintu gerbang sudah kebuka. Mungkin saat itu, Bu Amanda balik lagi, satpamnya nggak ada kali ya?" sahut Rahman.

"Benar!" seru Agus. "Berarti, satpamnya sedang beraksi saat itu." Rekan yang lain sependapat dengan apa yang dipikirkan Rahman.

"Tapi, kok di dalam rekaman, nggak ada video yang menunjukkan kalau Bu Amanda diikat, Bay?" tanya Bambang.

"Itu sudah diedit Bu Amanda, Mas. Kalau nggak diedit ya bahaya," balas Bayu diiringi dengan senyum lebar.

"Bahaya? Bahaya kenapa?" tanya Bambang heran.

Bayu kembali menunjukan senyumnya. "Kalau nggak diedit, yang ada nanti tubuh Bu Amanda kelihatan. Kan saat diikat, Bu Amanda hanya mengenakan pakaian, yang biasa digunakan saat renang atau berada di pantai."

"Walahh!" sorak rekan-rekan. "Ya kamu sangat beruntung dong, Bay?" celetuk Yuli. "Pasti mulus banget ya, Bay?"

Bayu pun hanya membalasnya dengan senyuman.Seketika suasana menjadi lebih heboh kala Bayu dengan sangat polosnya menjabarkan keadaan Amanda saat itu.

"Hahaha... penjahatnya terlalu bodoh. Kalau aku yang ada di posisi mereka, udah aku sikat tuh Bu Amanda," ucap Awang antusias.

"Ya sama, aku juga," sahut Yuli. "Udah cantik, seksi, idaman laki-laki banget tuh."

"Hahaha... penjahatnya bodoh semua. Kok bisa-bisanya ada lubang enak, malah pada minum minum dulu," rekan yang lain pun ikut bersuara. "Kagak jadi dapat enak, malah masuk penjara."

"Hahaha..." suara tawa pecah, menggema di ruangan tersebut. Mereka benar-benar melepas lelah, sembali terus melanjutkan obrolan yang makin seru, di samping obrolan-obrolan tentang hal lain.

Tanpa terasa, waktu pun terus melaju, dan kini malam sudah semakin larut. Di dalam kamarnya, Bayu beberapa kali mengecek ponselnya, untuk melihat berita tentang dirinya.

Bayu juga beberapa kali menyaksikan potongan video yang menayangkan perkelahian dirinya dengan para penjahat. Bayu penasaran, siapa yang mengunggah video itu. Apa mungkin Bu Amanda? Berbagai pertanyaan pun muncul dalam benaknya.

"Belum tidur?" sebuah suara tiba-tiba menggema, membuat Bayu yang sedang fokus dengan ponselnya nampak kaget.

"Belum, Paman," balas Bayu, setelah tahu siapa yang tadi bertanya padanya.

Rahman melangkah masuk dan langsung mendaratkan pantatnya di tepi kasur yang digunakan sang keponakan. "Bagaimana perkembangan kasus selanjutnya?" tanya pria yang masih melajang di usianya yang menginjak kepala tiga.

"Yah, karena aku hanya sebagai saksi, aku cuma menunggu kabar saja, Paman. Tadi sih, salah satu keluarga Bu Amanda ada yang telfon, katanya pengin bertemu denganku," balas Bayu. Saat ini posisi Bayu sudah bangkit dari berbaringnya dan memilih duduk bersandar pada dinding.

Rahman mengangguk beberapa kali. "Paman harap, kamu di sini bisa jaga diri. Kamu ingat kan pesan ibu mu? Hidup di kota itu benar-benar berbeda dengan hidup di kampung kita."

"Tentu saja aku ingat. Paman tenang saja, aku yakin, aku bisa jaga diri," ujar Bayu penuh percaya diri.

Rahman mengulas senyum tipus. Pria itu sadar, sang keponakan sekarang memang sudah bukan anak kecil lagi yang masih suka merengek minta ikut main Pamannya seperti saat dulu. Apa lagi kejadian tadi siang semakin meyakinkan Rahman kalau Bayu memang sudah bisa diandalkan.

"Ya sudah mending sekarang kamu lekas istirahat, jangan begadang. Ingat, besok banyak tugas yang akan kamu kerjakan," ucap Paman sembari bersiap untuk pergi.

"Sipp," balas Bayu. Pemuda itu melepas kepergian sang Paman dengan senyum terbaiknya. Setelah Rahman hilang dari pandangan, mata Bayu kembali tertuju pada layar ponselnya.

"Kalau aku viral gini, aku bakalan terkenal dong. Kira-kira, ada sutradara yang bakal nawarin aku main film laga nggak ya?" gumam Bayu penuh khayal.

Sementara di malam yang sama, namun di tempat berbeda. Tepatnya di sebuah bangunan tiga lantai, nampak, beberapa orang terlihat sedang berkumpul di salah satu ruangan dalam bangunan tersebut.

Beberapa orang yang terdiri dari pria dan wanita itu sepertinya sedang melakukan pembahasan sembari sesekali memutar video pertarungan yang dilakukan Bayu.

"Aku yakin, jika kita berhasil membuat anak ini bergabung sama kita, sudah bisa dipastikan, kelompok kita bakalan semakin kuat. Kita pasti akan lebih unggul, dari saingan-saingan kita," ucap seorang pria begitu antusias, mengungkapkan hasil pemikirannya.

"Tapi, bagaimana caranya?" tanya rekan dari pria itu. "Apa kita ajak dia ketemuan, lalu kita kasih penawaran dengan bayaran yang sangat tinggi?"

"Sepertinya itu bakalan sulit," balas rekan lain yang merupakan seorang wanita. "Aku yakin, yang ngincar bocah ini, bukan hanya kita saja. Bisa jadi, musuh-musuh kita juga mengincarnya."

"Benar juga," sahut beberapa rekan dan mereka pun ikut memikirkan cara untuk merekrut Bayu menjadi bagian dari mereka.

"Kalian jangan khawatir, saya sudah memiliki cara yang sangat jitu. Kalian tunggu aja, hasilnya pasti bikin kalian senang," ucap pria yang tadi mengutarakan usulannya dengan sangat yakin.

Terpopuler

Comments

Tara

Tara

wah

2024-09-10

0

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

hadeeh bahaya' juga niih Bayu banyak yg ngincar

2024-08-30

0

◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞𝐀⃝🥀иσνιєℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥࿐

◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞𝐀⃝🥀иσνιєℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥࿐

Adooohh lha kok imbasnya ke hal lain.. itu kelompok apa ya yang menginginkan Bayu bergabung 🤔 mudah2an jangan yang jahat2

2024-08-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bayu Anggara
2 Ada Yang Meminta Tolong.
3 Satu Lawan Tiga
4 Setelah Kejadian
5 Melepas Lelah
6 Tugas Berikutnya
7 Aduh, Mbak Mira!
8 Kekhawatiran Bayu
9 Masih Di rumah Mira
10 Banyak Godaan
11 Meresahkan
12 Memeriksakan Kondisi Tubuh
13 Pulang Kerja
14 Menyaksikan Pertengkaran
15 Ada Sebab, Ada Akibat
16 Penuh Godaan
17 Kesepakatan
18 Makan Bakso
19 Mengenal Lebih Jauh
20 Ke Rumah Amanda Lagi
21 Penawaran Mengejutkan
22 Amanda Yang Meresahkan
23 Semakin Meresahkan
24 Menyerah
25 Menyerah Lagi
26 Terperdaya
27 Hampir Saja
28 Setelah Kejadian
29 Saat Bayu Tersadar
30 Cerita Selin
31 Kerja Santai
32 Godaan Terus
33 Merapikan Hutan
34 Bertemu Karina
35 Gio Diculik
36 Menyelamatkan Gio
37 Berhasil
38 Rengekan Gio
39 Tuduhan Aneh
40 Tak Berkutik
41 Kembali Ke Kantor
42 Cerita Airin
43 Kurang Meyakinkan
44 Di Rumah Mira
45 Pasrah
46 Masih Tak Menyangka
47 Melanjutkan Yang Tertunda
48 Bersama Karina
49 Tentang Karina
50 Ayah Karina
51 Mengejutkan
52 Tak Terduga
53 Tak Terima
54 Diantar Pulang
55 Dilema
56 Menikmati Malam
57 Duduk Di Taman
58 Masih Di Taman
59 Memberi pertolongan
60 Sebelum Mandi
61 Kata Hati Wanita
62 Karina Dan Ayahnya
63 Dua Wanita
64 Tawaran Airin
65 Kesepakatan
66 Amanda Dan Suaminya
67 Pengakuan Amanda
68 Kejujuran Hati
69 Kerja Yang Menyenangkan
70 Karina Lagi
71 Keluhan Sang Bos
72 Menagih Jawaban
73 Kekesalan Rahman
74 Jujur
75 Masih Jujur
76 Menikmati Malam Minggu
77 Ke Tempat Lain
78 Keteguhan Hati
79 Mengikuti
80 Liburan
81 Ungkapan Hati
82 Semakin Bimbang
83 Pulang
84 Istirahat
85 Menemani Gio
86 Bermain Di Luar
87 Bujukan Mira
88 Ketahuan
89 Menghadapi Dua Wanita
90 Bayu Kesal
91 Semakin Meresahkan
92 Pertemuan Mendadak
93 Keputusan Bayu
94 Sebungkus Permen
95 Tertangkap
96 Bayu Beraksi
97 Kembali Viral
98 Mengungkap Rasa
99 Akhiri Dengan yang Nikmat
100 Pilihan Hati
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bayu Anggara
2
Ada Yang Meminta Tolong.
3
Satu Lawan Tiga
4
Setelah Kejadian
5
Melepas Lelah
6
Tugas Berikutnya
7
Aduh, Mbak Mira!
8
Kekhawatiran Bayu
9
Masih Di rumah Mira
10
Banyak Godaan
11
Meresahkan
12
Memeriksakan Kondisi Tubuh
13
Pulang Kerja
14
Menyaksikan Pertengkaran
15
Ada Sebab, Ada Akibat
16
Penuh Godaan
17
Kesepakatan
18
Makan Bakso
19
Mengenal Lebih Jauh
20
Ke Rumah Amanda Lagi
21
Penawaran Mengejutkan
22
Amanda Yang Meresahkan
23
Semakin Meresahkan
24
Menyerah
25
Menyerah Lagi
26
Terperdaya
27
Hampir Saja
28
Setelah Kejadian
29
Saat Bayu Tersadar
30
Cerita Selin
31
Kerja Santai
32
Godaan Terus
33
Merapikan Hutan
34
Bertemu Karina
35
Gio Diculik
36
Menyelamatkan Gio
37
Berhasil
38
Rengekan Gio
39
Tuduhan Aneh
40
Tak Berkutik
41
Kembali Ke Kantor
42
Cerita Airin
43
Kurang Meyakinkan
44
Di Rumah Mira
45
Pasrah
46
Masih Tak Menyangka
47
Melanjutkan Yang Tertunda
48
Bersama Karina
49
Tentang Karina
50
Ayah Karina
51
Mengejutkan
52
Tak Terduga
53
Tak Terima
54
Diantar Pulang
55
Dilema
56
Menikmati Malam
57
Duduk Di Taman
58
Masih Di Taman
59
Memberi pertolongan
60
Sebelum Mandi
61
Kata Hati Wanita
62
Karina Dan Ayahnya
63
Dua Wanita
64
Tawaran Airin
65
Kesepakatan
66
Amanda Dan Suaminya
67
Pengakuan Amanda
68
Kejujuran Hati
69
Kerja Yang Menyenangkan
70
Karina Lagi
71
Keluhan Sang Bos
72
Menagih Jawaban
73
Kekesalan Rahman
74
Jujur
75
Masih Jujur
76
Menikmati Malam Minggu
77
Ke Tempat Lain
78
Keteguhan Hati
79
Mengikuti
80
Liburan
81
Ungkapan Hati
82
Semakin Bimbang
83
Pulang
84
Istirahat
85
Menemani Gio
86
Bermain Di Luar
87
Bujukan Mira
88
Ketahuan
89
Menghadapi Dua Wanita
90
Bayu Kesal
91
Semakin Meresahkan
92
Pertemuan Mendadak
93
Keputusan Bayu
94
Sebungkus Permen
95
Tertangkap
96
Bayu Beraksi
97
Kembali Viral
98
Mengungkap Rasa
99
Akhiri Dengan yang Nikmat
100
Pilihan Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!