Bab 10. Haruskah Begini?

Dug!

"Aduh!" Aku meringis ketika kepalaku terbentur kepala Mas Danu oleh sebab gerakan kami yang sembarangan tadi.

pletak!

Aku membelalak merasakan sentilan di keningku. Bukannya meminta maaf Mas Danu malah semakin memberikan rasa sakit. Dasar suami laknat! Aku mengusap kening dan kepalaku sambil memijitnya pelan.

"Kamu mengutukku?" tanyanya dengan pandangan tajam. Sepertinya Mas Danu punya bakat menjadi cenayang karena tebakannya benar. Aku balas menatapnya dengan angkuh.

"Oek ...."

Pandangan kami langsung teralihkan pada Lula yang menangis sambil mencengkram pinggiran ranjang. Dasar kami, dalam kondisi seperti ini masih sempat-sempatnya berdebat. Aku langsung menangkap Lula dan menggendongnya. Bayi tersebut tidak langsung tenang dalam gendonganku. Dia masih menangis, mungkin dia juga memiliki rasa takut dengan apa yang terjadi padanya tadi.

"Mas buatkan susu dong!" pintaku sambil menimang-nimang Lula agar tangisannya mau berhenti.

"Buat saja sendiri, apa gunanya aku mencari ibu untuknya kalau masih merepotkanku?" Mas Danu keluar dari kamar meninggalkan diriku yang tercenung. Sebenarnya dia sayang tidak sih sama putrinya? Aku mendengus kesal lalu membuatkan susu untuk kedua bayi, barangkali sebentar lagi Lilac bangun juga.

Setelah menyedot susunya sampai habis Lula tertidur dalam gendonganku. Dengan pelan aku menaruhnya di atas keranjang bayi. Setelah itu aku membangunkan Lilac dan gantian memberikannya susu. Setelah kedua bayi diletakkan di dalam keranjang bayi, aku keluar dan menutup pintunya dengan pelan.

Ketika menuruni tangga perutku keroncongan. Aku langsung mengingat bahwa diriku belum makan. Segera aku bergegas ke meja makan. Sampai di sana aku tercengang melihat Mas Danu sudah duduk dan makan dengan lahap.

"Seperti orang yang tidak makan seharian saja," lirihku. Mas Danu melirikku sinis, meneguk segelas air putih kemudian berdiri dan pergi.

Aku menghela napas kemudian duduk seolah tidak terjadi ada apa-apa. Saking laparnya aku langsung menyantap hidangan tanpa pilih-pilih lauk, bahkan sampai lupa berdoa. Selesai makan, aku membereskan piring kotor di meja makan. Saat itu aku merasa ada yang aneh.

"Bukannya Mas Danu sudah menjadi vegetarian? Kenapa ayam bumbunya nggak ada?" Aku menggaruk kepala lalu pergi ke dapur. Selesai aku masuk kamar, di sana Mas Danu sudah tertidur pulas masih dengan kaos kaki di kaki kanan sedangkan perban di kaki kiri.

"Ya ampun, kebiasaan buruknya masih kebawa sampai sekarang." Aku mengacak rambut lalu berjongkok di depan ranjang dan melepaskan kaos kaki Mas Danu. Aku menatap wajahnya yang tampan, tidak ada tanda-tanda pria itu akan bangun. Ya, sepertinya tidur Mas Danu sangat pulas.

Aku beralih pada kaki kirinya dan menatap lekat pada perban dengan warna yang sedikit berubah. Ternyata Mas Danu tidak berbohong, ada nanah yang merembes pada perban. Terbersit rasa sesal di dalam hati karena telah menginjak kakinya tadi.

"Maafkan aku Mas," lirihku dengan perasaan bersalah. Aku memegang lembut kakinya dan memeriksa lalu berdiri mencari kotak P3K. Aku kembali meraih kaki Mas Danu dan membuka perban dengan pelan.

Mas Danu meringis. Aku menghentikan aktivitasku sebentar. Setelah pria itu kembali mendengkur aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Setelah perban diganti baru aku bernapas lega.

Namun, aku bingung harus tidur dimana. Bukankah sebelumnya Mas Danu tidak ingin tidur sekamar denganku? Tapi tadi pagi dia malah meminta Gina mengantarku ke kamar ini. Setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku memutuskan tidur di kamar keponakanku saja.

Ketika aku hendak pergi, sebuah tangan langsung menarikku hingga aku terjatuh di ranjang.

"Astaga Mas Danu, apa-apaan sih?" Aku memekik kesal, tetapi Mas Danu mengabaikan ucapanku. Aku menoleh dan ternyata pria itu masih dengan kondisi tertidur. Aku mengerutkan alis. Bagaimana bisa hal ini terjadi?

Aku berusaha bangkit kembali tetapi, tidak bisa karena Mas Danu langsung memeluk erat tubuhku hingga bergerak sedikitpun aku tidak bisa.

"Mas lepaskan aku!" Aku menarik tangan Mas Danu agar terlepas dari tubuhku, sayangnya aku tidak bisa. Seberapa kuat sih tenaga orang tidur? Jangan-jangan dia hanya pura-pura tertidur. Aku melambaikan tangan di depan wajahnya, tetapi tidak ada respon yang menandakan dia terbangun.

Aku memandang lekat wajah Mas Danu. Wajah lelahnya membuatku mengambil kesimpulan sendiri. Sepertinya dia menganggap aku ini hanya sebuah bantal guling. Ya sudahlah aku pasrah saja, lagipula dia ini suamiku, jadi tidak salah kan kalau kami tidur dalam satu ranjang?

Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur, pelukan Mas Danu membuatku sesak napas walaupun tidak dapat aku pungkiri ada kehangatan dan rasa nyaman yang membersamai.

Jam berdentang 4 kali menandakan hari sudah menjelang pagi. Aku kembali mengurai pelukan Mas Danu. Kali ini pelukan Mas Danu sudah tidak seerat semalam. Aku duduk sebentar karena kepala terasa pusing akibat semalaman tidak tidur. Setelah sedikit lebih enak aku berdiri dan hendak melangkah pergi.

"Jangan pergi!" Kembali Mas Danu meraih tanganku. Aku menghentikan langkah dan menoleh. Ternyata masih sama, mata Mas Danu masih terpejam. Aku tersenyum, melihat bagaimana dia tidak ingin lepas dariku. Kalau seperti ini kami seolah seperti pengantin baru yang sebenarnya. Apa ini pertanda baik untuk hubungan kami ke depannya?

"Mas aku mau keluar, ini sudah pagi," ucapku.

"Libra! Jangan pergi! Temani aku di sini! Aku rela tidak membuka mata agar aku selalu bisa melihatmu. Kalau bisa aku akan tidur selamanya. Kenapa kamu tega meninggalkan aku dan anak-anak?"

Darah di dalam tubuhku langsung berdesir. Sesak kembali menyeruak ke dalam dada. Apa maksud Mas Danu? Apa dia tidak mau bangun karena takut tidak bisa melihat Kak Libra lagi? Atau dia memelukku karena bermimpi tidur seranjang dengan Kak Libra?

Aku menekan dada, rupanya aku terlalu berekspektasi, ujung-ujungnya aku harus menelan kekecewaan karena terlalu percaya diri. Aku menatap foto kak Libra dengan Mas Danu yang tersenyum lebar di sebelah ranjang, dan aku langsung tersadar posisiku. Hanya istri di atas kertas. Ah aku salah, lebih tepatnya aku hanya seorang pengasuh untuk anak-anak mereka.

Aku menepis tangan Mas Danu lalu bergegas keluar dari kamar dan menutup pintu. Di luar, aku menyandarkan bahu pada daun pintu dengan mata memejam. Bulir bening yang kutahan akhirnya kembali lolos dari sudut mataku. "Oh Tuhan kenapa sesakit ini? Haruskah begini jika menikah dengan orang yang ditinggal mati istrinya?"

Aku menyeka air mata lalu berusaha tegar untuk menghadapi keadaan seperti ini walaupun sebenarnya aku tidak sekuat itu.

"Lintang!" Di dalam Mas Danu memanggilku, tetapi aku sudah teramat kesal sehingga enggan untuk menjawab panggilannya. Tadinya aku ingin memasak ke dapur, tetapi setelah suasana hatiku berubah buruk aku tidak ingin melakukan apapun. Aku langsung bergegas cepat menuju kamar si kembar. Melihat mereka masih tertidur pulas, aku langsung merebahkan diri di atas ranjang.

Terpopuler

Comments

Siti Aminah

Siti Aminah

jgn2 Danu emang tau itu Lintang tp dia sengaja nyebut Libra...biar lintang skt hati

2024-11-19

1

Iges Satria

Iges Satria

beneran meri du libra atau lintang tp pura² saja biar ga ketahuan

2024-10-11

1

Eva Karmita

Eva Karmita

nyesek nya diposisi lintang 😭😭💔💔

2024-10-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Menikah dengan Mantan
2 Bab 2. Arti Pernikahan
3 Bab 3. Bukan Perbandingan
4 Bab 4. Pertengkaran
5 Bab 5. Dipaksa
6 Bab 6. Bukan Tuan Putri
7 Bab 7. Sensitif
8 Bab 8. Khawatir
9 Bab 9. Kesal
10 Bab 10. Haruskah Begini?
11 Bab 11. Suami Egois
12 Bab 12. Bertengkar
13 Bab 13. Kecurigaan
14 Bab 14. Jijik
15 Bab 15. Tuduhan
16 Bab 16. Diam
17 Bab 17. Panik
18 Bab 18. Puncak Kecewa
19 Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20 Bab 20. Permintaan Mertua
21 Bab 21. Mengalah
22 Bab 22. Sakit
23 Bab 23. Nekad
24 Bab 24. Keluyuran
25 Bab 25. Ada yang Aneh
26 Bab 26. Kehilangan
27 Bab 27. Berkelahi
28 Bab 28. Pupus
29 Bab 29. Penuh Kepalsuan
30 Bab 30. Akting
31 Bab 31. Sombong
32 Bab 32. Syarat
33 Bab 33. Mencari Tahu
34 Bab 34. Murka
35 Bab 35. Benarkah?
36 Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37 Bab 37. Kejutan
38 Bab 38. Hampir
39 Bab 39. Keputusan
40 Bab 40. Dilema
41 Bab 41. Pilihan
42 Bab 42. Sesal
43 Bab 43. Rantau
44 Bab 44. Rapuh
45 Bab 45. Hampir
46 Bab 46. Rindu
47 Bab 47. Geram
48 Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49 Bab 49. Samuel Pembohong
50 Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51 Bab 51. Apa ini?
52 Bab 52. Pertolongan Samuel
53 Bab 53. Perhatian Samuel
54 Bab 54. Tidak Aman
55 Bab 55. Menyebalkan
56 Bab 56. Topeng
57 Bab 57. Menguji Adrenalin
58 Bab 58. Operasi
59 Bab 59. Kejutan
60 Bab 60. Sudah Terkunci
61 Bab 61. Ketemu
62 Bab 62. Rasa Cemburu
63 Bab 63. Emosi
64 Bab 64. Surprise
65 Bab 65. Karena Masa Lalu
66 Bab 66. Tidak Salah?
67 Bab 67. Mencari Tahu
68 Bab 68. Pengecut
69 Bab 69. Hampir
70 Bab 70. Adu Kekuatan
71 Bab 71. Mencari Titik Terang
72 Bab 72. Buku Harian Libra
73 Bab 73. Petunjuk
74 Bab 74. Cara Satu-satunya
75 Bab 75. Bersyarat
76 Bab 76. Kabar Buruk
77 Bab 77. Sebuah Alasan
78 Bab 78. Berkhianat
79 Bab 79. Bukan Obsesi
80 Bab 80. Akar Masalah
81 Bab 81. Ku mohon
82 Bab 82. Peduli atau Modus?
83 Bab 83. Candu
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Hamil?
86 Bab 86. Istri Anda Aneh
87 Bab 87. Praduga
88 Bab 88
89 Bab 89
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Bab 1. Menikah dengan Mantan
2
Bab 2. Arti Pernikahan
3
Bab 3. Bukan Perbandingan
4
Bab 4. Pertengkaran
5
Bab 5. Dipaksa
6
Bab 6. Bukan Tuan Putri
7
Bab 7. Sensitif
8
Bab 8. Khawatir
9
Bab 9. Kesal
10
Bab 10. Haruskah Begini?
11
Bab 11. Suami Egois
12
Bab 12. Bertengkar
13
Bab 13. Kecurigaan
14
Bab 14. Jijik
15
Bab 15. Tuduhan
16
Bab 16. Diam
17
Bab 17. Panik
18
Bab 18. Puncak Kecewa
19
Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20
Bab 20. Permintaan Mertua
21
Bab 21. Mengalah
22
Bab 22. Sakit
23
Bab 23. Nekad
24
Bab 24. Keluyuran
25
Bab 25. Ada yang Aneh
26
Bab 26. Kehilangan
27
Bab 27. Berkelahi
28
Bab 28. Pupus
29
Bab 29. Penuh Kepalsuan
30
Bab 30. Akting
31
Bab 31. Sombong
32
Bab 32. Syarat
33
Bab 33. Mencari Tahu
34
Bab 34. Murka
35
Bab 35. Benarkah?
36
Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37
Bab 37. Kejutan
38
Bab 38. Hampir
39
Bab 39. Keputusan
40
Bab 40. Dilema
41
Bab 41. Pilihan
42
Bab 42. Sesal
43
Bab 43. Rantau
44
Bab 44. Rapuh
45
Bab 45. Hampir
46
Bab 46. Rindu
47
Bab 47. Geram
48
Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49
Bab 49. Samuel Pembohong
50
Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51
Bab 51. Apa ini?
52
Bab 52. Pertolongan Samuel
53
Bab 53. Perhatian Samuel
54
Bab 54. Tidak Aman
55
Bab 55. Menyebalkan
56
Bab 56. Topeng
57
Bab 57. Menguji Adrenalin
58
Bab 58. Operasi
59
Bab 59. Kejutan
60
Bab 60. Sudah Terkunci
61
Bab 61. Ketemu
62
Bab 62. Rasa Cemburu
63
Bab 63. Emosi
64
Bab 64. Surprise
65
Bab 65. Karena Masa Lalu
66
Bab 66. Tidak Salah?
67
Bab 67. Mencari Tahu
68
Bab 68. Pengecut
69
Bab 69. Hampir
70
Bab 70. Adu Kekuatan
71
Bab 71. Mencari Titik Terang
72
Bab 72. Buku Harian Libra
73
Bab 73. Petunjuk
74
Bab 74. Cara Satu-satunya
75
Bab 75. Bersyarat
76
Bab 76. Kabar Buruk
77
Bab 77. Sebuah Alasan
78
Bab 78. Berkhianat
79
Bab 79. Bukan Obsesi
80
Bab 80. Akar Masalah
81
Bab 81. Ku mohon
82
Bab 82. Peduli atau Modus?
83
Bab 83. Candu
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Hamil?
86
Bab 86. Istri Anda Aneh
87
Bab 87. Praduga
88
Bab 88
89
Bab 89

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!