Enam puluh juta pasukan iblis berdiri dalam barisan yang sempurna, menunggu perintah Azazel. Hembusan angin padang savana memekik nyaring, membuat rerumputan bergesekan seperti bisikan maut.
Tempat ini akan menjadi saksi perang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah dunia serta pertempuran yang akan menentukan nasib jutaan jiwa.
Di kejauhan, pasukan bangsa dunia berdiri gagah. Mata mereka menatap tajam ke arah barisan lawan. Semangat membara menyelimuti hati para prajurit, meskipun mereka tahu, kemenangan berarti mengorbankan segalanya, termasuk nyawa mereka sendiri.
Dari barisan iblis, seorang komandan maju. Sosoknya menjulang, tubuhnya diselimuti aura gelap yang pekat. Ia membawa pesan dari Azazel, sang jenderal yang menjadi momok di medan perang.
Langkahnya lambat namun mengintimidasi, membelah barisan pasukan dunia yang menjaga raja-raja mereka dengan waspada. Di tengah kerumunan prajurit, Freya berdiri di sisi 20 raja.
Wanita itu memegang tombaknya erat, matanya tak lepas dari gerak-gerik iblis tersebut. "Apa yang dia bawa, Freya?" bisik salah satu raja, suara pria itu berat namun bergetar. "Ancaman," jawab Freya datar, matanya menyala penuh keyakinan.
Ketika pesan itu dibacakan, suara komandan iblis bergema seperti gemuruh. "Tunduklah, wahai makhluk hina! Serahkan kehormatanmu, atau kami akan menyapu bersih setiap jiwa di dunia ini." Tanpa ragu, ke-20 raja berdiri tegap, melawan intimidasi tersebut.
Salah satu dari mereka, dengan dada membusung dan mata menyala penuh amarah, berseru lantang. "Kami menolak! Lebih baik kami mati terhormat di medan perang daripada tunduk kepada iblis laknat seperti kalian!" Kata-kata itu seperti lonceng perang.
Langit yang semula hanya diselimuti awan gelap tiba-tiba memuntahkan kilatan petir. Azazel, yang mengamati dari kejauhan, mengangkat tangannya tinggi. "Hancurkan mereka!" teriaknya. Lima puluh juta pasukan iblis bergerak serempak. Jeritan perang menggema, mengguncang tanah savana.
Pasukan dunia merespons dengan seruan mereka sendiri, menyatukan tekad untuk bertahan dan melawan. Barisan depan pasukan dunia dipimpin oleh sepuluh prajurit terkuat, dikenal sebagai "The One." Mereka adalah harapan umat manusia, pahlawan yang memiliki kekuatan di luar batas manusia biasa.
Ketika mereka menyerbu ke tengah pasukan iblis, dunia seperti berhenti sejenak. Pedang mereka berkilauan, memantulkan cahaya petir. Setiap tebasan mereka membawa maut. Satu iblis yang mencoba melawan akan lenyap menjadi abu.
Di sisi lain, bangsa-bangsa yang bersatu dalam aliansi dunia menunjukkan kemampuan luar biasa. Ras Naga menguasai langit, menghempaskan pasukan iblis dengan semburan api yang panasnya mampu mencairkan baja.
Ras Elf bergerak lincah di medan perang, memanah musuh dengan akurasi yang tak tertandingi. Ras Goblin menghancurkan barisan iblis dengan pukulan besar mereka, sementara Ras Hewan menerkam tanpa belas kasih, mencabik-cabik tubuh lawan. Namun, pertempuran ini bukan sekadar aksi fisik.
Setiap prajurit memiliki cerita, mereka bertarung bukan hanya untuk kemenangan, tetapi untuk keluarga, tanah air, dan kehormatan yang tak tergantikan.
Tak lama kemudian, terlihat sosok siluet sepuluh iblis memancarkan aura kutukan sangat amat mengerikan. Mereka memantau peperangan besar ini dari kejauhan, para pasukan iblis mengenal mereka dengan sebutan The Number.
Berbeda dengan wujud Numbers yang besar menyerupai monster dan tanpa kesadaran, The Numbers memiliki bentuk yang lebih menyerupai iblis biasa. Namun, di balik penampilan mereka yang tampak lebih "manusiawi," tersembunyi kekuatan yang jauh lebih mengerikan.
Dengan kesadaran penuh, mereka bukan hanya alat pembunuh, tetapi juga pemburu yang cerdas dan sadis. Itulah harga yang dibayar oleh makhluk yang berhasil melewati evolusi. Bisa di katakan The Numbers adalah hasil puncak dari seleksi brutal, mendapatkan kekuatan berkali-kali lipat dari bentuk sebelumnya.
Mereka adalah senjata pamungkas iblis, diciptakan untuk menghancurkan apapun yang dianggap ancaman. Salah satu dari mereka, sosok dengan pedang perak besar yang dihiasi ukiran kepala iblis, menjilat bibirnya sambil melirik ke arah langit. "Naga besar itu... sepertinya enak untuk dimakan!" katanya sambil tertawa kecil, suaranya menggema menyeramkan.
Dari sisi lain, salah satu The Numbers, bersenjata tombak hitam, menyeringai. "Waktunya kita berburu, kawan. Hahaha!" Tanpa aba-aba, sepuluh The Numbers bergerak serentak menuju barisan Ras Naga.
Mereka tahu, jika Ras Naga tidak segera disingkirkan, keunggulan udara bangsa dunia akan menjadi mimpi buruk bagi pasukan iblis. Di tengah perjalanan, seorang prajurit manusia menghadang salah satu dari mereka.
Sosok itu adalah Leo, salah satu dari sepuluh prajurit manusia terkuat (The One), dikenal dengan julukan Kesatria Pedang Api. Dengan pedangnya yang menyala merah seperti bara, Leo berdiri tegap, tatapannya penuh tekad.
The Numbers yang dia hadapi berhenti, menatapnya dengan rasa penasaran. "Manusia kecil berani menghadangku? Menarik," katanya, suara rendahnya seperti pisau tajam yang menggores udara. Leo tidak menjawab.
Dia menghunus pedangnya dan menyiapkan juru. "Bakat Api, Status 12 : Tebasan Api Super Cepat!" teriaknya sambil menyerang dengan kecepatan luar biasa. Pedangnya menggores tubuh The Numbers, menciptakan ledakan api yang membakar sosok itu hingga melolong kesakitan.
Tubuh kecil The Numbers bergetar hebat, sementara api Leo terus melahap kulitnya tanpa ampun. "Bagus sekali, Komandan Leo!" teriak seorang prajurit manusia di belakangnya, penuh kagum. "Rasakan itu, iblis durjana! Komandan Leo memang tidak pernah mengecewakan!" seru yang lain, memukul perisainya dengan antusias.
"Hentikan tindakan bodoh mu itu dan bertarung lah dengan serius!" seru Leo, suaranya tegas, menggema di tengah gemuruh pertempuran. Matanya menyala penuh kemarahan, melihat The Numbers yang tampak menikmati permainan kecilnya.
The Numbers yang tubuhnya masih menyisakan bara api tersenyum tipis, menyeringai seperti predator menemukan mangsanya. "Eh? Jadi kau menyadarinya? Oh, baiklah," katanya santai, sebelum menjentikkan jarinya. Api yang tadi melahap tubuhnya lenyap seketika, menyisakan aroma gosong yang menyesakkan. "Kalau begitu, mari kita bertarung serius."
Sementara itu, di bagian lain medan perang, The Numbers lainnya bergerak tanpa ampun. Dengan kecepatan yang hampir mustahil ditangkap mata manusia, mereka menghancurkan puluhan ribu pasukan dunia seperti dedaunan kering tertiup badai. Teriakan kematian menggema, menggetarkan hati para prajurit yang menyaksikan kehebatan mereka.
Di wilayah selatan, jutaan pasukan iblis berhasil memojokkan garda pertahanan bangsa dunia. Pasukan dunia yang lelah berjuang mulai terlihat gentar. Namun, seperti dewa penolong, 800 ribu Prajurit Langit muncul dari balik cakrawala.
Kedatangan mereka disambut sorakan prajurit yang hampir kehilangan harapan. Dengan formasi yang sempurna, mereka kembali memperkuat garda selatan, memaksa iblis untuk mundur sementara.
Di sisi lain medan perang, Jenderal Langit Agung Freya berdiri di atas bukit yang dipenuhi tubuh pasukan iblis. Pedang berkilau miliknya bergerak seperti angin badai, memotong musuh dengan presisi yang mematikan. Setiap langkahnya adalah kehancuran, setiap tebasannya adalah kematian. Ribuan pasukan iblis lenyap dalam sekejap di tangannya.
Freya, dengan rambutnya yang berkilauan seperti cahaya bulan, memandang ke kejauhan. Azazel, duduk di atas singgasananya yang megah, tampak memantau pertempuran dengan tatapan dingin. Mata Freya menyipit, penuh dendam yang mendidih. Ia tahu, untuk mengakhiri perang ini, ia harus menghabisi eksekutif jenderal iblis itu.
"Azazel...," gumamnya, suaranya lirih namun penuh kebencian. Ia menarik napas dalam, membayangkan sosok gurunya yang dulu mengajarkan segala hal padanya—sebelum berkhianat dan membawa kegelapan ke dunia ini.
Setelah menganalisis situasi dan mencari celah, Freya akhirnya melihat kesempatan. Dengan gerakan lincah, ia memanfaatkan celah kecil dalam pengawasan pasukan pengawal Azazel. Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari medan perang.
Freya muncul kembali di belakang Azazel, langkahnya seperti bayangan yang tidak terdeteksi oleh empat iblis pengawal. Ia mengangkat pedangnya tinggi, energi mematikan mengalir dari bilah tajam itu. Wajahnya dipenuhi emosi—amarah, pengkhianatan, dan tekad.
"Aku tidak akan memaafkan mu, Guru!" teriaknya, suara itu menggelegar seperti petir di tengah pertempuran. Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, ia mengayunkan pedangnya ke arah punggung Azazel, menargetkan titik lemah yang sudah ia pelajari bertahun-tahun.
Namun, sebelum pedang itu mencapai sasarannya, sesuatu yang tak terduga terjadi...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments