Cerita berpindah menyorot keberadaan Kaisar Langit. Di puncak kemegahan alam langit berdiri sebuah kastil putih besar yang memukau, memancarkan aura keagungan tiada tara. Kastil itu dihiasi taman-taman yang penuh dengan tumbuhan surgawi, menghembuskan aroma lembut yang mampu menenangkan hati bahkan dalam kekacauan perang. Setiap sudut bangunan berkilau oleh lapisan intan, emas, dan permata yang tak ternilai harganya.
Di depan gerbang istana langit yang kokoh berdiri sepuluh pasukan elit, masing-masing mengenakan armor tempur lengkap yang bersinar di bawah cahaya langit. Senjata tingkat tinggi yang mereka bawa menunjukkan status dan kekuatan mereka yang luar biasa. Tidak ada makhluk yang dapat memasuki istana tanpa melewati mereka terlebih dahulu. Pasukan ini tidak hanya simbol perlindungan, tetapi juga lambang kehebatan alam langit.
Pasukan elit ini dilatih dengan sangat ketat sejak usia muda. Setiap gerakan, setiap taktik, dan setiap serangan mereka telah diasah hingga mencapai tingkat mendekati kesempurnaan. Banyak yang mengatakan bahwa kekuatan mereka hampir setara dengan para Jenderal Langit Agung, bahkan mungkin lebih dalam beberapa aspek tertentu.
“Perang besar ini belum selesai, dan aku yakin akan tercatat sebagai sejarah terbesar alam langit,” ucap salah satu prajurit, membawa dua tombak berlapis api yang tampak menyala di punggungnya.
“Jika iblis-iblis itu berani mendekat, aku tidak sabar menghancurkan mereka. Sudah lama aku ingin menunjukkan kehebatan akurasi ku kepada para iblis,” tambah prajurit lain sambil tersenyum sinis, tangannya menggenggam shuriken besar yang mengeluarkan kilatan cahaya biru.
“Tapi kenapa perang ini begitu lama? Sudah lima bulan dan para Jenderal Langit Agung masih belum berhasil mengalahkan para iblis. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?” gerutu seorang prajurit berambut panjang, duduk santai sambil menghisap rokok yang memancarkan aroma herbal.
“Ini bukan waktunya untuk menilai mereka,” tegur kapten pasukan, suaranya penuh otoritas. Matanya tajam menatap ke langit.
“Kapten benar! Kita sedang menghadapi perang terbesar sepanjang sejarah. Tidak ada ruang untuk meremehkan atau mempertanyakan upaya mereka,” ujar prajurit wanita berambut biru panjang dengan nada tegas, sembari mengencangkan grip pada pedang bercahayanya.
Prajurit termuda di antara mereka, yang tampak sedikit gugup namun penuh rasa ingin tahu, bertanya, “Kapten, sebenarnya seberapa menyeramkannya Lucifer? Bagaimana mungkin dia bisa bertahan selama ini?”
Kapten, seorang pria tua berwajah dingin dengan tubuh yang tegap, menjawab dengan suara rendah namun sarat akan ketegasan, “Lucifer adalah salah satu dari Tiga Iblis Kuno. Iblis-iblis kuno seperti dia telah ada lebih dari 12.000 tahun yang lalu. Mereka adalah makhluk yang memiliki kemampuan melampaui batas makhluk biasa. Namanya menjadi legenda setelah ia mampu bertahan menghadapi Gabriel, Sang Monster Keadilan. Itu adalah pencapaian yang bahkan sulit dipercaya.”
Semua prajurit terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Salah satu dari mereka, yang membawa sabit besar dan memiliki lidah panjang menjulur, tersenyum penuh antusias. “Membayangkan bahwa dia bisa bertahan melawan Tuan Gabriel saja membuat darahku mendidih. Aku tidak sabar untuk menghadapi mereka. Ini akan menjadi pertempuran yang benar-benar menantang!”
Kapten hanya tersenyum tipis mendengar antusiasme anak buahnya, namun dalam hatinya dia tahu bahwa ancaman iblis-iblis kuno seperti Lucifer tidak bisa diremehkan. Mereka adalah simbol kehancuran, dan meski para Jenderal Langit Agung sedang bertarung mati-matian, peluang kemenangan masih terasa samar.
Langit di atas mereka kembali bergetar, seolah merespons ketegangan yang terus memuncak. Para pasukan elit tetap berjaga, siap menghadapi siapa pun yang berani menantang keagungan istana langit. Aura mereka bersinar semakin terang, menyiratkan tekad untuk melindungi Kaisar Langit dan kehormatan alam mereka hingga titik darah penghabisan.
---
Di dalam kastil putih kaisar langit. Tampak ruangan besar yang penuh kemegahan, sang Kaisar Langit duduk di singgasananya yang terbuat dari kristal murni, memancarkan cahaya yang menerangi aula istana. Empat penasehat utama yang dikenal sebagai Menteri Kekaisaran duduk melingkar di meja bundar, wajah mereka memancarkan keprihatinan mendalam.
Iskandar Agung, Menteri Pertahanan, dengan wajah serius mulai melaporkan situasi terkini. "Yang Mulia, iblis-iblis masih bertahan dengan gigih. Tidak ada tanda-tanda mereka akan mundur dalam waktu dekat. Pasukan kita mulai kelelahan, dan kerusakan semakin parah."
Kaisar Langit mengangguk perlahan, lalu menoleh kepada Zeus Agung, Menteri Kesejahteraan. "Bagaimana keadaan rakyat kita? Apakah evakuasi sudah selesai?"
Zeus berdiri dengan penuh keyakinan. "Semua penduduk sudah berhasil dievakuasi ke Lembah Adam, Yang Mulia. Tempat itu kini dilindungi oleh Tabir Segel Tingkat Nirwana yang saya buat sendiri. Tidak ada makhluk yang bisa masuk tanpa kode khusus. Meski sekelas raja iblis sekalipun."
"Bagus," gumam Kaisar Langit, meski wajahnya tetap terlihat tegang. "Lalu, bagaimana dengan kondisi wilayah langit?"
Menteri Pembangunan, yang masih muda namun memiliki tanggung jawab besar, melaporkan dengan nada getir, "Kerusakan telah mencapai 60%, Yang Mulia. Banyak wilayah yang sudah tidak bisa dipulihkan dalam waktu dekat. Ini adalah bencana terbesar dalam sejarah Kekaisaran Surgawi."
Mendengar laporan tersebut, Kaisar Langit tampak terdiam. Matanya memandang jauh ke depan, seolah-olah tengah memikirkan beban besar yang harus ia pikul. "Raja Iblis Zhask tidak hanya menghancurkan wilayah kita, tapi juga mengancam keseimbangan semesta. Jika tatanan antara tiga alam runtuh, maka kehancuran total tidak akan terhindarkan."
Berpindah menyorot bagian lain.
Di kejauhan, gemuruh langit yang retak seolah mengumumkan kehancuran yang semakin mendekat. Raja iblis Zhask, dengan mata merah menyala, melesat tanpa henti menuju Istana Langit. Tidak ada apa pun yang mampu menghentikannya.
Setiap langkah dan kepakkan sayap-sayap nya meninggalkan jejak kehancuran. Tubuhnya diselimuti aura kegelapan yang pekat, sementara senyuman dingin tersungging di bibirnya.
"Segera, aku akan merebut singgasana Kaisar Langit," ucap raja iblis Zhask dengan suara rendah yang bergema. "Ketika itu terjadi, tidak ada lagi yang bisa menghentikan ku. Alam neraka, dunia, dan langit akan berlutut di hadapanku."
"Semua akan tunduk!" lanjutnya, dengan suara penuh kebencian yang mampu membuat semua yang di lalui bergetar. "Aku akan mengubah semesta ini menjadi ladang kehancuran. Malapetaka adalah warisan terbaik untuk dunia ini!"
Energi kegelapan dari tubuhnya meresap ke udara, menciptakan gempa besar di sekitarnya. Bahkan angin berhenti berembus, seolah takut akan keberadaan sosok raja iblis.
Berpindah menyorot kembali Istana langit atau lebih tepatnya Kekaisaran Surgawi.
Kaisar berdiri perlahan dari singgasananya. Tatapannya dingin dan tajam, tetapi di balik itu, ada tekad yang mengakar kuat. Ia tahu, pertempuran ini akan menentukan segalanya. Langit, bumi, dan neraka... semuanya berada di ujung tanduk.
Kata-kata para penasihatnya menggema di aula, melaporkan kehancuran yang disebabkan oleh Raja Iblis Zhask. Tangannya yang menggenggam tongkat kekuasaan perlahan mengencang, menunjukkan ketegangan yang tidak biasa pada sosok pemimpin tertinggi tiga alam itu.
"Zhask..." gumamnya pelan, seperti racun yang menetes dari bibirnya. Sang Kaisar mengerti, ulah iblis itu tidak sekadar pemberontakan. Ini adalah deklarasi perang.
Raja iblis Zhask telah merusak tatanan yang selama ini menjaga keseimbangan tiga alam—neraka, dunia, dan langit. Jika tidak dihentikan, kehancuran semesta tidak lagi menjadi ancaman, tetapi sebuah kepastian.
Cerita lalu berpindah kembali menyorot wilayah pertempuran besar benua tujuh.
Medan pertempuran di alam langit, khususnya di Benua 7, berubah menjadi pemandangan yang menggambarkan kehancuran dan keputusasaan. Hanya ada tiga Jenderal Langit Agung yang masih berdiri di atas tanah yang berlumuran darah, menjaga kehormatan pasukan mereka dengan nyawa sebagai taruhannya. Di sisi lain, tiga Eksekutif Jenderal Iblis yang tersisa tidak kalah tangguh, mempertahankan kehendak gelap mereka dengan kekuatan luar biasa.
Langit di atas Benua 7 berwarna merah kehitaman, seperti cermin bagi tumpahan darah yang telah lama mengering di tanah. Jeritan perang menggema, suara dentingan pedang dan letusan sihir menyatu dengan aroma anyir kematian yang memenuhi udara. Para prajurit, meski terluka parah, tetap menggenggam senjata mereka erat-erat, wajah mereka mencerminkan tekad untuk tidak menyerah, bahkan jika maut sudah berada di depan mata.
Benturan kekuatan antara kedua pihak menghasilkan ledakan besar yang memecah langit. Cahaya yang menyilaukan disertai getaran yang mengguncang membuat medan perang terasa seperti akhir dunia. Suara-suara serak para komandan terdengar di antara dentuman, memerintahkan pasukan yang tersisa untuk terus bertarung. Namun, mereka semua tahu—baik di pihak langit maupun iblis—bahwa perang ini lebih dari sekadar strategi. Ini adalah pertarungan kehormatan, pengorbanan terakhir demi harga diri dan kepercayaan yang mereka junjung.
Ketegangan tak tertahankan menyelimuti seluruh medan perang. Mata para prajurit yang tersisa terbelalak, menyaksikan tiga Jenderal Langit Agung dan tiga Eksekutif Jenderal Iblis bertarung habis-habisan. Setiap pukulan, setiap sihir, setiap manuver mereka menciptakan gelombang energi yang memorak-porandakan medan. Tidak ada yang berani berkedip, seolah-olah kehilangan satu detik pandangan berarti kehilangan kisah perjuangan terbesar yang pernah ada.
Dalam keheningan yang sempat terputus di antara dentuman, sebuah perasaan mencekam menyusup ke hati para prajurit. Ini bukan lagi sekadar perang. Ini adalah ujian kekuatan absolut, di mana hanya mereka yang memiliki tekad paling kuat yang akan keluar sebagai pemenang. Keputusasaan dan harapan saling bertarung di benak masing-masing, menciptakan atmosfer yang membuat setiap orang merasa seperti napas terakhir mereka bisa tiba kapan saja.
_________________________
Jendral langit agung yang bertahan sampai sekarang : Julius, Mikael, Hera, (belum muncul).
Eksekutif Jendral Iblis yang masi bertahan : Lucifer, Asmodeus, Kaiju.
_________________________
Perang ini adalah titik balik yang akan menentukan nasib seluruh alam—langit, bumi, dan neraka. Setiap langkah, setiap pukulan, dan setiap teriakan perang menciptakan jejak yang akan ditulis dalam sejarah, menjadi kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tak ada yang tahu siapa yang akan bertahan, namun satu hal pasti, ini adalah pertarungan yang akan selalu dikenang, baik oleh para penyintas maupun mereka yang menyaksikan dari cerita masa lalu.
Medan perang kini memasuki babak akhir. Detik-detik yang tersisa dipenuhi dengan intensitas yang tak terbayangkan. Keringat dan darah menyatu, menetes di tanah yang telah hancur oleh kekuatan dahsyat dari kedua belah pihak. Para prajurit yang masih hidup hanya bisa bertahan dengan sisa-sisa keberanian dan tenaga mereka, sementara tiga Jenderal Langit Agung dan tiga Eksekutif Jenderal Iblis terus bertarung tanpa henti.
Langit gelap mulai menunjukkan tanda-tanda pergerakan. Fajar perlahan menjelang, membawa harapan yang samar bagi sebagian, namun juga ketakutan mendalam bagi yang lain. Apakah cahaya itu akan menjadi simbol kemenangan bagi langit? Ataukah ia hanya akan memperjelas kegelapan yang akan menyelimuti segalanya.
Ketidakpastian melayang di udara, membuat setiap hati terguncang. Perasaan tegang seperti tali yang ditarik hingga hampir putus. Setiap individu, baik yang bertarung maupun yang menyaksikan dari balik bayang-bayang, hanya memiliki satu pertanyaan di benak mereka. Siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertempuran terakhir ini.
Nasib tiga alam berada di ujung tanduk. Jika langit menang, perdamaian mungkin akan kembali bersemi, memberikan waktu bagi dunia untuk menyembuhkan lukanya. Namun, jika kegelapan menang, bencana yang tak terhindarkan akan menyelimuti segalanya, membawa kehancuran yang bahkan sulit untuk dibayangkan. Fajar yang akan datang bukan hanya soal waktu, tetapi simbol dari pilihan takdir yang segera terungkap—perdamaian, atau malapetaka.
Cerita kemudian berpindah kembali, kini memperlihatkan situasi pertarungan antara Asmodeus dan Julius.
Ribuan tebasan cahaya kuning menyala terang, seperti meteor yang jatuh dari langit, menghujani Asmodeus tanpa ampun. Tidak ada celah untuk menghindar, bahkan bagi iblis sekuat dirinya. Dengan sorot mata yang tajam dan penuh perhitungan, Asmodeus mengambil langkah drastis. Dimensi kehampaan ciptaannya terbuka, sebuah ruang tanpa batas yang sunyi, dingin, dan menekan. Dalam sekejap, ia menyeret Julius masuk, meninggalkan semua kehancuran di belakang mereka begitu saja.
Untuk pertama kalinya, Asmodeus merasakan darahnya menetes. Luka menganga di sisi tubuhnya menjadi bukti kekuatan luar biasa Julius—salah satu Jenderal Langit Agung penyandang gelar keadilan Absolut.
Medan perang di Benua 7 kehilangan dua sosok besar itu. Yang tersisa hanya dentuman dan kilatan dahsyat dari duel lain yang tak kalah sengit—Lucifer dan Mikael. Mereka bertarung di wilayah berbeda, namun intensitas energi mereka cukup untuk membuat seluruh medan perang terasa bergetar.
Mikael, dengan napas yang teratur meskipun penuh amarah, memandang ke arah di mana energi Asmodeus dan Julius terakhir di rasakan “Kemana mereka pergi? Aku tidak bisa merasakan energinya,” tanyanya, nada suaranya penuh kewaspadaan.
Lucifer menyeringai lebar, tatapan matanya penuh ejekan. "Asmodeus telah membawa dia ke dimensi ciptaannya," ucapnya santai. "Dan dengan begitu, rekanmu dipastikan akan mati!"
Namun, alih-alih terguncang, Mikael tertawa terbahak-bahak, nadanya meremehkan. "Mati, katamu? Ha-ha-ha! Dasar iblis bodoh! Kami, para pemegang gelar Keadilan Absolut, telah memakan Pil Dewa. Bahkan jika kami mati, kami akan segera hidup kembali, lebih kuat dari sebelumnya!"
Ekspresi Lucifer berubah sejenak, tapi hanya untuk kemudian berubah menjadi senyum dingin penuh sinisme. "Kalian benar-benar curang. Tapi baguslah! Aku bisa membunuh kalian semua berkali-kali. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu." Lucifer membalas dengan tawa terbahak-bahak, seolah menikmati ironi dari pertempuran tanpa akhir ini.
Mikael tidak menjawab. Tatapannya berubah dingin, menembus lapisan ego Lucifer. Kali ini, ia memutuskan untuk tidak lagi menahan diri. Tangannya terangkat perlahan, mulai mengumpulkan kekuatan surgawi. Cahaya lembut mulai memancar di sekeliling tubuhnya, namun keindahan itu menandakan bahaya yang mematikan.
Energi surgawi, senjata yang paling ditakuti oleh bangsa iblis, mulai beresonansi dengan alam semesta itu sendiri. Aura yang memancar dari Mikael tidak hanya memengaruhi Lucifer, tetapi seluruh medan pertempuran. Tanah bergetar, udara menjadi berat, dan langit seakan menyesuaikan diri dengan kekuatan tersebut.
Lucifer mendengus, tapi ada sedikit ketegangan di balik keangkuhannya. Kekuatan surgawi adalah ancaman nyata bagi kaum iblis, karena ia tidak berasal dari tubuh lawan, melainkan dari energi semesta itu sendiri. Setiap serangan yang menggunakan kekuatan ini terasa seperti ditolak oleh alam, membuat tubuh iblis yang terkena menjadi kesakitan luar biasa, seolah-olah esensi keberadaan mereka dipaksa hancur.
"Jadi, kau benar-benar ingin membawa ini ke tingkat berikutnya, Mikael?" Lucifer bertanya dengan nada menantang, meski sorot matanya menunjukkan bahwa ia menyadari risiko besar dari pertarungan ini.
Mikael tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju dengan perlahan, tubuhnya seperti gunung yang bergerak, tak tergoyahkan. Dengan satu gerakan cepat, ia mengayunkan pedangnya, menciptakan gelombang energi surgawi yang melesat seperti badai ke arah Lucifer. Gelombang itu membuat langit retak dan tanah terbelah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Amelia
zhask... aku baru dengar , kalau Lucifer udah sering aku denger.... gambaran bentuk nya seperti apa sih... ternyata dia pimpinan tertinggi iblis
2024-09-13
0
Amelia
Gabriel apakah ia malaikat keadilan atau kebaikan bener egk sih...
2024-09-13
0
Amelia
Lucifer apakah itu ketua para iblis yah...
2024-09-13
0