Narator kembali membawa kita semua ke masa sekarang, flashback panjang peperangan di alam dunia telah selesai dan kini cerita akan terfokus pada situasi saat ini.
Langit surgawi berpendar lembut, tetapi suasana di dalamnya mencekam. Di bawah cahaya keabadian itu, Mikael terkapar tak berdaya, tubuhnya bersimbah luka, darah suci mengalir di antara retakan tanah. Di hadapannya berdiri Lucifer, Sang Bencana Kematian, iblis kuno yang kini menjulang sebagai ancaman tak tertandingi.
Mikael, yang sebelumnya mendominasi pertarungan dengan keahlian energi surgawi dan kekuatan luar biasa, kini tak lebih dari sosok rapuh yang kehabisan tenaga. Kekalahannya adalah hasil dari kesalahan fatal—sebuah penghinaan kepada keagungan Raja Iblis Zhask.
Kata-katanya, yang dianggap remeh, membakar amarah Lucifer, membangkitkan kekuatan tersembunyi nya hingga menciptakan kehancuran yang mengguncang dimensi langit
Lucifer, yang sejak awal menyembunyikan kekuatan sejatinya, kini berdiri dalam kemuliaan penuh kekuatan. Tatapannya dingin, namun di balik mata hitamnya terlihat kobaran amarah yang mengintimidasi.
Para iblis di sekitarnya merasakan teror yang tak terlukiskan, dan tanah pun bergemuruh, mencerminkan kedahsyatan Sang Eksekutor Raja Iblis Zhask Agung.
“Cepat bangkit, Mikael,” ucap Lucifer dengan nada tajam, disertai tawa kecil yang menggema. “Aku ingin membunuhmu lagi dan lagi—kau, makhluk lancang yang berani menghina keagungan Raja Iblis Sejati.”
Kata-katanya mengiris udara, memancarkan aura kutukan yang merayap ke setiap sudut medan perang. Mikael, meski abadi, tak bisa menyembunyikan aura penderitaan yang mengelilinginya.
Pengabdian Lucifer kepada Zhask tak mengenal batas. Bersama para jenderal eksekutif iblis lainnya, dia menjunjung Raja Iblis Zhask sebagai sosik yang lebih dari sekadar penguasa. "Dia adalah yang terkuat di antara yang terkuat," bisik Lucifer, suaranya penuh dengan keyakinan mutlak.
“Hanya dengan keberadaannya, dunia akan dirasuki teror yang tak henti-henti.”
Nama Raja Iblis Zhask Agung telah mengukir ketakutan mendalam di alam langit dan neraka, tetapi pengaruhnya melampaui rasa takut—dia adalah pusat kehormatan dan pengabdian mutlak.
Bahkan Lucifer, pemimpin alam Neraka sebelum kedatangan Zhask, dengan sukarela menyerahkan tahtanya untuk melayani penguasa baru ini.
“Sebutan iblis kuno tidak berarti apa-apa bagiku,” lanjut Lucifer, sambil tertawa kecil, aura kegelapan melingkupinya. “Aku hanyalah bawahan setia Raja Iblis Zhask Agung, pemilik keagungan sejati.”
Di tengah penghinaan Lucifer terhadap Mikael, jasad suci Mikael mulai memancarkan sinar kuning terang yang semakin menyilaukan. Cahaya itu berdenyut, menandakan sesuatu yang besar akan terjadi. Bahkan dalam kekalahan, Mikael tetaplah makhluk abadi—dan keabadiannya kini berusaha membangkitkannya kembali.
Namun, suasana semakin mencekam. Dari arah berbeda, tekanan energi luar biasa menyapu medan perang. Iblis-iblis yang tadinya bersorak atas kemenangan Lucifer kini meringkuk, wajah mereka memancarkan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
Lucifer sendiri, meskipun seorang iblis kuno, merasakan tubuhnya memberontak di bawah tekanan energi tersebut. Tawa tipis yang sebelumnya menghiasi wajahnya perlahan memudar, tergantikan dengan tatapan tajam penuh waspada.
Kemudian, cahaya terang yang menyilaukan muncul, memancar dengan kekuatan keadilan sejati, menembus kegelapan yang menyelimuti medan pertempuran. Aura keadilan itu begitu kuat, seperti sebuah deklarasi atas kehadiran entitas yang tak asing bagi Lucifer.
“Tentu saja,” bisik Lucifer, tawa kecil kembali menghias bibirnya. “Energi ini... aku mengenalnya. Kutukan ku sudah sangat lapar ingin melahap mu, Gabriel!”
Semua pasukan yang ada di sana tersentak ke tanah, seolah tubuh mereka dikendalikan oleh kekuatan yang tak terlihat dan tak dapat dimengerti. Perlahan, pasukan iblis dan pasukan langit memberi hormat pada sosok yang tiba-tiba muncul di medan pertempuran.
Namun, hanya satu makhluk yang tetap tegak tanpa tunduk. Lucifer, sang Iblis Kuno, berdiri dengan angkuh, matanya penuh keyakinan, menolak memberi penghormatan. Bahkan di dimensi lain, tempat Asmodeus dan Julius tengah bertarung, keduanya merasakan tekanan luar biasa. Tubuh mereka terhempas ke tanah dengan paksa, tak mampu melawan kuasa yang melumpuhkan itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa kita tiba-tiba tersentak ke tanah seolah dipaksa memberi hormat pada sesuatu?" tanya Asmodeus dengan nada bingung, menoleh pada Julius yang sama-sama terkunci dalam posisi tersebut.
"Kalian semua akan binasa," jawab Julius sambil tertawa puas cekikikan, meskipun tubuhnya sendiri tak bisa bergerak. "Gabriel, sang terkuat, telah datang. Perang ini akan segera kami menangkan!"
Gabriel. Sosok ini bukan sekadar nama. Sebagai pemegang gelar Monster Keadilan dan salah satu dari Tiga Keadilan Absolut, Gabriel adalah senjata terkuat dari pasukan langit—sebuah legenda hidup yang membawa kehancuran pada siapa saja yang berani menentang keadilan surgawi.
Di medan perang utama, Lucifer perlahan mengangkat kepalanya, senyum penuh kepuasan terpancar dari wajahnya. Dialah satu-satunya yang tidak terguncang oleh kehadiran Gabriel. Matanya bersinar tajam, penuh antisipasi.
"Aku sudah lama menunggu mu," ucap Lucifer dengan nada rendah namun penuh kegembiraan. "Sang Monster Keadilan. Akhirnya, kau datang!"
Gabriel, dengan aura yang memancar terang menyilaukan, turun ke tengah medan perang. Sosoknya membawa keheningan yang luar biasa, seolah waktu berhenti untuk memberi ruang bagi kehadirannya.
Inilah momen yang telah lama ditunggu-tunggu oleh Lucifer—pertemuan dua kekuatan besar yang akan menentukan arah peperangan ini.
Di alam dunia, setelah hampir empat bulan peperangan brutal, kemenangan telah jatuh ke tangan bangsa iblis. Peperangan yang begitu mengerikan ini meninggalkan hanya segelintir bangsa dunia yang selamat, tersebar tanpa arah seperti serpihan kaca yang pecah.
Azazel, sang mantan Jenderal Langit Agung, menepati janjinya dengan cara paling kejam. Dia menghancurkan pasukan dunia tanpa belas kasihan, menjadikan medan perang tempat penuh genangan darah dan jeritan tanpa akhir.
Janji Azazel di awal bahwa pasukan dunia bisa menyelamatkan banyak nyawa jika mereka menyerah, kini menjadi ironi pedih. Penolakan mereka kini berbuah kehancuran yang tak bisa diperbaiki.
Freya terkapar di tanah bersama sisa-sisa pasukannya. Tubuhnya penuh luka dan nyaris tak bergerak, hanya napas yang lemah menjadi tanda ia masih hidup. 12 Kesatria Suci, pilar kekuatan bangsa dunia, kini tinggal bayangan dari kejayaan mereka.
Salah satu di antara mereka bahkan tewas dengan kepala terpecah menjadi enam bagian—sebuah gambaran mengerikan dari kekejaman perang.
Azazel berdiri di tengah medan yang hening. Tubuhnya diselimuti aura kehancuran, matanya dingin tanpa rasa bersalah. Dalam dirinya, tak ada belas kasih, tak ada penyesalan—hanya kekuatan yang membara.
“Bangsa dunia telah menolak anugerah yang kuberikan. Maka, inilah takdir mereka,” ucap Azazel perlahan, suaranya menggema di medan perang.
Pasukan yang tersisa, baik manusia maupun makhluk dunia lainnya, dipaksa tersungkur ke tanah. Tubuh mereka bergerak sendiri, tunduk kepada kehadiran Azazel. Bahkan para 20 Raja Dunia yang tersisa hanya bisa gemetar dalam kehinaan, dipaksa memberikan hormat kepada monster keadilan yang berdiri di atas kehancuran mereka.
“Aku sengaja tidak membunuh kalian,” lanjut Azazel dengan nada dingin yang menusuk, “agar kalian memahami keagungan Raja Iblis Zhask. Kehancuran kalian adalah bukti dari kekuasaan kami.”
Di sekitar medan perang, sepuluh The Number s yang telah tewas bangkit kembali penuh senyum mengerikan, luka-luka mereka seakan tak pernah ada. Bukan hanya itu, bahkan para Numbers dan pasukan iblis lainnya juga kembali pulih, berdiri dengan kekuatan yang sama, berkat skill Time Zone milik Azazel.
Jumlah mereka masi tetap sama tanpa ada yang berkurang satupun, gigi roda waktu telah berputar mengikuti kehendak Azazel. Yang artinya perang ini sebenarnya telah di menangkan bangsa iblis bahkan sebelum perang itu di mulai, Cukup membingungkan. Tapi seperti inilah kekuatan tidak masuk akal dari sang Monster Keadilan.
Azazel menatap gerbang hitam yang muncul di hadapannya, portal gelap yang mengeluarkan hawa kutukan mematikan. Itu adalah gerbang milik Raja Iblis Zhask, yang kini dipinjamkannya kepada Azazel.
“Gabriel telah bergerak,” ucap Azazel sambil menatap gerbang dengan tatapan tajam penuh determinasi. “Saatnya aku mengambil kepalanya.”
Tanpa ragu, Azazel melangkah menuju gerbang hitam. Namun tiba-tiba, sebuah suara yang lemah lembut namun menggema menghentikan langkahnya.
“Senang bertemu denganmu, mantan Jenderal Langit Agung generasi pertama. Maaf atas keterlambatan ku.”
Azazel berhenti seketika. Matanya menyipit saat ia menoleh ke arah sumber suara. Dari balik bayangan medan perang, muncul sosok seorang kakek tua dari ras manusia. Tubuhnya kurus, rambutnya memutih, dan aura di sekitarnya begitu tenang—namun justru ketenangan itu menimbulkan kecemasan yang mendalam.
“Siapa kau?” tanya Azazel dengan nada dingin, meskipun terlihat jelas rasa penasarannya. “Aku sama sekali tidak merasakan energi dalam dirimu. Apakah kau utusan Kaisar Langit?”
Sang kakek tersenyum tipis. Wajahnya tak menampakkan ketegangan sedikit pun. “Bukan,” jawabnya pelan namun penuh kepastian. “Lebih tinggi lagi.”
Sejenak, waktu seolah berhenti. Senyum itu, jawabannya, dan kehadirannya menghancurkan aura dominasi Azazel dalam sekejap. Untuk pertama kalinya, ekspresi Azazel berubah. Matanya melotot terkejut, bibirnya sedikit terbuka. Tubuhnya menegang seolah-olah menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia pahami—atau mungkin, sesuatu yang ia takuti.
“Apa... maksudmu?” gumam Azazel, nadanya goyah.
Gerbang hitam di hadapannya terus berputar, memancarkan hawa kutukan yang semakin pekat. Namun Azazel tak lagi memperhatikannya. Fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada sosok kakek tua itu—seseorang yang mampu menghentikan langkahnya dengan satu kalimat.
Sosok itu, dengan tenang, menatap Azazel yang akhirnya kehilangan ketenangan legendarisnya. Senyumnya perlahan memudar, digantikan dengan tatapan serius yang mengintimidasi.
“Azazel,” ujar sang kakek dengan nada pelan namun penuh kekuatan, “kau telah melampaui batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar. Hari ini, langkahmu berhenti di sini.”
Dan dengan kata-kata itu, babak baru dalam perang besar ini dimulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments