Dengan kecepatan luar biasa, meteor raksasa ciptaan Raja Iblis menghantam keras, meluluhlantakkan segalanya. Ledakan maha dahsyat meledak seketika, mengguncang Kekaisaran Surgawi. Dentumannya terasa dan terdengar hingga ke batas alam dunia dan neraka, menggema seperti lonceng akhir zaman.
Asap pekat membumbung tinggi, bercampur dengan bara yang memerah, menandai kehancuran yang tak terelakkan. Getarannya meluluhlantakkan Istana langit, mengoyak udara, dan menciptakan retakan besar di sepanjang dimensi tiga alam. Jeritan-jeritan makhluk bergema, ketakutan menyelimuti setiap penjuru.
Malapetaka terjadi di mana-mana. Keberadaan Raja Iblis, dengan kekuatan yang melampaui batas, telah mengganggu tatanan tiga alam—langit, dunia, dan neraka.
Ketidakseimbangan itu melahirkan bencana yang tak kunjung berhenti di tiga alam, badai memusnahkan semuanya, lautan mengamuk hingga melahap daratan, dan langit meratap dengan kilatan petir penuh kobaran api tanpa jeda sedetik pun.
Kehancuran kini menjadi bahasa universal. Setiap sudut alam merasakan akibatnya, seolah kemarahan Raja Iblis adalah cermin dari kehendak kehancuran itu sendiri.
---
Di tempat lain, masi di benua tujuh. Pertarungan sengit sedang berlangsung. Dua sosok legendaris saling berhadapan, Lucifer sang Bencana Kematian melawan Gabriel sang Monster Keadilan.
Jual beli serangan antara mereka begitu brutal, setiap hentakan menghancurkan apa pun yang ada di sekitar pertarungan. Hamparan benua tujuh retak, udara bergetar, dan langit di atas mereka tampak suram seolah ikut merasakan tekanan dari pertempuran yang berlangsung.
"Apa itu barusan?" Lucifer tiba-tiba menghentikan gerakannya, tatapannya menyipit. Goncangan dahsyat dari ledakan di Istana Langit terasa hingga ke tempat ini.
"Sepertinya ada sesuatu yang besar terjadi di atas sana."
"Jangan mengalihkan topik, Lucifer," jawab Gabriel dingin, pedangnya masih terarah pada lawannya. Sorot matanya penuh ketenangan, "Kita belum selesai di sini."
"He-he-he..." Lucifer tertawa kecil, suara seraknya terdengar seperti ejekan. "Kau masih saja seperti dulu, Gabriel. Begitu serius, begitu... keras kepala."
"Dan kau masih sama," potong Gabriel tajam, kilatan cahaya dari pedangnya semakin menyala. "Licik dan penuh tipu daya. Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkanmu lolos."
Lucifer menyeringai, matanya bersinar merah menyala. "Kalau begitu, mari kita lanjutkan permainan ini. Aku ingin tahu apakah keadilanmu cukup kuat untuk menghentikan kematian itu sendiri."
Serangan mereka kembali meletus, kali ini lebih sengit dari sebelumnya. Setiap pukulan, tebasan, dan dentuman memecahkan udara, menciptakan gelombang kejut super mengerikan yang terasa sampai jauh. Kekuatan mereka berdua sudah seperti dua kutub yang saling bertolak belakang, namun sama-sama mengerikan.
---
Masih di wilayah yang sama, tetapi dalam bagian medan pertempuran yang berbeda, Mikael, salah satu Jenderal Langit Agung, telah kembali. Kebangkitannya dari kematian tidak menyisakan rasa gentar sedikit pun dalam hatinya.
Bahkan kini dirinya bertambah kuat 50% dari sebelumnya, sungguh benar-benar tidak masuk akal dan sangat tidak adil. Dia melangkah dengan penuh keyakinan, membawa aura yang membuat medan perang terasa kembali lebih berat.
Di hadapannya berdiri Satan, salah satu eksekutif jenderal iblis yang pernah ia kalahkan di awal pertempuran sebelum nya.
"Aku kira kau sudah mati untuk selamanya, tapi ternyata kau masih hidup juga," kata Mikael dingin, suaranya terdengar seperti batu yang menghantam logam. Tatapannya tajam, seolah menguliti jiwa lawannya.
"Hah! Keberuntungan saja aku bisa selamat dari skill ultimate-mu waktu itu," balas Satan dengan nada ceplas-ceplos khasnya, sebuah senyum miring tersungging di wajahnya. "Lagipula, bukankah barusan kau juga mati di tangan Lucifer? Sepertinya kita berdua punya lebih banyak nyawa daripada yang lain."
Mikael mengingat peristiwa itu dengan jelas. Di awal pertemuan, ia telah mengalahkan beberapa jenderal iblis, termasuk Satan. Saat itu, ia mengira tugasnya sudah selesai dan segera pergi untuk menghadapi Lucifer.
Namun, ia tidak menyangka bahwa Satan adalah salah satu dari tiga iblis kuno yang memiliki kekuatan tak terduga. Mungkin itu alasan mengapa dirinya pas awal terjun ke medan tempur merasakan energi iblis kuno.
"Sebelumnya aku tidak menyadari betapa bahayanya dirimu," kata Mikael sambil mengangkat pedangnya yang bersinar dengan energi surgawi.
Sorot matanya semakin dingin. "Namun kini aku tahu siapa dirimu sebenarnya. Kau adalah salah satu dari tiga iblis kuno."
Satan tertawa kecil, suaranya seperti racun yang menyelinap di udara. "Oh, Mikael, ribuan tahun lalu kita pernah bertarung saat invasi kalian di alam neraka. Tapi mengapa kau tega melupakan wajah tampanku ini? Apa kau sudah terlalu tua untuk mengingat masa lalu?"
Nada menghina itu membuat suasana semakin tegang. Mikael tidak terpengaruh oleh provokasi tersebut. Sebaliknya, ia memasang kuda-kuda, energi surgawi Count 3 yang memancar dari tubuhnya semakin intens, menandakan kesiapannya untuk bertarung habis-habisan.
"Tua atau tidak, aku hanya tahu satu hal. Kali ini aku akan memastikan kau tidak kembali lagi," jawab Mikael dengan nada yang penuh ketegasan dan keyakinan.
Dua sosok mengerikan itu bersiap kembali. Pertempuran antara kekuatan surgawi dan kegelapan kuno akan segera meletus, menghancurkan apa pun di sekitar mereka.
Nama : Satan.
Status : Bangsa iblis/salah satu dari 10 Eksekutif raja iblis (salah satu dari 3 iblis kuno).
Skill : Memanipulasi pikiran.
---
Di alam dunia, suasana yang sebelumnya dipenuhi hiruk-pikuk pertempuran kini perlahan berubah menjadi sunyi mencekam. Di antara reruntuhan, tubuh Azazel, mantan Jenderal Langit Agung yang sangat ditakuti, kini terkapar tak berdaya di tanah bersama seluruh pasukannya. Pertarungan di sini telah usai.
Berdiri di tengah medan perang yang hancur, sosok kakek tua yang sebelumnya menghentikan langkah Azazel kini terlihat tanpa luka sedikitpun bahkan hanya untuk secarik sobekan pakaian.
Tatapannya lembut, tetapi aura kekuatan yang memancar dari tubuhnya sangat jelas terasa murni melebihi siapapun. Ia melangkah perlahan menuju tubuh Azazel yang tak bergerak, seolah memastikan akhir dari pertempuran itu.
"Sepertinya sudah dimulai," ucap kakek tua dengan suara tenang, senyum lembut tersungging di wajahnya. Tak ada tanda kesombongan, hanya ketenangan seorang yang memahami makna kekalahan dan kemenangan.
Azazel, sang penyandang gelar Monster Keadilan, yang kekuatannya hampir setara dengan Gabriel, ternyata tidak mampu menghadapi kehebatan kakek tua ini. Bukan hanya karena kekuatan fisiknya, tetapi juga kecerdikan dan pengalaman tempurnya yang seolah tak terukur.
Lebih mencengangkan lagi, kakek tua itu bertarung seorang diri, tanpa bantuan satu pun bala tentara.
Angin yang berembus membawa aroma darah dan tanah yang terbakar. Medan perang itu bukan hanya saksi kekalahan Azazel, tetapi juga bukti kekuatan seorang pejuang yang sering dianggap remeh karena usianya.
Namun, kakek tua itu tetap tenang, seolah bagi dirinya ini hanyalah satu pertempuran kecil di antara banyak pengalaman pertempuran besar yang ia hadapi selama hidupnya.
Dengan langkah mantap, ia meninggalkan tubuh Azazel yang terkapar. Dalam senyumannya yang samar, ada tanda bahwa ia telah memahami arah yang akan diambil oleh tiga alam ke depan, dan ia bersiap menghadapi apa pun yang akan datang
---
Di sudut lain dari medan pertempuran, lebih tepatnya di gerbang super Great Adam, pembatas antara benua alam langit dan istana Kekaisaran Surgawi.
Pasukan elit pelindung kaisar berusaha memulihkan diri setelah pertarungan sengit melawan iblis yang sebelumnya dipanggil Raja Iblis. Meski telah berhasil mengalahkan makhluk mengerikan itu, harga yang harus dibayar sangat tinggi.
Beberapa prajurit terluka parah, meski untungnya, kondisi mereka masih dapat diatasi dengan pengobatan darurat.
"Pertarungan sudah dimulai," ucap sang ketua pasukan, suaranya berat dan tegas. Ia menatap reruntuhan di sekeliling mereka sembari merasakan gempa dahsyat, dampak dari pertempuran mengerikan di Istana Langit. "Untuk saat ini, kita harus tetap di sini sembari menunggu yang terluka pulih."
Namun, suara anak magang tiba-tiba memecah ketenangan, "Kenapa kita harus diam di sini? Bukankah tugas kita melindungi Istana Langit?"
Prajurit elit wanita bernama Yuri segera menyela. "Apa yang dikatakan ketua itu benar. Jika kita memaksa pergi ke sana, kita hanya akan menjadi beban dalam pertempuran tingkat tinggi seperti itu!" ucapnya dengan nada tajam.
"Ya," lanjut salah satu prajurit yang sedang mengobati rekannya. "Kematian Rega sudah menjadi bukti perbedaan kekuatan kita dengan Raja Iblis. Jika dipaksakan, kita semua akan mati!"
Ketua pasukan menatap anak magang itu dengan penuh kebijaksanaan. "Aku tahu perasaanmu dan aku menghargai prinsipmu untuk melindungi Istana Langit. Tapi dalam situasi seperti ini, diam adalah opsi terbaik. Meski begitu, aku bangga dengan semangatmu. Jangan pernah melupakannya."
"Siap, Ketua. Terima kasih atas sarannya," jawab anak magang dengan rasa hormat.
Yuri kemudian mengarahkan perhatian tim, "Kemungkinan besar Kaisar Langit sekarang berada di tempat evakuasi. Setelah semua membaik, kita harus segera bergerak ke sana."
"Kau benar, Yuri. Setelah semua pasukan pulih, kita akan segera bergerak. Terlebih, kondisi mental Rein mulai kembali stabil," ujar Hajime, sang prajurit elite sekaligus informan, dengan nada tegas namun tetap khawatir.
Seolah mengimbangi ketegangan situasi, seorang prajurit yang tengah dirawat tiba-tiba bergumam, "Raja Iblis... Tak kusangka perbedaan kekuatan kita dengan dia sejauh itu." Kalimat itu menggantung di udara, membuat semua orang kembali teringat akan kegagalan mereka melawan ancaman sebelumnya.
"Kau benar... Ternyata di alam ini ada sosok yang jauh lebih mengerikan dari apa yang pernah kubayangkan," ujar salah seorang prajurit elite dengan suara serak. Lidahnya yang menjulur terlihat penuh luka bekas pertempuran, meskipun telah mendapatkan perawatan dari pasukan elit bagian medis.
Prajurit lain dengan tubuh penuh tato mengangguk perlahan, suaranya berat namun penuh keyakinan, "Ini akan menjadi pelajaran bagi kita semua, sebagai pasukan elite pelindung Kaisar Langit. Kita harus belajar dari pengalaman ini."
Keheningan mendadak menyelimuti suasana. Semua mata tertuju pada sang kapten yang berdiri dengan tegap, meski wajahnya jelas menyiratkan kelelahan. Suaranya berat, namun berwibawa, memecah kesunyian dengan kalimat yang mengejutkan semua orang.
"Kalian semua... Setelah perang besar ini berakhir, aku akan mundur dari jabatan sebagai kapten pasukan elite. Kepemimpinan ini akan kuserahkan kepada salah satu dari kalian. Era-ku sudah selesai, dan era baru harus lahir. Kalianlah pemimpin masa depan, yang akan melindungi Istana Langit."
Pernyataan itu menghantam seluruh pasukan seperti badai di tengah lautan. Tak ada yang berani menyela. Keputusan sang kapten membawa rasa berat di hati setiap prajurit, namun mereka tahu—keputusan ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti tanggung jawab seorang pemimpin sejati.
Kapten melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar, "Namun, sebelum itu... Kita akan membawa abu jenazah Rega ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dia adalah pejuang sejati, dan pengorbanannya tidak akan pernah kita lupakan."
Wajah-wajah lelah para prajurit tampak semakin suram, tetapi mereka tetap berdiri tegak, menahan emosi yang bercampur aduk. Nama Rega kini menjadi simbol perjuangan mereka, menggema dalam hati masing-masing sebagai api yang tak pernah padam.
Tanpa ragu, semua pasukan menjawab serentak, "Siap, dimengerti!"
Momentum itu terasa berat, penuh dengan duka yang mendalam namun disertai harapan. Generasi lama akan segera digantikan oleh generasi baru, tetapi semangat juang mereka akan tetap sama, mengalir dalam setiap keputusan dan tindakan yang mereka ambil ke depannya.
Keheningan itu adalah bukti penghormatan mereka kepada Rega dan kepada visi yang mereka semua perjuangkan—perlindungan Istana Langit dan rakyatnya.
Namun, jauh di lubuk hati mereka, tersimpan kesadaran bahwa perang ini belum berakhir, dan tugas mereka masih jauh dari selesai.
Benar saja.
Suasana mendadak berubah drastis. Sebuah suara lembut namun penuh ancaman tiba-tiba terdengar dari belakang Rein.
"Bolehkah aku bertanya... di mana letak pengungsi Alam Langit berada saat ini?"
Semua pasukan elit sontak memutar tubuh mereka, dan di sana berdiri sosok iblis misterius. Tangan iblis itu dengan santainya memegangi kepala Rein, gerakannya begitu lembut namun menyiratkan kekuatan tak terukur. Tatapan dingin menghiasi wajahnya, sementara Rein, yang masih dalam kondisi linglung setengah sadar, tak menunjukkan reaksi apa pun.
"Sejak kapan kau berada di sini? Cepat lepaskan tanganmu dari kepala Rein!" teriak Yuri dengan nada penuh ketegasan, tubuhnya bergerak maju meski jelas ia menahan ketakutannya.
Iblis itu tersenyum tipis, tawa kecilnya terdengar memuakkan, "Fu-fu-fu... Tenanglah, aku hanya ingin bertanya. Dimana letak pengungsian para warga Langit? Tidak kurang, tidak lebih."
Situasi semakin tegang. Anak magang di belakang Yuri tampak gemetar, suaranya bergetar saat bertanya, "Apa yang harus kita lakukan, Ketua? Nyawa Rein sekarang dalam bahaya... apalagi dia masih belum sepenuhnya sadar!"
Sang Ketua, meskipun tetap tenang, menunjukkan ketegangan yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ia memberi isyarat kepada Hajime untuk segera menganalisis iblis tersebut.
"Hajime, periksa identitasnya! Apakah dia termasuk dalam daftar iblis yang harus diwaspadai? Aku tidak merasakan energi apa pun darinya. Ini sangat aneh."
Hajime segera memejamkan mata, memusatkan konsentrasinya untuk mendeteksi apa pun yang bisa diungkap dari iblis di hadapan mereka. Bahkan dengan metode low-energy dan long-energy, hasilnya nihil.
Sebelum perang ini dimulai, prajurit Langit menerima informasi mendalam yang telah di kumpulkan oleh pasukan intelijen Langit. Data merinci jumlah pasukan iblis serta siapa saja dari mereka yang perlu diwaspadai.
Dari semua prajurit neraka yang dikirim ke medan perang, terdapat sepuluh iblis eksekutif jenderal yang kekuatannya berada tepat di bawah Raja Iblis Zhask. Mereka disebut sebagai "Sepuluh Penghancur (Eksekutif)."
Kekuatan para penghancur ini begitu luar biasa hingga hanya tujuh Jenderal Langit Agung, pasukan terkuat surga, yang mampu mengimbangi mereka. Menghadapi salah satu dari mereka tanpa bantuan dari Jendral langit Agung sering sama halnya dengan kematian.
Namun, Hajime, dengan tatapan penuh analisis, berkata kembali, "Jika dilihat dari ciri fisiknya, dia tidak ada dalam daftar sepuluh eksekutif jendral iblis, Kapten."
Ucapan itu sedikit melegakan, tetapi kapten tetap waspada. "Meski begitu, jangan lengah. Kondisi kita saat ini masih belum pulih sepenuhnya setelah pertarungan sebelumnya. Sangat merepotkan jika ternyata dia adalah salah satu iblis kelas tinggi yang belum teridentifikasi."
Pasukan elite lalu perlahan bergerak, mengepung sosok iblis tersebut. Mereka membentuk formasi lingkaran yang rapat, mengunci sang iblis agar tak memiliki celah untuk melarikan diri. Alih-alih menjadi ancaman, kini sang iblis justru berada dalam posisi yang terjepit.
Namun, bukannya terintimidasi, iblis itu justru tertawa pelan dengan suara konyolnya. "Fu-fu-fu... Jadi, kalian menolak memberi tahu lokasi pengungsian, ya? Menarik sekali. Kalian bahkan cukup percaya diri untuk mengancam ku balik."
"Menyerah lah dan serahkan dirimu sekarang, atau kami akan menghabisi mu!" Hajime dan pasukan elit lainnya menegaskan dengan nada dingin.
"Sebelum itu aku ingin bertanya, apa benar kalian pasukan elite pelindung Kaisar Langit? Fu-fu-fu... Lucu sekali. Menghadapi iblis biasa saja kalian kewalahan, apalagi aku," jawab sang iblis penuh kesombongan.
"Cepat beri tahu aku, di mana para pengungsi Langit berada, atau aku akan membunuh kalian satu per satu."
Yuri, dengan tatapan tajam, menunjuk ke arah iblis itu tanpa gentar. "Jangan berlagak hebat, kau hanya iblis tingkat rendah. Kami bisa mengalahkan mu kapan saja."
Sang iblis tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Fu-fu-fu, ini sangat menarik! Anak muda memang selalu terlalu percaya diri."
Kapten mengangkat tangan, menghentikan Yuri dan yang lainnya agar tidak gegabah. "Kita hanya perlu menunggu analisis lebih lanjut. Jangan terpancing dengan omongan iblis itu."
Prajurit berbadan besar mengangguk. "Ketua benar. Kita harus berhati-hati. Meski dia tidak ada dalam daftar Sepuluh Penghancur, cara dia berbicara menunjukkan bahwa dia bukanlah iblis sembarangan."
Perlahan, enam sayap keadilan muncul dari punggung sang kapten, memancarkan aura keagungan. "Namun, aku khawatir dia lebih dari sekadar iblis tingkat tinggi. Sosok di depan kita... dia berada jauh di atas itu."
Tawa sang iblis mendadak terhenti. Dia menyeringai dingin. "Ah, kakek tua ini ternyata lebih cerdas dari anak-anak kecil di sekitarnya. Anak muda memang keras kepala, ya?"
Perkataan itu membuat suasana mendadak mencekam. Seluruh pasukan terdiam, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja tersingkap.
Sosok di depan mereka, yang sama sekali tidak terdeteksi auranya, kemungkinan besar adalah ancaman yang jauh melampaui apa yang mereka bayangkan.
"Lembah Adam bagian selatan," suara iblis itu bergema, setiap kata bagaikan belati dingin yang menusuk. "Tertutup oleh segel dimensi... yang hanya dapat dibuka dengan kode 34901."
Nada suara yang awalnya tampak konyol, diiringi senyuman mengejek, kini berubah drastis menjadi dingin dan penuh intimidasi. Aura di sekitarnya terasa mencekam, seolah menekan udara hingga sesak.
"Bagaimana bisa...?" suara Yuri pecah, matanya membelalak penuh keterkejutan. "Dari mana kau tahu tempat itu, apalagi kode untuk membukanya?"
Prajurit-prajurit elit lainnya saling berpandangan, ekspresi mereka mencerminkan kebingungan dan ketakutan yang sama.
Itu adalah rahasia besar, lokasi camp pengungsian penduduk langit—tempat yang seharusnya mustahil diketahui oleh pihak langit sembarangan apalgi iblis.
Sang iblis kembali tertawa kecil, suara tawanya bagaikan bisikan gelap yang bergema di telinga mereka. "Kalian sungguh naif," ucapnya dengan penuh kesombongan.
"Hanya karena aku tidak termasuk dalam jajaran sepuluh eksekutif jenderal iblis, kalian menganggap ku lemah? Pernyataan itu adalah penghinaan besar... fu-fu-fu."
Perlahan, tangannya terangkat, dan seiring dengan itu, tabir energi kutukan yang selama ini tersembunyi mulai terungkap. Kutukan menjalar di sekelilingnya, seperti bayangan hidup yang membelit udara, membuat setiap prajurit elit yang menyaksikan hanya mampu menelan ludah dalam diam.
Energi itu begitu kuat, begitu mengerikan—mengingatkan mereka pada tekanan yang mereka rasakan saat berhadapan dengan Raja Iblis. Namun, meskipun masih kalah jauh dibandingkan kekuatan sang Raja, aura iblis ini cukup untuk membuat nyali mereka ciut.
Kebisuan menyelimuti barisan pasukan elit. Namun hati mereka tak bisa berbohong—kutukan iblis di depan mereka hampir menyamai energi surgawi Count 3 yang dimiliki oleh para Keadilan Absolut.
"Kalian tidak akan keluar dari sini hidup-hidup," ujar sang iblis, tatapannya yang dingin berubah tajam, menusuk jiwa siapa saja yang berani menatap balik.
Nama : Belzebab.
Status : Bangsa iblis/pasukan prajurit iblis biasa (salah satu dari 3 iblis kuno).
Skill : - ( belum di sebutkan)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments