Makan siang

Keluar dari apartemen Andrian, Yaya memilih pergi ke restoran. Ia merasa lebih aman di sana. Yaya tidak terpikir untuk pulang ke rumah orang tuanya apalagi menumpang di rumah Alifa. Ia tidak ingin orang-orang mengkhawatirkannya. Apalagi hari sudah cukup larut. Setibanya di restoran, pak satpam yang berjaga cukup terkejut melihat kedatangan Yaya. Namun karena ia sekedar pekerja, ia tidak berani bertanya.

Setelah masuk ke ruangannya, Yaya menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di sana. Matanya memejam. Perlahan air mata mengalir deras dari sudut matanya.

"Akan dibawa kemana pernikahan ini? Ya Allah, hamba mohon berikanlah petunjuk-Mu. Tolong beri aku jalan keluar dari setiap permasalahan ini," lirih Yaya dengan bibir bergetar.

Sementara itu, di kediamannya, Danang dan Dina terus saja gelisah. Entah kenapa, ia tak kunjung bisa tidur juga. Padahal baru sudah cukup larut.

"Mas kenapa?" tanya Dina.

"Mas tidak kenapa-kenapa," kilahnya yang tak ingin membuat Dina jadi ikut kepikiran dengan Yaya. Ya, entah kenapa Danang terus kepikiran dengan anak perempuannya itu. "Kenapa belum tidur?"

"Aku nggak bisa tidur, Mas. Nggak tau kenapa. Kok tiba-tiba aku kangen Yaya ya? Padahal baru pagi tadi aku teleponan sama Yaya," ujar Dina. Jantung Danang seketika berdebar. Ternyata Dina pun memikirkan Yaya. Danang hanya bisa berdoa semoga putrinya itu baik-baik saja.

"Mau bertemu dengan Yaya? Kalau mau, besok kita ajak Yaya dan Rian makan siang bersama? Lagipula, sudah semenjak mereka menikah kita belum makan bersama lagi. Bagaimana?"

Dina pun tersenyum lebar. "Aku setuju, Mas."

...***...

Keesokan paginya, Andrian bangun dengan wajah kusut. Senjatanya masih sakit hingga kini. Entah dapat kekuatan dari mana, sundulan dengkul Yaya ternyata kuat juga.

"Astaga, sakit sekali! Bagaimana kalau ia tidak bisa berdiri lagi?" gumam Andrian yang berjalan sambil mengangkang menuju kamar mandi. Rasanya ia ingin libur bekerja hari itu, tapi itu tidak mungkin. Ia sudah terlalu banyak libur akhir-akhir ini. Jatah cuti tahunannya pun sudah habis. Jadi ia sudah tidak mungkin bisa cuti kerja lagi.

Setelah mandi, Andrian berjalan menuju lemari dan mengambil pakaiannya. Saat melihat ponsel berharga belasan juta itu teronggok di atas meja dengan kondisi memprihatinkan, Andrian kembali mengumpat kesal. Ia merutuk kesialannya semalam.

"Ck, terpaksa pakai hp lama lagi," keluhnya sambil mengambil ponsel lamanya di dalam laci. Ia memasukkan kartu simnya ke dalam slot kartu. Lalu segera mengaktifkannya.

Baru saja ponsel Andrian menyala, panggilan dari Marissa sudah lebih dulu masuk. Andrian pun segera mengangkat panggilan itu.

"Papa ... "

...***...

Sementara itu, pagi hari setelah sarapan, Danang pun segera menghubungi Yaya. Ia menyampaikan keinginan mereka untuk makan siang bersama Yaya dan menantunya itu. Namun Yaya beralasan kalau Andrian sibuk siang itu. Akhirnya mereka pun hanya makan siang bertiga saja.

"Bagaimana, Sayang, pernikahan kamu?" tanya Dina.

"Kenapa mesti ditanya sih, Ma. Pasti lagi anget-angetnya lah. Apalagi mereka 'kan sudah lama dekat. Pasti pisah satu jam, kayak satu abad," seloroh Danang membuat Dina terkekeh. Yaya tertawa sumbang. Tak mungkin ia mengatakan kalau pernikahannya justru sedingin salju. Tak ada kehangatan. Yang ada hanya kehampaan dan nestapa.

Seandainya bisa, ingin rasanya Yaya memutar waktu kembali. Memutar waktu ke masa saat antrian melamarnya. Ia akan menolak lamaran laki-laki itu dengan tegas. Ah, tapi sayang, semua hanya andai-andainya saja.

"Kamu kok kurusan, Sayang?" tanya Dina saat melihat pipi Yaya yang agak tirus.

"Ah, iya kah? Yaya nggak tau, Ma. Nggak nyadar. Mungkin efek terlalu banyak aktivitas. Apalagi Yaya 'kan baru pulang dari survei lokasi pembangunan cabang resto yang baru. Jadi rasanya capek banget."

"Ya, bekerja emang boleh, tapi ingat, jangan lupakan tanggung jawabmu sebagai seorang istri. Jangan terlalu sering bepergian, nggak bagus. Apalagi kalian baru menikah, kok udah ditinggal aja. Emangnya nggak ada yang bisa menghandle pekerjaan itu selain kamu apa?" tukas Dina memberi wejangan pada Yaya.

Yaya tersenyum miris. Ibunya mengingatkannya pada tanggungjawabnya sebagai seorang istri, tapi ibunya tak tahu bahkan suaminya saja belum menunaikan tanggung jawabnya sama sekali. Suaminya justru selalu sibuk dengan perempuan yang selalu disebutnya sebagai sahabatnya itu.

"Udah, Ma, nggak perlu mencecar Yaya seperti itu.Yaya itu putri kita. Ia pasti tau apa yang harus ia lakukan. Ia pasti sadar akan tanggung jawab dan kewajiban seorang istri. Nggak mungkin Yaya mengabaikan tanggung jawabnya begitu saja. Pasti mereka pun sudah membicarakan tentang ini sebelumnya, benar 'kan, Nak?"

Dengan gerakan kaku, Yaya mengangguk. Mereka lantas melanjutkan makan siang mereka di restoran milik Yaya sendiri. Mereka sengaja memilih meja outdoor agar lebih bisa menikmati pemandangan sekeliling yang memang dihiasi dengan berbagai macam bunga.

Saat sedang makan, tiba-tiba ada dua orang yang menghambat meja Danang, Dina, dan Yaya. Orang itu adalah Nurlela dan Marissa.

"Ah, besan, ternyata kalian makan di sini juga ya? Oh iya, Yaya 'kan kebetulan bekerja di sini. Jadi enak ya, bisa dapat korting," ucap Nurlela membuat Danang dan Dina tersentak. Apalagi kata-kata Nurlela terdengar seakan mengejek.

"Ah, Bu Lela. Mau makan juga? Ayo, gabung sama kami?" tawar Dina ramah.

"Tidak perlu. Kami kemari bukan untuk cari kortingan, iya kan, Sa?" Nurlela menoleh ke arah Marissa.

Marissa tersenyum canggung. Ia pun mengangguk.

"Oh ya, Ya, kamu ini bagaimana sih, pergi bulan madu ke Bali bersama-sama, tapi pulangnya sendiri. Awas ya kalau kamu ngadu macam-macam. Mama harap kamu nggak kekanakan. Jangan suka membesar-besarkan masalah," tukas Nurlela membuat Danang dan Dina kian tersentak.

'Yaya pulang bulan madu sendirian? Ada apa ini?' batin Danang dan Dina bertanya-tanya. Setelah itu, Nurlela dan Marissa pun segera berlalu dari hadapan Yaya.

"Yaya, Mbak temenin Mama dulu ya," ujar Marissa ramah. Yaya mengangguk kaku. Jantungnya gugup seketika. Ia yakin, setelah ini ayahnya akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan.

"Sebenarnya papa punya banyak pertanyaan untukmu, tapi sayang, Papa sedang sibuk siang ini. Selain itu, Papa yakin, apapun yang kau sembunyikan itu sudah kau pikirkan matang-matang. Kau pasti punya alasan yang jelas. Papa akan menunggu, menunggu kau sendiri yang datang kepada Mama dan Papa untuk menjelaskan semuanya. Dengar ini, Sayang, apapun yang terjadi, Mama dan Papa akan selalu ada untukmu. Kami akan selalu jadi garda terdepan untuk putri kami tersayang ini," ucap Danang dengan gemuruh di dada.

Dina hanya diam. Ia tidak sanggup mengeluarkan kata sebab bila ia mulai mengeluarkan kata-kata, maka air matanya akan langsung merebak. Melihat wajah Yaya yang menyiratkan kesedihan saja membuat hati Dina perih.

Yaya tak mampu membuka suara. Hanya saja, nanar di matanya sudah mampu menggambarkan kalau sudah terjadi sesuatu pada rumah tangga putrinya tersebut. Danang tidak bisa menebak apa yang sudah terjadi. Ia hanya bisa berdoa, semoga semua baik-baik saja.

...***...

...Happy reading 🥰 🥰 🥰...

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

suamimu iti di kelilingin org² toxic jd akan lebih baik jika kamu menjauh dan oergi dr nya Yaya..

2024-12-13

0

Ranny

Ranny

mungkin semalam itu hari jadiannya dengan Marisa sampai Tania bisa memanggil nya papa 🙄

2024-12-23

0

Maryami

Maryami

jujur lebih baik yaya, yg disembunyikan pasti ketahuan juga suatu saat

2025-02-08

0

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!