Mikael mulai menyerap energi surgawi dari sekitarnya dalam jumlah yang sangat besar. Enam sayap putih keadilan di punggungnya berubah menjadi emas yang berkilau terang, seperti mentari pagi yang menusuk kegelapan. Tubuhnya pun mengalami perubahan drastis—posturnya bertambah tinggi dan besar, kini dua kali lipat dari sebelumnya. Aura keagungan yang memancar darinya menjadi semakin tak tertahankan.
Tekanan energi surgawi yang meluap dari Mikael membuat Lucifer terpaksa meningkatkan kewaspadaannya. Tempat pertarungan mereka, yang sebelumnya sudah porak-poranda, kini berguncang hebat. Tanah di sekitar mereka retak, udara seolah tercekik oleh kehadiran kekuatan surgawi yang tak tertandingi.
Lucifer menatap Mikael dengan sorot mata tajam, tapi ada ketegangan yang terselip di balik senyumnya yang sinis. "Bukankah ini berlebihan, Mikael?" ucapnya, nada suaranya seperti sindiran sekaligus peringatan. "Menyerap terlalu banyak energi surgawi hanya akan membuat tubuhmu hancur! Kau tahu itu, bukan?"
Namun Mikael hanya tersenyum tipis, nyaris angkuh. "Takut, Lucifer?" balasnya santai, matanya penuh kepercayaan diri. "Ini bahkan belum sepenuhnya. Lagipula, jika tubuhku hancur, aku tetap bisa hidup kembali berkat Pil Dewa yang ku telan. Kau lupa, kami tidak bisa dihancurkan dengan cara biasa."
Pedang Keadilan Mikael mulai bergetar hebat, memancarkan cahaya yang menembus debu dan asap di sekitar mereka. Lucifer dapat merasakan energi surgawi terkonsentrasi di dalam bilah pedang tersebut. Ia mengencangkan pertahanannya, mengetahui serangan besar akan segera datang.
Benar saja, Mikael melepaskan rentetan tebasan besar yang memecah udara, mengarah ke Lucifer dari berbagai sudut. Gelombang cahaya surgawi yang terjalin dalam setiap serangan itu menghancurkan segalanya dalam jangkauan mereka.
Slasssssh!
Slasssssh!
Slasssssh!
Wilayah tempat mereka bertarung porak-poranda. Tanah terbelah, debu-debu tebal membumbung tinggi hingga menutupi pandangan para prajurit yang menyaksikan dari kejauhan. Tidak hanya itu, tornado-tornado besar terbentuk dari efek samping serangan Mikael, melahap apapun yang dilewati.
"Ada apa, Lucifer?" suara Mikael menggema di tengah kekacauan. "Kenapa kau tidak menangkis serangan ku barusan? Bukankah tadi kau sudah bersiap dengan kuda-kuda untuk bertahan?"
Lucifer berdiri tegap di tengah pusaran kehancuran. Ia tidak terguncang oleh provokasi Mikael, bahkan sedikitpun. Dengan senyum dingin, ia menjawab, "Aku tidak bodoh, Mikael. Tebasanmu dilapisi energi surgawi tingkat 3. Jika aku mencoba menangkisnya, tubuhku akan mati rasa. Aku tidak akan mengambil risiko sebesar itu hanya demi menuruti egomu."
Meski terdengar tenang, Lucifer tahu bahwa energi surgawi yang digunakan Mikael berada di tingkat yang jauh lebih tinggi daripada biasanya. Sebuah kekuatan yang hanya bisa dikuasai oleh para Jenderal Langit Agung pangkat keadilan Absolut. Di kalangan bangsa iblis, energi surgawi tingkat tiga adalah kekuatan yang paling ditakuti.
Energi surgawi tidak hanya menjadi kekuatan penghancur, tetapi juga lambang otoritas. Ia dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan, yang dikenal dengan sebutan Count, dan kekuatan Mikael jelas berada di puncak klasifikasi itu—tak terjangkau oleh kebanyakan makhluk di tiga alam.
"Kalau begitu, majulah dan serang aku, itupun jika kau mampu melakukannya, Lucifer!" seru Mikael lantang, suara penuh tantangan menggema di udara. Tanpa memberi kesempatan, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang mustahil terlihat, menerjang Lucifer seperti kilatan petir.
Lucifer tidak tinggal diam. Dalam hitungan detik, ia bergerak secepat bayangan, menghadapi serangan Mikael dengan cakar-cakar mautnya yang tajam dan penuh energi gelap. Serangan bertubi-tubi itu beradu dengan pedang cahaya Mikael, menghasilkan benturan energi luar biasa yang mengguncang medan pertempuran.
BOOOOOM!
BOOOOOM!
BOOOOOM!
Gelombang kejut dari bentrokan mereka menyapu seluruh area, melontarkan pasukan iblis dan pasukan langit yang berada terlalu dekat tanpa pandang bulu. Para prajurit, yang tadinya mengamati pertempuran dengan sisa keberanian mereka, kini saling berteriak panik.
"Ini... ini di luar kemampuan kita!" teriak salah satu prajurit langit, tubuhnya bergetar.
"Kau benar!" balas prajurit iblis dengan wajah pucat. "Lebih baik kita menjauh. Ini bukan pertarungan untuk makhluk seperti kita."
Energi yang terpancar dari dua entitas ini tidak hanya dahsyat, tetapi juga mencekam. Seluruh medan perang berubah menjadi panggung kehancuran, sementara Mikael dan Lucifer terus bertukar serangan yang nyaris tak terjangkau oleh mata manusia biasa.
Di tengah kekacauan, Lucifer menemukan celah untuk menyerang. Dengan gerakan cepat, ia menciptakan The Dark of Death, teknik unik yang hanya dikuasai oleh dirinya. Dari kegelapan yang menyelimutinya, muncul dua bilah pedang raksasa dengan bentuk kepala naga di ujungnya. Pedang itu dihiasi oleh banyak mata yang bersinar mengerikan, masing-masing memiliki kemampuan untuk melihat sekilas ke masa depan.
Serangan yang berasal dari The Dark of Death hampir tak mungkin dihindari oleh siapapun. Tebasan-tebasannya memiliki naluri yang seakan hidup, mengejar musuh tanpa henti dengan presisi mematikan.
Namun, yang mustahil terjadi. Mikael dengan luar biasa berhasil menepis setiap tebasan yang diarahkan kepadanya. Dengan gerakan gesit dan kekuatan surgawi yang luar biasa, ia menolak serangan-serangan itu seperti badai yang dihancurkan oleh gunung.
"Tak mungkin!" gumam Lucifer, matanya menyipit melihat Mikael yang bergerak melampaui ekspektasinya.
Sebelum Lucifer sempat mengatur strategi, Mikael mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya biru cemerlang terpancar, menyelimuti seluruh area. Dengan satu ayunan, ia meluncurkan teknik terkuatnya: The Adam.
Kilatan energi biru berbentuk tebasan yang dahsyat melesat menghantam Lucifer dengan kekuatan tak tertandingi. Ledakan memekakkan telinga mengiringi serangan itu, mengguncang seluruh medan pertempuran dan membuat semua yang menyaksikan terpaku di tempatnya.
SLAAAAASH!
Tubuh Lucifer terbelah dua, terpental jauh hingga membentur tanah yang telah hancur. Namun, saat debu dan asap mereda, sosoknya terlihat bangkit perlahan. Luka mengerikan di tubuhnya mulai menyatu kembali, seolah-olah tidak pernah ada.
Mikael berdiri dengan tenang, meskipun matanya tetap tajam menatap Lucifer. "Seperti yang kuduga," gumamnya pelan. "Kau bukan iblis yang mudah kalah hanya dengan serangan surgawi biasa."
Lucifer tertawa kecil, menyeka debu dari jubahnya yang sobek. "Barusan sangat berbahaya! Kalau aku tidak memiliki banyak jiwa sebagai cadangan, mungkin jiwaku yang asli sudah terbakar habis oleh energi surgawimu!"
Mikael tersenyum tipis, penuh kewaspadaan. "Gabriel pernah memberitahuku sesuatu. Kau memang nyaris abadi... tapi jika seratus pasokan jiwa yang kau miliki habis, maka kau akan benar-benar mati, bukan begitu?"
Ekspresi Lucifer berubah sejenak, sebelum senyum liciknya kembali muncul. "Ah, ternyata kau tahu rahasia kecilku. Menarik," jawabnya santai, meskipun ada ketegangan samar di balik nada suaranya.
Namun, Mikael tidak membuang waktu untuk berbicara lebih lama. Ia kembali mengangkat pedangnya, bersiap menghadapi pertempuran yang belum selesai. Energi surgawi dan kegelapan saling bertemu sekali lagi, menggetarkan dunia dengan kedahsyatan yang melampaui pemahaman.
Cerita berpindah kembali memperlihatkan kondisi pertarungan Julius dan Asmodeus.
Sementara itu, pertempuran sengit antara Julius dan Asmodeus berlanjut tanpa henti. Kedua petarung itu saling meluncurkan serangan demi serangan, masing-masing dengan kekuatan penuh. Namun, medan pertarungan kali ini bukanlah tempat biasa—Asmodeus telah membawa mereka ke dalam dimensi kehampaan ciptaannya.
Di dunia ini, segala aturan yang berlaku di luar menjadi tak berdaya. Julius menyadari betapa besar kerugian yang ia alami dengan bertarung di tempat ini. Setiap langkahnya terasa berat, seperti berjalan di lautan pasir yang tak berujung.
Namun Julius tidak menyerah. Sambil terus melancarkan serangan bertubi-tubi, ia berpikir keras mencari jalan keluar dari tempat yang seolah tak memiliki pintu itu. Pikirannya berpacu, mencoba memahami mekanisme dimensi tersebut di tengah terjangan serangan Asmodeus.
Dimensi kehampaan ini memberikan keuntungan besar bagi Asmodeus. Dengan kemampuan uniknya, ia mampu menjadikan ilusi sebagai kenyataan. Apa pun yang ia bayangkan, entah itu senjata atau strategi, akan muncul dan menjadi ancaman nyata. Julius kini menghadapi musuh yang tidak hanya berwujud Asmodeus, tetapi juga manifestasi kekuatan imajinasinya.
"Semakin kau mencoba keluar, Julius," suara Asmodeus bergema, memenuhi kehampaan dengan nada tajam dan serius, berbeda dari sebelumnya. "Hanya kehampaan yang akan kau temukan!"
Julius tetap berdiri tegak, napasnya berat, namun sorot matanya tetap tajam. Ia tahu bahwa menyerah bukanlah pilihan. Meskipun 99% keuntungan berada di tangan Asmodeus, Julius memiliki sesuatu yang tak bisa dihancurkan—keyakinan dan tekad yang tak tergoyahkan.
Langkah Asmodeus mendekat, dan senyuman tipis terukir di wajahnya. Di sekeliling mereka, bayangan dari senjata-senjata mengerikan bermunculan, melayang-layang di udara seperti predator yang siap menerkam. Setiap bilah, setiap tombak, semuanya terlihat nyata—dan Julius tahu bahwa mereka memang nyata dalam dimensi ini.
Namun, di balik ketidakpastian itu, Julius mulai melihat pola. "Dimensi ini… kehampaan ini…" gumamnya pelan. "Bukan hanya tempat kosong… ini adalah proyeksi pikiranmu, Asmodeus."
Asmodeus mengangkat alisnya. "Apa kau bicara omong kosong untuk menenangkan dirimu, Julius?" ejeknya.
Namun Julius tidak menanggapi. Ia menggenggam erat senjatanya, matanya menyala oleh determinasi baru. Ia tahu bahwa rahasia untuk keluar dari tempat ini bukanlah melarikan diri, melainkan menghadapi Asmodeus langsung di sumber kekuatannya—pikirannya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Amelia
Mikael... malaikat kebaikan yah..
2024-09-13
0