Di pantai

Tibalah hari dimana Yaya dan Andrian akan pergi berbulan madu. Namun Yaya tidak bersemangat sama sekali. Itu karena semua anggota keluarga Andrian yang turut serta. Begitu pula Tania dan Marissa.

"Mas, kenapa Tania harus ikut kami sih? Ibunya 'kan ada," ujar Yaya saat melihat Tania yang ada di gendongan Andrian.

"Tania mau ikut Om Yan," ucap Tania tiba-tiba dengan sorot mata tidak suka dan bibir mengerucut. Padahal Yaya tipe perempuan yang suka dengan anak-anak kecil. Bahkan sebelumnya ia pun begitu menyukai bocah perempuan itu yang memang tampak menggemaskan. Namun entah makin kemari, Yaya justru kehilangan respek padanya. Apalagi Tania selalu saja menempeli Andrian membuat Yaya jengah.

"Tania maunya sama aku, Yang. Ya nggak papa lah. Anggap aja latihan jadi papa." Andrian menjawab santai. Ia tidak begitu memikirkan Yaya yang tidak menyukai sikapnya itu.

"Tapi Mas ... "

"Om, mau es kim," seru Tania tiba-tiba saat melihat pedagang es krim yang baru saja datang ke pantai dimana mereka berada sekarang.

"Tania mau es krim? Ayo!" ajak Andrian sambil melangkah panjang menuju penjual es krim. Yaya mendengus sambil menatap sebal pada keduanya.

"Hai," sapa seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping Yaya.

"Ya," jawab Yaya singkat.

"Maafin Tania, ya. Karena udah terlalu nempel sama Rian. Sebenarnya aku udah bilang ke Tania supaya nggak terlalu nempel ke Rian lagi. Tapi ... namanya juga anak kecil jadi ya percuma aja. Dikasi tau, masuk kuping kanan, keluar kuping kiri." Perempuan yang tak lain adalah Marissa itu berucap sambil berseloroh. Ia terkekeh sendiri, berbeda dengan Yaya yang menatapnya dalam diam. "Nggak lucu ya?" Marissa menatap Yaya yang hanya diam. "Kamu beneran marah? Ya ampun, jangan marah ya! Beneran deh, aku dah bilangin Tania supaya nggak terlalu nempel sama I--- eh maksudnya Rian lagi. Tapi masih aja. Mau marah, aku nggak bisa. Kamu belum jadi seorang ibu, jadi nggak akan tau bagaimana perasaanku saat liat anakku merasa bahagia dengan seseorang yang memperlakukannya seperti anak sendiri. Ayahnya nggak peduli. Dia nggak tau bagaimana kasih sayang seorang ayah. Hanya Rian yang bisa memahaminya. Dia begitu bahagia. Entah bagaimana sedihnya Tania bila dia benar-benar dijauhkan dari Rian. Sungguh, aku nggak bermaksud macam-macam. Aku harap kau mengerti," ujar Marissa serak.

"Mbak, aku sudah mencoba untuk mengerti, tapi haruskah terus-terusan seperti ini? Bahkan sampai sekarang aku belum memiliki quality time berdua dengan Mas Rian. Dia selalu sibuk dengan kalian. Tania, Tania, dan Tania. Pagi, siang, sore, malam, selalu Tania. Mbak sebagai perempuan, apa nggak bisa mikirin perasaan aku. Sedikit saja?" ucap Yaya dengan suara sedikit menggebu. "Kami baru menikah, Mbak. Tapi kalian selalu mendominasi Mas Rian," imbuhnya lagi dengan mata memerah.

Marissa tiba-tiba terisak. Yaya tidak suka ini. Ia paling tidak bisa melihat orang lain bersedih. Lalu kini ia membuat orang lain menangis. Rasanya ia ingin menangis juga. Tapi ia tahan rasa itu.

"Rissa, ada apa?" tanya Andrian yang baru kembali dari membeli es krim. Ia menatap Yaya dengan sorot tak terbaca.

"Yan, sini, kembalikan Tania." Marissa meraih Tania ke dalam gendongannya.

"Tania macih mau cama Om Yan," ucap Tania.

"Nggak, Nak. Mulai sekarang kamu harus belajar tanpa ada Om Rian lagi. Om Rian sudah menikah. Tante Yaya benar, tidak seharusnya kita seperti ini. Maafkan kami, Yaya, Rian. Maaf sudah merepotkan kalian. Kami pulang dulu. Permisi." Marissa berucap serak kemudian berbalik.

Andrian bingung. Ia menatap kesal pada Yaya. Ia menduga pasti Yaya sudah melakukan sesuatu pada Marissa hingga ia mengatakan itu.

"Sa, kau mau kemana? Kita pergi bersama, pulang pun harus sama-sama," sergah Andrian.

"Ada apa ini?" Ellena mendekat pada keduanya.

"Nggak, Yan. Aku nggak mau merusak hari bahagia kalian. Kalian baru menikah. Sudah seharusnya kalian menghabiskan waktu berdua tanpa ada aku dan Tania. Maaf kalau kehadiranku merusak waktu kalian berdua."

Ellena yang mendengar itu sontak memicingkan matanya pada Yaya.

"Apa ini ulahmu? Iya? Hei, kau itu baru masuk ke dalam keluarga kami. Apa hakmu melarang Tania dan Marissa dekat dengan Andrian? Marissa bahkan sudah mengenal Andrian jauh sebelum kau hadir. Dan kau yang baru datang, dengan soknya ingin melarang Tania dan Marissa dekat dengan Andrian. Seharusnya kau sadar, jangan berbuat sesuka hati seperti ini," sentak Ellena pada Yaya membuat jantung Yaya seketika bergemuruh.

"Jangan-jangan dia cemburu pada Marissa? Cih, menjijikan. Kalau mereka memiliki hubungan, seharusnya sudah sejak lama mereka bersama. Otakmu terlalu kotor tidak bisa melihat kalau Rian itu memang baik." Nurlela ikut angkat suara.

"Yaya, benar seperti itu? Kau cemburu dan meminta Marissa menjauh dengan alasan Tania yang terlalu dekat denganku?" ucap Andrian sambil menatap tajam Yaya.

"Mas, aku hanya menyampaikan faktanya. Kita baru menikah, tapi waktumu selalu didominasi oleh mereka. Apa salah aku sebagai seorang istri menyampaikan keluh kesah ku? Dia juga perempuan, seharusnya ia paling mengerti perasaanku. Tapi kenapa kau justru marah-marah? Aku hanya melakukan apa yang memang sudah menjadi hakku."

"Hak? Kau tau, aku paling benci orang yang sok ikut campur dengan urusanku. Lihat sekarang, Marissa dan Tania pergi. Mereka tidak mengenal siapa-siapa di sini. Dan kau dengan begitu teganya mengatakan itu? Tidak bisakah kau tidak terlalu berpikiran macam-macam. Toh aku melakukan itu karena murni rasa sayangku pada Tania. Kau benar-benar mengecewakan, Mas, Ya," desis Andrian kesal. Lalu ia pun ikut berbalik pergi dan berlari mengejar Marissa yang sepertinya hendak menghentikan taksi. Saat Marissa masuk ke dalam taksi, tanpa Yaya duga, Andrian pun ikut masuk ke dalamnya. Semakin tebal rasa kecewa itu.

Hatinya sampai membatin. 'Apakah pernikahan memang semenyakitkan ini?'

Taksi yang membawa Marissa, Tania, dan Andrian akhirnya meninggalkan area pantai yang saat itu terlihat ramai. Tinggallah Yaya, ibu mertua, dan iparnya.

Ellena tersenyum sinis. "Ditinggal ya? Kasian. Rasakan itu. Makanya jangan sok ikut campur urusan orang. Jadi ditinggal kan," ejeknya tanpa memedulikan perasaan Yaya sama sekali.

"Sayang, udah. Nggak boleh begitu," sergah suami Ellena.

"Biarin aja, Mas. Sebel banget aku sama dia. Mentang udah nikah sama Rian jadi sok ngatur segala."

"Ya udah, Ell, lebih baik kita pulang. Mama udah nggak mood liburan lagi. Oh, ya, papa mana?" Nurlela celingak-celinguk mencari sang suami. Saat melihat sang suami sedang memperhatikan para bule berbikini di tepi pantai, ia pun segera melangkah panjang ke arah suaminya. Lalu ia menyeret tangan suaminya, mencari taksi yang akan mengantarkan mereka ke hotel tempat mereka menginap.

Semua orang sudah pulang. Tinggallah kini Yaya seorang diri di sana. Perlahan, air mata Yaya jatuh berderai. Hatinya begitu sakit sampai-sampai ia menangis sesenggukan.

Plukkk ...

Tiba-tiba saja sebuah bola voli mendarat di kepalanya. Sontak saja Yaya terkejut bukan main. Ia pun menoleh ke arah belakang yang di saat bersamaan ada seorang pemuda yang berlari mendekat ke arahnya.

"Aduh, Mbak, maaf. Aku nggak sengaja tadi," ujar pemuda itu seraya meringis.

"Bro, dia nangis tuh! Tanggung jawab loe!" bisik teman pemuda itu membuat pemuda itu semakin merasa bersalah.

"Mbak, mbak, aduh, kok jadi semakin nangis ni! Gimana ini?" pemuda itu panik. "Duh, Mbak, suwer tekewer-kewer, aku nggak sengaja. Apa ada yang luka? Sini, aku periksa deh. Aku calon dokter kok, Mbak. Tenang aja. Mbak pasti sembuh di tangan aku," ujar pemuda itu.

"Sakit," ujar Yaya.

"Hei, Bro, dia beneran sakit."

"Sa-sakit beneran. Yuk, sini, aku periksa dulu."

Pemuda itu menatap kepala Yaya yang berbalut hijab. "Tapi itu ... jilbabnya mesti dibuka dulu biar aku bisa periksa," ujarnya.

Yaya menggeleng. "Kepala aku nggak sakit." Jelas saja jawaban Yaya membuat ketiga pemuda itu melongo. "Tapi yang sakit di sini " Yaya menunjuk dada kirinya jelas saja ketiga pemuda itu semakin melongo. Yang terkena bola 'kan area kepala, tapi kenapa dada yang sakit?

Belum sempat pemuda itu meminta penjelasan, Yaya sudah membalikkan badannya terlebih dahulu lalu pergi dari hadapan ketiga orang itu.

"Eh, mbak, mbak mau ke mana, hei? Katanya tadi sakit?"

Yaya tidak memedulikan pertanyaan pemuda itu. Atau lebih tepatnya, tidak mendengar karena otaknya sedang gaduh atas rasa kecewa yang Andrian torehkan.

Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung. Beneran deh.

"Kayaknya dia sedang patah hati deh, makanya nangis kejer kayak gitu," celetuk salah satu temannya.

"Kayaknya sih. Kasian ya. Cantik-cantik tapi disakitin. Kalau gue yang jadi pasangannya, sumpah deh, bakal gue sayang-sayang terus," cetus pemuda itu membuat kedua temannya terkekeh.

"Mimpi kali ye."

"Nggak papa sekarang mimpi, siapa tau suatu hari nanti jadi kenyataan," sahut pemuda itu yang dibalas gelak tawa oleh teman-temannya.

"Dah yuk, lanjut main voli lagi. Temen-temen dah pada nunggu tuh." Salah satu dari mereka meraih bola dan berlari menuju sekumpulan orang yang sepertinya sedang liburan sambil bermain voli pantai pantai. Pemuda itu pun ikut berlari. Tiba-tiba pemuda tadi menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia tersenyum. Senyum yang penuh arti.

...***...

...Happy reading 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

baru terusin ya nih berarti waktu itu baca nya belum beres aku Thor bD,wie,,Ak mau kebut biar tau selanjut nya weekend,,

2024-11-01

0

Susi Andriani

Susi Andriani

bagus kau tinggalkan ajalah keluarga sialan itu yaya

2025-01-24

0

⋆.˚mytha🦋

⋆.˚mytha🦋

yuhuuuu... jodoh yaya datanggggg uiiiiii 👏😍

2024-12-13

0

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!