Bab 5. Dipaksa

Seharian aku hanya berdiam diri di dalam kamar. Lula dan Lilac dijaga oleh ibu. Biarkan saja, suasana hatiku sedang buruk dan aku tidak bisa fokus memperhatikan keduanya.

Siang hari ibu menemuiku di kamar dan dia kembali meminta maaf seperti saat sebelum dia memohon agar aku mau menikah dengan Mas Danu. Aku mengatakan aku tidak apa-apa walaupun sebenarnya hatiku tidak dalam keadaan baik-baik saja.

"Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini? Aku pikir jalan yang kami tempuh ini adalah cara menebus kesalahan kami padamu selain agar kedua bayi itu juga dirawat oleh kerabat sendiri," ujar ibu seraya bersimpuh di kakiku dengan tampang sedih.

Ibu paling tahu perasaanku pada Mas Danu dulu, tetapi ia tetap mendukung pernikahannya dengan Kak Libra. Oleh karena itu dia selalu merasa bersalah bahkan sebelum Kak Libra pergi dari dunia ini. Aku tahu ibu dilema, aku dan Kak Libra sama-sama putrinya dan sama-sama mencintai lelaki yang sama. Diakui atau tidak, pasti dia merasa sedih saat salah satu putrinya harus mengalah. Ah tidak, aku tidak mengalah tetapi aku kalah, itu adalah keputusan Mas Danu sendiri.

"Aku bahagia kok Bu, aku hanya belum terbiasa dengan suami apalagi langsung dapat dua putri. Aku butuh beradaptasi," ucapku beralasan seraya membungkuk dan membantu agar ibu berdiri. Tidak pantas seorang ibu sampai berlutut seperti itu apalagi pada anaknya sendiri.

"Pergilah Bu, Lintang ingin istirahat." Terpaksa aku mengusir ibu.

Ibu terdiam, aku menjatuhkan tubuh ke belakang lalu memejamkan mata, dengan begini air mata yang ingin keluar bisa aku tahan. Aku tidak ingin ibu melihatku menangis agar dia tidak semakin merasa bersalah. Walaupun kadang aku juga kesal pada ibu, namun melihat raut wajah sedihnya aku tidak tega. Bagaimanapun, dia adalah wanita yang sudah melahirkanku, mempertaruhkan nyawanya demi orang seperti diriku ini.

Dalam terpejam telingaku menangkap langkah kaki menjauh kemudian pintu ditutup. Aku segera membuka mata dan air mata yang sedari tadi kutahan langsung lolos begitu saja. Aku membiarkan pipiku basah dan hawa dingin menyentuhnya.

Entah berapa lama aku menangis hingga akhirnya aku tertidur. Aku baru terbangun ketika ibu membangunkan untuk makan siang. Dengan langkah gontai aku turun ke lantai bawah mengikuti langkah ibu yang turun terlebih dulu. Tak peduli Mas Danu sudah duduk dan menatap mataku yang mungkin saja sembab, aku mengabaikannya.

Di meja makan hanya ada kami bertiga sebab ayah sudah pergi ke sawah untuk mengawasi para buruh tani yang menggarap sawah kami. Jadi aku makan tanpa mempedulikan siapapun. Ibu tidak menegur meskipun aku tidak melayani makan Mas Danu. Mungkin menahan diri karena tidak enak melihat kondisi hatiku seperti ini.

"Bu besok aku akan membawa kedua cucu ibu dan juga Lintang. Aku sudah harus kembali bekerja," ucap Mas Danu seraya menatap diriku. Aku melirik dengan ekor mata, tetapi tidak merespon.

"Ya, aku titip Lintang ya Nak Danu," ucap ibu. Sepertinya dia mengkhawatirkanku. Seharusnya ibu menitipkan kedua cucunya saja, aku bisa menjaga diri.

"Pasti Bu. Lintang akan baik-baik saja bersamaku," ucapnya dengan begitu percaya diri. Aku tersenyum kecut. Baik-baik saja katanya? Itu hanya ada dalam mimpi selama sikapnya tidak mau berubah.

Namun, aku mencoba acuh lalu kembali melanjutkan makan meskipun terasa hambar di lidah. Setelah makan, seperti biasa aku kembali ke kamar. Aku mengurung diri sampai malam dan hanya keluar untuk makan malam.

***

Pagi-pagi sekali Mas Danu melangkah masuk ke dalam kamarku. Aku terbangun mendengar hentakan sepatu.

"Jam berapa ini? Mengapa belum bangun?" Ia duduk ditepi ranjang. Ketika aku membuka mata, netranya yang tajam langsung menyambut dan seolah menembus retina mataku.

"Cepat mandi sana!"

"Biarkan saja, rumah-rumahku sendiri, kenapa orang lain yang sewot?" ucapku sambil mengucek mata lalu duduk dengan kasar. "Aku masih malas mandi."

"Kamu tidak berubah ya? Tetap keras kepala seperti dulu."

"Huft!" Aku menghela napas seraya merentangkan kedua lenganku yang kaku.

"Kamu ini seorang istri, punya tanggung jawab dalam keluarga. Kalau kerjaannya tidur terus, aku yakin kamu nggak bisa berkembang dan tidak bisa menjadi istri yang baik."

"Ya memang, cuma Kak Libra yang bisa menjadi istri yang baik. Kalau kamu nggak suka menikah denganku, ceraikan saja aku dan katakan pada ayah bahwa kamu tidak mencintaiku dan tidak suka dengan pernikahan ini." Aku melempar selimut lalu meninggalkannya masuk kamar mandi.

"Lima belas menit, aku tunggu di bawah!" Aku mendengar titahnya saat menutup kamar mandi.

"Siapa yang mau ikut denganmu? Aku berubah pikiran," gumamku seraya mengguyur tubuh dengan air. Aku berlama-lama di kamar mandi karena malas bertemu dengannya.

"Lintang lima belas menit sudah berlalu, apa kamu mau menghabiskan air satu sumur? Cepatlah aku harus bekerja hari ini!"

Astaga! Suara itu terdengar menjengkelkan sekali. Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang melekat di tubuh.

"Pergi sana, nggak usah menungguku!" usirku.

"Kamu ...."

Sebelum melanjutkan ucapannya aku sudah memotong perkataan Mas Danu. "Aku nggak jadi ikut," putusku.

"Apa?!" Dia nampak terkejut sedangkan aku berjalan santai ke arah lemari lalu membukanya untuk mencari baju ganti.

Namun, mata ini terbelalak melihat isi lemariku yang tinggal sedikit. "Kemana baju-bajuku?" tanyaku di dalam hati.

"Sudah kemasukkan koper dan sudah ada dalam mobil," jawabnya dengan tatapan datar. Mungkin dia cenayang yang bisa menebak isi pikiranku sehingga tahu apa yang menjadi pertanyaanku.

"Apa kamu memasukkan sendiri?" tanyaku dengan panik.

"Ya," jawabnya singkat.

"Gila," batinku, lalu aku terduduk lemas di atas kasur. Aku syok membayangkan dia menyentuh semua pakaian dalamku. Mas Danu benar-benar keterlaluan.

"Ada yang salah? Cepat ganti baju dan pergi dengan kami!"

"Nggak, aku nggak mau ikut," kekeuhku.

"Bagaimana kalau aku menjamin kalian tidak akan bertemu Lula dan Lilac lagi?" Dia mengancamku.

"Aku tidak peduli, toh dia bukan anakku dan ada ayahnya, di samping mereka," ucapku dengan cuek. Aku yakin Mas Danu hanya menakut-nakuti.

Dia menatapku sinis. "Yasudah," ucapnya lalu melenggang pergi.

Hatiku mendadak tidak enak. Bagaimana kalau apa yang dikatakan Mas Danu menjadi kenyataan? Bagaimana perasaan ibu jika tidak diperbolehkan melihat cucunya?" Aku berdiri dengan gelisah.

Namun, aku enggan ikut bersama Mas Danu. Jika di rumahku saja dia selalu menyakiti hatiku, bagaimana jika aku tinggal di rumahnya?" Aku mematung, bingung harus menentukan pilihan.

Di saat aku kebingungan, Mas Danu kembali dengan langkah cepat. "Tenyata kamu lebih suka dipaksa," ucapnya seraya meraih tubuhku dan menggendongnya.

"Mas Danu, lepaskan aku!" Aku memukul bahu Mas Danu dan memberontak dalam gendongan. Sayangnya, aku tidak bisa melawan tubuhnya yang kekar.

"Mas Danu!" sentakku dengan amarah tapi dia mengabaikan seruanku. Aku semakin emosi ketika ayah dan ibu hanya melihat kami tanpa berinisiatif menolongku.

"Lepas! Aku bisa jalan sendiri!" Aku terus memukul, tetapi bahunya yang kokoh tidak terguncang sedikitpun.

"Mas Danu!" Aku berteriak ketika melihat beberapa tetangga mendekat ke arahku. Tetap saja tidak ada respon. Mungkin dia menganggap suaraku seperti kicauan burung di pagi hari yang harus dinikmati.

"Kenapa tuh Mas Danu?" Orang-orang heran melihat kami.

"Nggak apa-apa Mbak, dia lagi manja aja," sahut Mas Danu, mataku langsung membelalak sempurna.

"Cie! Cie!" Orang-orang menyoraki kami. Mas Danu memasukkan tubuhku ke dalam mobil.

"Dasar sinting!" umpatku lalu bersandar pada kursi mobil.

Terpopuler

Comments

Rossida Sity

Rossida Sity

udah pke baju blm itu td😅😅

2024-12-23

0

Iges Satria

Iges Satria

sama² keras kepala nih wkwkwk

2024-10-11

0

Happy Kids

Happy Kids

egois bgt. minta enak nya doang

2024-10-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Menikah dengan Mantan
2 Bab 2. Arti Pernikahan
3 Bab 3. Bukan Perbandingan
4 Bab 4. Pertengkaran
5 Bab 5. Dipaksa
6 Bab 6. Bukan Tuan Putri
7 Bab 7. Sensitif
8 Bab 8. Khawatir
9 Bab 9. Kesal
10 Bab 10. Haruskah Begini?
11 Bab 11. Suami Egois
12 Bab 12. Bertengkar
13 Bab 13. Kecurigaan
14 Bab 14. Jijik
15 Bab 15. Tuduhan
16 Bab 16. Diam
17 Bab 17. Panik
18 Bab 18. Puncak Kecewa
19 Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20 Bab 20. Permintaan Mertua
21 Bab 21. Mengalah
22 Bab 22. Sakit
23 Bab 23. Nekad
24 Bab 24. Keluyuran
25 Bab 25. Ada yang Aneh
26 Bab 26. Kehilangan
27 Bab 27. Berkelahi
28 Bab 28. Pupus
29 Bab 29. Penuh Kepalsuan
30 Bab 30. Akting
31 Bab 31. Sombong
32 Bab 32. Syarat
33 Bab 33. Mencari Tahu
34 Bab 34. Murka
35 Bab 35. Benarkah?
36 Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37 Bab 37. Kejutan
38 Bab 38. Hampir
39 Bab 39. Keputusan
40 Bab 40. Dilema
41 Bab 41. Pilihan
42 Bab 42. Sesal
43 Bab 43. Rantau
44 Bab 44. Rapuh
45 Bab 45. Hampir
46 Bab 46. Rindu
47 Bab 47. Geram
48 Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49 Bab 49. Samuel Pembohong
50 Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51 Bab 51. Apa ini?
52 Bab 52. Pertolongan Samuel
53 Bab 53. Perhatian Samuel
54 Bab 54. Tidak Aman
55 Bab 55. Menyebalkan
56 Bab 56. Topeng
57 Bab 57. Menguji Adrenalin
58 Bab 58. Operasi
59 Bab 59. Kejutan
60 Bab 60. Sudah Terkunci
61 Bab 61. Ketemu
62 Bab 62. Rasa Cemburu
63 Bab 63. Emosi
64 Bab 64. Surprise
65 Bab 65. Karena Masa Lalu
66 Bab 66. Tidak Salah?
67 Bab 67. Mencari Tahu
68 Bab 68. Pengecut
69 Bab 69. Hampir
70 Bab 70. Adu Kekuatan
71 Bab 71. Mencari Titik Terang
72 Bab 72. Buku Harian Libra
73 Bab 73. Petunjuk
74 Bab 74. Cara Satu-satunya
75 Bab 75. Bersyarat
76 Bab 76. Kabar Buruk
77 Bab 77. Sebuah Alasan
78 Bab 78. Berkhianat
79 Bab 79. Bukan Obsesi
80 Bab 80. Akar Masalah
81 Bab 81. Ku mohon
82 Bab 82. Peduli atau Modus?
83 Bab 83. Candu
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Hamil?
86 Bab 86. Istri Anda Aneh
87 Bab 87. Praduga
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90.
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1. Menikah dengan Mantan
2
Bab 2. Arti Pernikahan
3
Bab 3. Bukan Perbandingan
4
Bab 4. Pertengkaran
5
Bab 5. Dipaksa
6
Bab 6. Bukan Tuan Putri
7
Bab 7. Sensitif
8
Bab 8. Khawatir
9
Bab 9. Kesal
10
Bab 10. Haruskah Begini?
11
Bab 11. Suami Egois
12
Bab 12. Bertengkar
13
Bab 13. Kecurigaan
14
Bab 14. Jijik
15
Bab 15. Tuduhan
16
Bab 16. Diam
17
Bab 17. Panik
18
Bab 18. Puncak Kecewa
19
Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20
Bab 20. Permintaan Mertua
21
Bab 21. Mengalah
22
Bab 22. Sakit
23
Bab 23. Nekad
24
Bab 24. Keluyuran
25
Bab 25. Ada yang Aneh
26
Bab 26. Kehilangan
27
Bab 27. Berkelahi
28
Bab 28. Pupus
29
Bab 29. Penuh Kepalsuan
30
Bab 30. Akting
31
Bab 31. Sombong
32
Bab 32. Syarat
33
Bab 33. Mencari Tahu
34
Bab 34. Murka
35
Bab 35. Benarkah?
36
Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37
Bab 37. Kejutan
38
Bab 38. Hampir
39
Bab 39. Keputusan
40
Bab 40. Dilema
41
Bab 41. Pilihan
42
Bab 42. Sesal
43
Bab 43. Rantau
44
Bab 44. Rapuh
45
Bab 45. Hampir
46
Bab 46. Rindu
47
Bab 47. Geram
48
Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49
Bab 49. Samuel Pembohong
50
Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51
Bab 51. Apa ini?
52
Bab 52. Pertolongan Samuel
53
Bab 53. Perhatian Samuel
54
Bab 54. Tidak Aman
55
Bab 55. Menyebalkan
56
Bab 56. Topeng
57
Bab 57. Menguji Adrenalin
58
Bab 58. Operasi
59
Bab 59. Kejutan
60
Bab 60. Sudah Terkunci
61
Bab 61. Ketemu
62
Bab 62. Rasa Cemburu
63
Bab 63. Emosi
64
Bab 64. Surprise
65
Bab 65. Karena Masa Lalu
66
Bab 66. Tidak Salah?
67
Bab 67. Mencari Tahu
68
Bab 68. Pengecut
69
Bab 69. Hampir
70
Bab 70. Adu Kekuatan
71
Bab 71. Mencari Titik Terang
72
Bab 72. Buku Harian Libra
73
Bab 73. Petunjuk
74
Bab 74. Cara Satu-satunya
75
Bab 75. Bersyarat
76
Bab 76. Kabar Buruk
77
Bab 77. Sebuah Alasan
78
Bab 78. Berkhianat
79
Bab 79. Bukan Obsesi
80
Bab 80. Akar Masalah
81
Bab 81. Ku mohon
82
Bab 82. Peduli atau Modus?
83
Bab 83. Candu
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Hamil?
86
Bab 86. Istri Anda Aneh
87
Bab 87. Praduga
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!