"Astaga!" Bola mataku hampir melompat keluar gegara Mas Danu langsung menyentak baju di tanganku. Aku langsung syok akibat terkejut yang berlebihan. Bagaimana dia bisa ada di belakangku? Bukannya dia tadi sudah pergi dari rumah?
Mas Danu menatap baju di tangan. Raut wajahnya seperti berpikir keras. Kemudian dia menatap sinis padaku. "Kamu tidak akan cemburu hanya karena ini, kan? Aku pikir kamu tidak akan sebodoh itu," ucapnya. Tangannya melempar kembali baju ke dalam keranjang pakaian kotor.
Aku langsung tersadar. Ku keluarkan senyuman palsu di hadapannya. "Bagaimana mungkin? Memang zaman sekarang masih ada wanita yang memakai lipstik luntur dan menempel pada benda lain seperti ini? Heh, ternyata kamu sampai segitunya menipu untuk melihatku menunjukkan sikap cemburu padamu. Walaupun itu asli sekalipun aku tidak peduli."
Aku tertawa kecil. Ekspresi Mas Danu terlihat masam dan dia tidak mengeluarkan kata apapun. Dia lebih terlihat menahan kekesalannya. Ku lirik dengan ekor mataku dan melihat dia beranjak ke ruang kerja lalu keluar dengan membawa berkas di tangan. Aku menebak dia kembali karena ada sesuatu yang ketinggalan.
Brak!
Mas Danu keluar dengan menghempaskan pintu. Aku mengusap dada kemudian meraih keranjang pakaian kotor dan memberikan pada Bik Mirna. Aku menghela napas lega lalu kembali naik ke atas. Di tangga aku menemukan sebuah kertas yang tergeletak. Aku menunduk dan memungutinya. "Dasar ceroboh!" Aku yakin ini salah satu kertas yang keluar dari map yang dipegang Mas Danu tadi.
Terpaksa aku menghubungi pria itu karena takut berkas ini penting. Sayangnya lagi-lagi Mas Danu menolak panggilkanku. Aku mendesah kasar, selalu saja begitu. Apa dia pikir kalau aku menelponnya hanya karena rindu pada dia? Tidakkah dia berpikir kalau itu merupakan hal penting? Memang selalu menyebalkan.
Cara satu-satunya aku hanya bisa menelpon Pak Erik dan jawaban beliau sungguh tidak aku harapkan.
"Nona Lintang bisa mengantar langsung ke kantor. Tuan Danuar belum sampai dan saya tidak mungkin pergi ke sana untuk mengambil berkas tersebut. Mohon kerjasamanya ya Nona."
"Tidak bisakah Pak Erik menelpon Mas Danu dan memintanya kembali ke rumah?" Sebisa mungkin aku tidak mau ke kantornya. Nanti Mas Danu kepedean aku mau memata-matai dirinya.
"Tidak bisa Nona, daritadi panggilan saya tidak diangkat."
"Hufft." Napasku terasa berat. Aku memberikan solusi agar file tersebut saya kirim lewat WhatsApp saya. Namun, Pak Erik mengatakan butuh dengan kertasnya. Aku memijit kening sebelum menitipkan kedua keponakan pada bibi. Kalau menurut ceritanya yang sudah lama bekerja pada Mas Danu, saya yakin Bik Mirna bisa dipercaya.
Aku menyetop taksi yang melintas di depan pagar rumah Mas Danu dan langsung menuju kantornya. Ketika mobil taksi berhenti di depan kantor mas Danu, aku terhenyak, ternyata perusahaan Mas Danu begitu besar. Meskipun dulu aku pernah menjadi kekasihnya tetapi aku tidak pernah dibawa ke perusahaan ini, lebih tepatnya aku yang menolak.
Ketika aku memperkenalkan diri sebagai istri Mas Danu pak satpam langsung memerintahkan orang mengantarku menuju ruangan Mas Danu. Langkah kakiku terasa pelan dan enggan membawa tubuh ini bertemu Mas Danu. Ingin rasanya aku menitipkan kertas di tangan tapi aku takut jatuh pada orang yang salah. Sepertinya isi kertas ini sangatlah penting.
Sampai di depan ruangan Mas Danu orang yang mengantarku pamit dan pergi begitu saja.
"Benar kamu tidak tahu perkara lipstik di kemejaku?" Aku yang mendengar suara Mas Danu terdiam di depan pintu. Tangan aku urungkan untuk mengetuk dan aku langsung menyandarkan bahu pada daun pintu.
"Saskia! Jawab pertanyaanku! Semalam kamu tidak sengaja ingin menjebakku, kan?" Suara Mas Danu mulai meninggi karena tidak ada jawaban dari lawan bicaranya.
Saskia ... Siapa dia? Dari semua karyawan di perusahaan Mas Danu, aku hanya mengenal Pak Erik. Beliau sering menemui Mas Danu saat posisi pria itu menjadi kekasihku dulu. Aku langsung mengingat bahwa semalam Mas Danu pergi dengan sekretarisnya. Jadi aku langsung menebak Saskia adalah sekretaris Mas Danu. Namun, apa maksud Mas Danu dengan jebakan? Dia tidak macam-macam, kan?
"Sa–ya tidak tahu Tuan." Saskia menjawab dengan gugup.
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu, bukankah semalam kamu bersamaku?"
"Saya tidak tahu, mungkin ada yang tidak sengaja menabrak Tuan Danuar ketika kita pergi ke bar."
"Bar?" Aku menutup mulut. Benarkah Mas Danu pergi ke tempat seperti itu? Ini sulit dipercaya mengingat kepribadian Mas Danu dulu.
"Atau wanita yang bertemu dengan Tuan semalam yang sengaja melakukan itu agar Tuan selalu mengingatnya."
"Omong kosong apa ini? Yasudah, pergilah!" Terdengar helaan panjang dari dalam ruangan kemudian terdengar bunyi langkah menuju pintu.
Aku yang tidak ingin diketahui telah menguping akhirnya buru-buru berjalan menjauh. Tak disangka langkah di belakangku terdengar begitu cepat dan langsung mencekal bahuku dengan kuat. Aku menoleh dan melihat sosok wanita tengah menatapku tajam tanpa melepaskan cengkeraman. Tatapannya berkilat dan memancarkan aura permusuhan.
"Kamu siapa?" tanyaku dengan jantung berdebar. Kenapa wanita ini begitu aneh? Padahal kenal saja tidak.
"Tidak penting siapa aku. Yang penting adalah, Tuan Danuar tidak mencintaimu. Dia menikah denganmu hanya untuk misi balas dendam atas pengkhianatanmu tempo dulu. Jadi, jangan senang dulu karena telah menjadi Nyonya, karena selama dia menikah denganmu dia tidak akan pernah berhenti bermain wanita. Aku yang menemaninya semalam dan wanita yang memuaskan Tuan Danur telah ceroboh meninggalkan jejak." Wanita yang aku tengarai adalah Saskia itu menepuk pundakku kemudian mengibaskan tangan dan berlalu pergi.
Aku berdiri mematung, ternyata Mas Danu semenjijikkan itu. Apakah Kak libra mengetahui kenyataan ini?
"Nona, sudah diberikan pada Tuan Danuar?" Tiba-tiba Pak Erik berdiri di hadapannyaku dengan nampan berisi dua gelas kopi.
"Ah belum Pak." Aku mencoba menstabilkan raut wajahku. Pria itu mengangguk.
"Saya minta tolong Bapak saja yang memberikannya. Aku harus segera pulang karena kedua putri kami sedang demam." Aku menyodorkan kertas pada Pak Erik lalu pamit pergi.
"Hati-hati Nona!"
"Kenapa dia ke sini?" Lagi-lagi aku mendengar suara tegas Mas Danu, tetapi aku tahu dia sedang bertanya pada Pak Erik. Jadi aku mengabaikan dan melanjutkan langkah tanpa menolehkan sedikitpun. Mas Danu yang sekarang bukanlah Mas Danu yg dulu. Seharusnya aku mengunci hatiku untuk pria seperti ini.
"Heh!" Aku terkekeh lirih. Menertawakan kebodohanku masih mempertahankan rasa cinta pada pria sialan seperti dia. Harusnya aku membunuh rasa itu dan menguburnya dalam-dalam. Ternyata sesuatu yang berubah tidak akan pernah kembali seperti semula dan harapan hanya tinggal harapan yang tidak akan pernah tergapai.
"Mas Danu aku jijik padamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments