Setelah keluar dari kamar, aku disambut oleh senyuman manis ibu mertua.
"Lintang kita makan dulu yuk, kata Danuar kamu belum makan," ucap ibu mertua seraya menatap wajahku lekat. Aku mengangguk karena memang sudah sangat lapar. Mas Danu tidak memberikan waktu untuk sarapan di rumah dan tidak berhenti di tempat makan manapun. Sungguh menyebalkan, untung saja aku tidak memiliki riwayat penyakit asam lambung.
"Ayo!" Entah kenapa ibu mertuaku terlalu baik, aku pikir dia juga akan membenciku seperti Mas Danu. Dia menggandeng tanganku dan membawa ke meja makan.
Di sana Gina sudah menunggu dengan wajah tertunduk lesu. Entahlah aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, atau mungkin dia masih merasa tidak enak padaku perihal foto Kak Libra? Seharusnya dia tidak begitu, bagaimanapun, itu bukan salahnya. Kakaknya saja yang durjana.
"Kami belum sempat masak dan Danuar tidak mempekerjakan pembantu setelah pembantu lamanya pulang kampung bulan kemarin. Jadi, Gina tadi pesan online makanan ini. Semoga kamu suka ya, sebab kami tidak tahu selera kamu," kata ibu mertua panjang lebar. Gina mengangkat wajah dan tersenyum kaku.
Hatiku terkejut, aku menerka Mas Danu pasti sengaja karena akan menikahiku. Ah, sepertinya dia ingin menjadikanku pembantu, firasatku mendadak menjadi buruk.
"Kalau tidak suka, biar aku menyuruh Gina memesan yang lain." Raut wajah ibu mertuaku terlihat tidak tenang, mungkin menyangka aku tidak menyukai makanan yang disuguhkan.
"Lintang bisa makan apapun Ma," ucapku sambil membalik piring. Mereka berdua saling pandang, tersenyum tipis lalu mengangguk. Kemudian kami bertiga fokus menyantap menu di hadapan.
Ketika baru makan beberapa suap, aku mengingat Mas Danu yang tadi pergi dengan marah. Kemana dia sekarang? Semenjak tadi, aku tidak melihat batang hidungnya.
"Kamu mencari Danuar?" tanya ibu mertua ketika menyadari aku menoleh ke sana kemari.
"Iya Ma, dia juga belum sarapan. Kami ke sini pagi-pagi sekali."
"Mas Danu sudah pergi bekerja, biarkan saja, paling dia makan di kantor." Kali ini Gina yang menjawab. Nada suaranya terdengar kesal pada Mas Danu.
"Iya," kataku singkat lalu kembali melanjutkan makan. Setelah selesai makan, ibu dari Mas Danu pergi ke kamar si kembar untuk mengontrol keduanya, sedangkan aku dan Gina ke dapur untuk membersihkan peralatan makan kami.
"Kak, kalau boleh tahu kenapa Mas Danu sama Kak Lintang dulu putus?"
Aku yang sedang mencuci piring dengan sabun tersentak mendengar pertanyaan Gina. Apa dia tidak tahu bahwa kami tidak pernah memutuskan untuk berpisah? Ya, tidak pernah ada kata 'putus' yang keluar dari mulut kami berdua, yang ada, keputusan Mas Danu untuk menikahi Kak Libra datang begitu saja.
"Mas Danu tidak cerita sama kamu?" tanyaku hati-hati. Gina menggeleng.
"Bahkan mama juga bingung, adiknya yang menjadi kekasih Mas Danu, eh dia malah nikah dengan kakaknya."
Sungguh dadaku remuk mengingat ini semua. Rasa sakit itu seakan kembali menyeruak ke dalam rongga dada, tetapi tidak apa-apa, itu tandanya Mas Danu tidak pernah menceritakan keburukanku pada keluarganya. Namun, kalau begini bagaimana aku bisa tahu kesalahanku di masa lampau?
"Mungkin sudah jodohnya seperti itu." Aku mencoba bersikap bijaksana dan menunjukkan kalau diriku baik-baik saja. Biarlah hanya aku sendiri yang tahu bagaimana hancurnya hatiku.
Gina melirik padaku dan aku menyambutnya dengan seulas senyuman.
"Kakak kuat banget ya, kalau aku jadi kakak mungkin aku nggak bakal balik sama Mas Danu. Maaf, sudah mengingatkan pada luka Kakak."
"Tidak apa-apa, aku hanya ikut alur. Kalau sudah jalan takdirnya seperti itu, aku bisa apa? Semua berjalan sesuai garis yang sudah tertulis. Kita cukup resapi, nikmati, dan jalani." Aku seperti motivator padahal membawa diri saja tidak pandai.
"Wah kakak hebat." Mata Gina nampak berbinar.
Aku berbisik dalam hati bahwa sebenarnya aku bukan pandai melainkan sebaliknya. Namun, adakah manusia yang pandai mengatur perasaan cinta? Rasaku pada Mas Danu begitu kuat hingga apapun yang terjadi, sesuatu yang bersemayam dalam sudut hati itu tak pernah bisa pindah ke lain tempat. Bahkan kebencian sekalipun tidak dapat menutup rasa itu.
"Sudah selesai, Kakak bisa istirahat," kata Gina seraya mengelap tangannya. Aku keluar dapur dan pergi ke kamar keponakanku. Dibandingkan tidur siang aku memilih mengobrol dengan ibu mertua. Dulu aku tidak mengenal wanita setengah baya ini dengan begitu dekat, ternyata beliau asyik diajak mengobrol, tidak seperti Mas Danu yang dingin dan kaku.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sore hari kedua keluarga Mas Danu pamit pulang. Aku mengantar sampai pintu pagar. Setelah itu membuatkan susu untuk kedua keponakanku kemudian memandikannya. Tidak terlalu ribet mengurus kedua bayi yang baru berusia 3 bulan ini, mereka tidak terlalu banyak bergerak dan rewel. Keduanya juga masih lebih banyak tidurnya daripada terjaga.
Setelah kedua anak ini tidur, aku masuk dapur dan membuatkan makan malam. Selesai, aku menunggu Mas Danu di depan rumah. Sayangnya dari hari terang sampai gelap, pria itu tidak nampak akan datang.
"Apa Mas Danu tidak akan pulang?" Aku duduk seraya menopang dagu. Perasaanku tidak nyaman. "Apa Mas Danu tadi pagi memang marah, tapi kenapa?"
Kuraih ponselku lalu mencari kontak Mas Danu. Saat itu baru tersadar tidak lagi menyimpan nomor teleponnya. Aku langsung mengingat Gina, tetapi takut membuat kelurga Mas Danu khawatir atau bahkan berasumsi macam-macam. Bisa-bisa aku dimarahi Mas Danu kalau dia sudah kembali.
"Ckk, kemana sih dia?" Aku kembali masuk rumah. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku menatap makan malam yang kusiapkan sudah dingin. Aku duduk dengan gelisah. Perasaan khawatir menggerogoti jiwa hingga untuk makan pun sudah tidak berselera. Akhirnya makanan yang sudah repot-repot kumasak, aku abaikan saja.
"Ya Tuhan semoga Mas Danu baik-baik saja," ucapku seraya menghela napas berat. Aku kembali melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Oleh karena itu aku memutuskan untuk bertanya pada keluarganya. Mereka juga berkata tidak tahu dan bahkan ikut khawatir. Mereka berkata Mas Danu tidak biasa pulang larut malam tanpa kabar seperti sekarang.
Saat kekhawatiran melanda, tiba-tiba ponselku berbunyi. Dengan cepat aku mengangkatnya.
"Halo, ini siapa ya?" tanyaku tidak sabaran.
"Ini asistennya Tuan Danuar Anggara, benar ini nomor Nona Lintang?"
"Ya, Pak, ada apa ya?" tanyaku semakin panik, perasaanku tidak menentu.
"Nona, Tuan Danuar kecelakaan."
"Apa!? Bapak jangan bercanda Pak," kataku syok.
"Saya serius Nona."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Iges Satria
nah kan, apa yg terjadi?
2024-10-11
0
Rahma Inayah
semoga danu sadr dgn kecelakaan tdk ketus lg.segera unhkp kesalh fahaman antra danu dan lintang knp tb2 nikahi libra
2024-08-31
1
Siti Koyah
mampos
2024-08-31
0