Ancaman besar penuh teror melanda di atas langit. Sosok kegelapan sejati yang tak terkendali melesat menuju istana langit, meninggalkan jejak kehancuran. Sepuluh pasukan elit telah tumbang—bukan karena perlawanan sengit, melainkan tanpa daya, seolah keberadaan mereka hanya menjadi hiasan belaka di depan kekuatan absolut.
Aura kutukan Raja Iblis membengkak, menggemakan rasa marah yang meluap-luap. Getaran energinya membuat langit bergetar, memekikkan ancaman pada seluruh penghuni istana langit. Sebuah lonjakan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, mengabarkan bahwa amarahnya telah mencapai puncak-puncaknya.
Tidak ada yang tahu apa penyebab kemarahannya. Raja Iblis, yang sebelumnya dikenal penuh gembira dan tawa mengejek di tengah-tengah kekacauan, kini berubah. Bibirnya tidak lagi menyeringai, tetapi mengeras dengan tekad dingin, mata marah pekatnya menyala seperti bara api neraka.
"Aku akan menghancurkan kalian semua." Suaranya rendah, namun bergemuruh seperti gempa yang meluluhlantakkan fondasi alam surgawi. Aura kutukan terus membanjiri udara, membuat langit terlihat lebih gelap dari sebelumnya.
Wussssh!
Namun, di balik tatapan garangnya, ada sesuatu yang mengganjal. Air mata. Setetes kecil jatuh, tapi cukup untuk mengkhianati sesuatu yang lebih dalam di balik kebenciannya. Raja Iblis mengangkat kepalanya perlahan, membayangkan bayangan samar seorang dewi yang pernah ia kenal—sosok lembut dengan senyum yang mampu menenangkan badai dalam dirinya.
Ingatan itu datang tanpa diundang. Dan itu menyakitinya, sangat amat menyakitinya.
Keinginan awalnya hanya untuk bersenang-senang, menebar teror tanpa arah di alam langit. Tetapi aroma harum yang merasuk ke hidungnya saat mendekati istana langit mengubah segalanya.
Bau harum bunga Wisteria yang lembut dan menyelimuti seluruh istana memicu kenangan yang telah terkubur dalam waktu panjang. Aroma itu... aroma itu mengingatkannya pada sosok maha dewi penjuru arah.
Dewi yang pernah menjadi pusat hidupnya, yang mengajarinya banyak hal—mulai dari ucapan terima kasih sederhana hingga pelajaran kehidupan yang lebih dalam. Dewi yang memeluknya dengan cinta saat ia belum mengenal dunia. Tetapi maha dewi itu telah lama pergi, menghilang tanpa jejak, meninggalkan kehampaan yang tidak pernah bisa diisi oleh siapapun.
"Tujuh benua... Kekaisaran Surgawi... Akan ku hancurkan semuanya tanpa sisah, semua akan merasakan penderitaan yang sama. Keadilan sejati akan terlahir kembali."
Kini, kehampaan itu berubah menjadi kemarahan yang tak tertahankan. Tidak hanya untuk membalaskan rasa sakitnya, tetapi juga untuk membuktikan bahwa alam langit yang pernah mencuri segalanya darinya kini akan berlutut di bawah naungannya.
Cerita membawa Flashback masa lalu raja iblis ketika masi kecil.
"Aku akan segera kembali seperti biasanya. Jangan keluar dari tempat ini, apapun yang terjadi, Enzo," suara lembut Maha Dewi Hestia bergema dalam ingatan Raja Iblis Zhask. Kata-kata itu menusuk seperti duri yang tak bisa dicabut, membawa kembali kenangan yang selama ini ia coba kubur dalam kegelapan hatinya.
Raja iblis Zhask bukanlah iblis biasa. Meski berasal dari bangsa kegelapan, ia tumbuh di bawah naungan Hestia, seorang dewi yang terang benderang. Hestia tidak berasal dari ras iblis, tetapi bagi Zhask, ia lebih dari sekadar pelindung. Ia adalah ibu, pelita yang menerangi kehidupan Zhask yang awalnya kumuh dan kelaparan.
Di bawah bimbingannya, Zhask berubah menjadi makhluk yang lebih dari sekadar pemangsa kegelapan. "Ibu lama sekali belum datang... apa dia sudah melupakan aku?" bisik Zhask kecil pada dirinya sendiri.
Kenangan masa kecilnya menyeruak, memutar kembali potongan-potongan kebahagiaan yang kini terasa seperti mimpi. Selama puluhan tahun, ia berkelana mencari maha dewi Hestia, berharap menemukan kehangatan yang dulu pernah ia rasakan.
Namun, jalan yang ia tempuh selalu berakhir buntu. Hingga suatu hari, seorang prajurit langit yang hampir meregang nyawa di tangannya membisikkan kebenaran pahit.
"Hestia telah mati." Berita itu menghancurkan segalanya. Hestia, Maha Dewi tertua dari tiga saudara penjuru langit, yang terkenal karena kepatuhan dan pengabdiannya kepada aturan surga, ternyata telah dieksekusi. Dengan tuduhan, Melanggar hukum tertinggi.
Alih-alih membunuh bayi-bayi iblis seperti yang diperintahkan untuk melenyapkan takdir malapetaka, Hestia justru menyelamatkan seorang anak iblis. Bukan hanya menyelamatkan, ia membesarkan anak itu dengan cinta dan kasih sayang yang seharusnya ia berikan pada penghuni surga.
Anak itu adalah Zhask. Jauh sebelum peristiwa itu, Kaisar Langit telah menerima pesan dari suara semesta. Sebuah ramalan mengerikan berbunyi seorang malapetaka akan lahir dari bangsa iblis dan menghancurkan tatanan tiga alam.
Malapetaka itu, terlahir dari dimensi kebencian semesta yang bocor, dikatakan memiliki kekuatan yang melampaui semua makhluk. Jika dibiarkan, ia akan menjadi ancaman yang tidak tertahankan. Untuk menghentikan bencana itu sebelum terjadi, Kaisar Langit memerintahkan serangan besar-besaran ke alam Neraka.
Pasukan langit kalah itu dipimpin oleh Jenderal Langit Agung Gabriel yang dikenal sebagai Monster Keadilan, bergerak dengan kekuatan penuh.
Puluhan juta prajurit langit bersiap menuju alam neraka, membawa perintah yang jelas dari Kaisar Langit. "Bunuh semua bayi iblis yang baru lahir." Misi itu tidak mengenal belas kasih. Bersama Gabriel, Mikael dan Azazel semua pasukan langit akhirnya bergerak.
Dalam dua tahun yang mencekam, jutaan bayi iblis tak berdosa dimusnahkan tanpa sisa. Jiwa-jiwa kecil yang belum mengenal dosa dilenyapkan demi menjaga kestabilan tatanan tiga alam.
Lucifer, pemimpin perlawanan bangsa iblis, mencoba menghalangi armada Gabriel. Ia bertarung mati-matian, memimpin pasukan yang tersisa dengan keberanian yang luar biasa.
Namun, keunggulan pasukan langit terlalu besar. Meski mampu memberikan perlawanan sengit bahkan menyamai Gabriel dalam beberapa duel, kekuatan Lucifer tak cukup untuk menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban kebijakan tanpa kompromi ini.
Di tengah pembantaian yang brutal, seorang Maha Dewi tiba-tiba berhenti. Tangan gemetarnya menggenggam pedang cahaya yang sempat diayunkan ke arah gua yang gelap.
Di dalam gua itu, ia mendengar suara tangisan bayi. Ia melangkah masuk, menemukan sosok bayi iblis menyerupai manusia yang menangis ketakutan, tubuh kecilnya gemetar, dikelilingi kegelapan yang menusuk.
Pedang yang ia pegang bergetar, seolah menolak menyentuh makhluk mungil itu. Sesuatu dalam dirinya berbicara, lebih keras dari suara perintah Kaisar Langit. "Membunuh bayi ini adalah keadilan?" pikirnya. Tapi saat melihat mata bayi itu yang penuh ketakutan, hatinya hancur. Keadilan apa yang memaksa untuk membunuh makhluk yang bahkan belum mengenal dunia.
Setelah jiwa dan pikirannya bertarung satu sama lain di dalam gejolak batin. Ahirnya, jiwa welas asih sang Maha Dewi menang. Ia menurunkan pedangnya, memeluk bayi itu dengan lembut, membisikkan sesuatu yang terdengar seperti doa.
Dengan cepat, ia membawa bayi itu ke tempat yang aman. Ia tahu, tindakannya ini adalah pengkhianatan terbesar terhadap aturan Langit. Namun, membiarkan bayi mungil itu mati terasa jauh lebih mengerikan.
Bayi itu adalah raja iblis Zhask. Sejak hari itu, hubungan di antara mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar rasa kasihan. Sang Dewi menjadi ibu baginya, mendidiknya, melindunginya, dan memberinya kehidupan baru.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu hari, Maha Dewi itu menghilang tanpa jejak. Raja iblis Zhask yang kalah itu masi berusia tujuh tahun merasa kehilangan yang teramat sangat.
Ia berkelana mengitari alam Neraka yang luas, penuh bahaya, hanya untuk mencari sosok yang telah menjadi dunianya. Namun, usahanya selalu menemui jalan buntu. Ketika akhirnya ia mendengar kabar bahwa Maha Dewi Hestia telah dieksekusi, seluruh dunianya runtuh.
Murkanya memuncak. Hestia, yang telah mengorbankan segalanya demi dirinya, kini direnggut oleh bangsa Langit. Zhask bersumpah untuk membalas dendam. Di bawah kemarahan yang membara, ia memutuskan untuk memperkuat dirinya.
Ia melatih tubuhnya tanpa mengenal waktu, bertarung melawan para penguasa wilayah Neraka, dan menghadapi bahaya yang tak terhitung jumlahnya.
Setiap pertarungan bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk mengasah kekuatan yang pada akhirnya menjadikannya seorang Raja Iblis sejati. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, ia berhasil membangkitkan kekuatan terpendam nya yang di sebut kebencian semesta.
Aura kutukannya membanjiri alam Neraka, menenggelamkan segalanya dalam kegelapan yang bahkan membuat iblis-iblis lain bertekuk lutut. Tak ada makhluk di alam neraka yang berani menantangnya.
Zhask lalu diangkat menjadi Raja Iblis generasi pertama, penguasa absolut yang ditakuti oleh semua. Lucifer dan iblis kuno serta kuat lainnya, yang sebelumnya memimpin kelompok mereka masing-masing, memutuskan untuk mengabdi di bawah kepemimpinan Zhask.
Bersama-sama, mereka membangun pasukan yang tangguh, menciptakan gelombang iblis kuat yang siap mengguncang tiga alam. Zhask kini menjadi sosok malapetaka yang diramalkan oleh semesta. Ia adalah penebar teror, pembawa kehancuran, dan simbol kebencian yang lahir dari ketidakadilan.
Dengan kekuatan yang mengguncang dimensi, ia bersiap untuk menjalankan tujuannya menghancurkan bangsa Langit yang telah merenggut segalanya darinya.
Kembali ke masa sekarang, raja iblis Zhask Agung terus melesat tanpa henti menuju istana langit, tempat titik tujuannya.
"Apa yang kau lakukan, Enzo? Kau adalah Enzo, putraku yang baik hati."
Sebuah suara lembut menggema dari lubuk hati terdalam Raja Iblis Zhask. Suara itu seolah merembes melalui kekuatan kutukan yang menyelimutinya, membuat tubuh besarnya membeku sejenak di tengah kehancuran yang ia tebarkan.
Zhask tersentak. Matanya melebar, dan aura gelap yang memancar dari tubuhnya seakan meredup sesaat. Suara itu terasa begitu nyata, begitu hangat, begitu dekat.
"Ibu? Apa barusan suara ibu?" bisiknya, penuh keraguan dan kepedihan.
Namun, tak ada jawaban lain selain keheningan yang memekik di sekitar. Angin kegelapan terus berputar, membawa serpihan aroma bunga Wisteria yang kembali mengingatkannya pada Istana Langit—tempat dimana segalanya dimulai.
Kemarahan dan kesedihan saling bergulat di dalam dirinya, mengaduk-aduk hatinya yang rapuh di balik kehancuran yang dirinya ciptakan. Dengan gemuruh kekuatan yang mengguncang udara, Zhask kembali melesat, seperti kilatan petir gelap menuju Istana Langit.
Dalam pikirannya, hanya ada satu tujuan: Menghancurkan segalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments