Tubuhku? Aku tidak bisa bergerak." Freya terdiam, matanya membelalak penuh kebingungan. Tubuhnya tetap membeku dalam pose menusuk Azazel, namun kekuatannya seakan terhenti. Tidak ada otot yang merespons kehendaknya.
Ekspresi terkejut dan raut wajah penuh tanda tanya memenuhi wajahnya. Tatapannya tertuju pada Azazel yang berdiri tegak di belakangnya. Sosok Azazel yang ditikamnya perlahan memudar, seperti bayangan kabur yang dihantam cahaya. Dalam hitungan detik, sosok itu lenyap sama sekali.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau tiba-tiba di belakangku? Sejak kapan?" tanyanya dengan suara gemetar, tubuhnya masih terkunci tak bergerak.
Azazel menjawab dengan nada rendah dan dingin yang menggema di udara. "Skill ultimate : Time Zone."
Penjelasan singkat itu membawa hawa dingin yang menyesakkan. Skill ultimate Time Zone adalah teknik unik yang bisa memanipulasi waktu dan ruang. Siapa pun yang terjebak dalam zona ini akan kehilangan kendali atas hukum waktu dan gerakan mereka sendiri.
"Aku tidak paham maksudmu!" Freya berseru, mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tangannya bergetar ringan, tetapi itu pun hanya percikan usaha yang sia-sia.
Azazel tersenyum tipis, dingin. "Sosok yang kau tikam tadi adalah aku di jalur waktu yang sama denganmu. Namun, aku yang berdiri di sini adalah diriku dari 30 menit sebelumnya."
Freya terdiam. Penjelasan itu menghantamnya seperti badai yang tidak terduga. Azazel bukan hanya seorang lawan yang kuat, dia adalah makhluk dengan kekuatan yang melampaui logika. Mengalahkannya terasa mustahil, bahkan dengan semua kekuatan yang ada di dunia ini.
"Sejak kapan? Bukankah kau dulu pengguna skill ultimate berpedang? Aku dulu sangat mengagumi keterampilanmu! Tapi mengapa? Mengapa kau memberontak dan bergabung dengan para pasukan iblis?" teriak Freya, suaranya penuh rasa tidak percaya.
Azazel menatapnya tanpa emosi. "Kau ingin tahu alasanku? Itu karena keagungan Yang Mulia Zhask."
"Kau rela membuang semua rekanmu, semua kepercayaan yang kau bangun, hanya untuk mengabdi pada makhluk rendahan seperti itu? Sadarlah, guru! Iblis itu telah mencuci otakmu," Freya memohon, mencoba mengguncang keyakinan Azazel.
Mata Azazel menyipit, tetapi suaranya tetap dingin. "Kau sama sekali tidak sopan memanggil Yang Mulia Zhask sebagai makhluk rendahan. Karena itu, aku akan segera memenggal kepalamu."
Saat kata-kata itu terucap, tiba-tiba dari atas langit muncul empat tetua naga, meluncur cepat dengan sayap raksasa mereka. Aura mereka membawa harapan baru, tetapi hanya sesaat. Dalam hitungan detik, sebuah kubus transparan raksasa muncul, menjebak mereka semua.
Di dalam kubus, waktu berhenti. Para tetua naga, yang kekuatannya seharusnya mampu mengguncang langit, kini hanya diam seperti patung. Mereka mencoba melepaskan diri, tetapi setiap usaha mereka hanya berujung sia-sia.
"Sialan! Aku tidak bisa bergerak!" seru salah satu tetua naga, frustrasi.
"Kubus ini… zona waktunya telah dihentikan sepenuhnya," ujar tetua naga lainnya, mencoba menganalisis situasi. "Semua energi kita tertahan."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" suara ketiga terdengar, penuh kecemasan.
Sementara itu, di luar kubus, Azazel tetap tenang. Sosoknya memancarkan dominasi yang menakutkan. Tiba-tiba, dari dalam kubus, muncul Azazel lain — dirinya dari jalur waktu tiga jam ke depan. Tanpa perlawanan, dia menghajar keempat tetua naga satu per satu. Serangan demi serangan menghantam mereka, membuat tubuh raksasa itu terkulai tanpa daya.
Dalam beberapa saat, keempatnya jatuh tak sadarkan diri. Zona waktu di dalam kubus kembali normal, tetapi hanya untuk menegaskan kekalahan mereka. Di sisi lain, Freya menyadari bahwa ajalnya semakin dekat. Pedang Azazel kini sudah menempel di lehernya.
Freya memejamkan mata. Napasnya tercekat, dan bibirnya bergetar. Tidak ada jalan keluar. Pedang dingin itu hanya perlu satu ayunan lagi untuk mengakhiri segalanya.
Namun, saat pedang itu mulai diayunkan, tiba-tiba sosok misterius muncul. Dengan kecepatan luar biasa, sosok itu melesat dan menyelamatkan Freya dari tebasan maut. Dia menggendong Freya dan terbang menjauh, membawa napas lega yang nyaris tak sempat diambil.
"Akhirnya tepat waktu. Itu sangat berbahaya," ucap sosok tersebut, suaranya tenang tetapi tegas.
Freya mendongak, mencoba mengenali penyelamatnya. Dia adalah salah satu dari 12 Kesatria Suci, legenda hidup yang berdiri di sisi terang dunia. Satu per satu, kesatria suci lainnya mulai muncul, membawa cahaya harapan yang baru.
"Apa kau baik-baik saja, Jenderal Langit Agung?" tanya sang kesatria yang mengenakan bandana di kepalanya, matanya penuh kekhawatiran.
Freya mengangguk lemah, napasnya masih berat. "Terima kasih telah menyelamatkanku. Aku tidak pernah menyangka akan diselamatkan oleh manusia."
"Syukurlah," jawabnya singkat, sebelum seorang kesatria suci lain dengan kapak besar di tangannya menghampiri mereka.
"Kapten, rencana sudah siap. Kita hanya menunggu instruksi," lapornya tegas.
"Bagus. Kita akan segera menjebak para iblis raksasa itu dan mengakhiri ini secepatnya," ujar kesatria dengan bandana yang ternyata adalah Hitadori, kapten dari 12 Kesatria Suci.
Ledakan besar tiba-tiba terdengar dan mengguncang hebat, memekakkan telinga hingga getarannya terasa menusuk dada. Asap hitam mengepul, menyelimuti wilayah pertempuran bagian barat, tempat 10 Numbers yang sebelumnya tak terkalahkan mendadak roboh oleh kekuatan yang begitu dahsyat. Jeritan dan sorak-sorai bercampur menjadi satu, menggema di medan perang.
Numbers dikenal sebagai makhluk brutal dengan regenerasi luar biasa dan tak kenal rasa sakit. Untuk menghancurkan mereka, dibutuhkan serangan yang tidak hanya kuat tetapi juga terukur dengan presisi. Namun, para Kesatria Suci telah mempersiapkan segalanya.
Mereka menganalisis setiap kelemahan, setiap celah, bahkan sebelum perang dimulai. Ledakan ini adalah hasil dari strategi matang petapa suci, dirancang khusus untuk menghancurkan Numbers hingga ke akar-akarnya.
Sukacita menyelimuti pasukan dunia. "Kita berhasil!" teriak mereka, tangan terkepal ke udara. Namun, kebahagiaan itu hanya sesaat. Dari balik asap, gerombolan Numbers lain muncul, jumlah mereka tampak tak berujung. Suara gemuruh langkah mereka memecah euforia kemenangan.
"Siapkan barisan! Mereka datang lagi!" seru salah satu prajurit, suaranya serak namun penuh keberanian.
"Jangan takut! Lawan mereka sampai akhir!" teriak prajurit lain, diikuti oleh pekikan semangat dari semua pasukan.
"YAAAAAAH!"
YAAAAAAH!"
YAAAAAAH!"
Teriakan perang bergema, menggetarkan hati semua yang mendengarnya.
Di barisan depan, Hitadori berdiri tegap. Tubuhnya memancarkan aura otoritas, sementara matanya tajam menganalisis setiap pergerakan lawan. Kecakapannya dalam strategi dan taktik membuatnya menjadi ancaman yang ditakuti pihak musuh.
"Jadi ini Jenderal Langit Agung?" ucap seorang Kesatria Suci yang baru tiba, matanya terpaku pada Freya yang berdiri dengan luka dan kelelahan yang nyata.
"Aku tak percaya bisa melihatnya langsung. Dia... sangat cantik dan begitu kuat serta wangi," lanjutnya, nada kagum terdengar jelas.
"Cukup bicara bodohmu! Hormati Jenderal Langit Agung!" bentak Kesatria Suci perempuan yang berdiri di sampingnya, wajahnya memerah karena malu dan marah pada rekan nya sesama kesatria suci.
Freya, yang mendengar percakapan itu, menghela napas, lalu berkata dengan nada tenang, "Tak perlu terlalu formal. Panggil aku Freya saja."
Suasana canggung mencair seketika, meski kesatria-kesatria itu masih sedikit kikuk.
Freya melangkah maju, menatap langsung ke mata Hitadori. "Aku membutuhkan bantuan kalian untuk mengalahkan Azazel. Kita harus mengalahkannya lebih dulu jika ingin memenangkan perang ini."
Hitadori mengernyitkan dahi, pikirannya berputar cepat. "Bukankah lebih mudah jika kita fokus pada pasukan iblis lainnya?" tanyanya, nada skeptis mengiringi.
"Percuma. Mengalahkan mereka semua tidak akan berarti apa-apa," tegas Freya.
"Azazel memiliki kemampuan untuk memutar waktu dan membangkitkan dirinya atau pasukannya yang telah mati, seolah-olah mereka tidak pernah tewas. Itulah kekuatan yang sedang kita hadapi."
Semua Kesatria Suci terdiam, mencerna informasi itu. Seorang wanita dengan rambut perak panjang akhirnya bertanya, "Apakah itu benar-benar mungkin? Kekuatan seperti itu... terdengar mustahil."
Freya mengangguk, rahangnya mengeras. "Azazel bukan makhluk biasa. Dia adalah mantan Jenderal Langit Agung, salah satu penyandang gelar Monster Keadilan. Kekuatan monster keadilan generasi pertama melampaui nalar semua".
Mendengar itu, semua Kesatria Suci terdiam lebih dalam. Azazel adalah prajurit legenda tak terkalahkan yang pernah di miliki Kekaisaran Surgawi, simbol kekuatan mutlak. Sosok ancaman yang sangat nyata.
"Jadi, dia adalah Azazel?" suara salah satu Kesatria Suci bergetar. "Yang diperingatkan oleh petapa suci itu... Sosok jendral langit agung penghianat yang harus dihindari."
Sebelum ada yang sempat menjawab, sebuah pemandangan mencekam menarik perhatian mereka. Di sisi medan perang, Azazel berdiri tenang. Dengan gerakan tangan yang hampir tidak kentara, dia memanggil kembali The Numbers No. 2 yang sebelumnya dihancurkan oleh serangan gabungan para tetua naga. Perlahan, sosok Numbers itu kembali terbentuk, diikuti oleh kebangkitan 10 Numbers yang hancur akibat ledakan besar tadi.
Freya menggertakkan giginya, tinjunya mengepal. "Inilah yang aku maksud. Azazel menggunakan zona waktu tiga hari sebelum perang ini dimulai untuk memutar kembali kehidupan mereka. Tidak ada batasan bagi kekuatannya."
Semua Kesatria Suci kini menyadari skala ancaman yang mereka hadapi. Azazel bukan hanya musuh, dia adalah bencana yang dapat merusak alur waktu itu sendiri. Freya menatap mereka satu per satu, matanya penuh tekad.
"Jika kita ingin menyelamatkan dunia ini, kita harus mengalahkan Azazel. Tidak ada pilihan lain."
Suara Freya menggema, menanamkan keberanian sekaligus rasa kepercayaan di hati semua yang mendengarnya. Pertempuran baru akan segera dimulai, dan semuanya bergantung pada strategi yang mereka miliki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments