6

Tiba di hotel dimana ia menginap,Yaya mendapati kamarnya yang kosong. Ia menghela nafas berat lalu menggelengkan kepala.

"Bulan madu macam apa ini? Bahkan aku belum merasakan kebahagiaan sama sekali setibanya di sini," gumam Yaya dengan sesak di dada yang kian menyiksa.

Yaya lantas segera masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya yang panas dengan air dingin. Ia perlu mendinginkan kepalanya yang terasa panas. Panas hingga jantung dan ke ulu hati. Perih menerjang hingga relung terdalam.

Yaya pun segera menyudahi kegiatan mandinya. Kemudian ia segera berpakaian dan membereskan barang-barangnya. Setelah semuanya beres, ia pun segera menuju pintu. Pikirnya, tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana. Percuma saja ia datang jauh-jauh ke sana. Percuma saja ia meninggalkan pekerjaannya kalau waktunya di sana hanya ia habiskan seorang diri saja.

Ceklek ...

"Yaya," ucap Andrian yang sudah berdiri di depan pintu yang baru saja dibuka. Yaya terkejut saat mata keduanya bersirobok.

Yaya bungkam. Ia enggan mengeluarkan kata walau sepatah katapun. Andrian kemudian melihat koper di tangan kiri Yaya. Dahinya mengernyit. "Kau mau kemana?" tanya Andrian heran.

"Aku mau pulang," jawab Yaya singkat.

"Pulang?" beo Andrian yang mencoba mencerna maksud Yaya.

"Ya, pulang. Lagipula untuk apa aku berada di sini. Toh aku hanya menghabiskan waktu seorang diri. Lebih baik aku pulang. Waktuku pasti akan lebih bermanfaat di sana ketimbang di sini. Buang-buang waktu saja," ucap Yaya datar dan terkesan acuh tak acuh yang jelas saja membuat mata Andrian membulat seketika.

"Apa kau bercanda?"

Yaya mengedikkan bahunya tak acuh. "Terserah Mas mau berpikir apa. Maaf, bisa permisi sebentar?"

"Yaya, jangan main-main denganku!"

"Main-main? Apa perasaanku ini sekedar main-main, hah? Kau mau datang dan pergi sesuka hatimu, kau pikir aku ini tidak punya hati? Tidak punya perasaan? Aku sakit, Mas. Sakit. Aku jauh-jauh datang kemari untuk berbulan madu. Bukan untuk melihat kemesraanmu dengan perempuan lain. Bukan pula untuk melihat drama keluarga cemara mu dengan Mbak Marissa dan putrinya. Bukan. Aku ingin menikmati madu pernikahan kita yang baru berusia beberapa hari ini. Tapi apa yang aku dapat ... hanya kesakitan," ucap Yaya menggebu. Matanya memerah. Kabut bening menyelimuti netra hitam pekatnya.

"Ya, kau tau 'kan aku tidak bermaksud seperti itu!" Ucap Andrian mencoba membela diri.

"Aku tidak tau dan tidak mau tau. Yang aku tau sekarang, aku ingin pulang. Sekarang juga," tegas Yaya.

"Ya, tolong jangan seperti ini. Kita bisa membicarakan masalah kita baik-baik."

"Baik-baik seperti apa? Bukankah mau aku bicara seperti apapun tetap saja dia yang utama. Sudahlah. Penerbanganku sebentar lagi. Aku pergi. Permisi!" ucap Yaya sambil berjalan dan menerobos paksa sisi kiri Andrian.

"Yaya, berhenti!" seru Andrian. Namun Yaya tidak memedulikan seruan itu. Ia tetap melanjutkan langkahnya menuju lift yang letaknya tak jauh dari sana.

"Yaya, berhenti kataku! Apa kau lupa, dosa seorang istri yang mengabaikan suaminya dan dosa besar bagi istri yang pergi tanpa seizin suaminya!" lanjut Andrian membuat Yaya terpaksa menghentikan langkahnya.

Yaya membalikkan badannya. "Lalu bagaimana seorang suami yang pergi karena lebih mementingkan perempuan lain? Apa itu tidak berdosa?" sinis Yaya.

"Yaya, jangan membesar-besarkan masalah. Sudahlah, ayo kembali ke kamar," ucap Andrian yang kini melembut.

"Tidak, Mas. Aku tetap akan pulang." Yaya tetap kekeh dengan keputusannya.

"Oke, oke, aku minta maaf atas sikapku tadi. Sudah 'kan? Ayo, kembali! Apa kata orang tuamu kalau kau pulang sebelum waktunya."

Yaya yang mendengar itu hanya bisa tersenyum miris. Tidakkah laki-laki itu memikirkan perasaannya sedikit saja? Sungguh, Yaya begitu kecewa.

Yaya tersenyum sendu. "Mas tenang saja, aku tidak akan kembali ke rumah. Aku juga takkan memberitahu orang tuaku mengenai apa yang sudah terjadi."

Setelah mengucapkan itu, Yaya pun segera menekan tombol di dinding depan lift. Setelah pintu terbuka, Yaya pun segera menyeret kopernya masuk ke dalam sana. Andrian meraup wajahnya kasar saat Yaya akhirnya benar-benar pergi.

"Sial!" umpatnya kesal.

...***...

Keluar dari lift, air mata yang sejak tadi Yaya tahan akhirnya tumpah ruah. Matanya memanas. Penglihatannya sampai kabur, tapi Yaya terus melangkah dengan pasti. Tak peduli setiap pasang mata tampak mengarahkan pandangannya padanya, ia tetap berjalan penuh percaya diri.

"Aduh ... "

Yaya hampir saja terjungkal karena kakinya yang menabrak undakan yang ada di depannya. Namun sebuah tangan dengan cepat menahan tubuh Yaya agar tidak sampai terjatuh.

"Ooop, maaf!" seru orang itu yang segera melepaskan tubuh Yaya kemudian mengangkat kedua tangannya. Melihat Yaya yang menggunakan hijab, tentu saja orang itu bisa melihat kalau Yaya merupakan perempuan yang sangat menjaga dirinya. Meskipun perempuan yang tidak berhijab pun pasti tak jauh berbeda, hanya saja entah mengapa ia takut kalau tindakannya barusan dinilai lancang oleh Yaya.

"Ah, aku ... tidak apa-apa," jawabnya serak. Bahkan terdengar begitu sengau. Mungkin karena Yaya yang sudah menangis sejak tadi membuat suaranya jadi sengau seperti itu. Belum lagi, hidungnya penuh membuat Yaya kesulitan bernapas. Orang yang baru saja membantu Yaya itupun menyerahkan sapu tangannya pada Yaya. Yaya menerima sapu tangan itu dengan ragu, tapi orang itu terus menyodorkannya. Yaya lantas menyeka matanya yang basah dengan sapu tangan itu. Pun cairan hidung yang menyumbat hidungnya. Saat Yaya sadar, ia pun merasa bersalah.

"Yah, maaf," ucapnya saat melihat sapi tangan berwarna biru muda itu sudah basah karena dirinya.

Orang itu terkekeh. "Nggak papa, Mbak. Bisa dicuci kok."

"Tapi ... eh, kamu 'kan yang tadi." Yaya terkejut saat melihat pemuda di hadapannya.

Pemuda itu terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.

"Iya, Mbak. Kayaknya kita berjodoh. Eh ... "

Yaya tersenyum tipis. "Ini ... saya bawa aja ya. Saya cuci."

"Kalau mbak cuci, artinya mbak mau ketemu sama saya lagi dong buat balikin."

Mata Yaya mengerjap membuat pemuda itu tertawa geli. "Nggak usah cuci, Mbak. Sini. Aku bisa nyuci sendiri kok. Mbak jangan nangis lagi dong. Cantik-cantik kok nangis. Entar ingusnya tambah meler lho."

Mendengar kata-kata itu, sontak saja membuat Yaya bersemu merah. Malu ih.

Makin tergelak lah pemuda itu. "Ya udah. Mbak mau pulang ya? Hati-hati di jalan ya. Semoga kita bisa ketemu lagi."

Yaya tersenyum tipis kemudian mengangguk.

"Terima kasih. Maaf udah buat kotor sapu tangannya."

"No problem. Bisa aku masukin museum entar."

"Ah, maksudnya?"

"Ah, nggak. Nggak papa. Hehehe ... "

Yaya yang sudah dikejar waktu penerbangan pun akhirnya segera berlalu dari hadapan pemuda itu. Tak ada keinginan Yaya untuk berkenalan sebab ia pikir mungkin ini pertemuan terakhir mereka.

"See you soon, Mbak cantik," pekik pemuda itu. "Eh, mbak, kita belum kenalan woy!" teriak pemuda itu lagi sambil melangkah panjang mendekati Yaya. Tapi sayang, Yaya sudah naik ke salah satu taksi yang mangkal di pelataran parkir hotel.

"Yah, pergi," gumamnya yang disambut tawa oleh teman-temannya yang entah sejak kapan melihat dirinya.

"Kasian. Dah, yuk, mandi! Kita harus segera istirahat sebelum besok mulai berjibaku dengan aktivitas di RS," ujar salah satu teman pemuda itu. Pemuda itupun mengangguk. Lalu ia pun segera berlalu dari sana sambil tersenyum sendiri.

...***...

...Happy reading 🥰🥰🥰 ...

Terpopuler

Comments

Akmir Patarana

Akmir Patarana

yaya semoga berjodoh dengan peria itu thor,dn tinggalkan adrian itu,dia tidak cocok dengan kamu yaya,dia laki²bereng sek

2025-01-20

1

Yus Nita

Yus Nita

keputusan yg tepatnya aku suka dengan ke tegaskan. biar bisa jaga diri, biar suami gak zemena2 danseenak jidat ny aja ber tindak

2024-12-27

0

Marina Tarigan

Marina Tarigan

gitu dong suami dan keluarga sdh keterlaluan menghinamu

2025-03-05

0

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!