Setelah pintu terbuka. Keduanya pun cepat masuk ke dalam. Begitu juga Ara yang menuntun motornya. Lalu setelah itu Vira menutup pintu dan cepat menguncinya.
" Ya Tuhan terima kasih," kata Vira terduduk di kursi.
" Alhamdulilah, merinding gue Vir, lihat tuh penampakan," kata Ara ikut duduk di sofa usang depan kamar Vira
" Huh.... ngak usah di bahas, nanti dia bisa tahu kita berada di sini," kata Vira.
" Hah ...apa dia bisa ngikuti kita juga ya Allah ," kata Ara. Sambil komat kamit membaca ayat kursi. Karna ia benar benar shock. Saat tadi, tak sengaja. Ara melihat
penampakan hantu menyeramkan itu.
" Kok gitu amat sih ra, apa loe melihat jelas tuh muka hantunya?" kata Vira
" Iyalah menyeramkan begitu. Dengan mata berlubang dan berdarah darah. Bahkan lebih menakutkan dari wewe gombel seperti di film film itu Vir," kata Ara.
" Ish kau ini, ayo masuk kamar. Cuci kaki dan tangan loe dulu . Biar gue pinjamkan baju tidur" kata Vira yang memang menyewa rumah kontrakan. Sedikit lebih besar dari kost nya yang dahulu. Dan Vira juga sudah punya kulkas dan TV sendiri. Juga membeli laptop untuk kemudahan kuliahnya. Bahkan belum genap sebulan.
Sejak menjadi seorang peramal. Kehidupan Vira menjadi sedikit lebih baik. Dari pada awal Vira datang. Saat pertama kali Vira menginjakan kakinya di jakarta
" Rumah kontrakan loe cukup nyaman Vir, kapan kapan gue boleh nginap sini lagi ya. Pas kabur dari rumah," kata Ara.
" Astaga kenapa loe niat mau kabur dari rumah sih?" kata Vira menatap Ara
" Bokap gue cuma PNS biasa Vir, tapi kadang dia suka main judi online. Nyokap kerjanya cuma jualan nasi uduk. Tahu ngak loe, gue itu merasa hidup tersiksa Lihat nyokap pontang panting kerja. Apalagi gue masih punya adik yang masih sekolah di SD . Ngak kaya si Aca anak orang tajir. Tapi dia anak broken home. Ngak beda jauh sih dari gue. Cuma dia masih beruntung bokapnya lebih kaya," jelas Ara. Sembari ikut duduk.
" Tapi loe masih beruntung punya orang tua ra, paling tidak masih bisa dekat sama ibu dan adik loe. Nah gue ngak punya siapa siapa .Yang ada hanya paman dan kakek gue. Tapi untung mereka sayang sama gue,"' kata Vira lirih.
" Sudah yuk tidur. Besok kita kuliah pagi. Jangan sampai telat. Bisa di hukum kita sama dosen killer," kata Vira seraya beranjak dari tempat duduknya.
" Ya..." kata Ara.
Lalu keduanya pun masuk kamar. Berbaring di atas piring bed empuk milik Vira. Yang baru saja ia beli kemaren. Dari hasil Vira meramal om om teman bu Dewi pelanggan baru Vira.
" Ayo tidur, sudah malam," kata Vira naik keatas tempat tidur
" Hem....ya " dehem Ara ikut berbaring dan memejamkan matanya.
" Ra kenapa di jakarta banyak orang yang percaya sama ramalan .Bahkan loe orang islam juga .?" tanya Vira.
" Itu akibat stres Vir, di jakarta ini bukan cuma hanya pada peramal tapi juga sama para dukun. Karena berat nya persaingan hidup. Kadang membuat orang mengambil jalan pintas. Apalagi saat mereka putus asa,"' kata Ara yang banyak melihat orang bunuh diri Karena terlilit hutang.
" Separah itukan ?" kata Vira. Jika orang kalimatan hampir rata rata percaya itu hanya untuk berjaga jaga saja. Bukan untuk di percaya penuh. Tapi berbeda dengan di kota besar. Meramal di anggap sebagai kebutuhan.
" Parah lagi kalo di tanah jawa Vir, Muara nya sangat besar di sana. Banyak pondok dan pesantren didirikan. Tapi para ustad nya juga bermuka dua. Mereka mencampur adu kan iman dan ilmu santet. Juga pesugihan dan tumbal. Bahkan ada juga berkedok ustad tapi menggagahi para santrinya.,"kata Ara
" Astaga....apa itu yang di kata kan kiamat dunia. Manusia cacat moralnya," kata Vira.
" Bisa jadi," sahut Ara.
" Lalu bagaimana hukumnya. Bila agama kalian di campur adukan begitu?. Seperti dodol ketan saja ya," kata Vira
Tak ada jawaban dari Ara. Karna Ara sudah tertidur. Vira pun lalu melihat ke Ara yang sudah terlelap dengan mulut sedikit menganga.
" Yah sudah tidur dia " kata Vira yang lalu berbalik badan untuk bergeser sedikit. Lalu ikut memejamkan matanya. Namun belum lagi Vira memejamkan matanya. Sebuah sosok astral terlihat berdiri di sudut ruangan. Dekat lemari pakaian Vira.
Deg. ....
Vira pun langsung memejamkan matanya. Pura pura tidur, Karna tak mau melihat mahluk itu. Sambil membaca doa. Vira memang tidak melihat jelas mahluk itu Namun dari penampakannya, terlihat mahluk itu sangat mengerikan.
" Ya Tuhan, jaga kami dari hantu yang berniat jahat pada kami. Kami tak berniat menganggu siapapun. Kami hanya mencari sedikit rezeki. Untuk mengisi perut dan bertahan hidup ," kata Vira dalam hati.
Tak lama Vira pun ikut terlelap. Pagi nya keduanya bangun dan mandi. Lalu bersiap siap pergi kuliah.
" Kita sarapan di warteg aja ya ra, di depan pasar sana ada warung nasi. Lumayan enak kok dan harganya juga pas, sama kantong kita" kata Vira.
" Terserah loe, yang penting bisa makan," Kata Ara yang memakai jaketnya. Karena Ara meminjam baju Vira untuk berganti. Dan untungnya ukuran badan mereka sama.
" Ya ayo, nanti kita telat," kata Vira
" Ngak bakal Vir , kita bisa ngebut," kata Ara tersenyum
" Jangan ra , ingat kita ini masih muda. Kalo mati karena kecelakaan kan rugi ra," kata Vira Sambil mereka melangkah keluar pintu.
" Ya ngak lah, gue juga ngak mau mati muda Vir, karna belum merasakan surganya dunia," kata Ara
" Sama ," kata Vira sembari mengunci pintu kontrakannya
" Iya lah , makanya gue pengen cepat menyelesaikan kuliah. Lalu nyari kerja dan cari gebetan yang keren," kata Ara.
" Ya ....ayo berangkat" kata Vira.
" Tunggu Vir !!" kata Ara
" Apa lagi ?" kata Vira.
" Glia tuh cowok keren habis. Kok bisa sih dia tinggal di wilayah sini?" kata Ara terpesona pada pria yang barusan lewat. Karna jendela kaca mobilnya terbuka.
" Jangan macam macam. Tuh anak hanya ngantar nyokapnya paling itu anaknya bu hajjah Aminah. Pemilik toko beras terbesar di pasar ini," jelas Vira.
" Ya ngak masalah dia anak juragan beras. Yang penting cakep," kata Ara tersenyum.
" Astaga ...sudah ayo jalan. Jangan meleng pagi pagi begini. Pasti setelah itu loe bakal mengkhayal deh. Besar panjang dan keras dalam durasi lamanya kan?" kata Vira.
" Aish Vir, loe tuh yang otak nya ngeres. Pake tahu tuh ukuran anu nya. Emang loe sudah lihat bentuknya," kata Ara sembari menjalan kan motornya menuju pasar.
" Apa maksud loe ra. Gue cuma bilang Besar panjang keras dalam durasi lama itu Karna dia cowok berhati baik. Makanya dia ngantar emaknya tiap pagi. Besar itu artinya besar tangung jawabnya. Panjang pikirannya. Keras untuk berjuang mencari nafkah. Durasi lama dalam mencintai loe sampai ke surga. Itu maksud gue, Loe tuh yang aneh. Orang gue belum pernah lihat anunya di tuduh sembarangan," omel Vira membuat Ara seketika langsung ngakak.
" Hahaha.... sorry gue salah tangkap. Maklum otak gue error ," kata Ara. Lalu memberhentikan motornya di depan warung nasi yang di maksud Vira.
" Sudah turun, ngak usah di bahas. Nanti malah loe pengen kawin," kata Vira.
" Hahaha....iyalah mana tahan ...ogah gue menjadi perawan tua," kata Ara. Sembari mengambil kunci motornya. Lalu ikut masuk ke warung nasi.
" Bu nasi uduk dua!!" kata Vira
" Ya mba, pake lauk apa ?" tanya si pemilik warung. Menatap Vira dan Ara.
" Saya pake telur balado dan mie saja bu . Ngak tahu nih teman saya. Terserah dia," kata Vira.
" Pake hati dan telur bu," kata Ara.
" Ya mba tunggu sebentar ya," kata si ibu pemilik warung.
" Ya bu, sama teh hangat nya dua," kata Vira lagi.
" Saya juga bu !!" kata seorang pria duduk di sebelah Vira. Membuat Ara melongo Ketika pria yang mereka bicarakan tadi. Tiba tiba saja duduk di dekat mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 184 Episodes
Comments
rhea
wahhhh ada yg tertarik ni
2024-09-15
1