Kembali ke moment sebelum Freya melayangkan serangan nya.
Tidak ada yang menyadari keberadaan Freya. Dengan skill ultimate-nya, dia menghilang dan langsung melakukan teleportasi ke belakang Azazel, menunggu momen yang sempurna untuk menyerang. Setiap langkahnya adalah bayangan, setiap gerakannya adalah bisikan yang tak terdengar.
Skill ultimate Freya bukan hanya keajaiban, itu adalah seni kehancuran. Tidak hanya tubuhnya menjadi tak terlihat, tetapi keberadaannya lenyap sepenuhnya — sebuah kehampaan yang bahkan makhluk paling kuat sekalipun tidak dapat rasakan. Seolah-olah ia adalah bayangan dari kehampaan itu sendiri.
Azazel, yang masih terfokus menyaksikan perang besar di depan matanya, tak menyadari bahaya yang mengintainya dari belakang. Matanya hanya tertuju pada kehancuran yang sedang berlangsung, di mana The Numbers dengan ganas memporak-porandakan prajurit dunia tanpa ampun.
“Kalian terlalu lemah! Ini membosankan!” cemooh salah satu The Numbers sambil mencekik komandan Goblin yang sudah tak berdaya. Nadanya mengiris hati setiap prajurit yang menyaksikannya, membawa rasa putus asa yang hampir tak tertahankan.
Namun, tiba-tiba hempasan angin kencang menghantam The Numbers tersebut. Serangan itu begitu kuat hingga tubuhnya terlempar sejauh dua kilometer, meninggalkan jejak kehancuran di tanah.
Semua mata teralih pada sosok Wakil Jenderal Langit Agung, yang berdiri dengan penuh wibawa, auranya memancarkan kekuatan yang tak tertandingi.
“Jangan terlalu sombong, iblis bodoh!” serunya dengan nada tajam dan dingin, tatapannya seperti pedang yang menembus jiwa lawannya.
“Jangan lupakan aku di sini,” lanjutnya sambil menghunus pedangnya, mempersiapkan diri untuk menghadapi gelombang berikutnya.
Dari arah langit, seorang anggota The Numbers dengan nomor 1 di punggungnya melesat dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Udara berdesir saat dia menerjang Wakil Jenderal Langit Agung dengan niat membunuh.
Namun, serangan itu sia-sia. Dengan gerakan halus namun tajam, Wakil Jenderal menghindar, memperlihatkan teknik pedangnya yang legendaris.
“Senang bertemu denganmu, Wakil Jenderal Langit Agung,” kata The Numbers No. 1 dengan nada dingin dan penuh ejekan. Tatapannya seperti predator yang baru saja menemukan mangsa menarik.
“Jadi kau yang memiliki nomor 1. Menarik. Kuharap kau mampu bertahan melawan aku,” balas Wakil Jenderal dengan senyum tipis yang penuh percaya diri, seakan mengejek kekuatan lawannya.
The Numbers memiliki hierarki berdasarkan nomor urut mereka. Semakin kecil nomor yang tertera, semakin besar kekuatan yang dimiliki. The Numbers yang terhempas tadi memiliki nomor 5 di kaki kirinya — kuat, tetapi masih jauh dari kekuatan No. 1.
“Aku ingin tahu seberapa kuat seorang Wakil Jenderal Langit Agung,” ucap No. 1 sambil bersiap menyerang, kilatan ganas terlihat jelas di matanya.
Medan pertempuran menjadi semakin panas. Kedua belah pihak bertarung dengan seluruh kekuatan mereka. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, segalanya berubah ketika Freya berhasil menemukan celah dan menusukkan pedangnya langsung ke jantung Azazel.
Azazel terhuyung sejenak, matanya melebar oleh rasa tak percaya. Darah hitam mengalir dari lukanya, namun wajahnya tetap dingin, seperti tak terpengaruh. Tidak ada rasa panik, hanya ketenangan yang mengerikan.
“Bagus, Jenderal Langit Agung!” seru salah satu dari empat Tetua Naga, suaranya menggema dengan kekuatan yang mampu menggetarkan medan pertempuran.
“Rasakan itu!” sambung dua puluh raja dunia, diikuti oleh sorakan pasukan dunia yang kini kembali bersemangat. Mereka bersorak atas keberhasilan Freya, meski perang masih jauh dari selesai.
Di sisi lain, The Numbers dan pasukan iblis dilanda kebingungan dan kecemasan. Mereka tak menyangka bahwa Azazel bisa diserang begitu mudah.
“Sial! Sejak kapan wanita itu ada di belakang Tuan Azazel?” teriak The Numbers No. 1, merasa gagal menjalankan tugasnya. Namun, dia tidak bisa meninggalkan pertarungannya melawan Wakil Jenderal Langit Agung.
The Numbers No. 2 melesat menuju Freya, wajahnya penuh amarah. Namun, serangannya dihentikan oleh empat Tetua Naga. Dengan kekuatan gabungan, mereka menghantam No. 2 hingga terlempar jauh. Tubuhnya remuk, dan dia tewas seketika.
Empat Tetua Naga membuktikan keunggulan ras mereka. Energi surgawi yang melimpah di tubuh mereka membuat mereka menjadi ancaman yang tidak bisa diremehkan. Di sisi lain, Ratu Peri menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan para prajurit dunia yang terluka, memberikan mereka kesempatan kedua untuk bertarung.
“Ratu telah menurunkan anugerahnya! Mari kita hancurkan iblis-iblis itu!” teriak salah satu prajurit dunia dengan penuh semangat.
Keberhasilan Freya dan dukungan para pemimpin dunia berhasil memulihkan semangat para pasukan. Mereka mulai menguasai medan perang, memukul mundur pasukan iblis yang sebelumnya brutal dan tak terkendali.
“Kenapa kalian semua mundur! Mana kebrutalan kalian tadi?” teriak seorang prajurit manusia dengan tubuh besar dan otot mengkilap di bawah cahaya perang.
“Cepat akhiri ini, Jenderal Langit Agung Freya! Pastikan pemimpin pasukan itu mati dengan menyakitkan!” tambah prajurit lainnya dengan nada penuh kebencian.
Namun, di tengah euforia kemenangan, suasana mendadak berubah. Sebuah gerbang hitam besar terbuka di langit, memancarkan aura kehancuran. Dari dalam gerbang itu, muncul seratus monster raksasa setinggi lima ratus meter, tidak salah lagi itu adalah Number yang hanya tahu menghancurkan tanpa adanya akal pikiran.
Numbers itu dengan cepat menghancurkan barisan pasukan dunia. Kekacauan kembali melanda medan perang. Dan keadaan menjadi semakin buruk ketika Azazel kedua muncul. Dengan senyuman dingin, dia berdiri di samping Freya, memegang pundaknya dengan lembut.
“Kau sudah berkembang menjadi sangat kuat, wahai murid kecilku, Freya,” ucap Azazel dengan suara penuh kasih sayang yang mengerikan. Dalam sekejap, senjatanya terhunus, dan dia bersiap untuk memenggal kepala Freya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments