Bab 14. Jijik

"Astaga!" Bola mataku hampir melompat keluar gegara Mas Danu langsung menyentak baju di tanganku. Aku langsung syok akibat terkejut yang berlebihan. Bagaimana dia bisa ada di belakangku? Bukannya dia tadi sudah pergi dari rumah?

Mas Danu menatap baju di tangan. Raut wajahnya seperti berpikir keras. Kemudian dia menatap sinis padaku. "Kamu tidak akan cemburu hanya karena ini, kan? Aku pikir kamu tidak akan sebodoh itu," ucapnya. Tangannya melempar kembali baju ke dalam keranjang pakaian kotor.

Aku langsung tersadar. Ku keluarkan senyuman palsu di hadapannya. "Bagaimana mungkin? Memang zaman sekarang masih ada wanita yang memakai lipstik luntur dan menempel pada benda lain seperti ini? Heh, ternyata kamu sampai segitunya menipu untuk melihatku menunjukkan sikap cemburu padamu. Walaupun itu asli sekalipun aku tidak peduli."

Aku tertawa kecil. Ekspresi Mas Danu terlihat masam dan dia tidak mengeluarkan kata apapun. Dia lebih terlihat menahan kekesalannya. Ku lirik dengan ekor mataku dan melihat dia beranjak ke ruang kerja lalu keluar dengan membawa berkas di tangan. Aku menebak dia kembali karena ada sesuatu yang ketinggalan.

Brak!

Mas Danu keluar dengan menghempaskan pintu. Aku mengusap dada kemudian meraih keranjang pakaian kotor dan memberikan pada Bik Mirna. Aku menghela napas lega lalu kembali naik ke atas. Di tangga aku menemukan sebuah kertas yang tergeletak. Aku menunduk dan memungutinya. "Dasar ceroboh!" Aku yakin ini salah satu kertas yang keluar dari map yang dipegang Mas Danu tadi.

Terpaksa aku menghubungi pria itu karena takut berkas ini penting. Sayangnya lagi-lagi Mas Danu menolak panggilkanku. Aku mendesah kasar, selalu saja begitu. Apa dia pikir kalau aku menelponnya hanya karena rindu pada dia? Tidakkah dia berpikir kalau itu merupakan hal penting? Memang selalu menyebalkan.

Cara satu-satunya aku hanya bisa menelpon Pak Erik dan jawaban beliau sungguh tidak aku harapkan.

"Nona Lintang bisa mengantar langsung ke kantor. Tuan Danuar belum sampai dan saya tidak mungkin pergi ke sana untuk mengambil berkas tersebut. Mohon kerjasamanya ya Nona."

"Tidak bisakah Pak Erik menelpon Mas Danu dan memintanya kembali ke rumah?" Sebisa mungkin aku tidak mau ke kantornya. Nanti Mas Danu kepedean aku mau memata-matai dirinya.

"Tidak bisa Nona, daritadi panggilan saya tidak diangkat."

"Hufft." Napasku terasa berat. Aku memberikan solusi agar file tersebut saya kirim lewat WhatsApp saya. Namun, Pak Erik mengatakan butuh dengan kertasnya. Aku memijit kening sebelum menitipkan kedua keponakan pada bibi. Kalau menurut ceritanya yang sudah lama bekerja pada Mas Danu, saya yakin Bik Mirna bisa dipercaya.

Aku menyetop taksi yang melintas di depan pagar rumah Mas Danu dan langsung menuju kantornya. Ketika mobil taksi berhenti di depan kantor mas Danu, aku terhenyak, ternyata perusahaan Mas Danu begitu besar. Meskipun dulu aku pernah menjadi kekasihnya tetapi aku tidak pernah dibawa ke perusahaan ini, lebih tepatnya aku yang menolak.

Ketika aku memperkenalkan diri sebagai istri Mas Danu pak satpam langsung memerintahkan orang mengantarku menuju ruangan Mas Danu. Langkah kakiku terasa pelan dan enggan membawa tubuh ini bertemu Mas Danu. Ingin rasanya aku menitipkan kertas di tangan tapi aku takut jatuh pada orang yang salah. Sepertinya isi kertas ini sangatlah penting.

Sampai di depan ruangan Mas Danu orang yang mengantarku pamit dan pergi begitu saja.

"Benar kamu tidak tahu perkara lipstik di kemejaku?" Aku yang mendengar suara Mas Danu terdiam di depan pintu. Tangan aku urungkan untuk mengetuk dan aku langsung menyandarkan bahu pada daun pintu.

"Saskia! Jawab pertanyaanku! Semalam kamu tidak sengaja ingin menjebakku, kan?" Suara Mas Danu mulai meninggi karena tidak ada jawaban dari lawan bicaranya.

Saskia ... Siapa dia? Dari semua karyawan di perusahaan Mas Danu, aku hanya mengenal Pak Erik. Beliau sering menemui Mas Danu saat posisi pria itu menjadi kekasihku dulu. Aku langsung mengingat bahwa semalam Mas Danu pergi dengan sekretarisnya. Jadi aku langsung menebak Saskia adalah sekretaris Mas Danu. Namun, apa maksud Mas Danu dengan jebakan? Dia tidak macam-macam, kan?

"Sa–ya tidak tahu Tuan." Saskia menjawab dengan gugup.

"Bagaimana kamu bisa tidak tahu, bukankah semalam kamu bersamaku?"

"Saya tidak tahu, mungkin ada yang tidak sengaja menabrak Tuan Danuar ketika kita pergi ke bar."

"Bar?" Aku menutup mulut. Benarkah Mas Danu pergi ke tempat seperti itu? Ini sulit dipercaya mengingat kepribadian Mas Danu dulu.

"Atau wanita yang bertemu dengan Tuan semalam yang sengaja melakukan itu agar Tuan selalu mengingatnya."

"Omong kosong apa ini? Yasudah, pergilah!" Terdengar helaan panjang dari dalam ruangan kemudian terdengar bunyi langkah menuju pintu.

Aku yang tidak ingin diketahui telah menguping akhirnya buru-buru berjalan menjauh. Tak disangka langkah di belakangku terdengar begitu cepat dan langsung mencekal bahuku dengan kuat. Aku menoleh dan melihat sosok wanita tengah menatapku tajam tanpa melepaskan cengkeraman. Tatapannya berkilat dan memancarkan aura permusuhan.

"Kamu siapa?" tanyaku dengan jantung berdebar. Kenapa wanita ini begitu aneh? Padahal kenal saja tidak.

"Tidak penting siapa aku. Yang penting adalah, Tuan Danuar tidak mencintaimu. Dia menikah denganmu hanya untuk misi balas dendam atas pengkhianatanmu tempo dulu. Jadi, jangan senang dulu karena telah menjadi Nyonya, karena selama dia menikah denganmu dia tidak akan pernah berhenti bermain wanita. Aku yang menemaninya semalam dan wanita yang memuaskan Tuan Danur telah ceroboh meninggalkan jejak." Wanita yang aku tengarai adalah Saskia itu menepuk pundakku kemudian mengibaskan tangan dan berlalu pergi.

Aku berdiri mematung, ternyata Mas Danu semenjijikkan itu. Apakah Kak libra mengetahui kenyataan ini?

"Nona, sudah diberikan pada Tuan Danuar?" Tiba-tiba Pak Erik berdiri di hadapannyaku dengan nampan berisi dua gelas kopi.

"Ah belum Pak." Aku mencoba menstabilkan raut wajahku. Pria itu mengangguk.

"Saya minta tolong Bapak saja yang memberikannya. Aku harus segera pulang karena kedua putri kami sedang demam." Aku menyodorkan kertas pada Pak Erik lalu pamit pergi.

"Hati-hati Nona!"

"Kenapa dia ke sini?" Lagi-lagi aku mendengar suara tegas Mas Danu, tetapi aku tahu dia sedang bertanya pada Pak Erik. Jadi aku mengabaikan dan melanjutkan langkah tanpa menolehkan sedikitpun. Mas Danu yang sekarang bukanlah Mas Danu yg dulu. Seharusnya aku mengunci hatiku untuk pria seperti ini.

"Heh!" Aku terkekeh lirih. Menertawakan kebodohanku masih mempertahankan rasa cinta pada pria sialan seperti dia. Harusnya aku membunuh rasa itu dan menguburnya dalam-dalam. Ternyata sesuatu yang berubah tidak akan pernah kembali seperti semula dan harapan hanya tinggal harapan yang tidak akan pernah tergapai.

"Mas Danu aku jijik padamu."

Episodes
1 Bab 1. Menikah dengan Mantan
2 Bab 2. Arti Pernikahan
3 Bab 3. Bukan Perbandingan
4 Bab 4. Pertengkaran
5 Bab 5. Dipaksa
6 Bab 6. Bukan Tuan Putri
7 Bab 7. Sensitif
8 Bab 8. Khawatir
9 Bab 9. Kesal
10 Bab 10. Haruskah Begini?
11 Bab 11. Suami Egois
12 Bab 12. Bertengkar
13 Bab 13. Kecurigaan
14 Bab 14. Jijik
15 Bab 15. Tuduhan
16 Bab 16. Diam
17 Bab 17. Panik
18 Bab 18. Puncak Kecewa
19 Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20 Bab 20. Permintaan Mertua
21 Bab 21. Mengalah
22 Bab 22. Sakit
23 Bab 23. Nekad
24 Bab 24. Keluyuran
25 Bab 25. Ada yang Aneh
26 Bab 26. Kehilangan
27 Bab 27. Berkelahi
28 Bab 28. Pupus
29 Bab 29. Penuh Kepalsuan
30 Bab 30. Akting
31 Bab 31. Sombong
32 Bab 32. Syarat
33 Bab 33. Mencari Tahu
34 Bab 34. Murka
35 Bab 35. Benarkah?
36 Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37 Bab 37. Kejutan
38 Bab 38. Hampir
39 Bab 39. Keputusan
40 Bab 40. Dilema
41 Bab 41. Pilihan
42 Bab 42. Sesal
43 Bab 43. Rantau
44 Bab 44. Rapuh
45 Bab 45. Hampir
46 Bab 46. Rindu
47 Bab 47. Geram
48 Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49 Bab 49. Samuel Pembohong
50 Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51 Bab 51. Apa ini?
52 Bab 52. Pertolongan Samuel
53 Bab 53. Perhatian Samuel
54 Bab 54. Tidak Aman
55 Bab 55. Menyebalkan
56 Bab 56. Topeng
57 Bab 57. Menguji Adrenalin
58 Bab 58. Operasi
59 Bab 59. Kejutan
60 Bab 60. Sudah Terkunci
61 Bab 61. Ketemu
62 Bab 62. Rasa Cemburu
63 Bab 63. Emosi
64 Bab 64. Surprise
65 Bab 65. Karena Masa Lalu
66 Bab 66. Tidak Salah?
67 Bab 67. Mencari Tahu
68 Bab 68. Pengecut
69 Bab 69. Hampir
70 Bab 70. Adu Kekuatan
71 Bab 71. Mencari Titik Terang
72 Bab 72. Buku Harian Libra
73 Bab 73. Petunjuk
74 Bab 74. Cara Satu-satunya
75 Bab 75. Bersyarat
76 Bab 76. Kabar Buruk
77 Bab 77. Sebuah Alasan
78 Bab 78. Berkhianat
79 Bab 79. Bukan Obsesi
80 Bab 80. Akar Masalah
81 Bab 81. Ku mohon
82 Bab 82. Peduli atau Modus?
83 Bab 83. Candu
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Hamil?
86 Bab 86. Istri Anda Aneh
87 Bab 87. Praduga
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90.
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1. Menikah dengan Mantan
2
Bab 2. Arti Pernikahan
3
Bab 3. Bukan Perbandingan
4
Bab 4. Pertengkaran
5
Bab 5. Dipaksa
6
Bab 6. Bukan Tuan Putri
7
Bab 7. Sensitif
8
Bab 8. Khawatir
9
Bab 9. Kesal
10
Bab 10. Haruskah Begini?
11
Bab 11. Suami Egois
12
Bab 12. Bertengkar
13
Bab 13. Kecurigaan
14
Bab 14. Jijik
15
Bab 15. Tuduhan
16
Bab 16. Diam
17
Bab 17. Panik
18
Bab 18. Puncak Kecewa
19
Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20
Bab 20. Permintaan Mertua
21
Bab 21. Mengalah
22
Bab 22. Sakit
23
Bab 23. Nekad
24
Bab 24. Keluyuran
25
Bab 25. Ada yang Aneh
26
Bab 26. Kehilangan
27
Bab 27. Berkelahi
28
Bab 28. Pupus
29
Bab 29. Penuh Kepalsuan
30
Bab 30. Akting
31
Bab 31. Sombong
32
Bab 32. Syarat
33
Bab 33. Mencari Tahu
34
Bab 34. Murka
35
Bab 35. Benarkah?
36
Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37
Bab 37. Kejutan
38
Bab 38. Hampir
39
Bab 39. Keputusan
40
Bab 40. Dilema
41
Bab 41. Pilihan
42
Bab 42. Sesal
43
Bab 43. Rantau
44
Bab 44. Rapuh
45
Bab 45. Hampir
46
Bab 46. Rindu
47
Bab 47. Geram
48
Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49
Bab 49. Samuel Pembohong
50
Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51
Bab 51. Apa ini?
52
Bab 52. Pertolongan Samuel
53
Bab 53. Perhatian Samuel
54
Bab 54. Tidak Aman
55
Bab 55. Menyebalkan
56
Bab 56. Topeng
57
Bab 57. Menguji Adrenalin
58
Bab 58. Operasi
59
Bab 59. Kejutan
60
Bab 60. Sudah Terkunci
61
Bab 61. Ketemu
62
Bab 62. Rasa Cemburu
63
Bab 63. Emosi
64
Bab 64. Surprise
65
Bab 65. Karena Masa Lalu
66
Bab 66. Tidak Salah?
67
Bab 67. Mencari Tahu
68
Bab 68. Pengecut
69
Bab 69. Hampir
70
Bab 70. Adu Kekuatan
71
Bab 71. Mencari Titik Terang
72
Bab 72. Buku Harian Libra
73
Bab 73. Petunjuk
74
Bab 74. Cara Satu-satunya
75
Bab 75. Bersyarat
76
Bab 76. Kabar Buruk
77
Bab 77. Sebuah Alasan
78
Bab 78. Berkhianat
79
Bab 79. Bukan Obsesi
80
Bab 80. Akar Masalah
81
Bab 81. Ku mohon
82
Bab 82. Peduli atau Modus?
83
Bab 83. Candu
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Hamil?
86
Bab 86. Istri Anda Aneh
87
Bab 87. Praduga
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!