Bab 8. Khawatir

Setelah keluar dari kamar, aku disambut oleh senyuman manis ibu mertua.

"Lintang kita makan dulu yuk, kata Danuar kamu belum makan," ucap ibu mertua seraya menatap wajahku lekat. Aku mengangguk karena memang sudah sangat lapar. Mas Danu tidak memberikan waktu untuk sarapan di rumah dan tidak berhenti di tempat makan manapun. Sungguh menyebalkan, untung saja aku tidak memiliki riwayat penyakit asam lambung.

"Ayo!" Entah kenapa ibu mertuaku terlalu baik, aku pikir dia juga akan membenciku seperti Mas Danu. Dia menggandeng tanganku dan membawa ke meja makan.

Di sana Gina sudah menunggu dengan wajah tertunduk lesu. Entahlah aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, atau mungkin dia masih merasa tidak enak padaku perihal foto Kak Libra? Seharusnya dia tidak begitu, bagaimanapun, itu bukan salahnya. Kakaknya saja yang durjana.

"Kami belum sempat masak dan Danuar tidak mempekerjakan pembantu setelah pembantu lamanya pulang kampung bulan kemarin. Jadi, Gina tadi pesan online makanan ini. Semoga kamu suka ya, sebab kami tidak tahu selera kamu," kata ibu mertua panjang lebar. Gina mengangkat wajah dan tersenyum kaku.

Hatiku terkejut, aku menerka Mas Danu pasti sengaja karena akan menikahiku. Ah, sepertinya dia ingin menjadikanku pembantu, firasatku mendadak menjadi buruk.

"Kalau tidak suka, biar aku menyuruh Gina memesan yang lain." Raut wajah ibu mertuaku terlihat tidak tenang, mungkin menyangka aku tidak menyukai makanan yang disuguhkan.

"Lintang bisa makan apapun Ma," ucapku sambil membalik piring. Mereka berdua saling pandang, tersenyum tipis lalu mengangguk. Kemudian kami bertiga fokus menyantap menu di hadapan.

Ketika baru makan beberapa suap, aku mengingat Mas Danu yang tadi pergi dengan marah. Kemana dia sekarang? Semenjak tadi, aku tidak melihat batang hidungnya.

"Kamu mencari Danuar?" tanya ibu mertua ketika menyadari aku menoleh ke sana kemari.

"Iya Ma, dia juga belum sarapan. Kami ke sini pagi-pagi sekali."

"Mas Danu sudah pergi bekerja, biarkan saja, paling dia makan di kantor." Kali ini Gina yang menjawab. Nada suaranya terdengar kesal pada Mas Danu.

"Iya," kataku singkat lalu kembali melanjutkan makan. Setelah selesai makan, ibu dari Mas Danu pergi ke kamar si kembar untuk mengontrol keduanya, sedangkan aku dan Gina ke dapur untuk membersihkan peralatan makan kami.

"Kak, kalau boleh tahu kenapa Mas Danu sama Kak Lintang dulu putus?"

Aku yang sedang mencuci piring dengan sabun tersentak mendengar pertanyaan Gina. Apa dia tidak tahu bahwa kami tidak pernah memutuskan untuk berpisah? Ya, tidak pernah ada kata 'putus' yang keluar dari mulut kami berdua, yang ada, keputusan Mas Danu untuk menikahi Kak Libra datang begitu saja.

"Mas Danu tidak cerita sama kamu?" tanyaku hati-hati. Gina menggeleng.

"Bahkan mama juga bingung, adiknya yang menjadi kekasih Mas Danu, eh dia malah nikah dengan kakaknya."

Sungguh dadaku remuk mengingat ini semua. Rasa sakit itu seakan kembali menyeruak ke dalam rongga dada, tetapi tidak apa-apa, itu tandanya Mas Danu tidak pernah menceritakan keburukanku pada keluarganya. Namun, kalau begini bagaimana aku bisa tahu kesalahanku di masa lampau?

"Mungkin sudah jodohnya seperti itu." Aku mencoba bersikap bijaksana dan menunjukkan kalau diriku baik-baik saja. Biarlah hanya aku sendiri yang tahu bagaimana hancurnya hatiku.

Gina melirik padaku dan aku menyambutnya dengan seulas senyuman.

"Kakak kuat banget ya, kalau aku jadi kakak mungkin aku nggak bakal balik sama Mas Danu. Maaf, sudah mengingatkan pada luka Kakak."

"Tidak apa-apa, aku hanya ikut alur. Kalau sudah jalan takdirnya seperti itu, aku bisa apa? Semua berjalan sesuai garis yang sudah tertulis. Kita cukup resapi, nikmati, dan jalani." Aku seperti motivator padahal membawa diri saja tidak pandai.

"Wah kakak hebat." Mata Gina nampak berbinar.

Aku berbisik dalam hati bahwa sebenarnya aku bukan pandai melainkan sebaliknya. Namun, adakah manusia yang pandai mengatur perasaan cinta? Rasaku pada Mas Danu begitu kuat hingga apapun yang terjadi, sesuatu yang bersemayam dalam sudut hati itu tak pernah bisa pindah ke lain tempat. Bahkan kebencian sekalipun tidak dapat menutup rasa itu.

"Sudah selesai, Kakak bisa istirahat," kata Gina seraya mengelap tangannya. Aku keluar dapur dan pergi ke kamar keponakanku. Dibandingkan tidur siang aku memilih mengobrol dengan ibu mertua. Dulu aku tidak mengenal wanita setengah baya ini dengan begitu dekat, ternyata beliau asyik diajak mengobrol, tidak seperti Mas Danu yang dingin dan kaku.

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sore hari kedua keluarga Mas Danu pamit pulang. Aku mengantar sampai pintu pagar. Setelah itu membuatkan susu untuk kedua keponakanku kemudian memandikannya. Tidak terlalu ribet mengurus kedua bayi yang baru berusia 3 bulan ini, mereka tidak terlalu banyak bergerak dan rewel. Keduanya juga masih lebih banyak tidurnya daripada terjaga.

Setelah kedua anak ini tidur, aku masuk dapur dan membuatkan makan malam. Selesai, aku menunggu Mas Danu di depan rumah. Sayangnya dari hari terang sampai gelap, pria itu tidak nampak akan datang.

"Apa Mas Danu tidak akan pulang?" Aku duduk seraya menopang dagu. Perasaanku tidak nyaman. "Apa Mas Danu tadi pagi memang marah, tapi kenapa?"

Kuraih ponselku lalu mencari kontak Mas Danu. Saat itu baru tersadar tidak lagi menyimpan nomor teleponnya. Aku langsung mengingat Gina, tetapi takut membuat kelurga Mas Danu khawatir atau bahkan berasumsi macam-macam. Bisa-bisa aku dimarahi Mas Danu kalau dia sudah kembali.

"Ckk, kemana sih dia?" Aku kembali masuk rumah. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku menatap makan malam yang kusiapkan sudah dingin. Aku duduk dengan gelisah. Perasaan khawatir menggerogoti jiwa hingga untuk makan pun sudah tidak berselera. Akhirnya makanan yang sudah repot-repot kumasak, aku abaikan saja.

"Ya Tuhan semoga Mas Danu baik-baik saja," ucapku seraya menghela napas berat. Aku kembali melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Oleh karena itu aku memutuskan untuk bertanya pada keluarganya. Mereka juga berkata tidak tahu dan bahkan ikut khawatir. Mereka berkata Mas Danu tidak biasa pulang larut malam tanpa kabar seperti sekarang.

Saat kekhawatiran melanda, tiba-tiba ponselku berbunyi. Dengan cepat aku mengangkatnya.

"Halo, ini siapa ya?" tanyaku tidak sabaran.

"Ini asistennya Tuan Danuar Anggara, benar ini nomor Nona Lintang?"

"Ya, Pak, ada apa ya?" tanyaku semakin panik, perasaanku tidak menentu.

"Nona, Tuan Danuar kecelakaan."

"Apa!? Bapak jangan bercanda Pak," kataku syok.

"Saya serius Nona."

Terpopuler

Comments

Iges Satria

Iges Satria

nah kan, apa yg terjadi?

2024-10-11

0

Rahma Inayah

Rahma Inayah

semoga danu sadr dgn kecelakaan tdk ketus lg.segera unhkp kesalh fahaman antra danu dan lintang knp tb2 nikahi libra

2024-08-31

1

Siti Koyah

Siti Koyah

mampos

2024-08-31

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Menikah dengan Mantan
2 Bab 2. Arti Pernikahan
3 Bab 3. Bukan Perbandingan
4 Bab 4. Pertengkaran
5 Bab 5. Dipaksa
6 Bab 6. Bukan Tuan Putri
7 Bab 7. Sensitif
8 Bab 8. Khawatir
9 Bab 9. Kesal
10 Bab 10. Haruskah Begini?
11 Bab 11. Suami Egois
12 Bab 12. Bertengkar
13 Bab 13. Kecurigaan
14 Bab 14. Jijik
15 Bab 15. Tuduhan
16 Bab 16. Diam
17 Bab 17. Panik
18 Bab 18. Puncak Kecewa
19 Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20 Bab 20. Permintaan Mertua
21 Bab 21. Mengalah
22 Bab 22. Sakit
23 Bab 23. Nekad
24 Bab 24. Keluyuran
25 Bab 25. Ada yang Aneh
26 Bab 26. Kehilangan
27 Bab 27. Berkelahi
28 Bab 28. Pupus
29 Bab 29. Penuh Kepalsuan
30 Bab 30. Akting
31 Bab 31. Sombong
32 Bab 32. Syarat
33 Bab 33. Mencari Tahu
34 Bab 34. Murka
35 Bab 35. Benarkah?
36 Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37 Bab 37. Kejutan
38 Bab 38. Hampir
39 Bab 39. Keputusan
40 Bab 40. Dilema
41 Bab 41. Pilihan
42 Bab 42. Sesal
43 Bab 43. Rantau
44 Bab 44. Rapuh
45 Bab 45. Hampir
46 Bab 46. Rindu
47 Bab 47. Geram
48 Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49 Bab 49. Samuel Pembohong
50 Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51 Bab 51. Apa ini?
52 Bab 52. Pertolongan Samuel
53 Bab 53. Perhatian Samuel
54 Bab 54. Tidak Aman
55 Bab 55. Menyebalkan
56 Bab 56. Topeng
57 Bab 57. Menguji Adrenalin
58 Bab 58. Operasi
59 Bab 59. Kejutan
60 Bab 60. Sudah Terkunci
61 Bab 61. Ketemu
62 Bab 62. Rasa Cemburu
63 Bab 63. Emosi
64 Bab 64. Surprise
65 Bab 65. Karena Masa Lalu
66 Bab 66. Tidak Salah?
67 Bab 67. Mencari Tahu
68 Bab 68. Pengecut
69 Bab 69. Hampir
70 Bab 70. Adu Kekuatan
71 Bab 71. Mencari Titik Terang
72 Bab 72. Buku Harian Libra
73 Bab 73. Petunjuk
74 Bab 74. Cara Satu-satunya
75 Bab 75. Bersyarat
76 Bab 76. Kabar Buruk
77 Bab 77. Sebuah Alasan
78 Bab 78. Berkhianat
79 Bab 79. Bukan Obsesi
80 Bab 80. Akar Masalah
81 Bab 81. Ku mohon
82 Bab 82. Peduli atau Modus?
83 Bab 83. Candu
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Hamil?
86 Bab 86. Istri Anda Aneh
87 Bab 87. Praduga
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90.
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1. Menikah dengan Mantan
2
Bab 2. Arti Pernikahan
3
Bab 3. Bukan Perbandingan
4
Bab 4. Pertengkaran
5
Bab 5. Dipaksa
6
Bab 6. Bukan Tuan Putri
7
Bab 7. Sensitif
8
Bab 8. Khawatir
9
Bab 9. Kesal
10
Bab 10. Haruskah Begini?
11
Bab 11. Suami Egois
12
Bab 12. Bertengkar
13
Bab 13. Kecurigaan
14
Bab 14. Jijik
15
Bab 15. Tuduhan
16
Bab 16. Diam
17
Bab 17. Panik
18
Bab 18. Puncak Kecewa
19
Bab 19. Kegilaan Mas Danu
20
Bab 20. Permintaan Mertua
21
Bab 21. Mengalah
22
Bab 22. Sakit
23
Bab 23. Nekad
24
Bab 24. Keluyuran
25
Bab 25. Ada yang Aneh
26
Bab 26. Kehilangan
27
Bab 27. Berkelahi
28
Bab 28. Pupus
29
Bab 29. Penuh Kepalsuan
30
Bab 30. Akting
31
Bab 31. Sombong
32
Bab 32. Syarat
33
Bab 33. Mencari Tahu
34
Bab 34. Murka
35
Bab 35. Benarkah?
36
Bab 36. Rencana Melarikan Diri
37
Bab 37. Kejutan
38
Bab 38. Hampir
39
Bab 39. Keputusan
40
Bab 40. Dilema
41
Bab 41. Pilihan
42
Bab 42. Sesal
43
Bab 43. Rantau
44
Bab 44. Rapuh
45
Bab 45. Hampir
46
Bab 46. Rindu
47
Bab 47. Geram
48
Bab 48. Bukan Tanggung Jawabku
49
Bab 49. Samuel Pembohong
50
Bab 50. Samuel Tidak Berbohong?
51
Bab 51. Apa ini?
52
Bab 52. Pertolongan Samuel
53
Bab 53. Perhatian Samuel
54
Bab 54. Tidak Aman
55
Bab 55. Menyebalkan
56
Bab 56. Topeng
57
Bab 57. Menguji Adrenalin
58
Bab 58. Operasi
59
Bab 59. Kejutan
60
Bab 60. Sudah Terkunci
61
Bab 61. Ketemu
62
Bab 62. Rasa Cemburu
63
Bab 63. Emosi
64
Bab 64. Surprise
65
Bab 65. Karena Masa Lalu
66
Bab 66. Tidak Salah?
67
Bab 67. Mencari Tahu
68
Bab 68. Pengecut
69
Bab 69. Hampir
70
Bab 70. Adu Kekuatan
71
Bab 71. Mencari Titik Terang
72
Bab 72. Buku Harian Libra
73
Bab 73. Petunjuk
74
Bab 74. Cara Satu-satunya
75
Bab 75. Bersyarat
76
Bab 76. Kabar Buruk
77
Bab 77. Sebuah Alasan
78
Bab 78. Berkhianat
79
Bab 79. Bukan Obsesi
80
Bab 80. Akar Masalah
81
Bab 81. Ku mohon
82
Bab 82. Peduli atau Modus?
83
Bab 83. Candu
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Hamil?
86
Bab 86. Istri Anda Aneh
87
Bab 87. Praduga
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!