Tercabik-cabik

Setelah Danang dan Dina pulang, Yaya pun segera meminta pegawainya membereskan meja. Saat Yaya berjalan hendak menuju ruangannya, ia melewati meja dimana Nurlela dan Marissa duduk. Mereka pun sepertinya sudah menyelesaikan makan siang mereka. Namun saat kaki Yaya melangkah, tiba-tiba ia mendengar kalimat yang sungguh membuat hatinya miris.

"Wah, beneran ini kalung buat Mama? Wah, Sa, kamu memang benar-benar baik. Nggak seperti dia, boro-boro ngasi hadiah, cuma gara-gara masalah sepele aja memilih pulang. Kekanakan banget. Nggak tau dah, apa yang Rian liat dari dia. Cantik sih cantik, tapi ... "

"Ma ... " sergah Marissa. "Bagaimanapun mereka sudah berjodoh. Sebagai perempuan, aku paham apa yang Yaya rasakan. Marissa merasa wajar Yaya seperti itu."

"Kamu tuh dari dulu kok baik banget sih, Sa. Persis seperti ibu kamu. Kenapa sih Rian nggak berjodoh sama kamu aja?" ucap Nurlela tanpa memikirkan perasaan Yaya sedikitpun. Yaya yang berdiri tak jauh dari sana merasa hatinya begitu teriris-iris. Mengapa mertuanya bisa setega itu pada dirinya? Kenapa setelah menikah ia berubah seperti itu? Apa hanya karena ia hanya anak sambung ayahnya atau ada hal lain?

Yaya yang merasa begitu sakit hati pun memilih beranjak dari sana. Ia mengurungkan niatnya ke ruang kerjanya. Sebaliknya, ia memilih pergi dari restoran dan melajukannya ke sebuah danau buatan yang jaraknya sekitar satu jam dari sana.

Setiap Yaya merasa sedang tidak baik-baik saja, maka ia akan memilih pergi ke tempat itu. Danau itu memang tidak begitu indah karena hanya danau buatan. Namun tempat itu cukup sepi membuat Yaya merasa tenang berada di sana.

Yaya merenung dalam diam. Memikirkan kemana arah pernikahan ini akan dibawanya? Rasa-rasanya, ia sudah tak sanggup lagi. Rasa-rasanya ... ia sudah mau menyerah. Namun, ia belum bisa melakukannya sebelum ia memiliki sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menguatkan tekadnya untuk berpisah. Sesuatu yang bisa membuat orang-orang tak perlu bertanya lagi apa dan kenapa akhirnya ia memilih berpisah.

Sementara itu, di sebuah apartemen, tampak seorang pemuda berdiri di depan kaca besar yang menampakkan dengan jelas jalanan sore itu yang dipadati dengan beraneka ragam kendaraan. Pemuda itu tercenung seorang diri dengan gelegak rindu yang mencengkeram hati.

Rindu. Ia sebenarnya sedang merindukan keluarganya. Keluarga yang terpaksa ia jauhi sementara. Bukan karena marah ataupun kecewa. Ia melakukan itu demi menjaga perasaan seseorang yang entah kenapa sejak beberapa tahun terakhir seakan menaruh dendam padanya.

Bukan tanpa alasan pemuda itu memilih menjadi koas di rumah sakit yang jauh dari kotanya. Ia tentu memiliki alasan yang jelas. Ia hanya tak ingin orang yang begitu ia kasihi itu semakin menaruh kebencian padanya. Ia hanya ingin seseorang yang ia kasihi itu kembali seperti dulu. Memanggilnya kakak dengan penuh cinta.

Pemuda yang tak lain adalah Rafi itu menghela nafas panjang. Tubuhnya sebenarnya terasa begitu lelah. Tapi rasa lelah itu tak selelah hatinya karena merindu.

Rafi duduk di kursi malas yang ada di balkon. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri foto. Ia membuka salah satu foto beberapa tahun yang lalu. Sebuah foto keluarga. Foto terakhir ia tersenyum lebar bersama adiknya. Karena setelah itu, entah dimulai sejak kapan, semua berubah.

"I miss you," lirih Rafi yang sangat merindukan kebersamaan mereka dulu.

...***...

"Mama kenapa?" Madava baru saja pulang lalu ia mendapati sang istri tengah melamun.

"Eh, Mas. Maaf, nggak nyadar kamu udah pulang."

"Nggak papa. Kamu kenapa, hm? Kangen Rafi?" tanya Madava yang kemudian memilih duduk di sampingnya.

Ayu pun mengangguk. Ya, Ayu memang merindukan Rafi. Sudah setahun ini, Rafi tak pernah pulang. Mereka hanya sesekali saja bertemu. Itupun saat Madava ada waktu senggang sehingga mereka bisa segera menemui putra pertama mereka itu.

Madava tampak berpikir. "Tapi Mas dua mingguan ke depan sibuk sekali. Malah Minggu depan Mas ada perjalanan dinas ke Gorontalo," ujar Madava penuh sesal. Sesal karena tidak bisa menemani istrinya menemui putra pertamanya itu.

Terdengar helaan nafas pendek dari bibir Ayu. "Bukankah lusa tanggal merah ya? Esoknya juga weekend, bagaimana kalau kamu ajak Artha saja?" tawar Madava. Artha merupakan anak kedua mereka.

"Emangnya Artha mau? Mas tau sendiri dia seperti apa?" keluh Ayu.

Bukan tanpa alasan, putra keduanya itu memang sedikit keras kepala. Belum lagi, dua tahun ini Artha dan Rafi terlihat tidak akur. Entah apa alasannya. Ayu sudah mencoba menanyai keduanya, tapi keduanya justru kompak menjawab mereka baik-baik saja. Sungguh Ayu sangat mencemaskan keduanya. Tak pernah terbayangkan di benak Ayu kalau kedua putranya akan terlibat perang dingin seperti ini. Namun satu yang Ayu yakini, itu bukanlah kesalahan Rafi sebab Ayu sangat tahu kalau Rafi merupakan tipe yang suka mengalah. Ayu hanya berharap perang dingin ini hanya berlaku sementara dan Ayu berharap semua ini terjadi hanya karena kesalahpahaman semata.

"Nanti Mas yang akan bertanya padanya."

Ayu pun mengangguk setuju.

...***...

Sudah 3 hari Yaya pergi dari apartemen dan tak kunjung pulang. Andrian memang terus berusaha menghubunginya, tapi Yaya enggan merespon panggilan dan pesan masuk dari Andrian. Andrian juga mencoba mencari Yaya di restoran yang ia ketahui tempat kerja istrinya itu, tapi sesuai instruksi Yaya pada karyawannya, bila Andrian datang ke sana, mereka harus menjawab Yaya tidak ada di sana. Alhasil, Andrian pun pulang dengan tangan hampa.

Sementara itu, di kediaman Marissa, tampak Tania yang sedang dipakaikan pakaian oleh ibunya. Mereka sedang bersiap hendak pergi ke wahana permainan air bersama Nurlela, Ellena dan suami serta anaknya. Rencananya Andrian pun akan segera menyusul setelah pekerjaannya selesai.

"Tania ingat ya, panggil Papa Om Ian, bukan Papa. Dengar?"

Dahi Tania berkerut. Sebenarnya ia bingung, kenapa saat bertiga saja, ia boleh memanggil Andrian Papa, tapi saat ada orang lain ia harus memanggil Om.

Melihat dahi Tania yang berkerut, Marissa paham alasannya. "Tania nggak usah terlalu pikirin. Nanti juga Tania tau," ucapnya. "Nah, sekarang udah cantik. Jadi anak yang baik ya di depan Oma, aunty, Papa, dan yang lain. Harus nurut juga. Oke?"

"Oke, Mama."

"Anak pintar. Ayo!" ajak Marissa.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh suami Ellena pun tiba di depan rumah Marissa. Mereka pun segera turun dan berganti naik ke mobil Marissa. Mobil Marissa merupakan mobil SUV sehingga bisa memuat orang lebih banyak. Lalu dalam hitungan detik, mobil itupun melaju dengan kecepatan sedang menuju wahana permainan air.

Di wahana permainan air, Tania tampak bermain dengan girang. Andrian yang sudah tiba pun ikut bermain sembari menjaga Tania. Mereka tampak seperti keluarga bahagia. Marissa memercikkan air ke wajah Andrian. Andrian pun membalasnya. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil terus saling menyiramkan air.

Saat mereka sedang bersenang-senang, tanpa mereka tahu ada sebuah kamera terarah kepada mereka. Setelah mengambil beberapa gambar dan video, gambar dan video itupun segera orang itu kirim ke nomor Yaya. Yaya yang melihat foto dan video itu semakin tersenyum miris. Hatinya semakin dicabik-cabik.

...***...

...Happy reading 🥰 🥰 🥰 ...

Terpopuler

Comments

Intan Kumalasari

Intan Kumalasari

hadehhh,,emang selalu nyeseg kalo baca novel kakak di awal2 episod,tapi HEPI endingnya nggak bikin kecewa,makanya walaupun bikin nyeseg di awal,tetep lanjut baca sampai akhir/Kiss/

2025-02-03

2

Yus Nita

Yus Nita

seharus ny d yayangirim mata2 buat ngikuti kemana ounAdrian pergibiarvisanafibukti, sewaktu2 di perlu kan.

apa ma ffil papa saat mereka bertiga...???
udah gak betul lgnech as to add yggsk beres diantara mereka, maka ny sijalanvmariss diceraikan

2024-12-27

0

Nining Moo

Nining Moo

marissa punya tujuan tapi dgn memperalat anak kecil,,🤔

2025-01-11

0

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!