Sungguh, setelah menginjak usia 22 tahun, Bayu tidak pernah terpikirkan akan menghadapi situasi seperti yang dia alami saat ini. Situasi, dimana dirinya duduk berdua dengan wanita cantik dengan pakaian yang terlalu seksi, tanpa ada seorangpun di tempat itu.
Semasa di kampung, Bayu memang jarang sekali berinteraksi dengan lawan jenis dalam waktu yang cukup lama. Selain teman kampung dan saudaranya, Bayu hampir tidak pernah duduk berdua dengan seorang wanita.
Bayu merasa dirinya sering kurang percaya diri jika harus berhadapan dengan wanita yang baru dia kenal. Apa lagi jika ada wanita yang dia suka, Bayu memilih memendam perasaaanya. Untuk sekedar menyapa pun Bayu cenderung grogi.
Memang tidak sedikit yang beranggapan kalau Bayu itu pria yang memiliki pesona yang berbeda. Namun, pesona tersebut sering kali tertutup oleh keseharian Bayu yang suka mengenakan baju apa adanya.
Untuk keseharian, kapanpun waktunya, Bayu lebih suka mengenakan kaos dan celana kolor. Bayu hanya terlihat rapi jika ada acara saja. Terus kegiatan Bayu juga lebih banyak berada di kebun bersama ayahnya.
Bayu memiliki orang tua yang masih lengkap dan dua adik perempuan yang masih duduk di bangku sekolah. Setelah lulus sekolah, Bayu juga pernah beberapa kali kerja di kampungnya namun tak bertahan lama.
Ini adalah pertama kalinya dia ke kota besar dan Bayu masih tidak menyangka, belum lama dia menginjakkan kakinya di sana. Bayu malah berada dalam situasi yang membuat dia canggung bukan main.
"Diminum, Bay, airnya. Itu air untuk diminum loh, bukan dilihatin," sindir Amanda kala menyadari tingkah Bayu yang sedari tadi lebih banyak melempar pandangannya ke arah gelas.
Bayu sedikit tersentak. Seketika dia merasa malu karena ternyata dia sedang diperhatikan lawan bicaranya. "Iya, Bu," jawab Bayu gugup.
"Lagian kenapa sih lihatin gelas terus? Apa wajah saya jelek ya? Sampai kamu nggak mau menatap ke arah sini?" Amanda semakin semangat menggoda pemuda itu. Dia sungguh merasa gemas melihat sikap Bayu saat ini.
"Bukan begitu, Bu," bantah Bayu sembari melempar pandanganya ke arah Amanda. Namun secara spontan juga mata baju juga sekilas mengarahkan pandanganya ke dada si pemilik rumah.
"Lah, terus, kenapa nggak menatap saya saja? Kan saya jadi salah paham," balas Amanda semakin semangat.
"Ya maaf, Bu," balas Bayu semakin salah tingkah. Dia tidak mungkin mengatakan dengan jujur alasan dia bersikap seperti itu.
Amanda semakin tersenyum gemas. "Kenapa sih, kamu dari tadi manggil saya Ibu-ibu mulu. Apa di mata kamu saya sudah kelihatan sangat tua?" protesnya sambil memasang wajah cemberut.
Lagi-lagi Bayu terkesiap. "Bukan begitu, Bu."
"Tu kan Bu lagi," seru Amanda. "Jangan panggil Ibu ah. Usia kita kan nggak beda jauh. Panggil saya Mbak aja. Atau kalau mau, panggil sayang juga boleh," ledeknya.
Seketika Bayu pun jadi ikutan tersenyum.
"Nah,gitu, senyum. Duh manis banget sih kamu," puji Amanda membuat Bayu langsung tersipu.
"Sekarang kamu jujur sama saya, kamu yakin, tubuh kamu nggak merasakan sakit dan pegal?" kali ini, Amanda terlihat lebih serius. "Kalau ada yang sakit, ngomong. Saya yakin kamu tidak mungkin kamu baik-baik saja, kalau di video kamu juga beberapa kali menerima hantaman dan tendangan."
Bayu pun tersipu. "Sebenarnya sih, pada pegal-pegal, Bu, eh Mbak," balas Bayu sembari langsung meralat panggilannya begitu melihat mata Amanda melotot. "Tapi nggak apa-apa kok, sekarang, tubuh saya udah lebih enakan."
"Nggak mungkin. Pasti ada yang lebam. Coba, buka baju kamu," todong Amanda membuat Bayu ternganga saat itu juga. "Bukan mulut kamu yang dibuka, tapi pakaian kamu."
"Aduh, nggak usah, Mbak. Badan saya baik-baik saja kok," tolak Bayu agak panik.
"Jangan bohong! Saya lihat sendiri, bagaimana perjuangan kamu melawan tiga orang kurang ajar itu kemarin. Cepat buka bajunya. Atau saya yang buka paksa, mau?"
Bayu semakin terpojok. Dia tak menduga akan dihadapkan dengan ancaman, sampai dirinya tercengang. "Aduh, Mbak, nggak usah. Saya nggak apa-apa kok. Benar."
Amanda mendengus. Tanpa diduga, wanita itu langsung bangkit dari duduknya dan dengan cepat bergerak mendekati pemuda yang menolongnya.
Tentu saja, Bayu semakin kelimpungan. Bayu dibuat tak berkutik atas tindakan tak terduga dari si pemilik rumah.
"Iya, Mbak, iya, saya buka," dengan sangat terpaksa, Bayu menyerah, begitu tangan Amanda hampir menyentuh kerah baju kerjanya.
"Ya udah, cepat!" titah si pemilik rumah tanpa dia sadari kalau posisinya saat ini semakin membuat resah pemuda yang dia ancam.
Perlahan, tangan Bayu bergerak, menyentuh resleting yang bertengger di dekat leher dan menarik turun guna melepas pakaian kerjanya.
"Sekarang kaosnya lepas juga," titah Amanda begitu pakaian pertama diturunkan sampai pinggang.
Bayu diserang gugup tingkat tinggi. Dia bahkan berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya bisa lepas dari keadaan saat ini. Namun sayang, itu hanya sekedar harapan. Nyatanya, Bayu masih dituntut untuk membuka kaos yang melekat pada tubuhnya.
"Maaf, Mbak, saya tidak terbiasa buka baju di depan wanita," merasa terpojok dan tidak ada pilihan lain, Bayu pun akhirnya berterus terang.
"Apa! Tidak terbiasa melepas baju di depan wanita?" tentu saja, Amanda begitu terkejut. "Bagaimana mungkin?"
Bayu mengangguk. "Ya malu, Mbak."
"Hah!" Amanda sampai ternganga. "Hahaha... masa malu?"
Bayu sontak tersipu.
"Ngapain malu? Kan kita nggak melakukan hal yang aneh-aneh? Terus kalau di tubuhmu ada luka, kamu akan membiarkan luka itu sampai sembuh sendiri, gitu?"
Bayu mengangguk cepat tanpa berani menatap lawan bicaranya yang berada sangat dekat di sisi kirinya.
"Astaga! Kalau itu hanya luka luar sih nggak apa-apa, Bayu. Tapi kalau ternyata sampai luka dalam gimana? Mungkin sekarang efeknya memang tidak terasa, tapi suatu saat nanti, bisa jadi, efeknya baru kamu rasakan setelah menjadi penyakit ganas. Kamu mau?"
Kali ini Bayu langsung menggeleng. "Ya jangan sampai, Mbak," ucap Bayu merasa ngeri.
"Ya makanya, buka baju kamu. Nanti kalau ada lebam kita bisa langsung cek ke dokter. Luka kamu berpotensi bahaya apa tidak," sungut Amanda merasa cukup kesal.
Bayu terdiam. Saat itu juga dilema langsung menyerang relung hatinya.
"Biar bagaimanapun kamu kemarin yang menyelamatkan saya. Jadi saya nggak mungkin egois tanpa mempedulikan kamu. Apa lagi saya lihat sendiri, pertarungan yang terjadi. Udah, lepas bajunya. Atau saya sobek sekalian."
"Eh, iya, iya," akhirnya Bayu menyerah begitu mendapat ancaman dan melihat tangan Amanda yang bergerak hendak meraih tangannya.
Beberapa detik lamanya, Bayu terdiam. Begitu hati dan perasaannya sudah yakin, tangan Bayu mulai bergerak meraih ujung kaos dan perlahan melepasnya.
Mata Amanda sontak melebar penuh rasa kagum. Meski ini bukan pertama kali dia melihat tubuh atletis pria dari dekat, tapi Amanda tetap terkesima kala menatap keindahan tubuh pria muda di hadapannya.
Bayu pun tak bisa berkata-kata. Dia begitu canggung sampai kaos yang sudah terlepas dari tubuhnya, dia gunakan untuk menutupi dada bidangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ejan Din
alasan.. klu aku bayu.. aku akan semakun gaeanf mengatakan ngak apa2.. dasar wanita Gini punya niat terselubung... hati2 bayu.. mula2 pingen liat, selepas itu pingen disentuh, selepas itu pingen dirasai... ceeeeeh...
2025-03-14
0
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
njiiir sayang gak tuh 😂😂😂
2025-03-15
0
Kanda Prabu
lugu...lutung gunung 😄😄
2024-11-17
0