Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, Raja Iblis akhirnya berdiri di ambang gerbang istana langit. Bentangan kastil Kekaisaran Langit begitu megah, seakan menjadi puncak keangkuhan para dewa.
Pilar-pilar emas yang menjulang tinggi memancarkan kilauan terang, sementara kubah-kubah kristal di atasnya memantulkan cahaya langit seperti berlian yang tak tertandingi. Tempat ini, yang selama ini menjadi simbol supremasi langit, kini terasa hening dalam ketegangan yang memuncak.
Zhask melangkah perlahan di atas karpet merah yang panjang, tiap langkahnya menggema seperti ketukan palu kematian. Di sepanjang lorong, berbagai pusaka antik dan artefak megah terpajang dengan keanggunan yang memamerkan kemakmuran surga.
Patung-patung emas menggambarkan pahlawan kekaisaran berdiri gagah di sisi kanan dan kiri, seolah memandang rendah pada Raja Iblis. Namun, Zhask tidak menunjukkan tanda-tanda terganggu. Matanya hanya tertuju ke depan, tempat cahaya terang menyilaukan yang menandai singgasana Kaisar Langit.
Ia berhenti sejenak, menoleh ke kanan dan kiri. Segalanya terasa terlalu tenang, seakan-akan udara di sekitarnya sengaja menahan napas. Meski begitu, ia tidak menunjukkan rasa gentar. Langkahnya tetap mantap, tiap gerakan menggambarkan kekuatan dan kebencian yang membara.
Saat mencapai ujung lorong, cahaya putih yang menyilaukan mulai terkuak. Namun, yang muncul bukanlah singgasana megah seperti yang ia bayangkan, melainkan pemandangan yang membuatnya terhenti. Di hadapannya terbentang hamparan hijau yang luar biasa indah.
Tumbuhan-tumbuhan Wisteria menjulang, menggantungkan bunga-bunganya yang ungu lembut hingga menyentuh tanah. Aroma manis bunga itu memenuhi udara, menembus perisai kutukan yang selalu menyelimutinya.
Di tengah-tengah keindahan itu berdiri singgasana Kaisar Langit, megah dan berkilauan, dihiasi emas dan permata, seperti lambang surga yang tertinggi.
Namun, singgasana itu kosong.
Zhask menyipitkan mata, mencoba memahami situasi yang tak terduga ini. Ia berhenti beberapa langkah dari kursi megah itu, merasakan sesuatu yang ganjil.
Sebelumnya, ia yakin hawa keberadaan Kaisar Langit terasa begitu kuat di tempat ini. Dengan kekuatan indera uniknya, ia tahu Kaisar Langit seharusnya berada di sini, menunggunya. Tapi kini, hawa itu hilang seperti asap tertiup angin.
Keheningan yang semula menenangkan perlahan berubah menjadi sesuatu yang mengancam. Zhask menatap sekeliling, mencoba memahami maksud dari pemandangan ini. Angin lembut bertiup, membawa aroma Wisteria yang semakin pekat.
Tapi bagi Zhask, keindahan ini hanyalah topeng yang menyembunyikan tipu daya.
Ia memejamkan mata, mengerahkan kekuatan batinnya untuk menembus dimensi ilusi. Sejenak kemudian, sesuatu yang tak terlihat mulai tersibak. Ruang di sekitarnya bergetar, seperti cermin yang mulai retak. Perlahan, tabir tak kasat mata yang mengelilingi tempat itu semakin berguncang dan memperlihatkan kebenaran di baliknya.
"Jebakan ilusi seperti ini tidak akan bisa menjebak ku dua kali!" Zhask menggeram, suaranya dalam dan penuh kemarahan.
Setelah tabir ilusi sobek oleh kekuatan Raja Iblis, kini Zhask akhirnya bisa bertatap muka langsung dengan Kaisar Langit, sang penguasa tiga alam.
Di atas singgasana megahnya, Kaisar Langit duduk tenang, tatapan matanya memancarkan keteduhan yang penuh kewaspadaan. Di sampingnya, empat menteri berdiri dalam formasi siaga, melindungi Kaisar dari ancaman Raja Iblis yang kini berdiri di ambang batas ruang suci tersebut.
Para menteri segera bereaksi, tubuh mereka memancarkan aura kekuatan yang menggetarkan ruangan. Salah satu menteri, Jenderal Tertinggi Iskandar Agung, melangkah maju dengan penuh keyakinan.
"Berhenti di sana, Zhask!" seru Iskandar Agung, suaranya menggema penuh otoritas. "Jika kau mendekat lebih jauh, kami tidak akan ragu untuk menghancurkan mu di tempat ini juga. Jangan anggap ancaman ini sebagai omong kosong."
Zhask hanya tersenyum tipis, wajahnya penuh rasa percaya diri yang nyaris menyeramkan. Ia menatap para menteri dengan tatapan merendahkan, seolah menganggap keberadaan mereka tidak lebih dari penghalang kecil yang mudah disingkirkan.
Tanpa adanya rasa takut dia melangkah dan berdiri tegak di tengah ruangan Kekaisaran Surgawi, memandang Kaisar Langit dengan intensitas yang membakar. Wajahnya penuh dengan rasa puas, seolah-olah momen inilah yang telah ia tunggu selama berabad-abad.
Namun, ia tidak langsung berbicara. Hanya senyum mengerikan yang muncul, menggambarkan kebencian bercampur kegembiraan yang meluap-luap.
Keempat Menteri Kekaisaran berdiri di sisi Kaisar Langit dengan postur tegang, siap melindungi pemimpin mereka kapan saja. Namun, tidak ada yang berkata sepatah kata pun. Keheningan menggantung berat di udara. Detik-detik berlalu hingga akhirnya Zhask meledak dalam tawa keras yang menggema di seluruh aula.
"Kepalamu... Kaisar Langit. Aku tidak sabar lagi untuk memisahkannya dari tubuhmu!" serunya, penuh adrenalin dan kebencian.
Seruan itu bagaikan petir yang memecah ketenangan. Para Menteri langsung bereaksi. Wajah mereka berubah merah padam, penuh amarah.
"Kau tak tahu batas, Iblis!" teriak Iskandar Agung, Menteri Pertahanan sekaligus Jenderal Tertinggi Kekaisaran. "Kami akan pastikan kau binasa hari ini, demi kehormatan langit!"
"Dirimu tidak layak menginjakkan kakimu di tempat mulia ini!" bentak Menteri Perekonomian, matanya memancarkan kebencian. "Pergilah, atau nyawamu menjadi harga yang harus dibayar!"
Namun, Raja Iblis tidak menggubris kemarahan mereka. Sebaliknya, ia menertawakan mereka dengan ekspresi semakin mengerikan. Satu tangannya memegangi kepalanya, dan ia menggeleng-gelengkan kepala seperti sedang menikmati hiburan yang luar biasa.
"Makhluk-makhluk bodoh," katanya dengan nada meremehkan. "Aku tidak peduli dengan kalian. Pergilah sebelum aku menghabisi kalian tanpa ampun. Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan Kaisar Langit... Dan jika aku tidak puas, aku akan langsung membunuhnya."
Ucapan itu membuat para Menteri kehilangan kesabaran. Dalam sekejap, aura mereka berubah drastis. Tubuh mereka kembali mulai memancarkan cahaya terang ilahi, dan wujud manusia mereka menghilang, digantikan oleh bentuk asli mereka—monster suci dari mitologi Nirwana.
Iskandar Agung berubah menjadi Phoenix emas yang berkilauan, setiap bulunya seperti api abadi yang menyala terang. Armor emas menutupi tubuh besarnya, menjadikannya lambang perlindungan sekaligus kehancuran.
Di sampingnya, tiga Menteri lain juga memperlihatkan wujud mereka. Meski hanya dalam bentuk siluet hitam, bayangan besar mereka jelas menampilkan bentuk monster suci berbetuk kera perkasa yang memegang tongkat besar, ada juga seperti naga besar yang melilit di udara dengan mata menyala seperti bara, dan seekor babi raksasa dengan taring-taring tajam yang mencerminkan kekuatan liar.
Aura keempat Menteri tersebut memenuhi ruangan, menciptakan tekanan yang luar biasa. Bahkan lantai marmer di bawah kaki mereka mulai retak. Namun, di tengah atmosfer yang mencekam itu, Kaisar Langit tetap diam. Ekspresinya tidak menunjukkan amarah, hanya ketenangan dan sedikit kesedihan.
"Zhask," akhirnya Kaisar Langit berbicara. Suaranya lembut, tapi penuh otoritas. "Aku mengerti amarahmu. Aku tahu beban yang kau pikul. Tapi apa yang kau lakukan ini... sudah melewati batas. Sebagai Kaisar Langit, aku bertanggung jawab atas perdamaian dan keadilan yang kau hancurkan."
Zhask menyeringai, senyumnya semakin lebar. Ia mulai tertawa kecil, lalu semakin keras.
"Perdamaian? Keadilan?" balasnya, suaranya penuh ejekan. "Apa kau pikir aku akan percaya pada kata-kata manismu, Bodoh? Kau, yang membiarkan kaummu merendahkan kaumku selama ribuan tahun? Kau, yang hanya duduk di atas singgasanamu sementara dunia terjatuh dalam kekacauan? Kau tidak pantas berbicara tentang keadilan!"
Zhask mengangkat tangannya, mulai melakukan gerakan-gerakan aneh. Tubuhnya bergoyang seperti sedang menari, tapi bukan tarian yang indah. Setiap gerakannya terlihat canggung dan konyol, seolah ia mengejek Kaisar Langit dengan setiap langkahnya.
Air mata mulai mengalir di wajah Zhask, menetes tanpa ia sadari. Namun, ini bukan air mata kelemahan. Tangisannya bercampur dengan tawa, menciptakan pemandangan yang sangat kontras.
Kaisar Langit dan para Menteri hanya bisa memandang dengan kebingungan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Raja Iblis yang begitu ditakuti, yang dikenal karena kekejamannya, kini tiba-tiba secara mengejutkan menari seperti badut sambil menangis.
Gerakan aneh yang dilakukan Raja Iblis membuat suasana semakin tegang, namun ada sesuatu yang mengusik pikiran Jenderal Tertinggi Iskandar Agung. Ia mengamati dengan seksama setiap langkah tarian itu, mencoba mengenali asal-usulnya.
"Hentikan gerakan bodoh itu!" bentak salah satu Menteri. "Apa kau tidak punya rasa hormat sama sekali? Di depanmu adalah pemimpin tertinggi tiga alam!" teriak salah satu menteri.
"Gerakan konyol itu... seperti tidak asing bagiku," ucap Iskandar Agung dengan nada bingung, alisnya berkerut dalam. "Namun, aku tidak pernah melihat gerakan itu sebelumnya. Ada sesuatu yang aneh."
Masih dalam wujud siluet monster suci, salah satu menteri yang lain menyela dengan suara lantang dipenuhi kemarahan. "Kita tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu! Sepertinya dia sudah gila. Jika dibiarkan, hal buruk pasti akan terjadi. Kita harus melenyapkannya sekarang juga."
Namun, Zhask tidak berhenti. Ia terus menari, suaranya semakin keras, tangisnya semakin deras. Di balik kekonyolannya, ada sesuatu yang lebih dalam—sebuah luka yang telah lama terpendam, sebuah rasa sakit yang ia bawa selama ini.
Kaisar Langit menyipitkan mata, mencoba memahami perilaku aneh Zhask. Mungkinkah ini bukan sekadar amarah, tapi juga sebuah seruan dari jiwa yang terluka.
Raja Iblis kemudian tiba-tiba menghentikan tarian anehnya. Ia berdiri tegak, menghirup udara segar penuh keharuman bunga Wisteria yang semerbak memenuhi ruangan. Dalam sekejap, suasana yang tegang berubah menjadi keheningan aneh yang menggantung di udara.
"Ah, udara ini...," bisik Raja Iblis pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Mengingatkanku rumah. Pada sosok ibu."
Tarian aneh yang baru saja dilakukannya, ternyata adalah sebuah tarian indah para dewi yang biasa dilakukan ketika mereka merayakan kebahagiaan atau menyambut kenaikan pangkat di Alam Langit. Namun, berbeda dengan mereka, tarian raja iblis barusan benar-benar tampak kacau dan berantakan, jauh dari sempurna.
Bagi Raja Iblis, tarian tersebut bukanlah sekadar ritual biasa. Itu adalah kenangan mendalam tentang Dewi Hestia, sosok ibu penuh kasih sayang yang pernah merawatnya ketika ia masih kecil.
Maha Dewi Hestia selalu melakukan tarian indah tersebut untuk menghibur Raja Iblis kecil saat ia dirundung kesedihan. Tarian itu menjadi simbol kehangatan, cinta, dan pengorbanan kasih sayang.
Meskipun gerakannya jauh dari sempurna, tarian itu adalah cara Raja Iblis untuk mengenang jasa sang dewi yang telah menyelamatkan jiwanya di masa lalu.
Ia telah bersumpah untuk tidak pernah melupakan sosok Maha Dewi, melakukan tarian tersebut setiap hari sebagai pengingat, sekalipun ia kini menjadi sosok yang dikenal sebagai ancaman terbesar tiga alam.
Setelah beberapa saat, senyumnya berubah menjadi tawa keras penuh semangat dan keangkuhan. Ia kembali menatap Kaisar Langit dan para menteri dengan mata penuh kebencian yang membara.
"Hari ini, gara-gara kalian, aku hampir lupa mengenang ibuku. Tapi tidak masalah...," ucapnya dengan nada dingin yang menyeramkan.
Tiba-tiba, tawa menggelegar untuk yang kesekian kalinya kembali menggema di seluruh ruangan. "Karena kalian semua akan segera ku hancurkan! Hahaha!"
Energi gelap Raja Iblis mulai menyelimuti tempat itu, menciptakan tekanan yang begitu kuat hingga membuat bunga-bunga Wisteria di sekitar ruangan layu perlahan. Para menteri segera memperkuat siaga mereka, mempersiapkan serangan yang tampaknya tak bisa lagi dielakkan.
"Zhask," ucapnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut. "Apa yang sebenarnya kau inginkan? Jika ini semua hanya tentang balas dendam, maka kita tidak perlu melanjutkannya. Aku ingin mendengar alasanmu."
"Apa yang kuinginkan?!" serunya. "Aku ingin dunia ini mengingat siapa yang pernah diinjak-injak! Aku ingin setiap sudut surga dan neraka tahu bahwa aku akan menghancurkan tatanan kebusukan perdamaian ini."
Ruangan kembali sunyi, tapi kali ini bukan karena ketegangan. Ada beban emosi yang terasa semakin dalam. Pertempuran belum dimulai, tapi peperangan batin antara dua kekuatan sudah memuncak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments