Asap tebal menyelimuti Istana Langit, memancarkan hawa membara yang menyiksa. Panasnya bukan sekadar menyengat, melainkan membawa radiasi kosmik yang mampu merobek tubuh hingga hancur dari dalam. Suatu kekuatan mengerikan yang membuat seluruh tempat itu seperti neraka di puncak langit.
Kulit yang terkena udara panas itu seketika mengelupas, memancarkan aroma logam terbakar. Jika ada prajurit tingkat rendah di dekat sana, kematian mereka tak akan sekadar menyakitkan—melainkan kehancuran total yang bahkan tak menyisakan apa pun untuk dikenang.
Sumber kehancuran ini—meteorit kolosal yang beberapa menit sebelumnya menghantam Istana Langit. Ledakan itu meluluhlantakkan segalanya, menyeret simbol perdamaian surgawi ke jurang penghinaan. Istana yang megah kini tak lebih dari puing-puing tak berbentuk.
"Sungguh mengerikan," pikir siapa pun yang menyaksikannya. Namun, lebih dari itu, ini adalah perwujudan teror yang tak terbayangkan.
Di tengah kehancuran itu, Raja Iblis berdiri gagah, dikelilingi asap pekat yang belum sepenuhnya menghilang. Tatapannya tajam dan menyala merah, menembus kegelapan seperti bara api yang tidak pernah padam.
Dia berada di atas puing tertinggi dari meteorit, seolah tak tersentuh oleh kehancuran yang baru saja ia lepaskan.
Alih-alih terluka, tubuhnya terlihat utuh, nyaris sempurna. Baju zirah hitam legam yang melindunginya telah musnah, digantikan oleh pakaian hitam bermotif bunga wisteria yang tampak kontras dengan auranya yang dingin dan mematikan.
"Dugaanku benar, ini belum berakhir," katanya dengan suara lembut namun penuh ironi. Tawa kecilnya memecah kesunyian, dingin dan tajam, menggema seolah-olah mengejek ketakutan lawannya.
Di sisi lain, meteorit besar itu telah hancur terbelah menjadi tiga, menghujani reruntuhan Kekaisaran Langit dengan puing-puing besar yang terus memancarkan radiasi. Beberapa saat kemudian, suara ledakan terdengar dari balik dua bongkahan raksasa.
Empat menteri surgawi muncul dengan tubuh yang penuh luka menyedihkan. Wajah mereka yang dulunya memancarkan wibawa kini redup, dipenuhi ekspresi kelelahan dan rasa sakit. Tubuh mereka menggigil, menanggung efek radiasi kosmik yang merusak mereka dari dalam, perlahan tapi pasti.
Tak lagi dalam wujud monster Nirwana, mereka sekarang berada dalam bentuk hybrid—separuh makhluk Nirwana, separuh wujud normal. Luka dan memar menghiasi tubuh mereka, tetapi yang paling mencolok adalah cahaya redup di mata mereka, seolah-olah keyakinan mereka mulai terkikis.
Raja Iblis tersenyum puas, matanya bersinar lebih terang saat melihat mereka dalam keadaan seperti itu. "Lihatlah kalian sekarang," ujarnya, penuh ejekan. "Apakah ini yang disebut keagungan bangsa langit? Menggelikan."
Keheningan di antara mereka adalah saksi bisu dari pertempuran yang belum selesai. Namun, jelas bahwa pihak mana yang memegang kendali penuh atas situasi ini.
“Ha-ha-ha! Bagaimana? Apa kalian menikmati pertunjukannya? Kuharap kalian terhibur!” Tawa Raja Iblis menggema, memecah keheningan dengan nada yang penuh hinaan dan kesombongan. Suara itu membawa beban kehancuran, seolah-olah ia tak hanya menertawakan para menteri, tetapi seluruh Kekaisaran Langit.
Di tengah kepungan rasa sakit dan kehancuran, para menteri yang berada dalam mode Hybrid kini berdiri. Mode ini memberikan kekuatan luar biasa, terutama dalam ketahanan tubuh. Namun, di balik itu, ada perasaan marah yang membara—kesadaran bahwa mereka dipaksa masuk ke dalam kondisi ini.
"Iblis sialan!" bentak salah satu menteri dengan suara geram, matanya menyala penuh amarah.
“Kau akan membayar ini, iblis,” sambung yang lainnya, tangannya mengepal hingga urat-uratnya terlihat jelas.
“Memaksa kami masuk dalam mode Hybrid, sepertinya itu memang tujuanmu, kan?”
“Iblis rendahan! Tidak tahu diri!”
Ekspresi kemarahan terpancar jelas dari wajah mereka. Mereka tahu betul, Raja Iblis telah mempersiapkan segalanya, mulai dari meteorit kosmik hingga radiasi yang memaksa mereka melepaskan wujud sejati mereka. Meskipun mereka abadi, kematian dalam pertempuran akan merampas 90% energi mereka dan membutuhkan waktu seminggu penuh untuk pulih sepenuhnya.
Namun, di antara mereka, Mikael adalah pengecualian. Tidak peduli berapa kali dia mati, dia akan bangkit kembali dengan kekuatan yang utuh—bahkan lebih kuat. Justice Adam, kemampuan uniknya, memberinya tambahan kekuatan sebesar 50% setiap kali ia bangkit. Hal ini membuatnya bukan hanya tak terkalahkan, tetapi juga menjadi senjata yang terus meneror musuh dalam pertempuran berkepanjangan.
Raja Iblis tersenyum sinis, matanya berkilat. “Sampah seperti kalian selalu berbicara tentang keadilan. Keadilan? Sungguh tidak pantas keluar dari mulut kalian!” Nada kesombongan mulai memudar, digantikan oleh keseriusan yang menusuk.
“Iblis rendahan seperti kalian mana paham arti sebuah keadilan! Kalian tak lebih dari makhluk yang gemar membuat kerusakan!” Menteri Zeus menimpali dengan suara lantang, penuh dengan keyakinan.
“Kami sudah hidup jutaan tahun! Jangan ajari kami apa itu keadilan!” potong menteri lainnya, nada suara yang dipenuhi rasa percaya diri mulai menggema.
Namun, jawaban mereka hanya membuat Raja Iblis tersenyum tipis. “Keadilan? Baiklah…” gumamnya pelan, suaranya penuh ironi. “Kalau begitu, mari kuberi tahu apa arti keadilan yang sebenarnya!”
Tanpa peringatan, tubuhnya melesat seperti bayangan hitam yang menerobos asap tebal. Udara di sekitarnya terasa menegang, membawa aura yang membuat siapapun di dekatnya merasa dicekik.
“Kalian membantai semua bayi bangsa Iblis hanya untuk menemukan diriku,” serunya saat melaju dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat. “Lalu kalian mengeksekusi sosok keadilan sejati, hanya untuk pelampiasan amarah kalian. Apakah itu yang kalian sebut keadilan? Jangan bercanda!”
Kata-katanya seperti cambuk yang melukai, memaksa para menteri menghadapi dosa-dosa mereka sendiri.
Keempat menteri dengan cepat merespons. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing—manifestasi kekuatan mereka yang baru dari mode Hybrid. Pisau suci, tombak bercahaya, pedang dengan ukiran simbol surgawi, dan cambuk berbentuk naga siap menyambut Raja Iblis.
Ledakan energi keduanya menggetarkan puing-puing yang tersisa, menciptakan gelombang kejut yang menyapu langit. Pertarungan babak baru akan dimulai kembali, dan intensitasnya lebih dari apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Empat tebasan energi hitam berputar melesat dengan kecepatan luar biasa, membelah ruang dan waktu di sekitarnya. Energi itu membawa aura kutukan yang mengerikan, seolah-olah kematian itu sendiri tengah menyerang. Radiusnya begitu besar, mustahil untuk dihindari.
Menteri Iskandar Agung, sang Hybrid Phoenix, melompat maju, mengangkat kedua tangannya dengan keyakinan teguh. Sebuah penghalang emas—barrier dengan cahaya kuning berkilau seperti matahari surgawi—muncul di hadapannya. Benturan hebat untuk yang kesekian kalinya kembali tak terelakkan.
Tekanan dari energi kutukan Raja Iblis berbenturan langsung dengan energi surgawi Nirwana, menciptakan ledakan angin yang mengguncang segalanya. Shockwave yang dihasilkan meluluhlantakkan puing-puing istana surgawi yang tersisa, sementara tornado besar efek tabrakan muncul menyapu medan perang dengan kekuatan yang mengguncang langit.
Namun, Raja Iblis itu tak berhenti begitu saja. Meskipun tebasannya berhasil dibelokkan, ia tiba-tiba menghilang, kecepatan gerakannya menembus batas penglihatan. Dalam sekejap, ia muncul tepat di depan Iskandar Agung, menarik jenggot putih panjangnya dengan kasar.
“Rasakan ini!”
Dengan kekuatan luar biasa, Raja Iblis membanting tubuh Iskandar ke reruntuhan. Suara hantaman terdengar seperti gemuruh gunung runtuh. Debu dan puing beterbangan, meninggalkan bekas kawah besar di lokasi itu.
Namun, para menteri lain tak tinggal diam. Hybrid Kera melesat dari kejauhan, gerakannya hampir mustahil dilihat oleh mata telanjang.
Dengan tinjunya yang bertenaga, ia menghantam wajah Raja Iblis. Pukulan itu membuat tubuh Raja Iblis terpental ke udara, sementara Iskandar Agung yang tersungkur perlahan mencoba bangkit dari kawah reruntuhan.
Belum selesai. Hybrid Babi menerobos masuk ke medan pertempuran dengan gemuruh langkahnya. Dengan senjata berbentuk pisau bercahaya menyerupai taring babi, ia menyusul Raja Iblis di udara dan meluncurkan tebasan ganas. Tubuh Raja Iblis kembali terhempas ke belakang, menembus bebatuan dan meninggalkan jejak kehancuran.
“Matilah, Iblis!” teriak Hybrid Babi.
Dari balik awan gelap yang menguasai langit, Hybrid Naga meluncurkan cambuk naga raksasa bercahaya merah. Cambuk itu turun dengan gemuruh petir, menghantam Raja Iblis yang masih terlempar. Dentuman besar terdengar saat energi cambuk itu menghancurkan area pertempuran, menciptakan kawah baru di tanah reruntuhan.
Namun, di tengah kekacauan itu, Raja Iblis muncul kembali dari kepulan asap reruntuhan. Tubuhnya penuh luka, napasnya terengah-engah, tapi ia tetap tersenyum—sebuah senyum yang memancarkan adrenalin sekaligus kesombongan. Ia menegakkan tubuhnya dengan perlahan, berdiri kembali di atas puing-puing.
“Kalian pikir itu cukup?” suaranya menggema, nadanya penuh ejekan. Raja Iblis menarik napas dalam-dalam, menyelaraskan lajur energinya dengan cepat. Matanya yang merah menyala mengunci pandangan pada keempat menteri, sorotannya seperti pisau yang menembus hati mereka.
Hybrid Kera, dengan pedang bercahaya yang bergetar di tangannya, menggeram. Energi surgawi yang mengelilingi pedangnya semakin intens, memancar hingga memenuhi udara di sekitar. Ia mengarahkan senjatanya ke Raja Iblis.
“Kau… harus segera diakhiri. Kau tidak pantas menginjakkan kakimu di tempat ini, Iblis!”
Aura di medan perang semakin menegang, seolah alam semesta berhenti sejenak untuk menyaksikan pertempuran yang akan kembali pecah. Siapakah yang keluar menjadi pemenangnya, tidak ada yang tau.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments