Layu sebelum berkembang

Dengan sigap, Yaya membantu para petugas medis menurunkan para korban kecelakaan dan menyerahkan mereka pada pihak rumah sakit.

"Anda keluarga dari pasien?" tanya salah seorang pria. Baru saja hendak menjawab, petugas medis yang datang bersama mobil ambulance pun segera menjelaskan siapa Yaya.

"Dia yang membantu kami membawa para korban kemari. Sepertinya dia juga seorang dokter," ujar orang tersebut.

"Anda juga seorang dokter? Ah, senang sekali. Penanganan Anda tepat sekali sehingga cedera yang dialami korban tidak begitu fatal. Meskipun ada korban ada korban jiwa, tapi setidaknya masih ada yang bisa diselamatkan," ujar salah seorang dokter di sana.

"Ah, maaf, Dok, tapi saya bukan seorang dokter. Saya hanya orang biasa yang kebetulan lewat," jawab Yaya jujur.

"Benarkah?" tanya dokter muda itu yang cukup terpana.

"Iya." Yaya mengangguk mantap.

"Perkenalkan, saya dokter Elvan." Dokter itupun mengajak Yaya berkenalan.

"Eh, saya ... Rayana. Biasa dipanggil Yaya."

"Ah, Yaya. Nama yang indah." Yaya tersenyum kecil mendengar pujian yang entah tulus atau hanya sekedar basa-basi itu. Dokter Elvan hendak mengajak Yaya bicara, tapi seseorang keburu menyergah.

"Maaf, Dok, Anda dicari dokter kepala," ujar orang itu.

Dokter Elvan menghembuskan nafas pasrah. "Wah, padahal saya masih ingin mengobrol dengan Anda. Tapi sayang, kita harus berpisah sekarang."

Yaya tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Dok. Selamat bertugas."

Dokter Elvan mengangguk. Kemudian ia pun segera berlalu dari sana. Namun ada seseorang yang masih bergeming dari tadi. Yaya mengerutkan kening saat melihat orang tersebut.

"Kamu ... "

"Hai, Mbak. Senang bertemu denganmu lagi," ujar seseorang itu sambil tersenyum lebar. Tidak menyangka akan kembali dipertemukan dengan sese-embak yang sudah mencuri perhatiannya sejak awal pertama jumpa.

...***...

Yaya menghembuskan nafas lega setelah tiba di hotel tempat ia menginap. Ia baru saja kembali setelah mensurvei lokasi yang akan dia gunakan untuk mengembangkan restoran miliknya. Bukan restoran mewah. Hanya restoran Nusantara dengan menu yang kesemuanya merupakan cita rasa Nusantara. Harganya pun tergolong terjangkau. Yaya membangun restoran itu semata-mata untuk mewujudkan impian orang-orang yang ingin makan di restoran, namun dengan budget terjangkau.

Restoran itu terdiri atas bilik-bilik yang dibangun khusus agar tidak saling mengganggu pelanggan yang lain. Tentunya restoran itu juga memberikan konsep kenyamanan khususnya yang memiliki anak-anak ataupun ingin mengajak sanak keluarga. Membuat mereka seolah sedang makan di rumah sendiri, namun tempatnya terkesan mewah dan aesthetic.

Merasa tubuhnya lengket, Yaya pun segera masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Rasa sejuk melingkupi. Sejenak, pekerjaannya bisa mengalihkan beban pikirannya yang akhir-akhir ini membuat dadanya sesak.

Selepas mandi dan berpakaian, Yaya merebahkan tubuh lelahnya di kasur empuk. Sepulangnya dari rumah sakit tadi, memang Yaya langsung bertolak ke hotel yang sudah ia pesan sebelumnya. Namun setelah itu, tanpa beristirahat, ia kembali bertolak ke lokasi yang cocok untuk dijadikan cabang restorannya. Setelah selesai dari sana, barulah Yaya kembali ke hotel. Sedari datang ke kota itu, memang Yaya belum beristirahat. Oleh sebab itu, Yaya merasa lega sekali saat tubuhnya bisa berbaring di atas kasur yang empuk.

Saat sedang berbaring, tiba-tiba Yaya teringat dengan pemuda yang ditemuinya di rumah sakit tadi. Ini adalah pertemuan ketiga Yaya dengan pemuda itu. Bila dua pertemuan sebelumnya Yaya belum sempat berkenalan, maka dipertemuan ketiga ini, mereka pun berkenalan. Ah, lebih tepatnya pemuda itulah yang mengajaknya berkenalan terlebih dahulu. Bahkan mereka sempat minum kopi di kafetaria yang ada di sana.

Yaya tertawa sendiri. Dalam seminggu ini, ia sudah bertemu tiga kali dengan pemuda itu. Dan pertemuan mereka selalu saja dalam kondisi yang tidak terduga.

"Perkenalkan, aku Ar Rafisqy Angriawan," ucap pemuda itu. "Rafi. Panggil saja Rafi."

"Rayana Khanzania," ucap Yaya yang juga mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Biasa dipanggil Yaya," imbuhnya setelah selesai bersalaman. Saat Yaya menarik tangannya, tiba-tiba Rafi merasa hampa. 'Baru juga bersalaman, udah langsung ditarik aja. By the way, tangannya lembut dan mulus kali, rek,' gumam Rafa dalam hati.

"Oh ya, gimana kepala kamu? Apa masih sakit? Mumpung masih di sini, apa kau mau diperiksa?" tawar Rafi.

Yaya terkekeh. "Nggak usah. Aku nggak papa kok. Cuma kepentok bola doang." Saat tertawa, Yaya jadi terlihat semakin cantik. Sontak saja membuat jantung Rafi kebat-kebit.

"Kalau nggak papa, kok waktu itu nangis?"

Yaya tersenyum kecut. "Saat itu sedang ada masalah aja."

"Oh, syukurlah. Mau kopi?" tawar Rafi.

"Boleh," jawab Yaya yang memang saat itu sedang haus pun setuju. Mereka lantas pergi ke salah kafetaria yang ada di lantai bawah. Rafi pun memesankan kopi untuk Yaya. Kebetulan saat itu sudah waktunya pergantian shift. Oleh karena itu, ia memiliki waktu untuk duduk bersantai dengan Yaya.

"Kamu dokter di sini?" tanya Yaya.

"Bukan. Aku masih koas."

"Udah berapa lama?"

"Udah setahunan sih. Kalau nggak ada halangan, beberapa bulan lagi selesai."

"Selamat berjuang. Perjalananmu untuk menjadi dokter sebenarnya masih cukup panjang," ujar Yaya dengan tawa kecil.

"Eh, kok Mbak tau?" Yaya mengedikkan bahunya. Ia tidak mau terlalu banyak bercerita.

Karena hari sudah semakin siang, sementara Yaya masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, Yaya pun berpamitan untuk segera pergi dari sana. Dengan berat hati, Rafi pun akhirnya harus melepaskan kepergian Yaya.

Saat Yaya sudah pergi, tiba-tiba Rafi tersentak.

"Astagfirullah, aku lupa minta no hp," serunya terkejut. Namun saat Rafi mengingat sesuatu yang tanpa sengaja dilihatnya, ia menghembuskan nafas pasrah.

"Nggak jadi ah. Kayaknya dia sudah menikah. Udah sold out," gumamnya kecewa.

Ya, saat mengobrol tadi, Rafi tanpa sengaja melihat cincin yang melingkar di jari manis Yaya. Rafi jelas paham cincin apa itu. Meskipun para wanita memang kerap memakai cincin di jari manisnya, tapi jelas sekali kalau cincin yang Yaya kenakan merupakan cincin kawin.

"Definisi layu sebelum berkembang ya gini," lirihnya diiringi helaan nafas kasar dari bibirnya.

Sementara itu, Yaya yang hampir saja tertidur, seketika tersentak saat mendengar dering nyaring dari ponselnya. Yaya pun segera mengambil ponselnya untuk memeriksa siapa yang sudah menghubunginya. Saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Yaya pun segera mengangkat panggilan itu.

"Halo. Assalamu'alaikum," ucap Yaya.

"Wa'alaikumussalam. Sayang, kamu lagi dimana dan sedang ngapain?" tanya si penelpon yang tak lain adalah Andrian.

"Aku lagi di kamar hotel, Mas. Baru aja selesai survei lokasi."

"Oh. Sudah makan?"

"Alhamdulillah. Kalau Mas?"

"Udah dong. Kan udah jam segini."

"Mas lagi dimana? Udah pulang kerja?"

"Mas udah pulang kok. Sekarang lagi di ... "

"Ian, ayo! Kita mampir ke kedai es krim dulu ya nanti. Tania pesan gelato soalnya tadi."

Terdengar suara perempuan yang tak lain adalah Marissa dari seberang sana. Sontak saja, suasana hati Yaya yang tadi sudah lebih membaik, berubah kelabu seketika. Andrian yang menyadari kalau Yaya pasti mendengar suara Marissa pun mencoba menjelaskan.

"Ya, ini nggak seperti yang ... "

"Mas nggak perlu capek-capek menjelaskan. Silahkan temani saja sahabat Mas itu. Wassalamu'alaikum."

Tut tut tut ...

Panggilan pun Yaya tutup sepihak.

...***...

...Happy reading 🥰 🥰 🥰 ...

Terpopuler

Comments

Mhyta

Mhyta

seruu.... lantaran serunya baru bisa kasih komen skrg.. heheh

2024-12-20

0

Syifa Azahrasiyah

Syifa Azahrasiyah

good Yaya kamu harus tegas,jangan pertahankan sesuatu yang gak bisa di pertahankan,mending sakit di awal dari pada makin berlarut2 dan makin sakit

2025-01-02

0

Mbak Rina

Mbak Rina

laki2 nggak ada otak.
nggak ada persahabatan murni laki2 dan wanita, definisinya dah sama2 gatal..

2024-11-29

1

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!