Mengikuti

Seperti yang Ayu duga, putra keduanya itu menolak saat Ayu memintanya menemani menemui Rafi.

"Artha sudah ada janji, Ma, sama temen. Lain kali aja kenapa?"

Terdengar helaan nafas kasar dari Ayu. "Ya sudah, nggak papa."

Meskipun jawaban Ayu tidak apa-apa, tapi dari nada suaranya, terdengar kecewa. Tapi Artha yang memang usianya belum matang karena masih duduk di bangku SMA membuatnya tidak peka terhadap kekecewaan sang mama. Artha justru memilih pergi entah kemana.

Ternyata Artha datang ke sebuah cafe. Di sana sudah ada beberapa temannya duduk bersantai.

"Bro," panggil salah seorang teman Artha.

Artha mengangguk. Kemudian ia duduk dimana teman-temannya sudah datang lebih dulu. Ia memesan secangkir cappuccino. Beberapa temannya mengajaknya bercanda, tapi ia tidak menimpali sama sekali.

"Tha, Aya," tunjuk salah seorang teman Artha. Artha pun menoleh. Ia melihat seorang gadis cantik dengan blouse putih dan jeans biru membalut tubuhnya yang ramping. Ia berjalan masuk bersama temannya.

Melihat keberadaan Artha, gadis itu tersenyum dan segera menghampiri meja Artha.

"Tha, loe di sini juga?" tanya gadis itu ramah sambil tersenyum.

"Ya," jawab Artha yang juga tersenyum.

"Pingin gabung, tapi temen-temen gue udah booking di sebelah sana."

"Ya, nggak papa."

"Oh ya, btw gimana, dah ada kabar dari Abang Rafi? Dia beneran ganti nomor atau sengaja block nomor gue ya, Tha? Kok gue nggak bisa hubungi Bang Rafi lagi?" tanya gadis berparas Ayu tersebut. Mendengar sang gadis justru menanyakan tentang kakaknya membuat senyum yang tadi merekah seketika meredup.

"Nggak tau. Bro, gue pulang dulu ya!" ucapnya yang langsung mengalihkan pandangannya pada teman-temannya.

"Lho, kok pulang? Loe 'kan belum lama datang?"

"Udah nggak mood."

"Lho, Tha, kok kamu jadi ketus gitu sih? Kamu marah sama aku?"

"Nggak," jawabnya pendek sambil berdiri dan segera berlalu dari sana.

"Dia kenapa sih? Marah-marah mulu kerjaannya. Dari kecil jutek mulu. Beda banget sama Bang Rafi," omel gadis yang kerap disapa Aya itu kesal. Ia pun segera beranjak dari sana sambil berjalan menghentakkan kaki.

...***...

Lusa Yaya hendak kembali ke kota sebelah untuk mengurus pembangunan cabang restorannya. Sebelum itu, ia pun hendak mengambil beberapa barangnya dari apartemen Andrian. Saat hendak menyalakan mobilnya, entah kenapa mobilnya tidak mau menyala. Yaya lantas kembali masuk ke dalam restoran untuk meminjam mobil Alifa.

Setelah mendapatkan kunci mobil Alifa, Yaya pun segera masuk ke dalam mobil dan menjalankannya. Saat dalam perjalanan, ia melewati sebuah butik kenalannya. Ia pun berniat mampir sebentar ke sana. Namun niat itu ia urungkan saat melihat sebuah mobil yang ia kenali keluar dari dalam sana.

"Bukannya itu mobil Mas Rian ya? Kenapa dia ada di sini? Mau ngapain dia? Apa jangan-jangan ... " Yaya pikir mungkin Andrian hendak membelikan dia sesuatu sebagai ungkapan permintaan maaf. Yaya tersenyum. Entah mau senang atau sedih, ia sendiri bingung. Yaya pun kembali menjalankan mobilnya. Mobil mereka berjalan beriringan. Namun tiba-tiba Yaya mengerutkan kening.

"Mas Rian mau kemana? Jalan ini ... ini bukan jalan menuju ke apartemen apalagi rumah mama Nur," gumam Yaya heran.

Yaya yang awalnya berniat pulang untuk mengambil barang sekaligus berpamitan pun bertolak mengikuti mobil Andrian. Andrian yang tidak mengenali mobil yang Yaya gunakan pun tidak menyadari sama sekali kalau Yaya tengah mengikuti dirinya.

Setelah mengikuti beberapa saat, akhirnya mobil yang Andrian kendarai berhenti di depan sebuah rumah yang ada di komplek perumahan. Bukan komplek perumahan mewah, tapi Yaya tahu harga rumah di sana cukup tinggi karena memang lokasinya masih di tengah-tengah kota.

Tampak Andrian turun dari dalam mobil. Yaya penasaran rumah siapa itu. Yaya pun memilih menepikan mobilnya tak jauh dari sana. Mobilnya berhenti di depan sebuah ruko yang yang baru selesai. Sorot mata Yaya menajam saat melihat Andrian membukakan pintu mobil di sebelahnya. Sorot itu semakin menajam saat melihat siapa yang turun dari sebelahnya.

"Mama, Papa," pekik seorang anak kecil yang berlari dari dalam rumah bersamaan dengan seorang perempuan yang turun dari dalam mobil.

Degh ...

Jantung Yaya bagai ditikam sembilu saat melihat siapa perempuan itu.

"Mbak Marissa? Apa aku tadi tidak salah dengar? Papa? Apa-apaan ini?" gumamnya dengan gemuruh hebat di dada. Bahkan dadanya terasa panas bagai terbakar hebat. Tangannya bergetar. Dicengkeramnya erat-erat kemudi itu untuk meredam gejolak di dadanya.

Di depan matanya, Andrian meraih Tania ke dalam gendongannya. Lalu ia menciumi pipi bocah perempuan itu membuat tawa berderai dari bibir mungilnya.

"Nggak, nggak, itu nggak mungkin. Aku pasti salah melihat. Nggak mungkin Mas Rian mengkhianati aku. Aku pasti salah liat, iya 'kan?"

Yaya mengucek kedua matanya. Namun adegan di depan matanya terlihat nyata. Mereka bagai sepasang suami istri dengan anak kecil di tengah-tengah mereka. Andrian merangkul pundak Marissa masuk ke dalam rumah. Sungguh, apa yang Yaya lihat ini membuatnya terperanjat tak berdaya.

Yaya memejamkan matanya. Ia masih mencoba mencerna apa yang ia lihat barusan.

"Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus segera memastikan apa hubungan mereka sebenarnya," ujarnya dengan tubuh yang sesungguhnya panas dingin.

Siapa yang bisa tetap tenang dan baik-baik saja saat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana suaminya memperlakukan perempuan lain layaknya seorang istri. Yaya hanyalah perempuan biasa. Melihat hal yang tak biasa itu, jelas saja membuatnya sakit luar biasa.

Sejujurnya tungkai Yaya terasa lemas. Rasanya ia sudah tak sanggup untuk melangkah. Namun karena tekadnya yang sudah kuat untuk mencari kebenaran hubungan antara suaminya dan Marissa, membuatnya menguatkan diri dan menegarkan hati. Ia melangkah dengan gemuruh yang kian menjadi-jadi. Berharap segala prasangka hanya kesalahpahaman diri.

"Bismillahirrahmanirrahim," gumamnya saat sudah berdiri di depan pintu yang terbuka. Dapat ia dengar suara Marissa meminta baby sitter-nya memandikan Tania. Yaya ingin mengucapkan salam, namun ia mengurungkan niatnya. Ia pun memberanikan diri masuk tanpa seizin si empunya rumah.

Namun apa yang dilihatnya saat kakinya sudah berada di ambang pintu membuat seluruh rasa di hatinya porak poranda. Matanya terbelalak dengan kecamuk yang kian berkobar. Dengan tangan yang gemetar, ia menyalakan ponselnya dan mengarahkan kameranya ke pada dua orang yang sudah menusuknya dari belakang.

"Oh, jadi ini yang kalian sebut hanya sekedar sahabat? Sahabat dalam hal apa? Sahabat apa yang saling bercumbu mesra, hah?" raung Yaya dengan suara bergetar saat melihat suami dan perempuan yang suaminya sebut sebagai sahabat sedang bercumbu mesra di ruang tamu rumah itu.

"Ya---Yaya, ke---kenapa kau ada di sini?" ucap Andrian terkejut saat menyadari keberadaan Yaya di rumah itu.

...***...

...Happy reading 🥰 🥰 🥰...

Terpopuler

Comments

Marina Tarigan

Marina Tarigan

awal kebohongan tambah kebohongan jadi kenyataan yaya Afrian tdk salah kamu yg keburu pikun demi cinta

2025-03-05

0

Yus Nita

Yus Nita

srpandai2 ny tupai melompat suatu saatoadto jatoh juga.
dan sekarang kln ke tsngkapbasah jan 😀😀😀
sahabatrasaisyri

2024-12-27

0

nobita

nobita

akhirnya ketahuan juga kamu Adrian...

2024-12-22

1

lihat semua
Episodes
1 Pesta Pernikahan
2 Malam pertama
3 Kecewa
4 Alasan kebencian
5 Di pantai
6 6
7 Pulang
8 Tempat kembali
9 Dilema
10 Layu sebelum berkembang
11 Pulang
12 Foto
13 Makan siang
14 Tercabik-cabik
15 ide
16 Mengikuti
17 Hancur
18 FWB
19 Akhirnya tahu
20 Geram
21 Djiwa in action
22 Pengadilan agama
23 Kedatangan ...
24 Curi-curi pandang
25 I-itu ...
26 Hati seorang ibu
27 Lho, kok ...
28 28
29 Dinding
30 Dia ...
31 Dapur
32 Kamar mandi
33 Tawaran tak terduga
34 Restoran
35 Pergi
36 Kehilangan
37 Di rumah sakit
38 Menyesal
39 Terbayang
40 Mall
41 Terbelalak dan menganga
42 42
43 43
44 44
45 Diusir
46 46
47 47
48 Suara familiar
49 49
50 50
51 51
52 Usaha Andrian
53 Jodohku
54 Ini ...
55 55
56 Misi
57 kerja sama
58 Berliku
59 Pingin buruan dihalalin
60 60
61 Kepergok
62 62
63 Laki-laki mokondo?
64 Terkezoet
65 Trauma
66 Kamu
67 67
68 68
69 Panic attack
70 Malu
71 Riuh
72 Teriak
73 Ambyar
74 Panas
75 75
76 Gagal lagi?
77 Sunshine, kamu ...
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 Patah
90 Ali
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109 (S2 bag. 1)
110 110 (S2 bag. 2)
111 111 (S2 bag. 3)
112 112 (S2 Bag. 4)
113 113 (S2 Bag. 5)
114 114 (S2 Bag. 6)
115 115 (S2 Bag. 7)
116 116 (S2 Bag. 8)
117 117 (S2 Bag. 9)
118 118 (S2 Bag. 10)
119 119 (S2 Bag. 11)
120 120 (S2 Bag. 12)
121 121 (S2 Bag. 13)
122 122 (S2 Bag. 14)
123 123 (S2 Bag. 15)
124 124 (S2 Bag. 16)
125 125 (S2 Bag. 17)
126 126 (S2 Bag. 18)
127 127 (S2 Bag. 19)
128 128 (S2 Bag. 20)
129 129 (S2 Bag. 21)
130 130 (S2 Bag. 22)
131 131 (S2 Bag. 23)
132 132 (S2 Bag. 24)
133 133 (S2 Bag. 25)
134 134 (S2 Bag. 26)
135 135 (S2 Bag. 27)
136 136 (S2 Bag. 28)
137 137 (S2 Bag. 29)
138 138 (S2 Bag. 30)
139 Bonchap uhuy
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Pesta Pernikahan
2
Malam pertama
3
Kecewa
4
Alasan kebencian
5
Di pantai
6
6
7
Pulang
8
Tempat kembali
9
Dilema
10
Layu sebelum berkembang
11
Pulang
12
Foto
13
Makan siang
14
Tercabik-cabik
15
ide
16
Mengikuti
17
Hancur
18
FWB
19
Akhirnya tahu
20
Geram
21
Djiwa in action
22
Pengadilan agama
23
Kedatangan ...
24
Curi-curi pandang
25
I-itu ...
26
Hati seorang ibu
27
Lho, kok ...
28
28
29
Dinding
30
Dia ...
31
Dapur
32
Kamar mandi
33
Tawaran tak terduga
34
Restoran
35
Pergi
36
Kehilangan
37
Di rumah sakit
38
Menyesal
39
Terbayang
40
Mall
41
Terbelalak dan menganga
42
42
43
43
44
44
45
Diusir
46
46
47
47
48
Suara familiar
49
49
50
50
51
51
52
Usaha Andrian
53
Jodohku
54
Ini ...
55
55
56
Misi
57
kerja sama
58
Berliku
59
Pingin buruan dihalalin
60
60
61
Kepergok
62
62
63
Laki-laki mokondo?
64
Terkezoet
65
Trauma
66
Kamu
67
67
68
68
69
Panic attack
70
Malu
71
Riuh
72
Teriak
73
Ambyar
74
Panas
75
75
76
Gagal lagi?
77
Sunshine, kamu ...
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
Patah
90
Ali
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109 (S2 bag. 1)
110
110 (S2 bag. 2)
111
111 (S2 bag. 3)
112
112 (S2 Bag. 4)
113
113 (S2 Bag. 5)
114
114 (S2 Bag. 6)
115
115 (S2 Bag. 7)
116
116 (S2 Bag. 8)
117
117 (S2 Bag. 9)
118
118 (S2 Bag. 10)
119
119 (S2 Bag. 11)
120
120 (S2 Bag. 12)
121
121 (S2 Bag. 13)
122
122 (S2 Bag. 14)
123
123 (S2 Bag. 15)
124
124 (S2 Bag. 16)
125
125 (S2 Bag. 17)
126
126 (S2 Bag. 18)
127
127 (S2 Bag. 19)
128
128 (S2 Bag. 20)
129
129 (S2 Bag. 21)
130
130 (S2 Bag. 22)
131
131 (S2 Bag. 23)
132
132 (S2 Bag. 24)
133
133 (S2 Bag. 25)
134
134 (S2 Bag. 26)
135
135 (S2 Bag. 27)
136
136 (S2 Bag. 28)
137
137 (S2 Bag. 29)
138
138 (S2 Bag. 30)
139
Bonchap uhuy

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!