Raja Iblis berdiri penuh kegagahan. Tatapannya menembus cakrawala, memandang hamparan langit-langit atap Kekaisaran Surgawi. Mata merahnya yang menyala tertutup sejenak, seolah mencoba menikmati hembusan angin yang membawa aroma kehancuran. Suara petir menyala-nyala, seperti pertanda bahwa pertarungan tak terhindarkan super tingkat tinggi akan segera terjadi.
Sementara itu, di sisi lain, wajah keempat menteri Kekaisaran dipenuhi kewaspadaan dan ketegangan. Jenderal Tertinggi Iskandar Agung yang masi dalam wujud mistisnya mundur perlahan lalu membungkuk hormat kepada Kaisar Langit, yang masih bersikeras bertahan di singgasananya.
"Yang Mulia," ucap Iskandar Agung, suaranya tegas namun tetap sopan. "Iblis itu sudah tidak bisa diajak berdamai. Keselamatan Anda adalah prioritas utama. Biarkan kami menghadapi dia di sini."
Menteri Zeus Agung yang juga berada dalam wujud mahluk mistis menambahkan dengan nada mendesak, "Tolong, Yang Mulia. Anda harus segera menuju tempat evakuasi melalui portal teleportasi yang telah kami siapkan."
"Ia sudah melampaui batas!" ujar Menteri Ekonomi, ekspresinya penuh amarah. "Biar kami yang memberinya pelajaran."
"Hukuman langit akan jatuh di sini!" timpal Menteri lain.
Kaisar Langit menatap para Menteri dengan sorot mata yang tenang, namun ada keteguhan di sana. Ia tahu, mundur dari singgasananya berarti menyerah pada rasa takut. Namun, gemuruh energi yang terpancar dari tubuh Raja Iblis semakin mengancam.
Dinding-dinding Istana Langit mulai retak, pilar-pilar emas berguncang, seolah ingin runtuh karena tekanan kutukan yang begitu besar dan begitu amat busuk.
Raja Iblis tidak bergerak. Hanya berdiri tegak seperti penguasa tak tergoyahkan, namun sesuatu yang lebih gelap mulai muncul darinya. Aura hitam pekat perlahan menyelimuti tubuhnya, tanda bahwa segel kekuatan yang selama ini ia pertahankan mulai terbuka.
Iskandar Agung merasakan gelombang energi yang semakin mengerikan itu, membuat bulu kuduknya meremang. "Apa yang terjadi padanya?" tanyanya dengan nada khawatir.
Salah satu Menteri menjawab cepat, "Dia... dia sedang menghancurkan segel kekuatannya sendiri!"
"Aku tahu," gumam Iskandar, matanya menyipit tajam. "Tapi kita tidak boleh mundur. Dialah sosok malapetaka yang telah diramalkan semesta. Kita harus menghentikannya sekarang!"
Namun, tekanan dari aura Raja Iblis begitu luar biasa, seakan mengoyak realitas di sekitarnya. Kaisar Langit menghela napas dalam, lalu menatap para Menteri dengan tatapan penuh keyakinan. "Jika kalian pikir ini adalah akhir... maka bertindaklah sesuai kehendak kalian. Aku serahkan semua padamu."
"Yang Mulia, pergilah sekarang juga!" seru Iskandar Agung, suaranya penuh ketegasan.
Akhirnya, Kaisar Langit mengangguk perlahan. Meski hatinya berat, ia tahu bahwa keselamatannya adalah harapan terakhir Kekaisaran Surgawi. Dengan langkah mantap, ia melangkah menuju portal teleportasi yang telah disiapkan di belakangnya.
"Saya percaya pada kalian," ucap Kaisar Langit sebelum menghilang dalam kilauan cahaya.
Kini, hanya tersisa keempat Menteri dan Raja Iblis di ruangan itu. Dan saat itulah segel terakhir yang menahan kekuatan Raja Iblis sepenuhnya hancur.
Ledakan energi besar menghantam seluruh istana, membuat lantai marmer pecah berkeping-keping. Tubuh Raja Iblis mulai berubah drastis. Dua tanduk di atas kepalanya memanjang dan bertambah menjadi lima, berkilau seperti logam terkutuk.
Rambut hitam pekatnya memutih, bersinar mengerikan seperti cahaya bulan yang dingin. Sayap di punggungnya kini bertambah menjadi sembilan, setiap kepakan membawa hawa maut yang membuat udara di sekitarnya terasa berat dan pengap.
Para Menteri terbelalak melihat transformasi itu. Aura Raja Iblis yang sebelumnya sudah menakutkan kini menjadi sesuatu yang hampir mustahil untuk dihadapi.
"Jadi... ini kekuatan penuh sejatinya," gumam Iskandar Agung, suaranya bergetar tipis.
Salah satu Menteri menimpali, "Tidak ada makhluk lemah yang bisa bertahan berada di dekatnya. Bahkan kita harus berjuang untuk tetap berdiri di hadapannya!"
Namun, Iskandar Agung memukul lantai dengan sayap-sayap Phoenix nya, menciptakan gelombang energi api yang menstabilkan aura mereka. "Kita tidak punya pilihan. Apa pun yang terjadi, kita harus bertarung sampai akhir!"
Zhask—Raja Iblis, kini berdiri dengan senyum mengerikan di wajahnya. "Akhirnya," ucapnya dengan nada penuh kebencian, "kalian akan menyaksikan kehancuran yang sesungguhnya, karena aku akan segera menghancurkan kalian tanpa ampun."
Meski keempat Menteri Kekaisaran telah menunjukkan kekuatan luar biasa seperti mahluk monster bencana Nirwana, raja iblid Zhask tetap mempertahankan senyumnya, sebuah senyum sombong penuh intimidasi.
"Ayo, kita mulai pertarungan ini, wahai makhluk-makhluk kotor!" seru kembali Raja Iblis dengan suara menggelegar.
Monster Babi, salah satu Menteri Kekaisaran, melangkah maju. Siluet tubuhnya yang besar dan kokoh tampak seperti gunung bergerak. "Jangan sombong, wahai Iblis rendahan! Apa kau kira hanya kau yang memiliki kekuatan sehebat ini? Kami adalah pelindung terkuat langit, dan kami tidak akan kalah darimu!"
Empat Menteri Kekaisaran bersiap. Mereka tidak hanya menahan tekanan aura Raja Iblis, tetapi juga memancarkan energi surgawi yang sama kuatnya. Saat energi dua kekuatan besar itu bertabrakan, ledakan dahsyat terjadi, menghancurkan segala sesuatu di sekitar mereka.
Tabrakan itu membawa malapetaka ke semua alam, angin puting beliung dan tsunami melanda alam dunia, ribuan gunung meletus di Alam Neraka, dan guncangan hebat mengguncang Alam Langit.
Istana Langit, simbol keagungan Kekaisaran Surgawi, tak kuasa bertahan. Dinding-dindingnya runtuh, pilar-pilar emasnya hancur, menyisakan puing-puing di tengah benturan energi yang terus mengamuk penuh cabiikan.
Raja Iblis tertawa terbahak-bahak di tengah kehancuran. "Ha-ha-ha! Jadi, begini rasanya kehancuran dari dua kekuatan besar yang saling bertabrakan. Sangat... menghibur!"
"Tertawa sesukamu," potong Monster Babi dengan suara tegas, "karena ini akan menjadi tawa terakhirmu sebelum kau dihukum dan dihabisi!"
"Justru kalianlah yang akan kalah!" balas Raja Iblis dengan suara penuh intimidasi. Namun, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang ganjil di belakangnya.
Tanpa peringatan, simbol misterius muncul di udara diikuti siluet besar Monster Babi dengan mata merah yang bersinar tajam. Sebelum Raja Iblis sempat bereaksi, Monster Babi menyeruduknya dengan kekuatan brutal.
Tubuh Raja Iblis terlempar ribuan meter, menghantam reruntuhan Istana Langit dengan keras, menghancurkan apa pun yang dilewatinya.
"Sialan! Sejak kapan dia ada di belakangku?" geram Raja Iblis sembari berusaha menghentikan tubuhnya yang terus terlempar tanpa bisa terhenti
Namun, sebelum ia berhasil memulihkan keseimbangannya, Monster Kera Nirwana muncul dari arah lain. Dengan kecepatan tak terlihat, Monster Kera melompat dan berputar lalu melayangkan pukulan keras yang kembali membuat Raja Iblis terpental.
Serangan itu belum usai. Monster Naga Nirwana mengambil alih, menembakkan bola-bola api putih raksasa yang melesat cepat dari mulutnya. Setiap ledakan bola api membuat tubuh Raja Iblis terlempar lebih jauh, hingga akhirnya ia menghantam sebuah tiang besar yang masih kokoh berdiri di tengah reruntuhan Istana Langit.
Duaaaaaaak.
Salah satu tangan Raja Iblis terputus akibat serangan bertubi-tubi itu. Namun, meski tubuhnya terluka parah, ia tetap berdiri penuh senyum kesombongan. Dengan napas berat, ia mencoba memulihkan energinya.
"Sangat mengganggu!" geram Raja Iblis, tetapi sebelum ia sempat bertindak, langit di atasnya menyala terang. Monster Phoenix Nirwana muncul dengan kepakan sayapnya yang membentuk angin tornado api.
Serangan itu menghantam Raja Iblis dengan presisi, menciptakan gelombang panas dan sayatan tajam yang sulit untuk dihindari.
Keempat Menteri Kekaisaran terus memberikan tekanan tanpa henti. Mereka menyerang dalam koordinasi sempurna, membuat Raja Iblis kesulitan untuk melakukan serangan balik.
"Bagaimana sekarang? Kau terlihat begitu menyedihkan," ucap Monster Babi dengan nada mengejek.
"Mana kesombonganmu tadi, Iblis rendahan?" tambah Monster Kera.
"Memalukan," ejek Monster Naga.
"Sadari posisimu!" timpal Monster Phoenix, tatapannya dingin seperti pisau.
Raja Iblis, meski telah membuka kekuatan sejatinya, masih kesulitan menghadapi kekuatan para Menteri. Ia menyadari bahwa kekuatan mereka bukan sekadar kekuatan individu.
Mereka adalah perwujudan dari empat sifat utama yang diturunkan oleh entitas misterius bernama Semesta: Perdamaian, Cinta, Kekuatan dan Semangat.
Namun, di balik itu semua, ada satu sifat yang bocor dan ikut andil—Kebencian.
Kebencian, meski gelap dan merusak, adalah bagian dari Semesta itu sendiri. Raja Iblis, yang merupakan perwujudan sifat kebencian, kini menghadapi kekuatan gabungan dari sifat-sifat lain yang berlawanan dengannya.
Perang ini bukan sekadar pertarungan fisik. Ini adalah konflik mendalam antara kehendak Semesta dan ketidakseimbangan yang ia ciptakan sendiri.
//Semesta di sini bukan Tuhan, melainkan entitas misterius yang belum di sebutkan//
Pertarungan semakin memanas. Dua kekuatan besar terus bertarung sengit, membawa kehancuran ke seluruh alam. Raja Iblis, meski terpojok, tetap menunjukkan determinasi luar biasa. Dengan kekuatan penuh, ia memanggil dua pedang terkuatnya, menandai babak baru dalam pertarungan ini.
Satu pedang besar menjulang tinggi, memancarkan aura kebencian yang berat dan menyesakkan. Pedang lainnya, meskipun berukuran normal, menimbulkan ketakutan mendalam dengan kilatan energinya yang mematikan.
Empat Menteri mulai menyadari bahwa dua pedang itu bukanlah senjata biasa. Aura mereka terasa begitu kuat, seolah-olah bisa mengoyak keberadaan apa pun. Bahkan tanpa disentuh, hawa kebencian yang keluar dari kedua pedang itu sudah membuat udara di sekitar menjadi lebih berat.
“Pedang itu lebih dari sekadar senjata…,” gumam Monster Babi. “Itu adalah perwujudan kebencian murni.”
Namun, belum sempat mereka berstrategi lebih lanjut, Raja Iblis melesat cepat seperti kilat. Dengan pedang besarnya, ia langsung melancarkan tebasan hitam yang berisi energi destruktif ke arah Monster Babi.
Monster Babi mencoba menahan serangan itu menggunakan tanduknya, tetapi tekanan dari tebasan Raja Iblis terlalu besar. “Ugh… terlalu kuat!” geram Monster Babi sebelum akhirnya tubuhnya terlempar jauh, menghantam reruntuhan Istana Langit.
Melihat rekannya terlempar, Monster Kera tak tinggal diam. Ia melompat dengan kecepatan luar biasa dan melancarkan pukulan berlapis energi surgawi Count 3 (Nirwana). Namun, Raja Iblis dengan mudah menangkis serangan itu menggunakan pedang besar, kemudian melancarkan serangan balasan dengan tebasan hitam.
Monster Kera mengalami nasib serupa—terlempar jauh dengan daya hancur super mengerikan yang memporak-porandakan puing-puing Istana Langit.
Kini, hanya tersisa Monster Naga dan Phoenix yang masih berdiri. Mereka menyaksikan dua rekannya terhempas dengan raut wajah penuh keterkejutan dan kekhawatiran.
“Kita harus melakukan sesuatu. Dia terlalu kuat untuk dilawan sendirian,” ucap Monster Naga.
“Setuju. Kita gunakan serangan gabungan!” jawab Monster Phoenix dengan nada penuh keyakinan.
Kedua menteri segera mengumpulkan energi mereka. Monster Naga membuka mulutnya, menciptakan bola cahaya putih besar yang dipenuhi energi surgawi Count 3, sementara Monster Phoenix menyelubungi bola itu dengan percikan listrik berwarna emas yang juga penuh akan energi surgawi Count 3.
Bola energi gabungan itu bersinar terang, hampir menyilaukan, sebelum akhirnya melesat cepat ke arah Raja Iblis.
Raja Iblis menyadari bahaya dari serangan itu. Namun, bukannya mundur, ia justru menyongsongnya. “Kalian kira ini cukup untuk mengalahkan ku?” Dengan tangan mantap, ia mengayunkan pedang besar miliknya, menciptakan tebasan hitam yang diselimuti aura merah menyala penuh akan kebencian semesta.
Dua serangan besar itu bertabrakan di udara, menciptakan ledakan dahsyat yang mengguncang seluruh Alam Langit. Namun, hanya dalam hitungan detik, tebasan Raja Iblis menghancurkan bola cahaya itu dengan mudah.
“Tidak mungkin…” gumam Monster Phoenix, matanya terbelalak tidak percaya.
“Serangan gabungan kita… dihancurkan begitu saja?” lanjut Monster Naga, suaranya dipenuhi ketakutan.
Namun, tebasan Raja Iblis tidak berhenti di situ. Gelombang energi hitam yang tersisa melesat ke arah kedua menteri, menghantam mereka dengan kekuatan yang bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya.
Monster Phoenix dan Monster Naga terlempar jauh, tubuh mereka menghantam reruntuhan dengan keras. Kini, empat Menteri Kekaisaran Langit tergeletak tak berdaya, tubuh mereka penuh luka, dan kekuatan mereka terkuras habis.
Raja Iblis berdiri tegak di tengah kehancuran, pandangannya penuh kesombongan. “Hah! Lihatlah kalian sekarang. Menteri-menteri besar Kekaisaran Langit, dipermalukan oleh apa yang kalian sebut iblis rendahan!” Tawa menggelegar nya menggema di udara.
Monster Babi, yang perlahan bangkit dari puing-puing, menatap Raja Iblis dengan penuh amarah. “Kau akan membayar ini, Iblis! Aku bersumpah akan menghancurkan mu!”
Namun, Raja Iblis hanya tersenyum dingin. “Coba saja jika bisa. Tapi kalian harus tahu satu hal…” Ia berhenti sejenak, mengangkat pedang besar yang kini bersinar lebih gelap dari sebelumnya.
“Aku belum menggunakan semua yang ku punya.”
Empat Menteri kini menghadapi kenyataan pahit—Raja Iblis tidak hanya kuat, tetapi juga jauh di luar dugaan mereka. Kekalahan mereka bukan sekadar soal kekuatan, tetapi karena kebencian Raja Iblis yang seolah menjadi sumber energi tak terbatas.
Namun, meski terkapar, keempat Menteri menyadari sesuatu. Mereka tidak boleh menyerah. Karena di balik kebencian Raja Iblis, mereka percaya masih ada kekuatan Semesta yang lebih besar yakni Perdamaian, Cinta, dan Kehendak untuk Melindungi.
Pertarungan ini masih jauh dari selesai. Mereka tahu, jika gagal sekarang, maka tiga alam akan tenggelam dalam kegelapan untuk selamanya.
Rasa kesal benar-benar menyelimuti keempat Kekaisaran Surgawi tersebut, terlihat jelas dari raut wajah yang tidak bisa berbohong. Raja iblis, dengan kekuatan malapetaka nya, telah mempermainkan mereka—makhluk-makhluk suci istana langit.
Di waktu yang bersamaan, angin kencang tiba-tiba berhembus dari atas, menghantam keras ke arah bawah tempat pertempuran berlangsung. Fenomena ini mencurigakan. Angin seperti itu tak pernah terjadi sebelumnya.
"Mengapa ada angin kencang tiba-tiba muncul dari atas?" tanya monster kera, suaranya serak. Ia masih terkapar, mencoba bangkit dengan tubuh penuh luka.
"Entahlah, ini aneh... sangat aneh," jawab salah satu dari mereka, wajahnya dipenuhi keraguan.
"Kita harus waspada," lanjut yang lain, nada suaranya berubah tegang. "Iblis itu pasti sedang merencanakan sesuatu."
Beberapa saat kemudian, langit hitam di atas mereka terbelah. Sebuah suara menggelegar menggema di udara, seperti retakan dunia yang tak kasat mata. Di balik celah tersebut, sesuatu mulai terlihat—benda besar yang perlahan muncul di atas hamparan langit luas. Keempat menteri menatapnya dengan mata membelalak, dipenuhi kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.
"Sejak kapan benda itu ada di sana?" potong Iskandar Agung, sang monster Nirwana Phoenix, dengan nada cemas yang jarang terdengar darinya.
"Dengan ukurannya sebesar itu, mustahil kita bisa selamat!" seru monster kera, kini berdiri tegak meski tubuhnya gemetar.
"Apa iblis bodoh itu ingin melakukan serangan bunuh diri?" sela monster babi, dengan suara beratnya yang mengandung campuran marah dan takut.
"Dia benar-benar sudah gila."
Meteor raksasa kini tampak jelas, ukurannya begitu super besar hingga menutupi seluruh hamparan langit. Cahaya redupnya memantulkan bayangan suram di tanah, membawa hawa kehancuran yang tak terelakkan.
Bagaimana pun mereka mencoba, tak ada celah untuk melarikan diri. Kejatuhannya pasti akan menghancurkan segalanya—termasuk Raja Iblis itu sendiri.
"Sekarang siapa yang berhak tertawa? Wahai mahluk-mahluk kotor." suara Raja Iblis bergema, penuh kesombongan. Tatapannya liar, memancarkan kepuasan mendalam yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Di matanya, ini bukan sekadar kemenangan, tapi kehancuran yang ia kendalikan dengan tangannya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments