Di ruang rawat Zizi, mama Zahra masih menangis, Zaki dan Zidan duduk disampingnya, sedangkan Amel membujuk Zizi hingga sekarang Zizi sudah bisa tidur. Suasana jadi hening, tak ada yang berbicara, sampai papa Adi datang.
"Ada apa ini, kenapa mama nangis?" Tanya pak Adi.
"Duduk dulu pa, mama mau ngomong." Setelah itu Zaki bergeser duduk untuk memberi tempat pada papanya.
"Pa....Zizi tidak mau melihat putranya, dia sangat marah saat mama membawa anaknya mendekat."
Mama Zahra menjeda ucapannya sebentar dan mengambil nafas dalam.
"Tadi Nicco kesini, dan bayinya mama serahkan ke Nicco pa."
"Bagaimana bisa ma, kita yang harus merawatnya, kenapa mama berikan pada Nicco?" Pak Adi emosi.
"Papa dengar dulu penjelasan mama, bagaimanapun kita harus menjaga emosi Zizi dulu, kita bisa mengambilnya kembali kalau kondisi Zizi sudah membaik. Nicco sudah janji pada mama untuk memberikannya kalau kita memintanya kembali."
"Baiklah ma, papa terima Nicco yang rawat bayi Zizi sementara, tp kalau nanti Zizi sudah bisa menerimanya kita harus ambil kembali."
Akhirnya pak Adi menerima keputusan istrinya.
***
Yuda mengantar Nicco ke rumahnya, sesampainya di rumah bik Jum yang membukakan pintu terkejut Nicco pulang membawa bayi. Nicco menggendong bayinya masuk rumah, Yuda mengikuti dari belakang.
"MA....MAMAAA.....PAPAAA...!" Teriak Nicco begitu masuk rumah saking senangnya lupa tengah menggendong bayi, hingga bayinya terkejut dan menangis kuat.
Mendengar suara Nicco dan suara tangisan bayi mama dan papanya yang sudah tidur terkejut dan keluar kamar.
"Nicco, ada apa teriak-teriak, heh...kamu culik bayi siapa?!" Tanya mama Nilam beruntun karena sangat kaget.
"Mama.....Nicco nggak nyulik bayi, ini anak Nicco ma...cucu mama sama papa!"
"Izzaz sudah melahirkan, lalu kenapa anaknya bisa sama kamu, kamu ngambil diem-diem ya?!" Tuduh papa Mario.
"Sudah marahnya nanti dulu, sekarang bantu Nicco nenangin dia, nanti Nicco jelasin." Kata Nicco dan mama Nilam langsung mendekat mengambil bayi yang ada di gendongan Nicco.
"Hai sayang, ganteng banget cucu oma, terima kasih Ya Allah....." Mama Nilam menangis mencium pipi bayi yang masih menangis, lalu menimangnya .
"Sekarang jelasin, kenapa bayi Izzaz bisa ada sama kamu?" Tanya papa Mario.
"Jadi gini pa, tadi Nicco ke rumah sakit, karena tahu Izzaz sudah melahirkan.Tapi ruang rawat Izzaz dijaga ketat oleh dua bodyguard Zafran, terpaksa Nicco ancam pakai belati. Mulanya Nicco cuma pingin lihat saja, ngintip di pintu tapi karena Izzaz marah saat mamanya membawa bayinya mendekat, mamanya shock, terus bayi yang di gendongannya hampir lepas. Nicco nerobos masuk megang bu Zahra dan bayinya. Trus Nicco minta izin pada bu Zahra membawa bayi ini untuk Nicco rawat dan beliau mengizinkan." Penjelasan Nicco panjang dan cepat.
"Benar begitu Yud?" Tanya pak Mario pada Yuda untuk memastikan cerita anaknya.
"Nggak tahu om, saya tahunya suruh datang menjemput dia." Kata Yuda yang memang tidak tahu, waktu di mobil Nicco tidak bercerita karena sibuk menenangkan bayinya.
"Yud, lo gimana sih, emang gitu kejadiannya, gua nggak bohong. Bener pa ma, bu Zahra sendiri yang ngasih izin Nicco bawa dia (Nicco junior). Kalau nggak percaya tanya aja sama Zafran, Zaki, atau Zidan, mereka semua ada di sana kok."
"Udah-udah, jangan debat terus, cucu oma lagi mau bobok, berisik tau nggak."
"Nih buktinya bu Zahra juga ngasih tas ini, ini perlengkapan bayi isinya. Nanti kalau ada waktu, tolong mama belanja keperluannya dia ya ma." Pinta Nicco sambil menunjuk anaknya.
"Iya ...ya udah mama bawa masuk dulu dia, mama mau tidur sama cucu mama."
"Eh mama, nggak bisa gitu dong, dia mau tidur sama papanya, anterin ke kamar Nicco, Nicco yang akan jaga dia. Yud kok masih bengong di situ, mau nginep apa mau pulang?!" tanya Nicco sambil mengambil tas bayinya untuk dibawa ke kamar.
"Ngusir nih? dasar bos nggak punya adab, malam-malam nyuruh jemput, sekarang malah ngusir!" Yuda kesal.
"Nggak ngusir, kalau mau nginep tidur di kamar tamu sono, kalau mau pulang bawa mobil gua!" Jawab Nicco.
"Kenapa nggak ngajak tidur di kamar lo aja gua bisa bantu jaga ponakan." Goda Yuda pada Nicco.
"Ogah, jijik gua tidur sama lo, lagian anak gua bisa kena virus kalau tidur bareng lo, ya udah pulang aja sono, nih kuncinya." Nicco melempar kunci mobilnya pada Yuda, Yuda menangkapnya dan pulang setelah berpamitan pada pak Mario.
Di kamar Nicco, mama Nilam sudah menidurkan Nicco junior di ranjang king size milik Nicco. Bu Nilam membuka tas perlengkapan bayi yang diberikan Nicco.
"Ini sudah lengkap Co, tapi tetep kurang, mungkin bu Zahra meninggalkan sebagian di rumah. Membawa ke rumah sakit seperlunya aja. Biar besok mama belanja perlengkapan untuk dia (Nicco junior)." kata mama Nilam.
"Iya ma, makasih. Ma cucu mama cakep kan kayak Nicco?"
"Heh cakepan cucu mama lah, kamu tu anak nakal, belum nikah udah punya anak."
"Mama.....tapi mama seneng kan, Nicco bawa dia pulang?"
"Banget.....seneng banget, rumah ini bakal rame kalau ada anak kecil." Mama Nilam tersenyum sambil memandangi cucunya.
"Dia udah tidur ma?" tanya pak Mario yang tiba-tiba masuk kamar.
"Udah pa, makanya jangan pada berisik, lihat pa cucu papa ganteng banget."
"Iya ....kayak opanya." Jawab pak Mario pede.
"Ma, nanti bantu Nicco siapin susunya ya, masukkan botol sekalian biar nanti Nicco tinggal seduh." Nicco minta bantuan mamanya.
"Kamu beneran mau jaga dia, yakin kamu bisa?" tanya mama Nilam.
"Iya ma, Nicco bisa lihat tutorial Youtube kalau ada yang Nicco nggak ngerti."
"Mama ikut tidur sini aja ya?" Tanya mama Nilam.
"Nggak usah ma, biar Nicco sendiri aja, itung-itung buat nebus kesalahan Nicco sama dia (Nicco junior), selama dalam kandungan mamanya Nicco nggak bisa deket dia. Mama papa balik ke kamar aja istirahat udah malem ini."
"Ya udah, kalau perlu bantuan, bangunin mama ya!" kata mama Nilam lalu mencium cucunya dan meninggalkan kamar Nicco.
Setelah mama papanya keluar, Nicco yang menggunakan jeans dan kemeja mengganti pakaiannya dengan training dan kaos oblong.
Nicco tidur menghadap anaknya, menelisik wajah anaknya yang tampan. Wajah sang anak yang sangat mirip dengan dirinya. Hidung mancung, bibir mungil dan rambut lurus, benar-benar Nicco versi junior. Nicco tersenyum sendiri seperti orang yang sedang jatuh cinta. Lalu mengambil foto dirinya yang memeluk anaknya menggunakan ponselnya dan mengirim foto itu ke Zafran, sengaja memancing emosi Zafran.
"Eh kenapa papa senyum-senyum sendiri boy, apa jangan-jangan papa OTW gila?" Nicco berbicara dalam batin karena bahagia, dan bergidik ngeri sendiri. Baru saja Nicco bisa memejamkan mata tiba-tiba.....
Oek....oek....
"Dah selamat begadang semalaman Co....." batinnya lagi, Nicco mengangkat bayinya menggendongnya sambil berdiri menimangnya.
Nicco junior bisa berhenti menangis kalau digendong. Nicco memandangi anaknya yang sudah diam, matanya berkedip walaupun belum sempurna bisa membuka mata. Senyum Nicco mengembang saat anaknya anteng di gendongannya, sebahagia ini ternyata punya anak batinnya. Setelah beberapa saat dalam gendongan papanya, Nicco junior tertidur, Nicco pelan-pelan meletakkannya tapi ternyata bangun dan nangis lagi. Lalu Nicco menggendongnya lagi sampai anaknya terlelap. Setelah hampir setengah jam dalam gendongan papanya, Nicco junior bisa tidur. Nicco membaringkan anaknya dan ikut berbaring disampingnya. Baru bisa memejamkan mata sekitar lima belas menit tapi
Oek ....oek....oek ....
Nangis lagi karena haus dan lapar. Ternyata begini rasanya jadi papa mia......bisa-bisa terkena papa baby blues, ha.....ha...ha... SELAMAT BERJUANG PAPA NICCO!
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments