Bab 6. Bukan Tuan Putri

Mas Danu ikut masuk setelah berpamitan pada ayah dan ibu. Lalu ayah dan ibu mendekat ke arahku dan memberikan wejangan-wejangan. Aku hanya manggut-manggut saja padahal tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan. Ini seperti seorang siswa yang menerima pelajaran, masuk dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiri. Jika ditanyakan kembali, sudah pasti tidak akan bisa menjawab.

Mobil membelah jalanan, menyusuri jalanan desa kami yang mulai rusak akibat hujan deras yang sering mengguyur. Kata orang-orang, ini karena kepala desa kami tidak mau diaspal. Ya, mana mau lah pak kades diaspal wajahnya. Penduduk di sini memang kocak.

Mas Danu melirikku dari kaca spion, bibirnya mengulas senyum, entah apa yang lucu dari diri ini. Aku menatapnya hingga dia pura-pura melihat kedua putrinya. Percuma, sudah kulihat.

"Lain kali tidak perlu menunjukkan ketidakharmonisan hubungan kita di depan orang lain." Wajahnya kembali datar lalu kembali fokus pada jalanan.

Aku mengerucutkan bibir lalu memalingkan muka. Jadi dia memintaku untuk berakting? Yang benar saja, aku bukan aktris.

"Aku tidak suka kepalsuan," kataku dengan ketus berharap dia tersindir dengan ucapanku.

Nyatanya dari kaca spion mobil kulihat dia tetap terlihat santai. "Kata-kata itu lebih pantas untukmu, bukan?" tanyanya dengan menyeringai.

Aku tidak menjawab, terserah dia mau menilai seperti apa. Percuma menjelaskan diri kita seperti apa pada orang yang hanya bisa menilai dari sisi keburukan. Hanya membuang-buang energi saja.

Sepanjang perjalanan kami saling diam, hanya bunyi mesin mobil dan desau angin yang terdengar lembut di telinga. Aku melirik kedua bayi yang masih tertidur dengan pulas. Mereka seakan hidup tanpa beban, bagaimana kalau suatu saat mereka tahu bahwa ibu mereka bahkan sudah meninggal saat melahirkan mereka? Tidak bisa terbayangkan ekspresi sedih mereka di masa depan.

Mobil sudah melaju jauh meninggalkan kampung halamanku sedangkan rumah Mas Danu masih jauh juga, sementara kedua bayi tidak bisa diajak bicara karena selalu tidur. Aku merasa mulai bosan. Jadi, aku menurunkan kursi mobil lalu berbaring dengan nyaman.

Di luar cuaca terlihat gelap dan hawa udara terasa adem menyentuh kulit. Aku bisa menebak sebentar lagi akan turun hujan. Jadi, aku menutup mata, bersamaan dengan itu hujan benar-benar turun. Udara semakin dingin dan itu membuat kantukku kembali menyerang. Tidak ada salahnya, kan tidur di mobil? Toh tidak ada aktivitas apapun yang bisa aku lakukan di dalam kendaraan ini kecuali hanya diam seraya melihat pemandangan luar.

"Mas, kalau sudah sampai, bangunkan aku ya!" kataku pada Mas Danu. Dia hanya diam seperti orang bisu.

"Dia dengar nggak sih? Apa telinganya bermasalah?" gumamku kesal.

"Kamu kira aku pembantumu yang bisa kau suruh-suruh?!" katanya dengan angkuh.

Astaga! Bicaranya ... aku hanya bisa mengelus dada lalu menghela napas berat. Aku merasa dia bukan Mas Danuku dulu. Ya, dia memang bukan Mas Danuku, tapi dia Mas Danunya Kak Libra.

"Aku juga tidak tuli," lanjutnya dengan nada emosi.

"Bedakan antara orang minta tolong dengan memerintah," ucapku dengan menekan rasa kesal. Dia menatapku dingin, lebih dingin dari hawa di luar.

"Sama saja."

Aku menggeleng lalu memejam kembali. Aku rasa duniaku sudah berubah, jadi lebih baik aku banyak-banyak menutup mata kalau tidak ingin tekanan darahku naik drastis.

Hujan masih belum berhenti, hawanya yang dingin dan menusuk tulang memang cocok untuk tidur hingga aku mudah terlelap. Entah berapa jam aku tertidur di mobil Mas Danu, aku baru membuka mata tatkala tangis kedua keponakanku pecah. Aku membuka mata dengan limbung. Kepala terasa ingin pecah karena dibangunkan dengan paksa oleh keadaan. Segera aku mendudukkan posisi kursi mobil seperti semula.

Aku panik, bingung akan menangani siapa dulu diantara keduanya. Biasanya bayi kembar ini tidak pernah menangis bersamaan. Kalau pun iya, pasti ada selang waktu meskipun hanya beberapa menit. Pada siapa aku akan meminta tolong sementara ayah dari kedua bayi itu sedang menyetir?

"Buatkan mereka susu!" Mas Danu memberikan solusi saat aku tidak bisa mengambil keputusan akan menggendong yang mana terlebih dahulu. Aku mengangguk lalu dengan cepat membuat susu untuk keduanya. Tangan kananku memegang botol dan mengarahkan ke mulut Lilac sedangkan tangan kiriku pada Lula. Mereka menyedot botol susu dengan kuat, sepertinya mereka sudah sangat kelaparan.

Hatiku menghangat melihat mereka menyunggingkan senyum polosnya setelah masing-masing susu dalam botol tandas. Senyuman mereka membuatku lupa bahwa kebahagiaan mereka harus ditukar dengan kebahagiaanku.

Saat seperti ini aku meraih Lula terlebih dahulu dan menggendongnya dengan posisi duduk.

"Punggungmu panas Sayang," kataku sambil mengangkat Lula lebih tinggi lalu meniup punggung bayi itu. Menyesal tadi aku membiarkan mereka tetap berada dalam troli sepanjang perjalanan. Setelah punggung bayi tersebut lebih dingin aku meletakkan kembali dan gantian mengambil Lilac.

"Maafkan Tante ya Sayang, Tante pikir karena di luar hujan tubuhmu nggak bakal panas." Aku memandang lekat mata lebarnya yang berbinar. Dia menggeliat, lucu, hingga membuat senyumku terbit.

"Mama bukan Tante!" Mas Danu menekan kata-katanya seakan itu perintah yang tidak boleh dilanggar. Aku hanya diam.

"Tujuanku menikahimu hanya agar dia nggak kehilangan sosok mama," katanya kemudian. Sesungguhnya kata-kata itu biasa saja, tetapi kata 'hanya' membuatku sensitif dan hatiku terluka.

"Aku paham," ucapku seraya menyembunyikan kepedihan di hati. Aku kembali meletakkan bayi di tanganku karena tenagaku seolah melemah. Aku memandang ke depan pada kendaraan yang berlalu lalang dengan pikiran tidak menentu.

"Sudah sampai."

Samar aku mendengar perkataan Mas Danu setelah sekian lama aku merenung, bahkan aku dapat melihat adik ipar dan mertuaku berjalan ke arah mobil dengan payung di tangan. Mereka buru-buru mengeluarkan kedua bayi dari dalam mobil dan membawanya ke dalam rumah.

Namun, pikiranku tidak sinkron dengan apa yang aku lihat dan kudengar. Aku hanya membeku di tempat masih dalam keadaan melamun seraya memandang tetesan air hujan yang jatuh semakin deras.

"Turunlah! Kamu bukan Tuan putri yang harus dijemput dengan payung. Aku tidak seromantis itu, terlebih aku bukan ojek payung." Mas Danu keluar dari mobil dan membuka sebuah payung untuk dirinya sendiri, lalu pergi meninggalkanku di dalam mobil.

Aku tersentak lalu menatap Mas Danu dengan sinis. Setelah itu aku keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan kasar.

Tak peduli hujan yang masih lebat, aku menembusnya dan berlari ke arah rumah menyusul adik dan ibu Mas Danu. Saat aku melewati Mas Danu aku mendekat pada sebuah genangan air lalu kuhentakkan kaki hingga air terpercik ke baju Mas Danu.

"Rasain kamu Mas, aku basah kamu juga harus basah." Aku tersenyum puas.

Lagipula siapa suruh jarak dari garasi ke rumah tidak ada atapnya.

"Lintang!" Mas Danu berteriak dengan tangan terkepal.

Terpopuler

Comments

Siti Aminah

Siti Aminah

cerita yg menarik...aku suka

2024-11-19

0

Iges Satria

Iges Satria

seru..seru...ada perlawanan. ga mau ditindas /Good/

2024-10-11

0

Rahma Inayah

Rahma Inayah

spt kucing dan tikus gk pernh akur.penasrn knp sampai danu segitunya benci ..kesalah fahaman apa yg buat danu sampi gk bs maafin

2024-08-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Menikah dengan Mantan
2 Bab 2. Arti Pernikahan
3 Bab 3. Bukan Perbandingan
4 Bab 4. Pertengkaran
5 Bab 5. Dipaksa
6 Bab 6. Bukan Tuan Putri
7 Bab 7. Sensitif
8 Bab 8. Khawatir
9 Bab 9. Kesal
10 Bab 10. Haruskah Begini?
11 Bab 11. Suami Egois
12 Bab 12. Bertengkar
13 Bab 13. Kecurigaan
14 Bab 14. Jijik
15 Bab 15. Tuduhan
16 Bab 16. Diam
17 Bab 17. Panik
18 Bab 18. Puncak Kecewa
19 Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20 Bab 20. Permintaan Mertua
21 Bab 21. Mengalah
22 Bab 22. Sakit
23 Bab 23. Nekad
24 Bab 24. Keluyuran
25 Bab 25. Ada yang Aneh
26 Bab 26. Kehilangan
27 Bab 27. Berkelahi
28 Bab 28. Pupus
29 Bab 29. Penuh Kepalsuan
30 Bab 30. Akting
31 Bab 31. Sombong
32 Bab 32. Syarat
33 Bab 33. Mencari Tahu
34 Bab 34. Murka
35 Bab 35. Benarkah?
36 Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37 Bab 37. Kejutan
38 Bab 38. Hampir
39 Bab 39. Keputusan
40 Bab 40. Dilema
41 Bab 41. Pilihan
42 Bab 42. Sesal
43 Bab 43. Rantau
44 Bab 44. Rapuh
45 Bab 45. Hampir
46 Bab 46. Rindu
47 Bab 47. Geram
48 Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49 Bab 49. Samuel Pembohong
50 Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51 Bab 51. Apa ini?
52 Bab 52. Pertolongan Samuel
53 Bab 53. Perhatian Samuel
54 Bab 54. Tidak Aman
55 Bab 55. Menyebalkan
56 Bab 56. Topeng
57 Bab 57. Menguji Adrenalin
58 Bab 58. Operasi
59 Bab 59. Kejutan
60 Bab 60. Sudah Terkunci
61 Bab 61. Ketemu
62 Bab 62. Rasa Cemburu
63 Bab 63. Emosi
64 Bab 64. Surprise
65 Bab 65. Karena Masa Lalu
66 Bab 66. Tidak Salah?
67 Bab 67. Mencari Tahu
68 Bab 68. Pengecut
69 Bab 69. Hampir
70 Bab 70. Adu Kekuatan
71 Bab 71. Mencari Titik Terang
72 Bab 72. Buku Harian Libra
73 Bab 73. Petunjuk
74 Bab 74. Cara Satu-satunya
75 Bab 75. Bersyarat
76 Bab 76. Kabar Buruk
77 Bab 77. Sebuah Alasan
78 Bab 78. Berkhianat
79 Bab 79. Bukan Obsesi
80 Bab 80. Akar Masalah
81 Bab 81. Ku mohon
82 Bab 82. Peduli atau Modus?
83 Bab 83. Candu
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Hamil?
86 Bab 86. Istri Anda Aneh
87 Bab 87. Praduga
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90.
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1. Menikah dengan Mantan
2
Bab 2. Arti Pernikahan
3
Bab 3. Bukan Perbandingan
4
Bab 4. Pertengkaran
5
Bab 5. Dipaksa
6
Bab 6. Bukan Tuan Putri
7
Bab 7. Sensitif
8
Bab 8. Khawatir
9
Bab 9. Kesal
10
Bab 10. Haruskah Begini?
11
Bab 11. Suami Egois
12
Bab 12. Bertengkar
13
Bab 13. Kecurigaan
14
Bab 14. Jijik
15
Bab 15. Tuduhan
16
Bab 16. Diam
17
Bab 17. Panik
18
Bab 18. Puncak Kecewa
19
Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20
Bab 20. Permintaan Mertua
21
Bab 21. Mengalah
22
Bab 22. Sakit
23
Bab 23. Nekad
24
Bab 24. Keluyuran
25
Bab 25. Ada yang Aneh
26
Bab 26. Kehilangan
27
Bab 27. Berkelahi
28
Bab 28. Pupus
29
Bab 29. Penuh Kepalsuan
30
Bab 30. Akting
31
Bab 31. Sombong
32
Bab 32. Syarat
33
Bab 33. Mencari Tahu
34
Bab 34. Murka
35
Bab 35. Benarkah?
36
Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37
Bab 37. Kejutan
38
Bab 38. Hampir
39
Bab 39. Keputusan
40
Bab 40. Dilema
41
Bab 41. Pilihan
42
Bab 42. Sesal
43
Bab 43. Rantau
44
Bab 44. Rapuh
45
Bab 45. Hampir
46
Bab 46. Rindu
47
Bab 47. Geram
48
Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49
Bab 49. Samuel Pembohong
50
Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51
Bab 51. Apa ini?
52
Bab 52. Pertolongan Samuel
53
Bab 53. Perhatian Samuel
54
Bab 54. Tidak Aman
55
Bab 55. Menyebalkan
56
Bab 56. Topeng
57
Bab 57. Menguji Adrenalin
58
Bab 58. Operasi
59
Bab 59. Kejutan
60
Bab 60. Sudah Terkunci
61
Bab 61. Ketemu
62
Bab 62. Rasa Cemburu
63
Bab 63. Emosi
64
Bab 64. Surprise
65
Bab 65. Karena Masa Lalu
66
Bab 66. Tidak Salah?
67
Bab 67. Mencari Tahu
68
Bab 68. Pengecut
69
Bab 69. Hampir
70
Bab 70. Adu Kekuatan
71
Bab 71. Mencari Titik Terang
72
Bab 72. Buku Harian Libra
73
Bab 73. Petunjuk
74
Bab 74. Cara Satu-satunya
75
Bab 75. Bersyarat
76
Bab 76. Kabar Buruk
77
Bab 77. Sebuah Alasan
78
Bab 78. Berkhianat
79
Bab 79. Bukan Obsesi
80
Bab 80. Akar Masalah
81
Bab 81. Ku mohon
82
Bab 82. Peduli atau Modus?
83
Bab 83. Candu
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Hamil?
86
Bab 86. Istri Anda Aneh
87
Bab 87. Praduga
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!