Foto

28 hari setelah pernikahan, tapi selama 28 hari itu, hidup Yaya justru terasa hampa. Tidak seperti pasangan pengantin lainnya yang pasti masih panas bergairah, menggebu-gebu, dan sedang hangat-hangatnya, kehidupan setelah pernikahan Yaya justru terasa hambar. Meskipun sejak seminggu terakhir Andrian sudah mencoba lebih perhatian dan bahkan pulang lebih awal dari sebelumnya, tapi tetap saja, Yaya seakan tidak merasakan kebahagiaan itu.

Apa itu yang dinamakan mati rasa?

Yaya tidak tahu. Yang ia tahu, hatinya benar-benar kosong. Bahkan perasaan menggebu dan bahagia saat bisa bertemu Andrian saja sudah tak ada. Semua biasa saja. Namun tak Yaya pungkiri, rasa sakit itu masih ada.

Namun melihat perubahan sikap Andrian membuat Yaya berpikir untuk memberikan kesempatan. Oleh sebab itu, Yaya pun mencoba menyiapkan makan malam istimewa malam itu. Ia harap tindakannya itu bisa menumbuhkan perasaan di hatinya kembali. Ia juga berdandan secantik mungkin.

Namun di saat Yaya sedang berusaha untuk menumbuhkan lagi perasaannya, lagi-lagi Andrian mematahkan hatinya. Andrian justru kembali seperti setelan sebelumnya. Pulang tidak tepat waktu. Bahkan saat jarum jam nyari ms menunjukkan pukul 9, Andrian tak kunjung pulang. Dihubungi pun tak bisa.

Yaya menatap nanar hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Rasa sedih dan kecewa melingkupi hati. Semakin besar semakin nyata.

Hingga hampir pukul 10 malam, barulah Yaya mendengar suara derit pintu terbuka. Yaya masih di tempat yang sama. Di meja makan. Andrian yang baru masuk ke dalam rumah seketika membelalakkan matanya.

"Yaya, kau belum tidur?" ucapnya seraya meletakkan jasnya di sandaran kursi. Ia menatap hidangan di meja dengan perasaan tak enak hati.

"Ya, ini ... Aduh, Mas lupa kasi kabar kamu. Maafkan Mas ya. Mas tadi ada lembur di kantor. Mendadak. Semua karena ulah CEO di kantor Mas. Sok perfeksionis banget. Nggak ingat apa kalau karyawannya pun memiliki keluarga yang menunggu di rumah. Tapi ya mau bagaimana lagi, mau protes pun rasanya nggak mungkin. Mas hanya staf divisi. Bukan petinggi apalagi dewan direksi. Jadi Mas dan yang lainnya hanya bisa pasrah. Itu aja Mas buru-buru menyelesaikan pekerjaan supaya bisa segera pulang. Maafin, Mas, ya?"

Andrian memegang tangan Andrian. Yaya merasa denial. Antara percaya atau tidak. Tapi ingin marah pun ia belum bisa karena bagaimana kalau yang Andrian katakan itu benar. Ia tidak mau egois. Yaya lantas berusaha tersenyum.

"Iya, Mas. Nggak papa. Aku maklum."

"Terima kasih, Sayang. Kau memang yang terbaik." Andrian tersenyum kemudian mengecup punggung tangan Yaya.

"Ya," panggil Andrian.

"Em, kau ... sudah selesai 'kan?"

"Selesai? Selesai apa?"

"Itu ... tamu bulanan?"

Yaya menegang. Ia tersenyum kaku, kemudian mengangguk membuat Andrian tersenyum lebar.

Andrian pun segera berdiri. "Kalau begitu, aku mandi dulu ya, Yang. Terus kita makan malam dulu." Ia melirik kembali hidangan di atas meja. Ia tidak ingin Yaya kembali kecewa.

Yaya kembali mengangguk. Andrian pun segera beranjak masuk ke kamar. Dilemparnya ponselnya asal di atas tempat tidur. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.

Saat Andrian sedang mandi, Yaya masuk ke dalam kamar. Ia berniat menyiapkan pakaian untuk suaminya. Namun baru saja Yaya hendak meletakkan pakaian yang sudah dipulihkannya, entah dapat dorongan dari mana, Yaya pun mengambil ponsel itu. Yaya ingin membuka ponselnya, tapi tentu finger printnya tidak cocok. Namun Yaya pernah melihat password hp Andrian pun segera memasukkan password-nya. Lalu perhatian Yaya terarah pada galeri ponsel. Jarinya pun reflek meng-klik logo galeri.

Tangan Yaya seketika gemetar. Darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang.

"Yaya, apa yang kau ... "

Andrian menghentikan kata-katanya saat melihat ponselnya yang dipegang Yaya. Matanya seketika terbelalak.

"Yaya ... "

"Jadi ini yang Mas maksud lembur di kantor?" Yaya terkekeh sumbang. Pantas saja ia merasa denial sebab memang kata-kata suaminya itu tidak bisa dipercaya. "Ternyata kantormu sudah berpindah ke restoran ya, Mas? Dan CEO Mas itu ... mbak Marissa? Begitu?"

Andrian tercekat. Ia yakin Yaya sudah melihat foto-foto ia dan Marissa di sebuah restoran. Jelas saja Yaya bisa langsung menebaknya karena waktunya pun memang dilakukan di malam itu juga. Andrian tidak mungkin kembali berbohong sebab waktu pengambilan gambar bisa diperiksa saat itu juga.

"Ya, itu ... itu bisa Mas jelaskan. Itu tidak seperti yang kau pikirkan."

"Tidak seperti yang aku pikirkan? Memangnya apa yang ada di dalam pikiranku?" Yaya tersenyum sinis.

"Ya, Mas tidak bermaksud berbohong. Mas hanya tidak ingin kau kembali salah paham. Mas tidak ingin kau kembali marah dan kecewa pada Mas. Sungguh, apa yang ada di dalam foto itu tidak seperti yang kau pikirkan."

"Lantas, seperti apa yang sebenarnya?" Yaya penasaran dengan pembelaan diri Andrian.

"Kami sengaja melakukan itu. Lebih tepatnya Mas terpaksa melakukan itu. Mantan suami Marissa kembali meneror Marissa agar ia mau kembali padanya. Marissa yang tak ingin kembali diganggu pun meminta Mas berpura-pura menjadi pasangannya. Kami sengaja berpose mesra seperti itu agar mantan suaminya percaya dan tidak kembali meneror Marissa agar kembali padanya," ujar Andrian panjang lebar. Namun bukannya percaya, Yaya justru tertawa sumbang.

"Sudah membualnya? Mas pikir aku percaya dengan kata-kata Mas itu? Mas nggak capek setiap hari berbohong dan terus berbohong?"

"Kau tidak percaya pada Mas? Apa perlu Mas telepon Marissa agar kau percaya?"

"Sudah cukup membualnya, Mas. Cukup. Mau sampai kapan, hah? Mau sampai kapan Mas mempermainkan perasaan aku? Selalu dan selalu saja seperti ini. Baru 28 hari, baru 28 hari kita menikah, tapi apa yang sudah Mas beri? Luka. Luka dan kecewa. Lagi-lagi Marissa. Kalau tidak Marissa, Tania. Padahal niatku malam ini ingin memperbaiki semuanya. Aku pikir Mas sudah berubah, tapi nyatanya ... "

Brakkk ...

Yaya melemparkan ponsel itu ke dinding hingga hancur berkeping-keping.

"Yaya ... " sentak Andrian dengan mata membulat. Padahal ponsel itu baru ia beli dua Minggu yang lalu. Ia membelinya dari uang amplop rekan kerja dan atasan di kantornya. "Apa yang kau lakukan, Ya? Kau menghancurkan ponselku!" pekik Andrian syok.

"Bahkan kau lebih memedulikan ponselmu daripada hatiku? Kau tau Mas, hatiku lebih hancur daripada ponsel itu. Hancur ... " Teriak Yaya nyalang. Lalu dengan dada bergemuruh, Yaya membalikkan badannya hendak pergi dari sana. Bukannya menghentikan Yaya, Andrian justru lebih memedulikan ponselnya. Barulah saat Yaya sudah mencapai pintu luar, Andrian mengejar dan menghentikannya.

"Mau kemana, kau?"

"Mau kemana aku, bukan urusanmu. Sama seperti urusanmu yang tidak pernah menjadi urusanku."

"Tidak. Kau tidak boleh pergi."

"Kenapa?"

"Karena kau belum melakukan kewajibanmu?"

"Kewajiban? Kewajiban mana maksudmu? Having seks?" tandas Yaya yang bisa menebak apa yang Andrian inginkan. "Memangnya Mas sudah melakukan kewajiban Mas, hah? Tidak 'kan? Jadi jangan pernah menuntut ku untuk memenuhi kewajibanku."

"Yaya, kau itu seorang istri. Sudah kewajibanmu mematuhi perintahku." Andrian mendesis tepat di depan wajah Yaya.

"Jangan pernah memaksaku, Sialan!"

Kesal atas penolakan yang Yaya lakukan, Andrian pun berusaha memaksa Yaya untuk menciumnya. Namun Yaya terus berusaha memalingkan wajahnya.

Andrian tak berhenti sampai di situ, ia mencengkeram rahang Yaya lalu menekan tubuhnya ke pintu. Ia mendekatkan wajahnya hendak meraih bibir Yaya. Yaya tiba-tiba ingat trik yang diajarkan Alma, anak dari Tante kesayangannya, Ariana. Alma yang memang diajarkan bela diri sejak kecil oleh ayah dan Omanya pun sering mengajari trik saat ada laki-laki yang bersikap kurang ajar padanya. Meskipun usianya jauh di bawah Yaya, tapi mereka berteman cukup dekat.

"Kalau ada orang yang hendak melakukan pelecehan pada Mbak atau tindakan yang kurang ajar, nggak perlu takut. Cukup angkat kaki Mbak lalu tendang di bagian tengah selangkangannya. Bisa juga Mbak angkat lutut mbak Yaya dan bugh ... Rasanya pasti mantul. Mantap betul." Almahyra berucap seraya memperhatikannya di depan Yaya.

Melihat wajah Andrian yang begitu dekat dengannya, Yaya pun mengangkat lututnya seperti yang Alma instruksikan dan bugh ...

"Awh ... Aaaaa ... Yaya, apa yang kau ... Argh ... "

Andrian pun melepaskan cengkraman tangannya dan sibuk memegang kema***luannya yang terasa begitu nyeri. Ia melompat-lompat karena rasa sakit yang tak tertahankan. Melihat kesempatan itu, Yaya pun memilih melarikan diri. Tak peduli dengan apa yang Andrian rasakan kini sebab baginya yang terpenting saat ini adalah menenangkan diri.

...***...

...Happy reading 🥰🥰🥰 ...

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

Yaya itu bener bener MANTUL,,, mantapp betul wekkk,,,kejed kejed rek ya opo rasane enak to geneo 🤭🤭 semangat Yaya tuman ,, suamiacam Adrian,,

2024-11-01

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

good job Yaya.. segera buang sampah ketempat sampah biar gak. menyebarkan kuman penyakit

2024-12-13

0

Syifa Azahrasiyah

Syifa Azahrasiyah

/Joyful//Joyful//Joyful/q tertawa jahat dan ucapkan 1 kata,....kuaaapok......

2025-01-02

0

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!