Lambang segel itu semakin memancarkan kilauan merah menyala yang semakin terang, seolah-olah ingin membakar langit di atasnya. Cahaya tersebut lalu melilit tubuh Raja Iblis Zhask, menciptakan dinding transparan berwarna merah yang perlahan terbentuk di sekelilingnya.
Para prajurit elite bergerak cepat, mengambil posisi di setiap sudut lambang, lalu mulai kembali merapal mantra dalam bahasa kuno yang terdengar seperti dengungan misterius.
Zhask memandang sekeliling dengan mata menyipit. Meski ekspresi wajahnya tetap tenang, dalam hati ia sedikit terkejut. Ia tidak menyangka pasukan elite yang sebelumnya menyambutnya dengan keramahan kini berbalik melancarkan penyegelan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu hal seperti ini mungkin akan terjadi.
“Apa yang kalian lakukan padaku?” tanya Zhask, nada suaranya datar namun jelas mengandung rasa ingin tahu.
Sang ketua pasukan, yang berdiri tegak di luar lingkaran, membalas dengan suara tegas, “Maafkan kami, Raja Iblis. Ini adalah tugas kami. Kami tidak bisa membiarkanmu menemui Kaisar Langit.”
Zhask tersenyum kecil, seolah menganggap jawaban itu sudah ia duga. Matanya memancarkan sorot tajam, tetapi ia tetap berdiri di tempat, tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerang.
Bukan karena ia tidak mampu melakukannya, melainkan karena ia menganggap mereka bukan ancaman yang layak untuk diprioritaskan. Kaisar Langit adalah tujuannya—mereka hanyalah gangguan kecil.
Di tengah mantra yang terus dilantunkan, sebuah simbol perlahan muncul di tengah dinding segitiga itu. Wujudnya menyerupai kepala makhluk misterius dengan mata berkilauan, menyiratkan aura kuno yang sangat kuat.
Para prajurit menyebut simbol itu sebagai perwujudan Raja Roh, makhluk yang diyakini memiliki kekuatan penyegelan tertinggi.
“Kita hanya perlu menahannya sedikit lagi! Jangan menyerah!” seru salah seorang prajurit elit yang berdiri di salah satu sudut lambang, suaranya menggema penuh tekanan.
“Tapi... tekanan ini… luar biasa mengerikan,” balas prajurit lain yang berdiri di sudut berlawanan. Keringat bercucuran di dahinya, tubuhnya sedikit berguncang akibat ledakan energi kutukan yang terus menghantam mereka tanpa ampun.
Sang ketua pasukan melirik para prajuritnya. Ia tahu mereka semua sedang berada di batas kemampuan mereka, namun perintahnya tetap tegas. “Tetap bertahan! Kita harus menyelesaikan ini!”
Energi kutukan yang dipancarkan oleh Zhask kian menggila, seperti badai yang terus berhembus tanpa henti. Udara di sekitar mereka terasa berat, setiap napas serasa ditarik paksa dari paru-paru.
Para prajurit berjuang mati-matian untuk mempertahankan keseimbangan energi mereka. Namun, perlahan, satu per satu mulai melemah.
“Kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi, kapten!” teriak Rega dengan suara serak. Ia berdiri di sudut lambang, kedua tangannya yang besar tampak gemetar hebat. “Percepat pengaktifan segel Raja Roh sekarang juga, atau semuanya akan hancur!”
Zhask, yang berdiri tenang di dalam lingkaran segitiga, hanya mengamati mereka dengan tatapan datar. Ia tidak bergerak, tetapi tekanan auranya semakin menakutkan, seperti seekor harimau yang menunggu saat yang tepat untuk menerkam mangsanya.
“Begitu lemah,” gumamnya pelan, suara rendahnya nyaris seperti bisikan di tengah deru energi yang membahana. “Apakah ini yang disebut pasukan elite bangsa Langit? Bahkan penyegelan kalian terasa seperti angin sepoi-sepoi bagiku.”
Namun, di balik kata-katanya yang meremehkan, Zhask tidak bisa memungkiri bahwa teknik ini berbeda dari apa yang pernah ia hadapi sebelumnya. Pola segitiga yang bercahaya, mantra-mantra yang terus berkumandang, serta simbol Raja Roh menciptakan penghalang energi yang semakin kuat.
Di luar dinding penyegelan, sang ketua pasukan akhirnya mengambil keputusan. “Pusatkan semua energi kalian pada simbol Raja Roh! Sekarang!” teriaknya, suara penuh wibawa menggemakan komando terakhirnya.
Para prajurit elite, meski sudah berada di ambang kelelahan, mengerahkan seluruh sisa kekuatan mereka. Cahaya merah dari lambang segitiga semakin intens, berdenyut seperti jantung yang berdetak cepat. Zhask bisa merasakan energi itu mulai mengarah padanya, mencoba membekukan setiap inci tubuhnya.
Ia menyipitkan matanya, kali ini wajahnya mulai menunjukkan sedikit keseriusan. “Menarik,” katanya lirih. “Kalian benar-benar ingin menghentikan ku, ya? Tapi apakah kalian siap menanggung konsekuensinya?”
Zhask merentangkan tangannya ke samping, dan aura kutukan yang melingkupinya membentuk pusaran besar. Getarannya begitu dahsyat hingga tanah di sekitar lambang segitiga mulai retak, menciptakan jurang kecil yang melingkar di sekitarnya.
“Jika kalian ingin menantang ku, maka aku akan menunjukkan kepada kalian apa arti sebenarnya dari kehancuran.”
Zhask melangkah maju, telapak tangannya mulai mengeluarkan sinar hitam pekat yang seolah ingin melahap cahaya merah di sekitarnya. Namun sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, simbol Raja Roh di atas lambang segitiga memancarkan cahaya yang luar biasa terang, melingkupi seluruh medan pertempuran.
Jeritan mantra para prajurit terdengar semakin cepat, dan suara dentuman besar mengguncang tempat itu.
“Ini semakin sulit, tapi kita tidak punya pilihan lain,” gumamnya, tatapan matanya penuh tekad. “Roh Agung The Justice, aku memanggilmu!” serunya lantang, suaranya bergema seakan menembus langit.
Dari dalam lingkaran segel, aura keemasan mulai merembes keluar, menciptakan pusaran energi yang begitu kuat hingga tanah bergetar. Lalu, di tengah-tengah lingkaran itu, sosok mengerikan mulai muncul. Roh Agung The Justice, dengan ribuan sayap bercahaya dan sabit raksasa yang memancarkan cahaya kematian, berdiri menjulang, seperti dewa penghakiman yang baru saja turun dari surga.
Raja Iblis Zhask hanya mengangkat sebelah alisnya. “Jadi, ini yang di sebut Raja Roh?” ucapnya pelan, tetapi nadanya dipenuhi ejekan. “Terlihat megah, tapi itu tidak berarti apa-apa di hadapanku.”
Ketua pasukan, meski wajahnya tetap tegar, merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia tahu kekuatan The Justice adalah harapan terakhir mereka. “Maafkan aku, Raja Iblis. Tapi ini adalah tanggung jawabku. Aku tidak bisa membiarkanmu melangkah lebih jauh.” Suaranya penuh penyesalan, tetapi tak ada keraguan dalam nada bicaranya.
Roh Agung The Justice mengangkat sabitnya, kedua matanya bercahaya penuh kebencian mengunci pada raja iblis Zhask. Energi surgawi yang mengalir darinya begitu dahsyat hingga para prajurit yang menjaga lambang segel terpental mundur, tubuh mereka tak mampu menahan tekanan yang meluap-luap dari dalam Roh Agung.
“Kapten!” seru salah seorang prajurit, suaranya lemah. “Kami tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Energi kami… habis!”
“Tetap bertahan sebisa kalian!” balas sang ketua pasukan dengan suara lantang, meskipun di dalam hatinya ia tahu bahwa ini adalah upaya terakhir mereka. “The Justice akan menyelesaikan ini!”
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat semua yang hadir di tempat itu membeku. Raja Iblis Zhask, dengan satu gerakan sederhana, melangkah maju dan menatap The Justice dengan tatapan mengerikan.
Tatapan itu bukan hanya tatapan penuh percaya diri, tetapi juga memancarkan aura intimidasi yang mencekam. “Kepalamu terlalu tinggi,” ucapnya dingin, suara bass-nya menggema dengan kekuatan yang menembus jiwa Roh Agung.
Sekejap saja, kepala The Justice terhempas ke tanah dengan sangat amat keras. Gemuruh besar mengguncang medan pertempuran ketika lantai tempatnya berdiri hancur berkeping-keping seprti pecahan kaca.
Roh yang sebelumnya begitu megah kini di paksa tertunduk, tidak berdaya menaruh hormat. Semua prajurit menatap pemandangan itu dengan wajah pucat pasi, seolah tidak percaya apa yang baru saja terjadi.
“Tidak mungkin…” gumam seorang prajurit, tubuhnya bergetar. “Raja Roh… kalah?”
“Apa yang terjadi?!” seru yang lain, panik penuh keheningan.
Raja Iblis Zhask berdiri dengan tenang, matanya menyapu seluruh pasukan elit yang kini gemetar tak henti-henti melihat hal mengerikan yang barusan terjadi. Seketika tubuh mereka semua kini juga tak bisa digerakkan sama persis seperti apa yang di alami oleh Roh Agung.
Kepala mereka lantas tertunduk menghantam lantai gerbang keadilan super Great Adam seperti sedang di paksa memberikan penghormatan kepada sosok yang berdiri tepat di hadapan mereka saat ini.
“Kalian terlalu lancang di hadapanku,” ujar Zhask dengan suara penuh wibawa. “Seandainya bukan karena paman yang baik hati, aku sudah membantai kalian semua. Tapi untukmu, si besar yang tadi berani menghinaku…” Ia melirik ke arah Rega, yang terbaring lemah. “Tidak ada ampun.”
Zhask melangkah mendekati Rega. Dengan satu gerakan, ia mengangkat tubuh prajurit besar itu dengan cekikan yang tampak begitu ringan, seperti memegang boneka.
Para prajurit elit yang lain hanya bisa melirik penuh keringat ketakutan, alih-alih menolong bahkan kepala mereka sendiri tak bisa di gerakkan. Tersungkur menyedihkan di paksa menaruh kehormatan pada sosok raja Iblis.
Rega berusaha berbicara untuk meminta maaf, tetapi napasnya tercekat. Dalam hitungan detik, energi kehidupannya tersedot habis, tubuhnya yang kokoh berubah menjadi abu yang berhamburan di udara.
Dari tumpukan abu itu, sebuah bola energi melayang dan perlahan berubah menjadi sosok iblis yang menyerupai Rega, tetapi dengan tanduk tajam, sayap hitam besar, dan ekor yang menjuntai. Iblis baru itu membungkuk dengan hormat kepada Zhask.
“Kekuatan apa yang kau inginkan?” tanya raja iblis Zhask tanpa basa-basi. “Cepat katakan, waktuku terbatas.”
“Yang mulia Zhask, izinkan aku menghancurkan mereka yang tersisa,” jawab iblis itu dengan suara parau namun penuh antusiasme. Tubuhnya yang sudah besar menjadi lebih kekar, energi kutukan seketika meluap-luap darinya.
Zhask menyeringai tipis. “Permintaanmu kukabulkan. Tapi ingat, jangan bunuh mereka. Karena mereka telah berbuat baik kepadaku.”
“Perintahmu adalah kehormatanku,” jawab iblis itu dengan mantap. Ia menatap para prajurit yang tersisa dengan mata penuh kebencian, siap melaksanakan perintah tuannya. Cahaya merah darah menyelimuti medan pertempuran, menandai awal dari mimpi buruk bagi para prajurit elite yang sebelumnya menganggap diri mereka tak terkalahkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments