Pulang

Tiga hari sudah Yaya berada di kota dimana ia akan membangun cabang restorannya. Setelah melakukan survei dan Yaya merasa cocok, ia pun segera mengurus perjanjian jual beli lahan tersebut. Lokasinya memang cukup strategis. Selain di dekat pemukiman padat penduduk, tempat juga tidak jauh dari lokasi perkantoran, kampus, dan Islamic School. Meskipun harga tanahnya cukup tinggi, mengingat lokasi yang strategis dan cukup menjanjikan, Yaya pun tak berpikir dua kali. Karena untuk mengurus pengalihan kepemilikan tanah tersebut cukup memakan waktu, alhasil Yaya memperpanjang waktunya di sana hingga 5 hari. Setelah lima hari berlalu, barulah Yaya kembali ke kotanya.

Sementara Yaya sedang mengalihkan beban pikirannya dengan mengembangkan restorannya, maka di tempat lain ada seorang laki-laki yang begitu kesal karena panggilannya tak kunjung diangkat sejak lima hari yang lalu. Laki-laki yang tak lain adalah Andrian itu kesal bukan main. Ia sampai melempar ponselnya ke meja kerjanya karena kesal.

Tok tok tok ...

Rekan kerja Andrian mengetuk meja kerjanya. Andrian tersentak.

"Apa?"

"Meeting, Woy. Lupa loe! Mau kena omel pak Dava loe?" ucap rekan sedivisinya.

Andrian membelalakkan matanya. "Kenapa nggak ngomong dari tadi?" ketus Andrian.

"Loe sibuk ngelamun aja sambil masang muka asem gitu, gue dah manggil-manggil nama loe dari tadi, jadi siapa? Kenapa? Nggak dapat jatah semalam?" ejek rekan kerja Andrian tersebut.

"Ck, sotoy." Andrian pun segera mengumpulkan berkas-berkas yang akan dibawa meeting. Mereka pun segera beranjak menuju ruang meeting. Saat masuk ruang meeting, tampak semua mata menatap kesal pada Andrian. Andrian seketika gugup. Apalagi saat mata CEO mereka sudah menatap tajam ke arahnya.

"Jam berapa ini? Apa kau tidak bisa melihat jam sehingga tidak tahu kalau meeting seharusnya sudah dimulai sejak tadi?" desis Madava, CEO perusahaan itu. Karena kinerja dan loyalitasnya terhadap perusahaan, Madava akhirnya diangkat menjadi CEO perusahaan yang masih berada di bawah payung perusahaan raksasa Angkasa Grup.

"Maafkan saya, Pak," ucap Andrian merasa malu sekaligus gugup.

"Kau tau 'kan saya paling tidak suka orang yang tidak disiplin?"

"Sekali lagi maafkan saya, Pak. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi," ujar Andrian sungguh-sungguh.

"Baiklah. Saya harap ini kesalahan pertama dan terakhir kali. Bila kembali terjadi, kau tentu tahu 'kan konsekuensinya?"

"Iya, Pak. Saya mengerti."

"Baiklah. Segera mulai rapat," ucap Madava tegas. Andrian pun segera mengambil tempat dan duduk di sana. Rapat pun akhirnya dimulai hingga satu jam lamanya.

Setelah rapat usai, mereka pun segera bubar. Beberapa mata menatap kesal Andrian. Andrian sadar, itu karena kesalahannya. Ia pun hanya bisa diam, tanpa berkata apa-apa.

...***...

Seperti biasa, Andrian selalu saja pulang saat langit sudah menggelap. Saat Andrian masuk ke dalam unit apartmentnya, mata Andrian terbelalak.

"Yaya, kau sudah pulang?" ucap Andrian tersenyum lebar.

"Ya. Kenapa? Apa Mas tidak senang melihatku kembali?" ucap Yaya datar. Padahal niatnya kembali ini ingin memperbaiki hubungan mereka yang semakin merenggang. Tapi entah kenapa, setiap melihat Andrian, Yaya tiba-tiba merasa kesal.

"Kata siapa? Mas senang kok." Andrian meletakkan tas kerjanya ke atas sofa. Kemudian ia mendekat ke arah Yaya dan memeluknya.

"Mas merindukanmu," ujar Andrian. Tapi Yaya tidak merasa tersentuh sama sekali. "Oh ya, kenapa kamu pulang nggak bilang-bilang? Kalau Mas tau 'kan Mas bisa jemput," ujar Andrian seraya tersenyum lebar.

"Nggak perlu repot-repot, Mas. Aku nggak mau kena php lagi," ucap Yaya menohok Andrian.

"Nggak kok. Mas nggak sengaja. Sungguh. Mas janji lain kali Mas akan lebih memprioritaskan kamu." Andrian berucap seraya menangkup pipi Yaya. Andrian mendekatkan wajahnya hendak mencium Yaya, namun Yaya justru memalingkan wajahnya.

"Mandi dulu, Mas. Aku tadi udah masak kalau mau makan. Ah, itu kalau Mas belum makan sih," ucap Yaya sedikit menyindir.

"Mas belum makan kok. Tolong siapkan makanannya ya. Mas mandi dulu." Andrian tidak memedulikan penolakan yang Yaya lakukan saat ia hendak menciumnya. Ia pun segera berlalu menuju kamar mandi. Sebenarnya tebakan Yaya tidaklah salah. Ia sudah makan, namun untuk kali ini biarlah ia mengalah. Ia tidak ingin Yaya kembali kecewa dan marah padanya.

Usai mandi dan berpakaian, Andrian pun gegas ke meja makan. Perutnya yang tadi kenyang, seketika lapar kembali saat melihat aneka hidangan di atas meja. Andrian akui, kemampuan memasak Yaya memang sangat bagus. Tak ada makanan yang tak enak. Semua hasil olahan tangannya tak pernah gagal. Semua sesuai dengan lidahnya. Bahkan Andrian bisa menambah berkali-kali saat memakan hasil masakan Yaya. Mungkin karena itulah ia bekerja di restoran, pikir Andrian. Sebab ia memang memiliki keahlian di bidang memasak.

"Masakanmu memang tidak pernah gagal, Ya. Selalu enak. Mas sampai nambah berkali-kali kalau kau yang memasak," puji Andrian jujur. Sayur capcay, ayam lada hitam, tempe bacem, dan sambal cabe hijau, sudah sangat menggugah seleranya. Perut Andrian sampai terasa penuh sesak. Karena ia makan sampai nambah dua kali.

Yaya tersenyum mendengar pujian itu. Namun ia tidak merasa tersanjung sama sekali. Entahlah. Mungkin karena sebelumnya Yaya sudah berkali-kali dipatahkan hatinya oleh Andrian sehingga sakit hatinya masih terasa. Belum pulih sempurna.

Kini keduanya sedang duduk di sofa ruang tamu. Seakan menjaga jarak, Yaya justru duduk di sofa single, sementara Andrian duduk di sofa panjang.

"Sayang, kok kamu di situ? Sini dong! Emangnya kamu nggak kangen sama Mas?" ucap Andrian lembut. Yaya menoleh sekilas.

"Sepertinya nggak tuh."

"Kamu masih marah?"

"Menurut Mas?"

"Maafkan Mas yang lagi-lagi buat kamu kecewa. Hari itu Mas nggak sengaja lewat butik Marissa. Jadi Mas mampir aja. Beneran deh, Mas cuma bantu jemput dia aja. Nggak ada yang aneh."

"Oh ya?" Yaya merasa ragu dengan ucapan Andrian.

"Beneran, Sayang."

Andrian lantas berjalan mendekat. Ia memeluk Yaya dari samping.

"Beneran, Sayang. Mas nggak bohong." Andrian berucap seraya mengecup daun telinga Yaya. Lalu kecupan itu turun ke leher. Merasa mendapatkan lampu hijau, Andrian pun hendak melancarkan aksinya dengan mencumbu bibir Yaya. Namun belum sempat Andrian merealisasikan kata-katanya, Yaya lebih dulu menarik mukanya. Ia tahu, kemana arah yang akan Andrian lakukan.

"Maaf, Mas. Aku sedang datang bulan." Yaya berucap datar. Mendengar kata-kata itu, Andrian sontak menghela nafas panjang.

"Ya udah. Nggak papa. Udah mau tidur? Kamu pasti capek."

Yaya mengangguk. Ia pun segera berdiri dan berjalan menuju kamar. Sedangkan Andrian mematikan televisi dengan wajah masam. Helaan nafas kasar terdengar jelas. Namun Yaya tidak peduli. Ia justru memilih masuk ke kamar dan berbaring di atas ranjang sambil menyelimuti seluruh tubuhnya hingga sebatas leher.

...***...

...Happy reading 🥰 🥰 🥰 ...

Terpopuler

Comments

Akmir Patarana

Akmir Patarana

jangan mau yaya,kle andrian minta hak,nya"km lebih nolak" dia sudah lelup dengan marisa duluan,km lebih baik jadi wanita tegas jangan mau di tindas,kamu wanita karii,dancantik,semoga km mendapat peria yg baik dan penyaysang

2025-01-20

1

Syifa Azahrasiyah

Syifa Azahrasiyah

👍👍👍biar tau rasa gimana sakitnya di cuekin😁

2025-01-02

0

nobita

nobita

kapokk kamu Adrian ganti di cuekin sama bini lo...

2024-12-22

0

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!