Pulang

Yaya tiba di Jakarta saat langit sudah menjelang malam. Tiba di bandara, Yaya segera memesan taksi untuk mengantarkannya ke restoran miliknya.

Ya, Yaya memiliki tempat usaha sebuah restoran Nusantara. Nama restoran itu adalah Kampung Kita Resto. Restoran itu dibangun dari uang pemberian mendiang ayah biologisnya. Sesuai janji Dina, ia memberikan uang pemberian mendiang Aril saat Yaya dewasa. Lalu Yaya menggunakan uang itu untuk membangun restoran yang kini sudah memiliki beberapa cabang di beberapa kota besar di Indonesia.

Sebenarnya Yaya memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Namun karena ia mengalami keterlambatan sekolah, usianya sudah tidak potensial lagi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang itu. Hingga akhirnya, setelah lulus SMA, Yaya pun membangun restoran bercita rasa Nusantara itu. Jelas saja Dina dan Danang sangat mendukung. Mereka justru senang karena Yaya bisa memanfaatkan peninggalan ayahnya sendiri baik.

Kedua kakek dan nenek Yaya dari sebelah ayahnya juga sudah tiada. Karena tidak memiliki keturunan lain, sebagian hartanya mereka hibahkan untuk Yaya, sementara separuhnya lagi diserahkan ke Badan Amil Zakat agar bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Semua itu sudah diwasiatkan orang tua Aril melalui pengacaranya jauh hari sebelum keduanya meninggal.

Yaya kini sudah tiba di restoran miliknya. Alifa yang merupakan manager restoran sekaligus teman Yaya begitu terkejut saat melihat keberadaan Yaya di restoran itu.

"Yaya, loe kok ... " Alifa celingak-celinguk ke sana ke mari. Namun ia tidak menemukan keberadaan Andrian. Sontak saja dahinya berkerut.

"Gue sendiri," jawab Yaya pelan. Lelah. Sudah pasti. Ia sudah benar-benar lelah. Baru dua hari ia datang ke pulau Bali, tapi bukannya melepaskan penat dan bersenang-senang, ia justru merasakan kesedihan yang tiada tara.

Alifa tertegun. Ia pun mengekori langkah Yaya yang kini masuk ke dalam ruangannya.

"Ya, are you okay?" tanya Alifa khawatir.

Yaya melepaskan kopernya begitu saja. Ia membalikkan badannya. Matanya memerah yang jelas saja membuat Alifa seketika khawatir. Ia bisa menebak kalau sudah terjadi sesuatu selama di Bali. Kalau tidak, bagaimana bisa Yaya pulang seorang diri dan kini justru terlihat begitu menyedihkan.

"I'm not okay, Fa. Aku sakit, Fa. Sakit banget. Di sini ... rasanya sesak banget," ujar Yaya dengan suara bergetar.

Alifa pun gegas mendekat. Tanpa banyak kata, ia langsung memeluk erat tubuh Yaya yang terlihat bergetar hebat. Tangis Yaya pun pecah. Suaranya terdengar begitu memilukan. Bila tadi ia hanya mampu meneteskan air mata yang mendesak keluar, kalau kali ini ia sengaja menumpahkannya. Luruh sudah pertahankan Yaya. Hatinya sakit sekaligus hancur. Pernikahan yang ia pikir akan memberinya kebahagiaan, justru sebaliknya, memberikan kesedihan mendalam pada dirinya.

Alifa diam. Ia tidak ingin bertanya apapun saat ini. Ia ingin membiarkan Yaya menumpahkan kesedihannya terlebih dahulu. Setelah tenang, ia baru akan meminta penjelasan apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Alifa membawa Yaya ke sofa. 30 menit sudah berlalu, tapi Yaya masih tergugu pilu. Alifa pun gegas mengambilkannya air putih dan memberikannya pada Yaya. Yaya menenggak air itu susah payah. Tenggorokannya rasa tercekat. Alifa yang melihat pun jadi ikut berkaca.

Setelah Yaya terlihat lebih tenang, barulah ia mulai bertanya.

"Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Ya? Kau kenapa? Dan ... kenapa kau pulang seorang diri? Ceritakan padaku apa yang sudah terjadi. Bukankah seharusnya saat ini kau masih berbulan madu," ujar Alifa pelan.

Yaya mengangkat wajahnya lalu menyeka pelan bulir yang nyatanya belum benar-benar berhenti itu.

"Aku pulang sendiri, Fa. Aku pulang karena aku tidak sanggup melihat drama keluarga cemara Mas Rian dan ... Mbak Marissa. Ibunya Tania."

Sontak saja kata-kata Yaya barusan membuat dahi Alifa berkerut dalam.

"Mereka ikut kami bulan madu."

"Are you seriously? Ngapain mereka ikut? Itu bulan madu kalian lho. Apa mereka nggak punya otak? Lagian, kenapa kalian biarin dia ikutan sih? Kurang kerjaan banget."

Alifa pikir Yaya dan Andrian yang mengizinkan Marissa dan Tania ikut. Makanya ia merasa aneh dengan yang keduanya lakukan.

"Aku bukannya ngebiarin, Fa, tapi itu permintaan ibunya mas Rian. Mas Rian juga kasih izin. Bahkan semua anggota keluarga mas Rian ikut. Mereka beralasan kalau mereka juga pingin liburan. Meskipun awalnya kurang setuju, tapi ya udah ya, toh mereka sudah jadi keluarga aku. Tapi ... " Yaya terdiam sejenak. Matanya kembali memanas. Ingin lanjut cerita, khawatirnya ia dianggap menjelek-jelekkan keluarga suami sendiri.

"Kalau loe belum sanggup cerita, nggak papa, Ya. Lagian kayaknya loe sedang capek banget. Jadi gimana ini? Loe mau pulang atau ... "

"Aku mau tidur di sini aja, Fa. Please jangan kasi tau siapapun ya tentang aku yang sudah pulang dan tidur di sini."

"Sip. Loe nggak perlu khawatir. Sekarang cuci muka atau mandi sekalian terus istirahat. Eh, loe udah makan?"

Yaya menggeleng. "Nggak. Tapi aku nggak laper."

"Loe lupa, loe punya penyakit lambung, Ya. Entar penyakit loe kambuh, bokap loe bisa ngedumel sepanjang jalan kenangan sama gue, tau nggak sih loe."

Yaya terkekeh. "Semoga aja nggak. Beneran, gue sedang nggak selera makan. Kepala gue juga pusing. Loe tau lah 'kan kalo gue pusing gue jadi nggak selera makan."

Alifa berdecak. Tapi ia menuruti kata-kata Yaya. Ia paham. Dimana-mana, orang yang sedang banyak beban pikiran pasti berujung kehilangan selera makan. Namun sebagai jaga-jaga, Alifa menyediakan beberapa cemilan, minuman, dan obat di kamar khusus Yaya yang ada di ruang kerjanya itu. Setelahnya, Alifa pun segera pergi dari sana.

Sementara itu, di restoran hotel yang ada di Bali, Nurlela mengerutkan kening saat melihat Andrian datang tanpa Yaya.

"Di mana perempuan itu? Masih ngambek?" cibirnya. Andrian pun segera duduk di samping Marissa yang bersisian dengan Tania. Mereka datang duluan bersama Nurlela, Ellena, dan suami serta anaknya.

"Dia sudah pulang ke Jakarta," jawab Andrian dengan raut wajah rumit.

"Apa? Kamu nggak sedang bercanda 'kan?"

Andrian menghembuskan nafas pelan kemudian menggeleng. Marissa yang mendengar itu sontak menundukkan kepalanya.

"Maaf. Ini semua gara-gara aku. Seharusnya aku tidak ikut kemari. Gara-gara aku, bulan madumu jadi kacau," cicit Marissa yang terdengar merasa bersalah.

Andrian dengan cepat menggenggam tangan Marissa. "Nggak. Ini bukan salahmu kok. Dia hanya sedang cemburu. Mohon kau bisa mengerti," ujar Andrian mengiba menenangkan Marissa.

"Rian benar. Sudah. Nggak usah terlalu dipikirkan. Secara usia memang ia sudah dewasa, tapi secara sikap dia masih kekanakan. Cuma karena masalah Tania aja dia sampai pulang sendiri. Benar-benar kekanakan," ucap Nurlela tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Yang mama katakan benar, Sa. Ya udah, ajak Tania makan sekarang, yuk. Dia pasti sudah lapar sama seperti Riko," timpal Ellena sambil mengusap kepala putranya yang usianya setahun lebih tua dari Tania.

...***...

...Happy reading 🥰 🥰 🥰 ...

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

keluarga ga ada akhlak,,tapi menantu laki laki itu juga sama mendukung istri dan mertuanya,,,hallaaa tunggu biar bubar Yaya ga tau sah takut jadi jandi,,, yang baru menikah,,,, semoga setelah badai akan datang pelangi 🌈🌈🌈🌈

2024-11-01

0

Marina Tarigan

Marina Tarigan

adrian laki2 atau wanita jadi2an mungkin keluarga Adrian tdk tahu siapa yaya sebenarnya dia bukan anak haram ayahny kandung memberi warisan dan kakek neneknya juga memberi warisan sama yaya

2025-03-05

0

Mariani Sri

Mariani Sri

keluarga sinting bulan madu ko rame rame Thor 😭😭

2024-11-01

0

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!