Akhirnya tahu

Semburat senja perlahan menghilang ditelan langit malam. Yaya yang tersadar, ia sudah terlalu lama berada di sana pun segera beranjak. Saat melihat jarum jam di pergelangan tangannya, ia berucap istighfar. Karena terlalu larut dalam kesedihan, ia sampai melewatkan waktu Maghrib.

"Astagfirullah. Hampir saja."

Yaya pun segera masuk ke dalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya sambil memperhatikan sekitar. Mencari masjid terdekat untuk melaksanakan kewajibannya.

Setelah menemukannya, Yaya pun bergegas turun dan pergi ke tempat wudhu. Ia segera mensucikan diri dan melaksanakan kewajibannya yang hampir saja tertinggal.

Saat salam terakhir, Yaya lantas menengadahkan kedua telapak tangannya. Air matanya mengalir deras. Rasa sakit, sesak, dan kecewa ditumpahkannya dalam sebuah doa. Diadukannya segala kesedihan dan kepedihan selama 35 hari ini pada sang pencipta berharap hatinya bisa lebih tenang dan tentram.

35 hari. 35 hari usia pernikahannya. Tapi satu hari pun ia belum pernah ia lewati dengan kebahagiaan.

35 hari. 35 hari setelah pernikahan. Ia justru menemukan fakta tak terduga di 35 hari setelah pernikahannya.

Hatinya hancur. Hatinya patah. Hatinya tercerai-berai di usia 35 hari setelah pernikahan.

Padahal biasanya, 35 hari pertama setelah pernikahan itu masih hangat-hangatnya. Masih bersemangat-bersemangatnya. Namun yang ia rasakan, justru sehancur-hancurnya.

Yaya mengadu pada Tuhannya. Memohon agar diberikan kekuatan. Memohon agar diberikan ketabahan. Memohon agar diberikan kesabaran.

Setelah selesai, Yaya kembali ke dalam mobil. Ia masih memakai mobil Alifa. Saat teringat tujuannya pergi tadi, Yaya pun melajukan mobilnya menuju apartemen Andrian. Bila awalnya ia hanya akan mengambil beberapa barang saja, maka kali ini ia akan mengambil semua barangnya. Ia pun memastikan ini merupakan terakhir kalinya ia menginjakkan kakinya di sana.

Setibanya di apartemen Andrian, Yaya akun segera mengemas barang-barangnya ke dalam koper yang memang ada di sana. Ia memasukkan semuanya tanpa menyisakan satupun. Bahkan foto pernikahan mereka pun ikut Yaya turunkan. Ia mengeluarkan potretnya dan merobek potret tersebut menjadi potongan kecil lalu membuangnya ke tempat sampah.

Yaya sudah bertekad, ia akan melepaskan Andrian dan membuang segala kenangan tentangnya. Tak ada yang perlu ia perjuangkan, tak ada yang perlu ia pertahankan. Segalanya telah hancur. Luluh lantak tak berbentuk lagi.

...***...

"Sayang, kau ada di mana?" tanya Danang melalui sambungan telepon. Entah mengapa sejak siang tadi, hatinya tidak bisa tenang sama sekali. Bukan hanya dirinya, tapi juga Dina. Lalu laporan dari Djiwa membuat perasaannya semakin tak tenang.

"Pa, tadi Djiwa mampir ke resto terus ketemu sama Mbak Ifa. Pas lagi ngobrol, mbak Ifa keceplosan bilang kalo Mbak Yaya tidur di resto. Djiwa terkejut dong. Pas mau tanya lagi kok gitu, Mbak Ifa malah nggak mau cerita. Mbak Yaya 'kan pengantin baru, kok malah tidur di resto sih. Apa mungkin mbak Yaya diusir sama Kak Rian ya?" ucap Djiwa sore itu saat Danang baru pulang bekerja. Sontak saja Danang jadi khawatir. Ia pun mencoba menghubungi Yaya, tapi Yaya tidak merespon panggilannya sama sekali.

Dengan rasa khawatir yang membuncah, Danang dan Dina akhirnya memilih pergi ke restoran. Namun jawaban Alifa membuatnya tak tenang. Danang tidak hanya menanyakan tentang keberadaan Yaya, tapi juga mengenai kebenaran kalau Yaya tidur di restoran. Awalnya Alifa menolak memberikan penjelasan. Ia bahkan memilih berbohong. Namun karena Danang dan Dina terus mendesaknya, akhirnya Alifa pun mau bercerita tentang apa yang alami Yaya setelah menikah.

Sontak saja Danang dan Dina terhenyak. Mereka terduduk lemas setelah mengetahui fakta tidak terduga itu. Fakta kalau rumah tangga anaknya sedang tidak baik-baik saja. Bahkan Yaya pulang lebih awal sendirian saat bulan madu.

"Yaya ada di apartemen Mas Rian, Pa," jawab Yaya sesak. Mungkin karena terlalu lama menangis tadi membuat suaranya jadi terdengar sengau.

"Suara kamu kenapa?" tanya Danang lembut. Yaya terkejut. Padahal sudah sebisa mungkin ia bersikap biasa saja.

"Yaya ... Yaya hanya sedang sakit tenggorokan, Pa," kilah Yaya.

"Bukan karena habis menangis?" Yaya menelan ludah. Ia tidak menyangka kalau ayahnya bisa menebak kalau ia baru saja menangis.

"Menangis? Hehehe ... Memangnya siapa yang menangis sih, Pa? Yaya beneran sedang sakit tenggorokan. Kayaknya mau flu nih.Yaya tetap saja berusaha berdusta. Ia memang berencana untuk jujur pada kedua orang tuanya, tapi belum saat ini sebab ia merasa belum siap.

"Berhenti berdusta, Nak. Meskipun Papa bukanlah ayah kandungmu, tapi Papa sangat tahu bagaimana anak Papa. Pulang ya, Sayang. Papa tunggu di restoran. Kalau kamu sudah tidak sanggup, pundak Papa masih sanggup untuk menjadi tempatmu bersandar. Kamu masih punya Mama dan Papa, Nak. Telinga Papa masih sehat untuk mendengar segala keluh kesahmu. Kedua tangan Papa juga masih kuat untuk merangkul dan memelukmu. Jangan sembunyikan kesedihanmu, Sayang. Kau tidak sendiri di dunia ini. Ada Mama, Papa, dan Djiwa yang akan selalu menyayangimu," ucap Danang penuh emosi. Emosi kesedihan yang begitu mendalam. Sedih mengapa rumah tangga putrinya yang harus dilanda prahara seperti ini. Namun ia tetap berharap, rumah tangga anaknya akan baik-baik saja.

Tiba-tiba terdengar suara isakan dari bibir Yaya. Ayah sambung rasa ayah kandung. Inilah yang Yaya alami. Danang memang menyayanginya layaknya anak kandung sendiri. Bahkan ia tidak pernah membedakan dirinya dengan Djiwa.

"Yaya, kau kenapa, Nak? Apa perlu Papa jemput ke sana?" panik Danang.

Yaya menggeleng. Namun saat sadar ayahnya tak mungkin melihat gelengan kepalanya, ia pun kembali berbicara.

"Nggak. Nggak perlu, Pa. Sebentar lagi Yaya ke resto."

Danang pun mengiyakan. Setelah mengucapkan untuk hati-hati di jalan, panggilan pun ditutup. Sebelum pergi, Yaya kembali mengedarkan pandangannya. Ia tersenyum getir. Bahkan belum lama ia tinggal di sana, tapi kini ia sudah harus pergi lagi. Bukan pergi untuk kembali, tapi pergi untuk selamanya.

Dipukulnya dada yang sesak. Sebelum akhirnya ia melangkah dengan pasti untuk meninggalkan segala kenangan yang menyedihkan di sana.

Sementara Yaya sedang dalam perjalanan menuju restoran, di kediaman Marissa, tampak ibu satu anak itu sedang memeluk Andrian dari belakang. Keduanya kini sedang berada di balkon kamar.

"Ian, apa setelah ini kita akan segera menikah?" tanya Marissa.

Andrian membalikkan tubuhnya dan memeluk Marissa. "Ya. Kita tidak bisa menundanya lagi. Maaf karena sudah terlalu lama membuatmu menunggu. Maaf karena sudah membiarkanmu berjuang sendiri untuk Tania."

"Tak apa. Tak masalah. Asal setelah ini kita bisa benar-benar menikah, aku sangat senang sekali," ujar Marissa riang. "Oh ya, tadi Yaya bilang mengenai pembatalan pernikahan. Apa kau belum pernah menyentuhnya?" tanya Marissa penasaran.

Andrian mengangguk membuat mata Marissa membola. "Aku tidak pernah menyentuhnya. Hanya kau. Hanya kau yang pernah ku sentuh. Tak ada yang lain."

"Benarkah?"

Andrian mengangguk mantap.

"Ian, aku benar-benar senang sekali. Tapi sejujurnya aku merasa bersalah dengan Yaya. Dia pasti sangat terluka karena kita."

Andrian diam. Sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama. Namun untuk mempertahankan Yaya, ia sadar, itu sudah tak mungkin. Namun Andrian pikir, tidak ada salahnya mencoba sekali lagi, bukan. Apalagi memikirkan siapa Yaya. Semua orang pasti akan mencemoohnya saat mengetahui apa yang sudah terjadi. Terlebih rekan sekantornya. Saat itu, ia begitu bangga memperkenalkan Yaya yang merupakan putri seorang dokter. Meskipun Marissa tak kalah hebat sebab ia seorang pemilik butik, tapi bila mendapatkan keduanya, bukankah itu jauh lebih baik.

"Tak usah kau pikirkan. Aku nanti akan kembali meminta maaf padanya."

"Tapi kau akan benar membatalkan pernikahan kalian, bukan?"

"Ah, itu ... i-iya. Bukankah kau sudah dengar tadi kalau aku sudah memilih dirimu. Sudahlah. Jangan bahas ini terus. Aku sudah lapar. Apa kau bisa memasakkan sesuatu untukku?"

Marissa mengerucutkan bibirnya. "Ian, kamu 'kan tau aku nggak bisa masak. Kok malah nyuruh masak sih!" omel Marissa. Ia yang tadinya tersenyum girang di pelukan Andrian kini berubah cemberut.

"Eh, aku ... lupa."

Entah mengapa, tiba-tiba ia mengingat masakan Yaya.

...***...

...Happy reading 🥰 🥰 🥰 ...

'

Terpopuler

Comments

Yus Nita

Yus Nita

engkhianat pseperti kln tak kan pernah merasa kan kebahagiaan.
dan karma Asti akan minimal kln. sekali ny jslang tetapjalang. dan pengkhianat gets lah pengkhianat

2024-12-27

0

Yanti Picauly Constantine

Yanti Picauly Constantine

emosi aku sama pasangan haram ni, kasian Yaya. tunggu azab utk kalian Rian n Marisa... manusia hina

2024-11-21

2

Marina Tarigan

Marina Tarigan

rupanya selama ini kumpul kebo ya untung yaya masih perawan

2025-03-05

1

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!