Sudah empat bulan usia kandungan Zizi. Berkat bantuan Amel, Zizi sekarang sudah mau berbicara walaupun hanya seperlunya. Zizi juga sudah mau keluar kamar walaupun paling jauh ke halaman belakang. Itu sudah membuat anggota keluarga tenang. Dokter menyarankan untuk USG namun Zizi menolak. Keluarga hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Zizi, yang penting menurut dokter perkembangannya kandungan Zizi baik.
***
Ditengah kesibukan kerja Nicco masih selalu teringat dengan Zizi. Selama itu tak pernah sekalipun dia dapat melihat Zizi. Pernah Nicco menguntit rumah Wiguna namun tak sedikitpun dapat melihat Zizi. Ada rasa rindu yang sangat mendalam di hati Nicco, namun untuk sekedar bertanya kabar kepada Zafran atau Zidan ia tidak berani. Hanya dapat menunggu informasi dari Yuda.
"Gimana Yud, lo udah tau kabar Zizi belum? Gua kepikiran terus ni, kesiksa hati gua."
"Udah, tinggal lo nyiapin imbalannya aja."
"Yang bener, dapat info dari siapa?"
"Tukang ojek."
"Hahhhh nggak elit banget, orang nyuruh cari info pakai jasa detektif swasta, ini tukang ojek, yang bener lo?!"
"Cerewet banget, yang penting infonya akurat, mau tau nggak?"
"Iya, cepetan nggak usah bertele-tele!"
"Gua nyuruh tukang ojek yang mangkal di dekat rumah Zafran buat mengawasi rumah itu, terus dia melaporkan yang sering keluar masuk rumah itu mobil sedan putih. Gua suruh dia lagi mengikuti mobil itu ternyata dia dokter kandungan pemilik klinik bersalin di jalan X. Jadi lo tau kan maksud gua?"
"Zizi beneran hamil anak gua Yud?"
"Iya, terus rencana lo apa?"
"Gua nggak tahu Yud, mereka sengaja merahasiakan ini dari gua karena bener-bener nggak menginginkan gua Yud."
"Ya udah lo terima aja, mau gimana lagi,
jangankan ngomong, Zizi liat
muka lo aja dia ogah." Kata Yuda dan Nicco hanya bisa menghela nafas berat.
Selama masa kehamilan Zizi hanya sekali USG di tempat praktek dokter Anita, dokter kandungan yang menangani Zizi.
Semua karena Amel yang berhasil membujuk, dan Zizi meminta USG itu untuk pertama dan terakhir.
***
Nicco mengisi waktu dengan sibuk bekerja untuk bisa mengurangi pikirannya tentang Zizi, namun itu kalau siang hari, tapi saat malam hari dia selalu teringat Zizi. Setiap malam hanya memikirkan Zizi, apalagi tahu sekarang Zizi tengah hamil anaknya, hingga Nicco tidak dapat menahan hatinya dan besok berniat datang ke kantor Zafran.
"Yud, ikut gua ke kantor Zafran sekarang!"
kata Nicco sambil berjalan meninggalkan Yuda. Nicco melangkah keluar kantor diikuti Yuda yang setengah berlari, karena kaki Nicco yang panjang dan langkah kakinya lebar. Nicco yang tingginya hampir 190 cm sedangkan Yuda hanya 168 cm jadi kalau berjalan beriringan sangat jomplang.
Setelah sampai di kantor Zafran, Nicco minta izin ke resepsionis dan langsung diantarkan ke ruang Zafran.
Tok...tok....tok....
"Masuk!"
"Ini gua Zaf, ada yang mau gua tanyain." Kata Nicco yang sudah mengubah panggilannya karena sudah sering bertemu Zafran untuk urusan pekerjaan.
"Ada apa? Kita lagi tidak urusan pekerjaan kan, kalau urusan pribadi jangan di kantor."
"Nggak bisa Zaf, kalau di luar nanti ada yang dengar gua yakin lo malah nggak nyaman, ini masalah Izzaz, apa bener Izzaz hamil?" Tanya Nicco to the point.
"Lo tahu dari mana?"
"Jadi bener kan Izzaz hamil anak gua? Gua minta tolong Zaf, sekali saja izinkan gua ketemu dia, gua mohon!"
"Nggak bisa Co, nanti dia marah lagi, sekarang sudah mendingan mau keluar kamar. Gua nggak mau kalau dia ketemu lo keadaan dia balik lagi kayak dulu. Sorry untuk yang satu ini gua nggak bisa."
"Tapi Zaf...." kata-kata Nicco terhenti matanya berkaca-kaca."
"Sudahlah Co, kita udah cukup sabar sama lo, jangan meminta yang lebih, Zizi punya pilihan sendiri, mengertilah." Kata Zafran dengan muka lelah, dan setelah itu Nicco keluar dari ruang kerja Zafran.
***
"Oh ternyata kalian jumpa kangen, sejak kapan kalian berhubungan? Lagi kasmaran kok pakai berpelukan." Kata Nicco saat melihat Yuda dan Erik bercanda, Erik merangkul pundak Yuda.
"Sembarangan, gua masih suka donat ya, gua bukan pecinta pisang, apalagi pisang Yuda mungil, geli gua." Jawab Erik bergidik ngeri, setelah sering bertemu mereka jadi akrab.
"Enak aja, yang penting kualitasnya bang, tok cer!" Kata yuda membela diri.
"Heh yang tok cer punya bos lo tuh, punya lo belum terbukti." Kata Erik yang langsung menutup mulutnya karena sadar sudah keceplosan.
"Jadi lo sudah tahu tentang Izzaz, kenapa lo diem aja?" Tanya Nicco pada Erik.
"Itu bukan hak gua, gua bisa kena PHK kalau bikin ulah" jawab Erik.
"Tapi Erik bener loj Co, kecebong lo emang tok cer, buktinya sekali tancap langsung jadi." kata Yuda yang langsung dipelototi oleh Nicco.
Nicco kembali ke kantor dengan perasaan kecewa, tidak tahu lagi harus bagaimana agar bisa bertemu Zizi. Sepertinya memang tidak punya harapan walaupun sekedar bertemu sebentar saja.
***
Amel mengajak Zizi menonton TV di ruang keluarga, siang itu suasana rumah sepi karena pada sibuk bekerja, bu Zahra pergi untuk berbelanja.
"Zi, lo nggak pengen makan apa gitu? Nanti gua beliin." Tanya Amel membujuk Zizi, karena Amel tahu ibu hamil biasanya ngidam pingin makan yang aneh-aneh.
"Nggak." Jawab Zizi singkat.
"Kalau gua beliin sate mau nggak?"
"Nggak Mel, gua cuma pingin perut gua kempes!" Jawab Zizi ketus, karena perut Zizi yang kini sudah mulai buncit.
"Zi, nanti juga kempes sendiri, sekarang biarin aja dulu kayak gitu, lo mau apa biar gua siapin. Masa gua dibayar cuma buat makan tidur doang."
"Hai sayang, lagi nonton apa ?" Tanya mama Zahra yang baru sampai dengan banyak tas belanjaan ditangannya.
"Drakor ma." Jawab Zizi singkat.
"Oh, dek lihat mama beliin baju juga celana kulot buat kamu, kamu ganti gih itu baju sama celananya sudah sesak lho." Kata
mama Zahra membujuk agar Zizi memakai baju hamil karena Zizi hanya menggunakan kemeja dan celana pendek selama hamil.
"Mama, aku nggak mau kaya badut!" jawab Zizi yang membuat mamanya kincep.
"Oke...ini mama simpen di lemari ya, nanti kalau baju kamu udah nggak nyaman pakai ini aja." bu Zahra hanya bisa mengalah dengan kemauan Zizi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments